![The Secret Of My Boss [Soft]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-secret-of-my-boss--soft-.webp)
(Author side)
Aroma masakan Seokjin langsung menyeruak keseluruh sudut dapur, pria tampan satu ini mengambil cuti satu hari untuk tinggal di apartemennya. Begitu pula Bona yang belum nampak disekitar Seokjin. Setelah matang isian roti lapis miliknya, Seokjin langsung membuat sandwich untuk sarapannya dan Bona tentu nya. Lantas dimana kah sekretaris wanitanya itu??
"Chagi... Ayo sarapan..."
Sembari membawa piring berisi potongan sandwich buatannya, Seokjin menghampiri Bona yang sedang menonton tv diruang tengah. Bona melihat sekilas pada Seokjin lalu melanjutkan kegiatan menontonnnya.
"Chagi?? Kenapa kau memanggilku seperti itu??" Nampaknya Bona sudah sangat santai terhadap Seokjin hingga tak ada kata baku lagi pada Seokjin.
"Memangnya salah jika aku memanggilmu seperti itu, bukankah kita akan menikah chagi??"
Bona hampir memuntahkan sandwich di mulutnya saar Seokjin menyebut kata "menikah" padanya.
(Beberapa saat yang lalu)
"Jika kamu masih sulit mempercayai ku, percuma kamu menahan ku... Atau melakukan ini. Karena hanya merugikan satu sama lain saja." Ucap Bona sembari menarik napas dalam-dalam demi menenangkan dirinya.
"Aniya. Aku tak berminat melakukan itu. Sudah kukatakan jika mereka yang pergi dari ku bukan aku yang sengaja menyingkirkan mereka."
Bona diam, nampaknya wanita itu memikirkan perkataan Seokjin barusan dan menatap Seokjin aneh.
"Aku tidak mau tau, kamu harus tanggung jawab." Ucap Bona sembari menatap serius pada Seokjin.
"Kau yakin dengan ucapanmu itu?"
"Aku serius dengan ucapan ku. Aku tidak suka bermain-main dengan hidupku."
"Aku akan benar-benar mengikatmu Bona... Kau tau diriku bukan?? Apa kau tidak berniat lari dariku setelah apa yang kuperbuat padamu??"
Bona tersenyum miring.
"Jujur saja aku ingin memukul mu menggunakan penggorengan saat ini." Timpal Bona.
Seokjin langsung tertawa dimuka Bona. Rasanya agak sedikit menggelitik benaknya.
"Ya.. bisakah diam.... Aku serius saat ini Seokjin...."
Dengan geram Bona mencubit bahu pria yang sedang tertawa lebar itu.
"Aw...aishh...sudah berani rupanya... Baiklah... Kita akan menikah secepatnya bagaimana??"
Seokjin merangkup wajah Bona dan menatap kedua bola mata wanita itu dalam.
Deg!
"K-kamu tidak mempermainkan diriku bukan?? Seokjin, jika kau hanya ingin membual, jangan padaku..."
Seokjin tersenyum.
"Aku bisa serius Bona..."
"Dan juga... Itu... Bukankah kau membenci wanita?? Bagaimana trauma mu itu??" Tanya Bona.
"Kau bilang pada ku untuk tidak lagi mencoba tapi melakukannya. Aku sedang melakukannya saat ini."
Bona mengerjap beberapa kali pada Seokjin dengan tatapan tak percaya nya itu.
"Namun satu hal yang harus kau pahami, aku menikahi mu tidak atas dasar cinta atau apalah itu. Anggap saja kita saling mencoba mempercayai satu sama lain dan menyembuhkan kelainan ku."
Jantung Bona sedikit perih saat Seokjin mengatakan alasan menikahinya.
(Jangan banyak berharap Bona. -Bona)
"Intinya kamu harus bertanggung jawab. Apapun alasannya." Ujar Bona.
(Flashback off)
Bona mengunyah pelan potongan sandwich terakhirnya sembari mengingat kesepakatan bodohnya dan Seokjin yang baru saja terjadi. Serta asal usul dari sikap santainya pada Seokjin.
"Yaa... Apa yang kau lamunkan???" Tanya Seokjin sembari merangkul bahu Bona. Bona menoleh melihat Seokjin.
"Tentang Yongsun eonni." Jawab Bona.
"Aishh... Wanita itu memang sulit."
