![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
Yongsun dan Bona tiba di taman perusahaan.
"Kenapa eon??"
"Apapun alasan nya. Jangan sampai kau menyukai Seokjin." Ucap Yongsun tiba-tiba.
"Lagi pula Mr. kim tak menyukai wanita. Ia membencinya eonni. Tak usah khawatir tentang ku.." ujar Bona. Yongsun menatap datar adiknya satu ini. Memang Bona ini spesies beda.
"Menghadapi Seokjin bukanlah seperti kau berkemah 6 hari digunung Bona.."
Bona dulunya anak pramuka sewaktu SMA.
"Mr. Kim bukanlah gunung eonni. Aku tak berpikir seperti yang kau pikirkan padanya karena kau adalah temannya sedangkan aku hanya sekretarisnya." Jelas Bona.
"Intinya jika Seokjin memperlakukan mu tidak baik. Beritahu aku dan berhenti saja."
"Iya... Iya.. aku akan berhati-hati.. aku pergi dulu.. aku harus membuat laporan tentang rapat tadi..." Ujar Bona.
"Baik-baiklah kau."
Bona mengangguk lalu kembali masuk ke dalam gedung perusahaan dan menuju ruangan nya.
Yongsun menatap punggung Bona yang perlahan tertelan oleh besarnya gedung.
(Apapun permainan mu Seokjin. Kali ini kau tidak akan semudah itu menjalankan nya. Kau tidak tau Bona dengan baik. -Yongsun)
Yongsun tengadah menatap keatas, kesebuah jendela besar dan Yongsun yakin ada seseorang yang sedang tersenyum sembari menatap kebawah dan itu adalah Kim Seokjin bersama pemikiran tak terduganya.
Bona dapat mengetahui ini sudah malam dari jam weker yang ia taruh dimeja kerja nya yang sudah menunjukkan pukul 09:00 pm. Tapi ia belum bisa beranjak dari kursi nya karena tumpukan berkas yang Seokjin minta di periksa kembali. Untungnya ia tinggal dikantor.. tapi disisi lain perut Bona minta diisi oleh sesuatu karena sedari tadi siang perutnya hanya diisi oleh es kopi saat berbicara dengan Namjoon.
"Aku laparrr...." Ujar Bona setelah selesai dengan segala pekerjaan nya dan kembali ke ruangan Seokjin. Karena hanya dari ruangan itu Bona bisa masuk ke dalam kamar nya yang bisa Bona katakan adalah kamar rahasia milik bos.
"Eh?? Mr. Kim.. anda belum pulang?? Apa anda lembur??" Ternyata si pemilik ruangan belum pulang. Seokjin masih sibuk dengam laptop hitam kesayangan nya.
"Aku akan menginap dikantor malam ini." Ujar Seokjin. Tentu saja Bona kaget. Apa malam ini ia akan tidur di luar atau bagaimana?? Sementara ranjang hanya ada satu. Remuk sudah diri Bona.
"Kalau begitu saya permisi dulu..." Bona langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci dari dalam.
(Bagaimana ini... Apa Mr. kim akan marah Jika melihat kamar nya seperti ini... -Bona)
Karena Bona suka warna pink, dengan teganya wanita itu mengubah apa yang bisa diubah di kamar kantor milik Seokjin ini. mulai dari karpet, sprei ranjang hingga gorden kamar juga warna pink.
Bona benar-benar blank saat ini. Agar merasa nyaman dan tidak bosan. Itu alasan Bona mengubah apa yang bisa dirubah. Tak ingin larut dari rasa khawatir Bona memutuskan untuk cepat mandi.
(Cklek!)
Segar dan relaks. Itu yang Bona rasakan setelah mandi. Kini yang ia pikirkan hanya makan.
"Sudah mandinya??" Tanya Seokjin yang sudah bersandar diranjang sambil membaca koleksi komik yang Bona bawa dari apartemennya.
