![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Author side)
(Klek)
"Mr. Lee datang..."
Bona langsung membawa mr. Lee ke ruangan Seokjin dan mempersilahkan untuk duduk.
Seokjin nampak sedikit kaget dengan kedatangan mr. Lee yang tiba-tiba itu.
"Eoh. Mr. Lee... Tumben sekali.. duduklah..." Setelah dipersilahkan mr. Lee pun duduk di sofa ruangan Seokjin.
Awalnya Bona menawarkan minuman pada Mr. Lee, namun pria paruh baya itu menolaknya. Karena itu, wanita itu pun pergi.
"Aku memerlukan bantuan mu. Tuan Kim." Ujar Mr. Lee tiba-tiba.
"Bantuan?? Apa yang bisa ku bantu??" Tanya Seokjin penasaran.
"Kita telah bekerja sama selama beberapa tahun ini dan saling menguntungkan satu sama lain bukan?? Ini tentang gudang ku yang terbakar semalam... Kupikir aku bisa meminta bantuanmu. Karena aku yakin ada seseorang yang ingin menghancurkan ku." Ujar mr. Lee.
"Mr. Lee... Apa yang bisa aku dapatkan jika membantu mu?? Bukankah ini tugas para polisi??"
Mr. Lee diam. Terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Ahh... Apa gudang itu menyimpan sesuatu yang ilegal??" Ucapan Seokjin langsung membuat mr. Lee berdehem seakan untuk menenangkan dirinya. Seokjin tersenyum.
"Aku akan lebih mudah membantu jika kau jujur. Anda tau, bisnis yang jujur itu sangat menguntungkan." Ujar Seokjin sembari tersenyum penuh arti(?).
"Ini tentang tekstil yang dikirim beberapa hari yang lalu. Seseorang mencuri itu dan membakar gudang penyimpananku."
"Pajak import barang tekstil cukup tinggi... Itu sebabnya harga pakaian mahal." Ujar Seokjin.
"Anda benar..." Ucap mr. Lee. Seokjin menatap mr. Lee datar.
"Namun, setelah saya pikirkan... Tidak ada yang menguntungkan untuk saya... Biarkan saya berpikir dulu." Ujar Seokjin lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan mr. Lee diruangannya.
Brak!!!
Pria paruh baya itu melampiaskan emosinya pada meja didepannya setelah merasa diremehkan oleh pria yang masih sangat muda darinya. Wajah mr. Lee mengeras dan merah seakan siap meledak saat itu juga.
"Bocah itu..." Geramnya.
.
.
.
.
.
Ting!
(Bona side)
Seokjin :
[Temui aku di basement]
Aku hanya mengulum senyum saat melihat nama yang mengirim pesan padanya. Mataku pun melihat jam weker pink kesayanganku yang diletakkan di meja kerjaku.
12:30 pm.
Tiga puluh menit lagi makan siang. Apa Seokjin mengajakku makan diluar?? Dengan langkah cepat, aku langsung menuju basement tempat para mobil di parkirkan.
Benar yang kupikirkan, priaku (ehem) sudah siap di belakang setir mobilnya. Tak ingin membuat Seokjin menunggu lama aku pun masuk kedalam mobil.
"Kenapa??" Tanya ku penasaran, siapa tau terkaan ku salah.
"Hari ini kita makan diluar saja." Jawab Seokjin sembari menyalakan mesin mobilnya dan mulai keluar dari dalam basement.
Eh, aku benar.
"Tumben sekali... Ada masalah??" Tanyaku asal. Aku menatap Seokjin yang sedang fokus menyetir itu untuk mengharapkan jawaban darinya.
Namun, nihil. Tak ada jawaban dari Seokjin. Pria itu masih sibuk menyetir dan fokus ke jalanan.
Kenapa mengesalkan ya.
Berkat sikap Seokjin yang masih seenaknya tidak suka menjawab pertanyaan ku, aku benar-benar kesal dan ini little hurt my heart. Akupun diam sembari mengalihkan pandangan ku keluar dan menikmati pemandangan kota melalui jendela nya. Rasanya nafsu makan ku menghilang sekejapnya karena sikap Seokjin yang terus seperti ini. Aku jadi ingin sesuatu...
