![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Apartemen Seokjin)
[Seokjin, ku ingatkan kau untuk selalu menjaga diri.]
"Kenapa kau berbicara seperti itu?? Apa Lee Sunghyun merencanakan sesuatu pada kami??" Ujar Seokjin pada Yoongi yang meneleponnya.
[Aku belum yakin dengan apa yang mereka akan perbuat. Yang penting aku sudah memberitahu mu tentang ini.]
"Eoh, baguslah. Kau memang bisa kuandalkan."
Bip
Setelah mematikan teleponnya, Seokjin sekilas melihat cuaca diluar yang sedang tidak cerah itu. Pria yang mengenakan sweater rajut pink itu nampaknya teringat sesuatu hingga membuatnya berlari keluar ruangan kerja nya.
Klek!
"Ha!! Ya!! Aku kaget!!!"
Bona langsung mengelus dada nya untuk menenangkan dirinya saat melihat Seokjin yang tiba-tiba keluar dari ruangannya.
Tes
Tes
Tes
Tes
Seokjin melihat istrinya dari pucuk kepala hingga ujung kaki dengan heran. Air menetes dari ujung baju wanita itu hingga membasahi lantai.
"Kenapa kau basah kuyup??"
"Ini karena hujan deras di luar." Jawab Bona sekenanya. Seokjin nampak tak begitu percaya dengan jawaban Bona.
"Kau tidak apa-apa??" Tanya Seokjin tiba-tiba.
"Ne?" Bona yang awalnya sedang melamun langsung gelagapan merespon pertanyaan Seokjin.
"Ganti baju sana. Kau terlihat lusuh seperti ini, seperti... Ahh... Sulitku gambarkan."
Bona langsung memasang wajah paling masam nya yang belum pernah Seokjin lihat sebelumnya.
"Aku tak pernah melihat wanita ku memasang wajah seperti ini." Ujar Seokjin heran.
Bona tak peduli dan hanya berjalan menuju kamarnya dengan sedikit tertatih, tentu saja Seokjin heran.
Blam!
Seokjin masih berdiam didepan pintu kamar mereka lalu dengan cepat meraih gagang pintu.
Klek
Blam!
"Hah!!"
Untuk kedua kalinya ia kaget karena Seokjin. Apa pria itu tidak melihat situasi dan kondisi Bona yang sedang berganti baju?? Terlebih Bona sudah melepas bajunya.
Seokjin langsung menghampiri Bona dan mendudukinya dikasur padahal celana Bona basah. Bingung sungguh bingung dalam benak Bona, terlebih Seokjin langsung melihat pergelangan kaki kanan Bona dengan seksama lalu menatap Bona seolah minta jawaban.
"Aku terkilir waktu menyebrang jalan." Ujar Bona pada Seokjin.
"Aww!!!"
Dengan muka polos nya Seokjin menekan bengkak di pergelangan kaki Bona.
"Seokjin. Jangan ditekan. Itu sakit!" Seru Bona.
"Kenapa kau ceroboh sekali..." Guman Seokjin.
Bona mengernyitkan dahinya.
"Sudahlah. Keluar sana. Aku mau berganti baju."
Entah baru sadar atau apa, Seokjin langsung memalingkan pandangan nya dari Bona saat menyadari keadaan Bona yang hanya mengenakan penutup dadanya saja. Menyadari hal itu Bona langsung menyilangkan tangannya didepan dadanya.
"Aku keluar dulu."
Bona hanya melihat prianya langsung bergegas keluar dari kamar mereka. Bohong jika Bona tak menahan malu dan jangan heran dengan degupan jantung nya yang berdegup bagai dikejar penagih hutang.
Klek
Setelah keluar dari kamar, Seokjin langsung meraih ponsel di saku celana training hitamnya dan menekan kontak Yoongi.
"Ya, Yoongi. Mereka sudah mulai rupanya."
(Dapur)
"Eh? Seokjin... Tumben sekali kau memasak??" Tegur Bona saat baru selesai berganti baju dan berniat memasak makan siang.