Heol. Mata Bona menatap sosok pria itu tak percaya. Bagaimana ia bisa masuk!!?? Padahal Bona sudah mengunci pintu nya. Dan kini ia malah dengan santai nya membaca koleksi komik romantis jepang miliknya.
"Apa kau lupa kalau kamar ini adalah milikku??" Seokjin beranjak dan menghampiri Bona yang masih mematung di depan pintu kamar mandi. Kini pria itu dihadapan Bona sekarang sambil tersenyum pada Bona. Malah sekarang Bona bingung ingin bilang apa.
"Tak kusangka kau merubah sedikit dekorasi dari kamar ini." Seokjin memperhatikan sekeliling kamarnya. All pink. Seokjin tersenyum.
"Saya bisa mengganti nya jika anda tak suka." Ujar Bona.
"Aniya.. lakukan lah apa yang kau sukai."
Eh? Bona menatap Seokjin tak percaya.
"Kau bisa memasakkan?? Masak kan makan malam sekarang."
"Semenjak saya berhenti kunci kafetaria tidak disaya lagi.."
"Jadi selama seminggu ini bagaimana kau makan??"
"Saya memesan makanan dari luar. Atau saya tidak makan malam." Jelas Bona.
"Ayo ikut aku. Kita makan malam dirumah ku saja." Ujar SeokJin.
"Eh?? Bukankah anda bilang ingin menginap??" Tanya Bona.
"Aku mengira kau masak sendiri. Tak apa. Anggap saja upahmu telah bekerja keras." Ujar Seokjin. Entah kenapa Bona merasa Seokjin yang satu ini sedikit berbeda.
Pada dasarnya Bona memang orang yang cuek dengan segala hal. Contohnya saat ini, ia tak peduli jika ia hanya memakai pakaian training untuk nya tidur saat datang ke apartemen atasan nya.
(Cklek!)
"Ini apartemen pribadi ku. Jarang kutempati karena aku lebih suka tinggal bersama adik-adikku atau dikantor." Seokjin dan Bona masuk ke sebuah apartemen besar milik Seokjin. Bona kagum dengan besarnya apartemen ini. Semua fasilitas lengkap. Terlebih dari tingginya apartemen ini Bona dapat melihat pemandangan malam kota yang indah.
"Nanti saja menikmati pemandangan nya. Masaklah sesuatu untuk ku. Aku benar-benar lapar." Tegur Seokjin. Bona hanya cengengesan dan langsung pergi menuju dapur dan 'membongkar' isi Kulkas Seokjin.
Setelah mandi dan berpakaian, Seokjin langsung menuju dapur. Sumber dari aroma yang membuat perutnya semakin lapar. Rupanya Bona sedang memasak sup tahu dan kimchi. Terlihat menggiurkan dimata Seokjin.
"Kau ahli dalam memasak tapi tidak bisa menyetir." Ucap Seokjin setelah menghabiskan semangkuk nasi dan sup nya. Bona hanya tersenyum malu. Ia juga sudah selesai makan.
"Apa hubungan masak dengan mengemudi???"
"Hmm... Pikirkan jawaban itu sendiri. Terima kasih makanan nya. Ini sangat enak." Seokjin pun pergi dari ruang makan. Kepergian Seokjin meninggalkan pertanyaan besar dikepala Bona.
"Mengemudi dan masak???" Bona merasa Bodoh saat ini atau Seokjin yang terlalu pintar memberi pertanyaan.
Selesai mencuci piring, wanita itu menepati janji nya pada dirinya sendiri untuk menikmati pemandangan malam kota Seoul dari jendela besar apartemen Seokjin. Seokjin?? Pria itu melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda tadi. Ia duduk di sofa belakang Bona.
"Lampu nya cantik jika dilihat dari sini." Ujar Bona dan hanya disambut "iya" oleh Seokjin. Bahkan Bona mengambil foto pemandangan malam itu menggunakan ponsel nya. Niat nya untuk dijadikan wallpaper ponselnya.