Bona terkikik mendengar sungutan Seokjin. Bona juga sepaham dengan Seokjin, eonni Bona satu itu memang sesuatu.
[ 2 minggu kemudian ]
Disebuah aula hotel mewah di Seoul, yang mana telah di dekorasi semewah selayaknya sebuah pesta pernikahan. Puluhan karangan bunga berjejer menghiasi pintu masuk dan para penyambut tamu.
"Ya.. hyung... Akhirnya kau menikahi seorang wanita juga..." Ucap Jungkook pada Seokjin yang sedang menyambut tamu. Seokjin hanya tersenyum.
"Apa kau mengira aku akan menikahi mu? Begitu?" Jungkook langsung menggidik ngeri menatap Seokjin.
Sementara itu sang mempelai wanita berada di ruang tunggu sedang duduk dan dirias. Sembari ditemani oleh kakak nya dan Hyejin.
"Tetap saja.... Rasanya agak berat melepasmu bersama pria seperti itu." Ujar Yongsun.
"Yakinlah, mereka akan baik-baik saja. Terlebih Bona sudah santai terhadap Seokjin." Timpal Hyejin.
"Ahaha... Bona itu santai pada siapa saja..." Sambut Yoongi yang tiba-tiba masuk. Bona langsung menatap Yoongi heran.
"Selamat pagi tuan Min." Ujar Hyejin. Yoongi hanya tersenyum tipis membalas sapaan Hyejin.
"Min Yoongi... Si tuan tangan kaki." Ujar Yongsun mengejek pria yang biasa Bona sebut pria Min itu.
"Cara bicara mu tak pernah berubah dokter Shin... Masih saja menyebalkan." Cibir Yoongi. Yongsun hanya tersenyum manis.
Yoongi pun menatap Bona sembari memberikan tatapan membingungkan bagi Bona, karena Bona tak bisa menerka apa yang dipikirkan pria Min itu.
"Aish... Dunia ini begitu kejam... Bagaimana bisa Seokjin menikahi mu." Ujar Yoongi.
Bona mendelik pada Yoongi. Andai saja ia bisa melempar buket bunga pada mulut Yoongi. Bona terlalu baik.
"Maka dari itu, segeralah menikah..." Balas Bona.
Yoongi tertawa.
"Hhaah... Menikah tidak cocok untukku..." Timpal Yoongi.
Ya, Bona paham dengan jawaban Yoongi. Bagaimana bisa menikah atau menjalin hubungan dengan seseorang dalam hal positif jika kau selalu di dalam lingkaran kegelapan.
(Aku percaya kau akan menemukan nya Yoongi. -Bona)
Sekali lagi Yoongi memperhatikan wajah mempelai wanita sepupunya itu dengan seksama, sementara Bona bertanya-tanya dalam pikirannya dan hanya bisa tersenyum.
"Jika kau bosan dengan Seokjin. Hubungi saja aku... Kau tau, aku selalu siap... Hehee..." Setelah mengatakan hal menyebalkan bagi Bona itu, Yoongi langsung pergi.
(Sial.... -Yoongi)
(Beberapa jam kemudian)
Setelah selesai segala rangkaian acara, Bona dan Seokjin tidak langsung pulang ke apartemen mereka, melainkan bergabung bersama keluarga dirumah tuan Kim Jae wook, appa nya Seokjin. Nampaknya seperti memberikan nasehat pada Bona dan Seokjin. Bona nampak nya sedang berbincang dengan appa nya Seokjin dan Namjoon dan Seokjin sebaliknya.
"Seperti yang kau tau, Seokjin memiliki trauma dan sifat yang posesif. Ini tak akan mudah untuk mu nak." Ujar Jaewook. Bona menggangguk setuju.
"Aku mengerti abeonim, aku berniat membantu nya berubah."
"Rukunlah dengan nya... Aku tak menyangka, dia mengambilmu sebagai istrinya... Anak itu tak pernah mengenalkan pacarnya yang lain padaku. Hingga dia membawamu kehadapan ku tempo hari... Aku senang akan itu."
Jaewook terkekeh dengan suara beratnya itu. Bona pun terkekeh juga mengingat mertuanya yang cukup lucu juga.
"Aboenim, saya akan berusaha sebaik mungkin."