Seokjin yang sedang sibuk dengan seperangkat alat masak langsung melihat Bona dan sedikit tersenyum.
"Hmm tak apa... Sesekali seperti ini tak masalah..." Jawab Seokjin.
Bona hanya mengangguk dan duduk memperhatikan Seokjin dari meja makan. Lagi pula, kaki nya masih sakit.
"Kau tau Seokjin... Aku tadi hampir ditabrak mobil. Maka kaki ku terkilir karena menghindar."
Seokjin langsung menatap Bona heran dan mematikan kompornya.
"Kau hampir ditabrak atau kau yang melanggar lampu merah??"
Kok kesal ya??? Bona memicingkan matanya pada Seokjin. Demi apa ia ingin melanggar rambu lalu lintas.
"Jelas-jelas tadi lampu merah dan lampu menyeberang dihidupkan... Kau kira mata ku buta??" Ujar Bona kesal.
Seokjin terlihat seperti merenungkan sesuatu dan Bona masih kesal dengan Seokjin yang bertanya hal seperti itu.
"Apa kau melihat nomor plat nya??"
"Aniya... Aku tak melihatnya karena aku langsung terduduk. Mobil itu berwarna hitam dan produk lokal." Jawab Bona sembari mengingat-ingat kejadian tadi.
"Terlebih tadi sedang hujan deras... Tapi, yang kubingungkan adalah, kenapa ia melanggar rambu?? Lalu, tidak mengklakson pula jika benar-benar darurat." Ujar Bona kesal.
Seokjin menghela napas.
"Kau yakin sudah lampu merah??...."
"Tapi!! Mobil yang lain nya berhenti!!!!" Potong Bona.
Seokjin melihat Bona dalam diamnya.
"Ahh!! Lupakan!! Mungkin hanya kesialan ku saja... Atau didalam mobil itu ada orang yang sedang sakit."
Ini tidak ada akhirnya jika berbicara seperti ini saja. Lagi pula Seokjin nampak tak begitu peduli. Pikir Bona.
(Taman)
Tak jauh dari kawasan gedung tempat tinggal Kim Seokjin terdapat sebuah taman dan disini sebuah sedan hitam sedang terpakir. Nampak dari luar jika pengemudinya mengenakan pakaian serba hitam.
"Maaf tuan. Saya gagal."
[Kau bodoh ya?? Menabrak orang saja kau tak bisa.]
"Maafkan saya tuan..."
Bip
Pria berpakaian hitam itu langsung melihat ponsel nya saat atasan nya mematikan telepon dan hanya diam sembari kembali melajukan mobilnya.
[Ting tong]
Bona yang sedang menonton diruang tengah harus ditunda dengan bunyi bel rumah yang berbunyi. Mau tidak mau Bona menuju pintu depan.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Ting tong
"Kenapa gila sekali memencet bel~~" Gerutu Bona.
Klek
"Yaaa???????"
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kosong.
Dibalik pintu.
Kosong.
Kanan.
Kosong.
Kiri.
Kosong.
Atas-bawah-depan-belakang.
Kosong.
"Kenapa tidak ada???" Ujar Bona bingung.
Bona bahkan keluar apartemen untuk melihat siapa yang mengetuk pintu nya. Namun, nihil tak ada seorang pun yang nampak atau pun mencurigakan. Lorong apartemen itu sangat sunyi. Akhirnya Bona putuskan untuk kembali menutup pintu.
Ting tong.
Bona menghela napas kesal dan memutuskan melihat pada intercom. Tapi, tetap saja tak ada yang nampak. Apa anak tetangga?? Sudahlah. Lupakan dan kembali ke kegiatan semula.
Ting tong.
Baru saja lima langkah.
Klek!
"Siapa ini???!!???"
"Omo!! Kau mengagetkan ku." Ujar Taehyung saat melihat wajah kesal Bona saat membuka pintu.
Kim Taehyung. Tumben sekali.