Entah kenapa gambar pizza yang terpampang di depan restorannya terlihat begitu enak saat mobil kami melewatinya.
"Aku ingin pizza..." Gumanku saat mobil kami melewati sebuah restoran makanan khas Italia itu. Tak peduli Seokjin akan membawa ku kemana, intinya hari ini aku harus makan pizza.
Kupikir Seokjin masih tidak berniat mendengarku. Sedari tadi ia diam dan fokus menyetir mobilnya. Ya.. aturannya saat menyetir tidak boleh sibuk dengan hal lain. Kucoba mengerti untuk yang satu ini.
"Apa kau ingin sesuatu??" Tanya Seokjin tiba-tiba saat berhenti dilampu merah. Sudah kuduga ia memang fokus dalam menyetir.
"Aku ingin pizza." Ujar ku apa adanya.
Seokjin menatapku penuh selidik. Ada apa ini??
"Apa kau sedang mengidam??" Tanya nya lagi.
Eh??
"Eh?? Apa yang kau pikirkan???!!" Tanya ku heboh.
Aku bahkan tak terlambat bulan ini. Kenapa ia tiba-tiba berpikiran seperti itu???!!!
Tiba-tiba Seokjin tertawa dan itu aneh sekali dimataku. Kenapa pria ini tertawa?? Apa yang lucu?? Membingungkan iya.
"Hahah... Aku bercanda... Baiklah.. jika kau ingin makan itu.." Seokjin langsung menginjak gas setelah lampu hijau menyala.
Pria ini...
Aku hanya bisa tersenyum senang dan berterima kasih pada Seokjin.
(Author side)
(Ruangan Namjoon)
Drrrtttt dddrrrttt...
Namjoon segera menunda pekerjaan nya saat nama Yongsun terpampang dilayar ponselnya dan langsung mengangkat telepon itu.
"Noona... Tumben sekali.... Apa kau merindukanku??" Sapaan santai Namjoon membuat Yongsun tertawa diseberang telepon.
[Yaa.. apa yang kau pikirkan??!? Aku menelepon mu hanya ingin bertanya tentang Bona...]
"Noona kau aneh sekali. Jika ingin tau keadaan kakak ipar. Tanya kan saja pada hyung atau langsung padanya..." Ujar Namjoon sekenanya. Memang ada benarnya juga.
[Aku tidak bertanya kabar, tetapi tentang. Apa kau tidak penasaran kenapa mereka tiba-tiba memutuskan menikah???!!]
Awalnya mungkin iya bagi Namjoon.
"Itukan keputusan mereka noona. Aku tidak berani mencampuri urusan mereka." Jelas Namjoon acuh.
[Walaupun begitu, tolong awasi mereka... Kau tau, aku tidak ingin ada seorang pun tersakiti. Entah itu Seokjin maupun Bona.]
"Oke! Aku akan memasang mataku pada mereka... Jangan sekhawatir itu noona..." Ujar Namjoon lalu mematikan teleponnya.
"Kau benar-benar menyayangi hyung rupanya...." Ucap Namjoon.
(Restoran)
"Kenapa kau seperti orang yang tidak pernah makan???"
Teguran Seokjin langsung membuat Bona menunda kegiatan menguyahnya dan menatap pria itu dengan tatapan bertanya.
"Entah kenapa aku tiba-tiba merasa jika pizza sangat enak saat ini." Ujar Bona setelah meminum air putih.
"Lalu, ini juga karena mu." Ucap Bona lalu melanjutkan acara makannya. Kini giliran Seokjin yang menatap Bona dengan heran.
"Apa yang aku perbuat??" Tanya Seokjin heran. Bona menatap Seokjin sembari mengunyah pelan pizza di mulutnya dan menelan perlahan makanan itu.
"Apa aku harus mengatakan nya padamu tanpa bisa kau sadari sendiri???" Tanya Bona.
Seokjin menghela napas nya pelan.
"Ini sebabnya aku benci kalian." Guman Seokjin sambil mengalihkan pandangannya kearah lain. Bona menatap Seokjin kesal dan menunggu pria itu kembali menatapnya.
"Aku tak akan tau, jika kau tak memberi tau ku tentang kesalahan ku." Ucap Seokjin sembari menatap Bona kembali.