"Jangan terlalu memaksakan dirimu. Itu justru akan menyiksamu..." Ucap Jaewook.
"Benarkah??"
"Hmm. Putra ku satu ini keras kepala dan manja... Kau pasti tau akan itu."
(Yaa... Karena sifatnya itu, aku menikah dengannya. -Bona)
Sementara disisi lain, Seokjin nampak berbincang dengan kedua orang tua Bona.
"Kau akan tau jika sudah hidup bersama nya itu, Bona itu sangat lemah fisik serta mentalnya. Ia sangat mudah mengeluarkan air matanya itu. Nak Seokjin, kuharap kau mengerti akan sifatnya itu... Kadang juga ia agak aneh... Kami sangat senang kau bisa bersama Bona, karena kau tau, Bona orang nya sedikit aneh.. jadi sulit diterima oleh beberapa orang." Ujar eomma Bona Shin Shinhye.
Seokjin jadi tau penyebab air mata Bona yang mudah keluar itu, dan juga sifat aneh Bona memang tak dapat dipungkiri lagi. Wanita itu memang aneh bagi Seokjin.
"Sulit diterima beberapa orang??" Tanya Seokjin.
"Dia sering diremehkan... Kami sangat menyayangi putri kami yang satu itu... Kami selalu menyembunyikan 'omongan' orang tentang nya padanya agar ia tak kepikiran dan stress... Anak itu rentan stress. Tolong jaga Bona untuk kami..." Pinta Shinhye. Seokjin tersenyum.
"Saya menerima putri abeonim eommonim dengan kehendak hati saya.... Saya akan menjaganya."
"Rukun-rukunlah, kami percaya padamu nak." Ujar Appa Bona Shin Donghae.
"Tak usah mengkhawatirkan kami abeonim, aku akan menjaga nya dan merawatnya sebaik mungkin..." Ucap Seokjin.
(Apartemen Seokjin)
Klek
Seokjin dan Bona baru tiba di tempat tinggal mereka. Keletihan nampak pada wajah pasangan itu, rasanya ingin langsung melempar diri pada ranjang dan segera berenang di alam mimpi. Maunya begitu, namun sepertinya Bona yang harus menunda keinginan itu, karena harus membereskan segala riasannya yang belum dibersihkan itu. Karena sedari tadi gaun pengantin yang cukup panjang itu tidak terlepas dari tubuhnya, sedangkan Seokjin sudah terbaring sofa ruang tengah lengkap dengan tuxedo putih yang masih lengkap ditubuhnya itu.
"Seokjin... Ganti baju mu dulu..." Ucap Bona setelah selesai membersihkan tubuhnya dan siap beristrirahat malam. Seokjin benar-benar terlelap dan sulit dibangunkan, tidak biasanya pikir Bona.
"Seokjin.... Ganti bajumu..." Ucap Bona sekali lagi sembari menepuk pelan bahu suaminya itu.
"Nnghh?? Jam berapa ini??" Tanya Seokjin setengah sadar.
"11:46 pm... Kenapa?? Ingin kekantor?? Besok hari minggu..." Jawab Bona.
Seokjin pun langsung beranjak kekamarnya tanpa membalas perkataan Bona. Ahh.. sudah biasa. Itu lah sifatnya... Pikir Bona.
"Hey, kenapa belum tidur??" Seokjin heran pada Bona yang masih tersandar didasbor ranjang sambil bermain ponsel. Seokjin baru selesai mandi. Bona tersenyum pada Seokjin.
Hap.
Seokjin langsung mengambil ponsel dari tangan Bona saat ia naik ke ranjang.
"Justru inilah yang membuat mu tak bisa tidur." Tanpa peduli dengan ekspresi kaget Bona, Seokjin langsung memejamkan matanya. Ponsel disita oleh suami sendiri, ini sejarah bagi Bona. Karena tak ada pilihan lain Bona juga berbaring dan berharap bisa tidur.
(Rasanya aneh... Kurasa jalan hidup yang kupilih sedikit aneh... -Bona)
(Paris, Prancis)
(Disuatu rumah)
Tap
Tap
Tap
Tap
Klek
"Nyonya, saya sudah memesan tiket penerbangan ke Seoul." Ujar seorang wanita yang baru masuk kesebuah kamar hotel.
Wanita berpakaian formal itu berbicara pada punggung seorang perempuan yang sedang menikmati pemandangan kota Paris dari kamarnya.