"Ya. Kalau mau berkunjung cukup sekali saja memencet bel... Ayo masuk." Ujar Bona kesal lalu langsung masuk kerumah.
"Ya... Aku baru saja datang dan baru sekali memencet bel!! Kenapa kau kesal??" Ujar Taehyung sembari mengejar Bona masuk ke dalam apartemen hyung nya itu. Bona menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Taehyung sembari menatap curiga pada adik ipar nya itu.
"Bagaimana aku bisa mempercayai mu?? Sedangkan tadi seseorang dengan gila nya memencet bel."
Taehyung mengangkat kedua bahu nya.
"Aku baru saja datang kakak ipar... Apa perkataan ku meragukan??" Tanya Taehyung.
"Lalu, siapa orang gila yang memencet bel rumah berkali-kali??" Tanya Bona penasaran.
Taehyung hanya diam melihat kakak ipar nya berpikir dihadapan nya itu. Sadar akan tingkah Taehyung, Bona menunda kegiatan melamunnya.
"Eoh... Tumben sekali kau berkunjung. Apa kau sudah makan siang??" Tanya Bona. Taehyung tiba-tiba menyengir pada Bona.
"Makadari itu aku datang kesini... Kau tau, semenjak hyung menikah... Tidak ada yang memasak untuk ku di apartemen." Ujar Taehyung.
Ya, Bona paham dari segi kesibukan para saudara suaminya itu. Bona pun mengajak Taehyung ke dapur untuk melihat apa yang bisa si bungsu itu isi kedalam perutnya.
"Pantas saja kau kurus begini.... Kau pasti jarang makan... Lihatlah tulang rahang mu, runcing sekali seperti tidak pernah makan."
Omelan Bona seakan menjadi lauk tambahan bagi Taehyung yang sedang makan siang itu. Taehyung hanya diam sembari menikmati makanannya. Hingga tak lama, Seokjin muncul didapur dan heran melihat adik bungsunya ada di dapurnya.
"Eoh Seokjin, apa yang kau cari??" Tanya Bona.
"Aku hanya haus.. dan kapan bocah tak diundang ini datang dan menumpang makan dirumahku??" Tanya Seokjin saat mengambil air dingin dikulkas lalu ikut bergabung bersama Bona melihat Taehyung makan. Taehyung tak menggubris dan masih sibuk makan.
"Belum lama Taehyung datang." Jawab Bona.
"Oke. Terima kasih makanannya..." Ujar Taehyung tiba-tiba lalu pergi mencuci piring bekas makannya.
"Tak apa Tae, taruh saja diwastafel."
"Itu kebiasaan nya. Biarkan saja." Sambut Seokjin.
"Eoh, baguslah kalau begitu..." Ujar Bona.
"Aku kesini karena tidak ada yang memasak dirumah dan merindukan masakan kakak ipar. Kenapa kau pelit sekali membagi kakak ipar???" Ujar Taehyung pada Seokjin yang masih duduk di meja makan bersama Bona. Mendengar ujaran Taehyung tentang dirinya, Bona pun tersenyum geli.
Seokjin menatap adiknya datar.
"Dia sibuk sebagai sekretaris ku. Bahkan untuk memasak saja ia hanya sesekali." Ujar Seokjin.
Bona memicingkan matanya pada Seokjin disampingnya.
(Sesekali katanya????? -Bona)
Nampaknya Taehyung menyadari itu.
"Haha... Jangan berbohong hyung... Ekspresi Bona menyangkal semua itu." Ujar Taehyung.
"Yaa.... Aku memang sibuk Tae... Mungkin malam ini Seokjin yang akan memasak makan malam. Aku pergi dulu, Tae jika kau ingin... Tadi aku ada memanggang kue dan kutaruh dikulkas. Kalau bisa habiskan saja." Ujar Bona lalu pergi dari dapur meninggalkan Seokjin dengan ekspresi tak percaya nya dan Taehyung dengan mimik senangnya.
"Dia bahkan tak memberi tahu ku jika ia memanggang kue hari ini." Ujar Seokjin tak percaya.