"Aku jarang sekali memandang keluar seperti ini.." tiba-tiba Seokjin bergabung dan menatap pemandangan malam yang indah itu juga.
"Memang nya apa saja yang anda kerjakan??" Tanya Bona pada Seokjin yang duduk disamping nya itu.
"Tentu saja banyak... Kau seperti baru bertemu saja." Jawab Seokjin. Benar juga.. pertanyaan retoris..
"Sudahlah. Mereka yang bodoh. Wanita itu memang menyusahkan."
Bona tiba-tiba teringat ucapan Seokjin saat berkunjung ke kantor Taehyung tempo hari.
"Mr. Kim,...."
"Saat berdua seperti ini panggil saja Seokjin. Risih juga jika kau terus memanggilku seperti itu. Padahal aku masih muda."
"Rasanya agak aneh..."
"Itu perintah." Baiklah Bona menyerah.
"Ada apa??" Tanya Seokjin.
"Anda seperti nya punya masalah dengan wanita. Kenapa??" Tanya Bona.
"Masalah seperti apa?? Biacaralah yang jelas."
"Anda seperti nya membenci wanita.." ucap Bona ragu-ragu atau takut?
"Akhirnya kau bicara tentang itu juga.. aku membenci kalian para wanita karena aku tidak suka kalian." Awalnya Bona sakit hati dengan kata 'kalian' tapi, rasa itu teralihkan pada alasan logis tapi tak dapat dimengerti.
(Ahjumma penjual sosis ikan dipinggir jalan juga tau kalau benci itu tidak suka. -Bona)
"Lalu, kenapa malah wanita yang anda pekerjakan untuk menjadi sekretaris anda?? Contoh nya saya?? Kenapa anda memberi saya pekerjaan ini padahal saya kan perempuan." Seokjin nampak tersenyum geli mendengar ucapan Bona.
"Karena aku tak suka batangan."
"HEOL!!" Sungguh kaget Bona dengan ucapan Seokjin.
"Alasan jenis apa itu?!" Reaksi dari Bona benar-benar lucu dimata Seokjin.
"Memangnya perlu alasan lain?? Bagaimana menurutmu.. seseorang meninggalkan mu begitu saja hanya karena ia ingin mengejar keegoisan nya. Sedangkan kau sangat membutuhkan dirinya. Hanya dia yang kau butuhkan dan dia tega meninggalkan mu begitu saja. Bagaimana menurutmu?" Tanya Seokjin.
"Awalnya mungkin sakit karena kau terbiasa dengan kehadirannya. Akan tetapi jika diriku diposisi itu.. mungkin aku akan lupa dengan rasa sakit itu karena aku pasti mencari yang baru yang benar-benar dapat memenuhi kebutuhan ku."
"Apa kau tidak membencinya??"
"Tergantung konteks nya. Siapa yang anda maksud sih??" Bona penasaran.
"Ibuku." Bona hening. Jika ibu, otomatis seorang wanita.
"Dia pergi bersama pria lain meninggalkan appa dan kami waktu masih kecil."
"Alasannya?"
"Kepuasan duniawi dan keegoisan nya. Dulu memang perusahaan sedang tidak stabil dan diambang kebrangkrutan. Tapi, berkat kerja keras appa.. perusahaan seperti saat ini." Bona menatap iba pada Seokjin.
"Jangan menatap ku seperti itu.. aku tidak suka." Tegur Seokjin.
"Maafkan saya...... Saya tidak bermaksud." Bona langsung mengelap wajah nya dan matanya yang nampak berair itu.
(Dia menangis?? -Seokjin)
"Apa segitu sedihnya??" Tanya Seokjin heran. Bona mengangguk.