"Hmm... Akhirnya aku pulang." Ujar Wanita itu pada sekretarisnya.
Srek!!!!
Pagi minggu yang buruk. Begitulah kalimat yang ada dipikiran Bona saat membuka tirai kamarnya dan Seokjin. Hujan cukup deras terpampang nyata diluar sana, ditambah awan yang menutupi langit membuat kegelapan dipagi hari.
Terlihat dari muka bantalnya, Bona baru saja bangun tidur sementara Seokjin belum bangun dan hanya bergerak sedikit saat cahaya dari jendela masuk dan menyinari kepalanya. Bona hanya terkikik tak bersuara saat mendengar Seokjin berguman tak jelas.
"Bona ya...." Guman pria itu. Bona diam tak merespon dan masih di dekat gorden. Bona mengira Seokjin pasti sedang mengigau.
"Bona...ya..." Kali ini intonasinya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
"Pria ini..." Gerutu Bona sembari menghampiri Seokjin yang masih memejamkan matanya itu.
"Ada apa Seokjin?? Kembalikan ponsel ku." Bona ingat Seokjin belum mengembalikan ponselnya dari semalam. Perlahan Seokjin membuka matanya dan menatap Bona datar khas muka bangun tidurnya. Pikir Bona.
"Kenapa??" Tanya Bona.
"Morning kiss.." jawab Seokjin
Cup
Bona langsung mengecup udara dihadapannya sambil melihat Seokjin sembari terkekeh geli. Yang diperlakukan seperti itu terlihat sangat kesal akan perlakuan istrinya itu.
Grep! Bruk!
"Aishh... Akhh... Hey! Kamu marah??" Seru Bona pada Seokjin saat pria itu menarik dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Seokjin hanya tersenyum.
"Aniya... Aku tidak marah..." Jawab Seokjin sembari menindih tubuh Bona. Bona hanya tersenyum konyol.
"Aku hanya bercanda Seokjin...hehehe.. hey!! Apa yang kau sentuh!!!"
Tanpa Bona sadari, jemari nakal Seokjin sudah masuk kedalam kaos abu-abu Bona dan meraba gundukan kenyal istrinya itu.
"Ah... Bagaimana jika satu hukuman di pagi hari untuk mu??" Tanya Seokjin. Jelas saja Bona menatap Seokjin kesal.
"Hhhh...ini geli Seokjinhhh...hentikan...."
Tentu saja Bona tak akan diam saja, tangannya langsung menarik keluar jemari nakal Seokjin dan langsung mencekal leher Seokjin dengan kedua lengan nya.
"Ahhkkh.... Ahhahhah... Chagi... Kau kejam juga..." Ujar Seokjin terbata karena sesak walaupun sambil tertawa.
Bona tertawa keras sembari melepas Seokjin yang kesulitan bernapas karena nya itu.
"Tentu saja... Aku sekarang istri dan sekretaris mu sayang..." Ujar Bona sembari menyisir surai hitam Seokjin dengan jemarinya. Seokjin meraih jari Bona yang menyisir rambutnya itu lalu digenggam erat jemari kecil itu.
"Senang bisa bekerja sama dengan mu..." Ujar Seokjin sembari menatap Bona dalam. Bona tersenyum lebar serta menepuk genggaman tangan mereka.
Deg!
"Tentu saja.... Ayo kita saling mempercayai... Oke! Perutku lapar... Ayo masak sesuatu...!!!" Bona langsung beranjak dari ranjang dan langsung melenggang ke kamar mandi. Sementara itu, Seokjin menatap wanitanya bingung.
"Apa dia memasak di kamar mandi??" Seokjin bertanya pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Kim Namjoon sedang menikmati waktu sendirinya disebuah kafe dengan ditemani secangkir latte panas dan sepotong kue untuk mengawali hari minggu nya. Nampaknya Namjoon menunggu seseorang dan seperti nya orang yang ia tunggu telah datang.
"Tumben sekali bangun pagi di hari minggu??" Cibir Yoongi sembari duduk diseberang Namjoon.
"Ck! Jika hyung tak ingin bertemu dengan kua secara mendadak, aku pasti sedang tidur saat ini. Apa kau ingin curhat padaku hyung?? Tentang rasa kesal mu barang kali." Ujar Namjoon. Yoongi tersenyum miring.