"Dan juga kau Tae, ini kan bukan hari libur?? Kenapa kau ada disini???" Seru Seokjin heran.
Taehyung tersenyum pada Seokjin.
"Hyung, sebaiknya kau bawa Bona pergi dari sini secepatnya." Ujar Taehyung tiba-tiba. Tentu saja arah pembicaraan ini membuat Seokjin heran.
"Atas dasar apa kau menyuruh kami pindah??" Tanya Seokjin.
(Beberapa waktu yang lalu)
(Taehyung side)
Nyatanya, saat aku pergi ke kantor Seokjin hyung mereka malah tidak ada. Tumben sekali Seokjin hyung tidak masuk. Ya sudah kuputuskan ke apartemen hyung yang kira-kira 30 menit dari kantor jika ditempuh menggunakan mobil dengan kecepatan sedang.
Setelah memarkir mobil di basement gedung apartemen, aku pun langsung menuju lift dan memencet angka 24, tempat Seokjin dan Bona tinggal.
Ting!
Tap.
Walau tak begitu memerhatikan, rasanya pria yang mengenakan pakaian serba hitam ini sangat aneh, kurasa. Ia masuk kedalam lift dan aku keluar dari lift. Yang kupikirkan adalah, berpakaian serba hitam di tengah musim panas. Bukankah itu akan membuatmu kepanasan??? Iya kan?? Aku cukup heran dengan style jaman sekarang.
Ting tong!
Aku pun memencet bel apartemen hyung.
Klek
"Siapa ini???!!???"
Tiba-tiba saja Bona membuka pintu dengan wajah kesalnya. Aku bingung dan sedikit kaget.
"Omo!! Kau mengagetkan ku." Ujar ku. Bona menatapku datar sementara aku hanya tersenyum tipis padanya.
"Ya. Kalau mau berkunjung cukup sekali saja memencet bel... Ayo masuk." Ujar Bona lalu langsung masuk kedalam rumah. Omongan manusia ini cukup membingungkan.
"Ya... Aku baru saja datang dan baru sekali memencet bel!! Kenapa kau kesal??" Ujar ku heran sembari menyusulnya kedalam. Sudah perut lapar, malah disambut seperti ini saat bertamu. Mana ada orang tampan yang diperlakukan begini???!!!
"Bagaimana aku bisa mempercayai mu?? Sedangkan tadi seseorang dengan gila nya memencet bel."
Dari kedua matanya, aku dapat tau kalau Bona tak mempercayai ku. Seokjin hyung pasti sulit membodohi manusia ini. Aku yakin akan itu.
"Aku baru saja datang kakak ipar... Apa perkataan ku meragukan??" Tanyaku sekena ku saja.
"Lalu, siapa orang gila yang memencet bel rumah berkali-kali??" Tanya Bona penasaran.
Mana aku tahu.
(Flashback off)
(Author side)
"Entah perasaan ku saja atau apa. Tapi, orang itu bisa jadi tersangkanya. Bagaimana menurut mu hyung??" Tanya Taehyung.
Seokjin diam dan nampak berpikir tentang ucapan Taehyung barusan.
["Tak apa... Appa disini bersama kalian. Appa tak akan biarkan wanita itu mengambil kalian...."]
"Kenapa aku semakin membencinya ya..." Gerutu Seokjin.
"Ini kan pasti tindakan Lee Sunghyun. Hyung." Sambut Taehyung.
"Kau benar. Aku hanya ingin mengambil sumber kebahagiaan nya saja Tae." Ujar Seokjin.
"Maksudmu hyung??" Tanya Taehyung bingung.
Seokjin menyeringai dan meremas keras gelas air minumnya yang sudah kosong itu.
"Menurut mu apa yang membuatnya membuang kita dan appa??"
"Uang...kan???"
"Bingo! Appa bahkan bisa tak makan berhari-hari hanya untuk memberi kita makan karena sibuk bekerja dan mengurus kita. Maka dari itu, aku ingin rasa sakit appa terlempar pada nya juga. Kau mengerti kan Tae kenapa aku melakukan semua ini??"