"Itu pasti berat untuk anda.. bagaimana anda mengatasi rasa sakit itu??" Tanya Bona. Dari raut wajah wanita ini, Seokjin tau jika Bona menahan rasa sedih itu. Bona malu jika ia harus menangis. Yang cerita siapa, yang nangis siapa???
"Aku memutuskan untuk membenci wanita termasuk dirimu. Tak apa kan??" Ujar Seokjin.
"Terserah padamu.." ujar Bona pasrah. Lagi pula kebencian Seokjin kurang mendasar dan Bona tak ada melakukan kesalahan pada Seokjin. Jadi, untuk apa menyimpan rasa yang sama.
Malam ini Bona tidak tidur di kamar kantornya. Melainkan disofa ruang tengah milik atasan nya. Bukan ini yang Bona harapkan, ia mengira apartemen mewah ini menyediakan kamar tamu. Namun, kenyataan nya tidak. Hanya ada satu kamar dan itu adalah kamarnya Seokjin. Sambil memeluk bantal sofa, Bona menatap kosong langit-langit ruangan yang berwarna putih itu.
(Jika boleh, aku ingin tau banyak tentang mu Seokjin. -Bona)
(Srek-srek-srek)
Mungkin karena kesilauan dengan adanya cahaya Bona mencari spot dimana wajahnya dapat bersembunyi dari cahaya matahari. Tapi niat nya itu sedikit terhalangi oleh sofa yang membatasi pergerakan nya. Terpaksa sedikit demi sedikit Bona membuka matanya dan bangun dari tidur nyenyak nya itu.
Seperti pada orang umumnya, wanita ini masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
(Salahku sendiri tak menutup gorden tadi malam -Bona)
Setelah sedikit sadar akan dunia sekitar, Bona pun beranjak dari sofa nya. Melipat selimutnya dan pergi kearah aroma masakan berasal. Apa Seokjin sedang memasak??
"Eoh.. Seokjinssi.. selamat pagi... Ngomong-ngomong, dimana kamar mandi ya??" Sapa Bona dengan suara khas bangun tidurnya. Seokjin nampak sedang memanggang roti dan menyiapkan makanan lainnya di dapur.
"Kau bisa menemukan kamar mandi di samping pintu dapur.." jelas Seokjin. Bona mengerti, ia pun berjalan menuju arah yang ditunjuk.
"Ayo sarapan. Sehabis ini kita ke apartemen kami." Bona menuruti saja apa kata Seokjin. Ternyata Seokjin pandai memasak, Bona tidak menyangka akan hal ini dan rasa nya pun enak.
"Seokjinssi.. ternyata anda pandai memasak juga. Padahal selalu sibuk." Ujar Bona. Seokjin hanya tersenyum.
"Semenjak wanita itu pergi, aku belajar memasak." Jelas Seokjin. Bona mengerti dan melanjutkan sarapan nya.
Karena hari ini hari minggu, perusahaan libur dan baiknya, Bona tak menghabiskan hari libur nya di kamar kantor nya itu. Setelah sarapan, Seokjin dan Bona pun pergi ke apartemen Seokjin dan adik-adiknya. Beda dengan Seokjin yang sudah mandi, Bona hanya mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Ia tak membawa baju ganti. Jadi Bona masih menggunakan baju training tadi malam.
(Untung saja persiapan bawa dalaman. -Bona)
Bona mengobrak-abrik ransel nya untuk memeriksa apakah ada yang ia tinggalkan diapartemen Seokjin atau tidak.
(Cklek)
"Masuklah.. sepertinya mereka belum bangun." Ujar Seokjin sembari membuka pintu apartemen. Bona hanya mengekor dari belakang Seokjin. Apartemen yang satu ini lebih besar dari apartemen Seokjin. Mungkin karena jumlah penghuninya.
"Oh. Hyung.. kapan kau tiba.??" Taehyung tiba-tiba muncul dari kamarnya dengan wajah bangun tidurnnya.