"Oh... Bagus jika kau berkata demikian... Aku mau kau menghilangkan sikap tidak mau mendengarmu itu." Ujar Bona.
Seokjin terlihat bingung.
"Kapan aku tidak pernah mendengarmu?? Aku bahkan menurutimu kesini." Tanya Seokjin heran.
Bona langsung memicingkan mata nya saat mendengar jawaban Seokjin.
"Kau yakin???"
"Hm. Bahkan aku menikahi mu." Jawab Seokjin. Yang satu ini Bona mengakui nya.
"Tapi, saat kutanya ada masalah, tadi kau tidak menjawabnya." Ucap Bona sekenanya.
Seokjin langsung diam dan menatap Bona datar.
"Jika aku diam, berarti tak ada masalah." Jawab Seokjin.
Bona tersenyum.
"Ya. Tak ada masalah kecil, tapi masalah serius kan?" Tanya Bona asal.
"Apa yang kau pikirkan??" Tanya Seokjin heran.
"Menurutmu??" Bona tersenyum jahil.
"Ayolah Seokjin... Kau tak akan bisa lepas dari belenggu itu jika kau terus menyembunyikan sesuatu dariku."
Bona bahkan menaik turun kan kedua alis nya sembari menatap Seokjin yang masih menatap datar padanya.
"Jika sudah selesai, ayo kita pergi." Bukannya menjawab pertanyaan Bona, pria itu malah mengalihkan pembicaraan.
(Lain kali aku akan mengalihkan pandangan mu menggunakan penggorengan. -Bona)
(Wanita ini... -Seokjin)
"Apa?? Tuan Kim tak ingin membantu??" Minnah langsung menurunkan cangkir teh nya saat mendengar ucapan suaminya barusan.
"Masalah nya pengiriman barang itu adalah lusa. Kita tidak mungkin ingin kehilangan USD 120 juta kita..." Ujar mr. Lee pada Minnah.
"Sayang... Tenanglah... Semua akan baik-baik saja..." Ujar Minnah.
"Terima kasih sayang... Kau selalu ada untuk ku..." Ujar mr. Lee. Minnah hanya tersenyum pada suaminya.
(Apa ini ulah mereka?? -Minnah)
Hup!!
Hyejin hanya menatap kagum pada hoobae kesayangannya saat Bona dengan kuat mengangkat sebuah tumpukan cukup berat untuk bahan rapat hari ini.
"Kenapa bahan nya banyak sekali." Ujar Hyejin
"Haa... Seokjin akan membagikan ini pada para peserta rapat." Ujar Bona lalu pamit pergi.
Tak lama Bona kembali lagi ke meja nya dengan ekspresi lelahnya. Hyejin tersenyum sembari menyodorkan sesuatu pada Bona.
"Ginseng merah..." Ujar Bona heran.
"Itu bagus untuk memulihkan tenaga." Ujar Hyejin.
Bona tersenyum.
"Terima kasih sunbae." Dengan senang hati Bona menerima nya dan menyimpan nya di ranselnya.
18:00 kst
Jam pulang kantor sudah berlalu 30 menit yang lalu dan Bona pun sudah bersiap pulang. Setelah merapikan meja nya, Bona langsung menuju ruangan Seokjin dan langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk. Bagi Bona, Seokjin itu monster gila kerja dan gila lainnya. Bona cukup memahami yang sifat gila kerja nya dari pada gila lainnya. Contohnya saat ini, bahkan saat Bona masuk begitu saja keruangannya, Seokjin sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari laptop hitam nya yang cantik itu. Bona berpikir Seokjin telah mematikan rasa penasarannya terhadap sesuatu.(?) Atau mungkin dia sudah terbiasa dengan Bona??
"Tuan Kim... Apakah anda akan menginap dikantor???" Tanya Bona dan hanya direspon 'hmm' oleh Seokjin.
"Jadi, apa jawabanmu??" Tanya Bona sekali lagi.
"Sebentar lagi chagi." Jawab Seokjin.
Baiklah... Bona akan menunggu.
45 menit kemudian.