"Kau benar hyung. Benalu bisa mati jika inang nya kita musnahkam terlebih dahulu." Ujar Taehyung.
[Flash back 15 years ago]
Kim Seokjin (11 tahun)
"Ya. Bukankah eomma nya berselingkuh??"
"Eoh. Ia bahkan miskin sekarang."
"Eommanya meninggalkan mereka karena mereka miskin."
"Dia bahkan tak memiliki teman."
Bagi Seokjin yang masih duduk di kelas 5 SD saat itu, omongan-omongan itu ia benar-benar berusaha tidak mendengarnya dan memilih diam dan belajar dengan giat. Walaupun dalam hatinya ia sangat ingin membungkam ucapan mereka dengan tinjunya, tidak peduli kebenaran dari ucapan yang dilontarkan itu.
"Appa berkata padaku untuk selalu giat belajar agar aku dapat menjalani perusahaan nya kelak." Begitulah prinsip yang Seokjin jalankan dalam dirinya.
"Hyung... Kenapa mereka selalu mengolok-ngolok eomma kita????" Sesekali Namjoon kecil mengadu pada Seokjin jika ada yang mengoloknya. Mendengar itu Seokjin bisa apa?? Anak kecil sepertinya hanya bisa berkata "tak apa" pada Namjoon dan Taehyung jika ada yang mengolok mereka sembari menyimpan dendam dan ambisi di dalam dada.
"Apa kita memiliki hal semacam itu di keluarga kita?" Seokjin bertanya pada Namjoon yang masih berusia 10 tahun kala itu. Apa Namjoon bisa mengerti di umur yang masih sangat belia itu??
"Hyungg..... Aku bahkan takut jika bertemu dengan seperti itu lagi...."
"Hyung dan appa tak akan membiarkannya Namjoonie..."
(Flashback off)
"Apa??? Tuan Kim yang membakar gudang mu?? Kau yakin dengan hal itu??" Tanya Lee Minah pada suaminya saat ia berkunjung ke kantor suaminya.
"Kupikir, dengan sedikit bermain dana dibelakangnya aku tidak akan terendus. Rupanya bocah itu licik juga."
"Bermain katamu??!! Berapa keuntungan yang kau ambil?? Sayang, bukankah ini terlalu berani??" Tanya Minah khawatir. Lee Sunghyun terkekeh.
"Kenapa kau nampak kalut sekali sayang?? Bukankah kita biasa melakukan nya?? Hanya karena aku bermain dengan anakmu kau jadi sekalut ini??" Tanya Lee Sunghyun. Mendengar kata 'anak' membuat Minah bungkam. Ini bukan rahasia lagi bagi Lee Sunghyun jika ia menikahi wanita yang merupakan ibu dari Kim Seokjin dan saudara-saudaranya.
"Be-berapa yang kau ambil?? Dari apa??" Tanya Minah.
"Ahahahah.... Aku mengambil untung 50 juta Won dari penjualan tekstil. Mereka itu sangat susah untuk bernegosiasi sayang... Maka dari itu, aku menjual barang murah dengan harga tinggi pada mereka."
Minah menatap suaminya tak percaya.
"Sayang kau menipu?!!"
"Aniya... Aku hanya berbisnis biasa. Lagi pula itu sudah lama... Sekitar 5 bulan yang lalu. Kau tak usah khawatir. Orang-orang ku sudah menutupi nya dengan rapi." Jelas Lee Sunghyun sembari meminum teh yang disediakan oleh istrinya.
"Mereka memang anakmu, namun jika menyangkut bisnis. Aku tak akan pandang bulu." Ujar Lee Sunghyun.
(Apartemen Bona dan Seokjin)
Setelah kepergian Taehyung, kini malah Yoongi yang datang untuk menemui Seokjin. Sepertinya penting, sampai Bona tak diijinkan menguping bahkan masuk kedalam ruangan Seokjin.