"Baru saja. Mana Namjoon??" Tanya Seokjin.
"Dikamarnya.. beberapa jam yang lalu Namjoon hyung baru pulang dari klub." Jelas Taehyung lalu pergi kedapur. Bungsu Kim itu hanya sekilas melihat kehadiran Bona.
Pada akhirnya, Bona malah menyiapkan sarapan untuk saudara Seokjin. Sedangkan Seokjin sedang dikamarnya. Hanya ada Bona dan Taehyung di dapur, gadis itu nampak memasak sup sayuran dan Taehyung malah memperhatikan Bona memasak.
"Ternyata kau pandai memasak ya.." ujar Taehyung pada Bona saat wanita itu menghidangkan makanan di meja makan. Bona hanya tersenyum.
"Hmm.. makanlah.." ujar Bona. Taehyung pun mulai makan, sedangkan Bona membereskan peralatan yang ia gunakan. Ia sudah sarapan bersama Seokjin barusan.
Setelah selesai makan Taehyung pun mencuci piringnya dan pergi menuju ruang tengah dimana ada Bona yang sedang menonton disitu. Sepertinya yang ditonton Bona seru, Taehyung pun bergabung bersama Bona.
"Sepertinya Namjoon hyung belum bangun.." ujar Taehyung.
"Mungkin ia lelah.." Taehyung langsung tertawa mendengar komentar Bona.
"Kenapa??" Tanya Bona heran. Taehyung kembali diam.
"Ya. Kau benar.. ia lelah 'bermain' tadi malam" ujar Taehyung.
"Tumben sekali aku mendengar Taehyung tertawa bersama wanita. Apa yang kalian bicarakan??" Tiba-tiba yang dibicarakan muncul dari kamar dan hanya menggunakan boxer. Sebagai wanita, tentu saja Bona merasa tidak nyaman memandanya.
"Kami membahas sesuatu yang lucu. Makanya aku tertawa." Ujar Taehyung.
(Ting!)
Bona melihat ada pesan masuk dari Seokjin.
Mr. Kim :
[Temui aku di ruang kerja ku.]
"Dimana ruang kerja Mr. Kim??" Tanya Bona pada Taehyung.
"Tepat disamping kamarnya. Ada tulisan 'work' didepan pintu nya." Jelas Taehyung. Bona pun berterima kasih dan menuju ruang kerja Seokjin di apartemen nya.
(Knock knock)
"Masuk"
(Klek)
"Ada apa Seokjinssi??" Tanya Bona. Selalu, Bona selalu mendapati Seokjin yang sibuk dengan pekerjaan nya. Busy man.
"Duduklah.. temani aku disini."
"Heh??" Walau bingung Bona tetap menuruti perintah Seokjin. Lalu, apa ia hanya duduk dan diam saja?? Apa hanya memperhatikan Seokjin saja?? Tidak adakah hal yang lain yang dapat ia kerjakan???
(Flashback)
"Aku menyukai adikmu." Ujar Seokjin pada Yongsun tiba-tiba dan itu hampir membuat Yongsun menyemburkan kopi panas nya pada Seokjin.
"Kau jangan bercanda.. heheh.." Yongsun rasanya ingin tertawa lebar saat ini.
"Jangan usik dia Seokjin. Kau kira aku tidak tau maksud dibalik perkataan mu itu, Kau 'suka' dalam hal lain kan??"
"Aku serius Yongsun." Ujar Seokjin. Yongsun jadi malas menatap Seokjin. Karena Yongsun tidak bisa mempercayai Seokjin, terlebih ini menyangkut adiknya.
"Seokjin, kau tidak bisa seperti ini terus. Berubahlah.. bagaimana bisa aku mempercayai perkataan mu jika kau bilang menyukai semua wanita yang ada disekitar mu, sedangkan kau membenci mereka." Ujar Yongsun dongkol. Bagaimana jika tidak merasa dongkol, pernyataan berkebalikan dengan perasaan.