Seokjin masih sibuk dibalik meja nya dan kadang sibuk membolak balikkan dokumen selama 45 menit dan Bona hanya menonton kegiatan pria itu sesekali menguap karena lelah.
(Kurasa waktu akan berlalu 10 tahun -Bona)
Buk
Seokjin melipat laptopnya dan langsung menyuruh Bona membawanya.
"Kau terlihat lelah chagi." Ujar Seokjin saat melihat Bona memasukkan hasil pekerjaan Seokjin ke dalam ranselnya.
"Eoh.. tentu saja... Kau juga sama." Ujar Bona. Seokjin tersenyum sembari mengacak surai Bona gemas.
"Malam ini kau tidak perlu memasak. Kita pesan saja dari luar. Kajja." Seokjin langsung melangkah pergi dan Bona mengikutinya dari belakang.
(Apa benar aku adalah istri orang ini?? -Bona)
Dari belakang Bona menatap dalam punggung Seokjin yang ada dihadapan nya. Rasanya sedikit aneh memang, menjalani kehidupan pernikahan seperti ini. Mata Bona pun teralihkan pada jari manis Seokjin yang terpasang cincin pernikahan mereka, Bona tersenyum tipis saat melihat Seokjin bersedia memakai lambang ikatan mereka itu.
(Sesekali... Kapan aku bisa meraih jemarimu... -Bona)
Itu benar bagi Bona, seingat wanita itu, hanya Yoongi yang pernah menggenggam jemarinya dalam arti berjalan berdampingan dan Seokjin tak pernah berlaku seperti itu karena ia adalah atasan Bona. Ia berjalan didepan dan Bona adalah bawahannya yang memang berjalan di belakangnya atau menuntunnya bukan mendampingi tepat di sisinya.
Bona hanya menarik dalam napasnya dan menghela pelan. Rasanya tiba-tiba saja ia jadi sulit bernapas karena memikirkan hal yang menyesakkan itu.
Ting!
Pintu lift terbuka. Seokjin langsung masuk begitu pula Bona. mungkin hanya di lift Bona bisa melihat dari kaca jika ia berdiri disamping suaminya.
Seokjin itu tinggi. Bona bahkan hanya sebahunya saja. Seokjin memiliki bahu yang lebar, makadari itu saat berada di pelukan Seokjin, wanita itu sangat senang. Soal tampan atau tidak Bona hanya menilai jika semua pria ada ketampanannya masing-masing dan Seokjin memiliki ketampanan miliknya.
"Kau itu aneh ya." Ujar Seokjin tiba-tiba. Bona langsung terkekeh geli.
Kenapa tiba-tiba???
"Eoh. Baguslah jika kau menyadarinya." Ucap Bona.
Seokjin terkekeh mengisi sepinya keadaan basement yang sepi.
Mereka kembali sunyi saat Seokjin sudah menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan gedung.
"Chagi. Kenapa kau diam??" Tanya Seokjin sembari masih fokus dengan jalanan didepannya. Bona yang awalnya juga fokus menatap jalanan jadi tertawa karena pertanyaan Seokjin.
"Ehehe... Memang nya aku harus apa??" Tanya Bona bingung. Seokjin tersenyum dan menatap Bona sekilas.
"Apa tidak ada sesuatu yang ingin kau bicarakan??"
"Hmm... Kupikir akan aneh jika aku membahas masalah wanita dengan mu." Jawab Bona sekenanya.
"Eoh. Memangnya apa yang biasanya kalian para wanita bicarakan??" Tanya Seokjin.
Apa ya???
"Hmm... Tergantung pada karakter wanita itu sendiri... Jika seperti aku, aku suka membahas makanan dan mengobrol ringan seperti biasa sambil bercanda." Jawab Bona.
"Benarkah.... Kupikir pemikiran mu sangat sederhana... Apa kalian tak pernah membahas tentang hal yang akan datang??" Seokjin mengerem karena lampu merah dan menatap Bona.
"Biasanya saat aku mengobrol dengan teman-temanku tentang masa depan, kami tak akan jauh dari pekerjaan dan pernikahan. Keinginan hidup sukses dengan pekerjaan bagus dan bahagia dengan pasanganmu." Jelas Bona pada Seokjin yang masih menatapnya.
"Memangnya kenapa??" Tanya Bona lagi.