Ddrrrtttt......ddrrrtttt......
Kegiatan mencuci pakaian harus Bona tunda karena ponsel yang ada disaku celananya tiba-tiba berdering dan terdapat nomor tak dikenal.
"Halo, Shin Bona disini...."
[Shin Bona, ini aku Myeongsoo...]
"Eoh!!! Myeong!! Kenapa?? Apa kau sudah selesai bekerja??"
[Eoh... Aku baru selesai... Aku hanya ingin menelepon mu saja.]
"Hahaha.... Berkunjunglah kerumah kami... Ayo makan malam bersama. Kebetulan sepupu kami juga datang."
[Benarkah?? Akan aku pikirkan... Kau sedang apa??]
"Jangan dipikirkan, dari pada kau harus masak atau makan diluar, lebih baik bergabung bersama kami. Aku?? Aku sedang ritual. Aku tidak mau tau, detektif Kim, kau harus datang."
[Baiklah... Kau ini suka sekali memaksa]
"Aku akan kirim alamatnya. Sampai jumpa!!"
Bip.
Setelah mengirim alamat rumahnya pada sahabatnya, Bona langsung menyelesaikan pekerjaannya.
"Bagaimana Yoongi? Apa ada informasi baru tentang wanita itu sejauh ini??" Tanya Seokjin pada Yoongi yang sedang berada diruangannya.
"Kulihat wanita itu bahkan tak mencurigai atau merencanakan sesuatu karena ia hanya mengikuti Lee Sunghyun mengalir." Ujar Yoongi.
"Kau benar. Lee Sunghyun adalah inangnya. Ia tak akan berani berbuat apa-apa di belakang Lee Sunghyun."
"Seokjin apa kau ingat tentang insiden 5 bulan lalu??" Tanya Yoongi.
"Tentang harga tekstil itu??"
"Tentang 50 juta Won." Ujar Yoongi. Mendengar besarnya angka membuat Seokjin memperhatikan Yoongi.
Yoongi menghela napas.
"Ternyata kau bodoh juga." Gerutu Yoongi.
"Bagaimana bisa???"
"Ini soal import tekstil yang kau beli seharga 150 juta Won, ternyata Lee Sunghyun mengambil untung besar dari itu." Jelas Yoongi. Seokjin nampak hanya mengangguk saja lalu menatap Yoongi.
"Nampaknya ini adalah alasan yang bagus Yoongi. Ya, walaupun 50 juta itu tidaklah besar. Aku mau kau menyelidiki nya Yoongi." Ujar Seokjin lalu bangkit berdiri dari kursinya begitu pula Yoongi.
"Aku tau, kau bahkan tak akan membiarkan sepeser pun pergi begitu saja ketangan orang lain." Ujar Yoongi.
Knock knock
Klek
"Hey kalian berdua para pria tampan, ayo makan malam..." Memang tak terduga, Bona muncul tiba-tiba mengajak makan malam.
"Eoh... Aku akan pulang kurasa lain kali saja..." Ujar Yoongi. Dalam hati, ia tidak enak makan bersama Seokjin dan Bona.
"Eh??? Kenapa?? Aku memasak banyak malam ini!! Aku bahkan mengundang sahabatku untuk datang." Seru Bona.
"Hmm. Kali ini saja Yoongi, turuti saja dia." Bisik Seokjin pada Yoongi. Sepupu Seokjin itu menatap aneh pada Seokjin.
"Ayo. Teman ku sudah menunggu kalian." Setelah mengucap itu, Bona langsung pergi.
"Seokjin, kenapa kau bilang aku harus menurutinya?" Tanya Yoongi heran.
"Kau tidak dengar ia bilang sudah memasak banyak?? Lagi pula kau belum makan." Jawab Seokjin lalu pergi menyusul Bona keruang makan. Mau tak mau Yoongi juga menyusul.
Seokjin dan Yoongi pun tiba diruang makan dimana Bona berada disana dan tidak sendiri. Ada seorang wanita menemaninya disana dan tentu kedua pria itu bingung.