Pria itu tersenyum.
"Ternyata kau masih mengerti aku. Ku kira kau sudah lupa." Ujar Seokjin.
Lihat? Bagaimana orang seperti ini dapat dipercayai?
"Tapi, walau ia adikmu, bukan berarti aku akan memperlakukan nya berbeda. Kau tau kan?"
"Aku tidak akan membiarkan nya."
(Flashback off)
(Bona side)
Sedari tadi, objek yang kulihat hanya Seokjin dan ponsel. Aku belum berani mengobrak-abrik ruangan ini dan ini sungguh membosankan. Aku tak mungkin mengajak Seokjin mengobrol kalau pun iya, apa yang diobrolkan? Saham perusahaan? No way!
Mata ku pun menelusuri ruangan lagi, dan kutemukan sebuah foto. Seokjin dan adiknya kurasa. Mereka bertiga tersenyum sangat bahagia saat itu dan mereka lucu sekali. Terlebih pipi tembem Seokjin. Imut. I'm going to crazy.
"Jika kau bosan kau boleh melihat-lihat. Tapi kau tidak kuijinkan keluar ruangan." Ujar Seokjin tiba-tiba.
"Bagaimana jika saya ingin ketoilet??"
"Kau bisa menggunakan toilet diruangan ini." Seokjin menunjuk sebuah pintu. Oh, aku tidak tau jika ada toilet diruangan ini.
Aku sangat memanfaatkan kesempatan yang diberikan Seokjin padaku. Aku pun berjalan menuju rak buku, dan melihat buku-buku koleksi atasan ku satu ini.
"Semuanya tentang bisnis.." Guman ku lalu meletakkan lagi buku tebal itu pada tempat asalnya.
Eh, aku pun meraih sebuah album berukuran besar.
"Seokjin, boleh kulihat??" Aku memperlihatkan benda yang ingin ku lihat. Sebuah album foto. Seokjin hanya mengangguk tanpa melihat kearah ku. Heol, sibuk sekali...
Aku pun kembali duduk ke tempat ku semula.
(Author side)
Setelah meminta ijin, Bona pun kembali ke kursi nya. Niat hati untuk melihat foto-foto di album berwarna coklat itu.
(Srek!)
Bona pun membuka album itu.
"Astaga!!!!"
(Brak)
Refleks Bona langsung melempar jauh album itu dan Seokjin langsung menghentikan kegiatan nya dan melihat Bona berusaha menenangkan dirinya. Karena penasaran apa yang Bona lihat saking kagetnya, Seokjin meraih album yang dilempar Bona itu. Seokjin tersenyum.
"Kukira kau melihat apa.. ini kan hanya foto." Seokjin memperlihatkan isi album pada Bona.
"Kenapa anda menyimpan foto yang mengerikan seperti itu???" Bona bahkan meringis ngeri saat Seokjin membuka lembaran selanjutnya dan memperlihatkan pada Bona.
"Ini tidak mengerikan.. ini seni." Jelas Seokjin.
Rasanya Bona ingin memukul kepala Seokjin menggunakan panci jika tidak mengingat Seokjin lah yang menggaji nya. Bagaimana tidak, atasan nya itu dengan santai nya menyebut foto-foto mayat dengan sebutan seni. Album coklat itu penuh dengan foto-foto mayat yang rata-rata adalah wanita dan mereka semua itu pasti korban Seokjin.
"Kau tau kenapa aku mengoleksi nya?? Karena mereka terlihat sangat cantik jika seperti ini." Seokjin menunjukkan sebuah foto dimana seorang wanita nampak tergeletak dipinggir sungai dengan keadaan tidak bernyawa lagi.