Lampu hijau.
"Hanya bertanya..." Ujar Seokjin lalu kembali melajukan mobilnya.
Dan mereka melanjutkan perjalanan diam mereka.
(Ruangan Yoongi)
"Hyung... Mr. Lee akan mengimport bahan tekstilnya sebesar USD 120 juta lusa melalui pelabuhan incheon." Ujar jimin pada Yoongi yang sedang bermain piano.
"Aku akan mengatakannya pada Seokjin. Lanjutkan pekerjaan mu dan berhati-hatilah dengan para penegak hukum" ujar Yoongi lalu melanjutkan permainannya. Setelah mendapat perintah baru, Jimin langsung pergi.
(10 tahun yang lalu)
(Yoongi side)
Min Yoongi (15 tahun)
"Yoongi. Kau akan pindah ke Seoul dan tinggal bersama paman Kim mu di sana." Ucapan ayah yang tiba-tiba membuatku tidak jadi menghantam patung jerami dengan pedangku. Aku sedang latihan menggunakan pedang saat ini.
Kenapa tiba-tiba??
"Kenapa tiba-tiba??" Tanya ku heran.
Kulihat ayah menyarung pedangnya dan menatap ku.
"Sudah saatnya kau mengenal dan menjaga rajamu."
(Seoul)
"Seokjin, Namjoon, Taehyung. Mulai hari ini sepupu kalian Yoongi akan tinggal bersama kita." Paman Kim memperkenalkan ku pada ketiga anaknya. Kulihat mereka menerimaku dengan tangan terbuka.
"Eoh... Ayo... Kutunjukkan kamar mu." Ajak Seokjin. Dia yang tertua diantara mereka. Dari aura nya ia sangat berbeda.
"Panggil saja aku hyung karena aku tua setahun dari mu. Kuharap kau nyaman bersama kami." Ujar Seokjin saat mengantar ku menuju kamarku.
(Seoul highschool)
"Kau tau, Lee Yeori sunbae bunuh diri dengan gantung diri."
Samar-samar aku mendengar sekelompok siswi sedang berbincang di belakang ku. Awalnya aku yang sedang mengerjakan soal bahasa inggris dengan frustasi dan kini pendengaran ku terganggu.
"Bukankah Seokjin sunbae adalah kekasihnya?"
Aku menunda memasang earphone ku karena salah satu siswi menyebut nama Seokjin hyung.
"Yeori sunbae itu pasti depresi."
Kini volume mereka sedikit pelan.
Brak
Aku memutar badanku dan menatap sekelompok siswi tukang gosip itu tajam.
"A-ah... Ada apa Yoongisshi??"
"Apa kalian tidak melihat aku sedang mengerjakan latihan?? Kalian berisik."
Setelah aku mengucapkan itu, ketiga siswi itu pun langsung pergi. Ya, aku sangat frustasi melihat kumpulan kata asing di bukuku saat ini.
Untuk masalah Seokjin hyung, aku tak peduli dengan apa yang ia perbuat. Pertama bertemu ia memberi tahuku jika ia sangat tidak menyukai ada perempuan yang bahagia di sekitarnya. Ia sangat menyukai jika para kaum hawa menjerit kesakitan dan meminta ampun. Aku tak terlalu mengerti namun, alasan ku ada di sekitar nya hanya karena tugas dari keluargaku dan Seokjin hyung adalah rajaku.
(Flashback off)
(Author side)
Yoongi menyelesaikan permainan piano nya dan langsung meraih ponselnya.
"Seokjin... Aku ada informasi baru."
(Apartemen Seokjin)
Drrtt...drrrt....
Kegiatan makan malam Seokjin tertunda karena getaran dari ponselnya.
"Hmm?"
Sekilas Bona melihat Seokjin namun langsung melanjutkan kegiatannya menyantap ayam goreng.
Brak
Seokjin langsung pergi dari ruang makan meninggalkan Bona dengan rasa penasarannya.
"Aku tidak mau tau... Aku ingin wanita itu hancur. Yoongi." Ujar Seokjin dingin
"Ya! Seokjin. Kau ingin membunuh orang lagi??????" Tanya Bona tiba-tiba.
Deg
To Be Continue.....🌹