"Jja... Duduklah. Aku mengundang sahabat ku sewaktu SMK dulu." Ujar Bona sembari menunjuk Kim Myeongsoo.
"Halo. Namaku Kim Myeongsoo."
"Dia penyidik di kepolisian metropolitan Seoul." Ujar Bona.
Seokjin dan Yoongi langsung memperhatikan Myeongsoo dengan seksama. Untuk ukuran seorang penyidik, bagi Yoongi wanita itu terlihat lemah. Terlebih penampilan nerdnya itu.
"Ya... Heran ya aku punya teman seorang penyidik???" Tanya Bona.
Seokjin pun tersenyum lalu duduk disamping Bona dan Yoongi mengambil tempat duduk disamping Myeongsoo.
"Halo aku Kim Seokjin, suami Bona dan ini sepupu ku Min Yoongi." Seokjin memperkenalkan dirinya dan Yoongi.
"Nah, ayo mulai makan... Kau juga Myeong. Tidak usah canggung." Ujar Bona.
Setelah selesai makan dan berdiam sejenak sembari mengobrol, Myeongsoo pun memutuskan pulang begitu pula Yoongi.
"Terima kasih Bona.... Jika perlu bantuan, kau tau nomorku." Ujar Myeongsoo lalu pergi.
"Seokjin, Bona. Terima kasih. Sampai jumpa." Yoongi juga pergi.
"Eoh. Berhati-hatilah kalian berdua." Ujar Bona lalu menutup pintu apartemen.
Pluk.
Sebuah pesawat kertas tiba-tiba saja datang dan menunda Bona untuk menutup pintu. Perbuatan siapa ini?? Seokjin?? Sangat tidak mungkin. Ia baru saja masuk kedalam ruang kerjanya. Yoongi?? Myeongsoo??? Punggung mereka baru saja hilang. Karena penasaran, Bona meraih pesawat kertas itu dan membuka lipatan nya karena sedikit terlihat tulisan dibaliknya.
[Kau tau, setiap aku melihat mu. Aku selalu berdebar dan ingin memeluk mu saat ini juga.
To : Wanita seindah bunga Shin Bona]
Deg!
Tanpa dapat Bona sadari, sepasang mata memperhatikannya dari ujung lorong dan hanya menatap lurus pada wanita yang sedang kebingungan itu.
Berbeda rasa ketengangan yang Bona rasakan kini, suasana akward antara Myeongsoo dan Yoongi di dalam lift nampaknya sangat membunuh. Kedua nya memang nampak tak saling mempedulikan, namun pihak Yoongi nampaknya sedikit penasaran.
"Kau bilang kau adalah sahabat Bona." Ujar Yoongi.
"Eoh, kami pernah sebangku saat SMK. Bona juga banyak menolongku." Ujar Myeongsoo sembari memperbaiki posisi kacamata tebalnya itu.
"Aku penasaran dengan Bona sewaktu SMK."
"Kenapa kau penasaran dengan istri orang??" Tanya Myeongsoo heran. Yoongi terkekeh.
"Kenapa ya?? Apa karena ia pernah menolak ku??" Tanya Yoongi.
"Kau pernah menyatakan perasaan mu padanya??" Myeongsoo sedikit bingung dengan ucapan Yoongi.
Yoongi malah tertawa.
"Kami tidak bermain dengan perasaan. Lupakan saja. Itu kan sudah berlalu..."
Ting
Lift berhenti dan Yoongi pun keluar begitu pula Myeongsoo.
"Ah iya aku lupa. Nama mu Myeongsoo kan?? Senang berbicara dengan mu. Aku yakin kita tak akan bertemu hanya disini saja. Sampai jumpa." Ujar Yoongi lalu pergi dari hadapan Myeongsoo dengan wajah bingungnya.
"Untuk ukuran orang seperti dia, dia itu terlalu percaya diri." Gerutu Myeongsoo.
Klek
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
"Seo-Seokjin..."
To Be Continue