"Itu menyeramkan Seokjinssi..." Ujar Bona sambil bergidik ngeri saat Seokjin memperlihatkan foto wanita yang digantung. Bona mengakui atasannya ini tampan, namun gila. Bona mengakui hal itu. Seokjin benar-benar gila diatas rata-rata. Pria ini pasti lulus jika masuk rumah sakit jiwa.
"Tak bisakah anda menghentikan hal itu??" Tanya Bona ketika wanita itu sudah dapat menahan rasa ngeri nya. Seokjin menutup album itu dan meletakkan nya kembali ke rak. Seokjin hanya tersenyum tipis.
"Kenapa?? Apa kau takut menjadi korban selanjutnya??" Seokjin mendekati Bona dan langsung mengunci pergerakan Bona di kursi dengan meletakkan kedua tangannya pada sisi kursi. Wajah Bona benar- benar mengekspresikan ketakutan nya.
"Bukan, bukan itu maksud saya... Maksudnya... Apa anda tidak takut masuk penjara?? Perbuatan anda sudah jelas tindakan kriminal..." Jelas Bona.
"Kau pikir kau siapa berani menasehati ku seperti ini? Kau lupa jika kau hanya sekretaris ku??" Seokjin meraih dagu Bona dan menatap tajam pada wanita yang sudah pucat pasi itu bahkan mungkin ingin menangis saat ini juga.
"Maka dari i-itu.. Seokjinssi.. karena aku sekretaris mu.. aku ingin membantu mu menghilangkan sifat kejam mu....."
Bukan nya melepas atau membebaskan Bona, Seokjin malah meremas kuat lengan wanita itu hingga membuat Bona meringis kesakitan. Baru kali ini Seokjin seperti ini padanya dan ini tak disangka oleh Bona sama sekali.
"Kau bahkan menyebutku kejam nona Shin. Apa kau lupa jika aku adalah atasan mu??"
"Maafkan saya... Tapi, ini demi kebaikan diri anda sendiri... Saya hanya menyarankan yang baik untuk anda. Saya sama sekali tidak bermaksud merugikan anda... Saya hanya menawarkan pertolongan".
Jelas Bona yang tanpa sadar malah meneteskan air mata karena saking ketakutan nya akan Seokjin saat ini. Aura dingin Seokjin yang biasanya Bona rasakan benar-benar hilang dan malah tergantikan oleh aura kejam dan jahat dari seorang Seokjin.
"Apa aku benar-benar menakutkan saat ini?" Tanya Seokjin. Remasan itu melemah dan meninggalkan bekas kebiruan di lengan Bona. Wanita itu mengangguk pelan.
"Sebagai manusia normal, jujur saja. Saya merasa takut akan anda yang seperti ini..." Ujar Bona sembari menatap Seokjin yang ada didepan nya.
"Tapi, saya benar-benar menawarkan bantuan jika anda ingin menghilangkan sifat anda yang satu itu." Lanjut Bona. Seokjin diam memperhatikan wajah Bona dan itu sedikit membuat Bona salah tingkah.
"Bagaimana bisa aku mempercayai mu?" Tanya Seokjin.
"Apa yang anda tidak bisa percayai dari saya??" Tanya Bona.
Benar juga, apa yang Seokjin tidak bisa percayai dari Bona? Seokjin diam. Seperti nya pria itu merenungi sesuatu. Entah apa yang dipikirkan pria kelahiran Desember itu. Ia hanya menatap Bona tanpa arti dan kosong.
"Kukira kau akan mirip dengan nya.. ternyata kau sedikit berbeda dengan Yongsun" ujar Seokjin. Bona bingung.
"Apanya yang beda??" Tanya Bona bingung.
Seokjin tersenyum.
"Dada mu lebih besar dari kakakmu." Ujar Seokjin lalu langsung kembali ke meja kerja nya sambil terkekeh geli saat melihat reaksi Bona yang langsung menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.
(Dasar mesumm!!!! -Bona)
(Ini menarik... -Seokjin)
To Be Continue.