"Apa yang kau pikirkan?? Justru kau lah yang mengesalkan." Ucap Yoongi.
Namjoon terkekeh lalu menyeruput kopinya.
"Ingin ku pesankan??"
"Americano"
Namjoon pun langsung memanggil pelayan kafe untuk memesan kopi Yoongi.
"Jadi, kenapa kau ingin bertemu dengan ku hyung??" Tanya Namjoon saat kopi Yoongi datang.
"Ibumu..."
"Aku tak memiliki ibu hyung." Potong Namjoon. Yoongi menghela napas pelan.
"Lalu, siapa yang melahirkan mu??!" Tanya Yoongi kesal.
"Kenapa kau mempertanyakan tentang kelahiran ku?!!" Tanya Namjoon heran.
"Baiklah.. sebut saja 'wanita itu'. Kenapa hyung??" Sambung Namjoon.
"Dia kembali ke Korea hari ini." Jawaban Yoongi seolah menjadi satu cubitan dibenaknya, dan membuka kembali rasa sakit dari masa lalu nya itu.
(Flash back 20 years ago)
"Pergi kau!! Orang seperti mu tak pantas tinggal bersama kami!!!"
Mata Namjoon kecil dapat melihat appanya melempar satu koper berisi pakaian eommanya keluar rumah dari celah pintu kamarnya dan Seokjin. Namjoon kecil hanya bisa menangis mengingat eomma nya pergi dari rumah bersama pria yang tak dikenal. Namjoon kecil tak sendirian, ada Seokjin yang sedang menjaga Taehyung yang baru berumur satu tahun lebih bersama nya dikamar. Itu karena appa nya yang mengurung mereka bertiga dikamar.
"Kau pikir dengan keadaan mu seperti ini kau bisa menghidupi mereka?!!! Biarkan aku membawa mereka!!!" Teriak eomma Namjoon. Melihat eomma nya yang ingin pergi ke kamarnya, Namjoon langsung menutup pintu dan berlari kepelukan Seokjin.
"Hyung... Aku takut..." Ujar Namjoon pada Seokjin kecil sambil menangis.
"Tak apa... Jangan takut... Ada hyung dan Tae disini..." Ujar Seokjin yang juga tak bisa menahan tangisnya.
Ketiga bersaudara itu duduk meringkuk disudut kamar dengan diselimuti rasa ketakutan yang luar biasa. Taehyung yang belum mengerti apa-apa hanya bisa diam melihat kedua kakak nya terisak. Teriakan orang dewasa benar-benar menjadi suatu pemukul dibatin mereka, terlebih suara barang-barang yang jatuh atau dilempar.
"Hyung...." Rengek Namjoon.
"Tak apa... Jangan menangis..." Ujar Seokjin
"Hyung... Tae ingin susu." Ujar Taehyung tiba-tiba. Seokjin dan Namjoon langsung menatap satu sama lain dan kebingungan.
(Flashback off)
Tak
Tak
Tak
"Akh!"
"Seokjin kamu kenapa??!!" Bona yang sedang membersihkan sayuran dikejutkan dengan suara Seokjin dan segera menghampiri suaminya itu.
"Tak apa-apa... Hanya teriris sedikit saja..."
Seokjin langsung menunjukan luka diujung telunjuknya, melihat luka yang berdarah itu Bona segera menggidik ngeri. Wanita ini agak ngeri dengan darah.
"Lukanya dibersihkan, agar tak infeksi.. aku akan mencari obat. Bersihkan lukanya..."
Seokjin tersenyum melihat ekspresi wanita nya yang kalut dengan lukanya.
"Padahal hanya luka kecil. Dasar wanita." Ujar Seokjin. Bukannya langsung mencuci lukanya, mata Seokjin terarah pada pemberitahuan pesan masuk pada ponselnya dari Namjoon.
Namjoon
[Ia di Korea saat ini]
Seokjin mengepalkan lukanya hingga darahnya menetes kelantai dapur. Seakan luka lama yang terkubur telah dibuka kembali dan berdarah lagi(?) Seokjin terlihat memendam amarah saat ini.
Akhirnya Bona menyelesaikan masakannya sendirian karena luka di jari Seokjin. Sedari tadi Seokjin hanya diam dimeja makan dengan lamunannya yang membuat Bona heran. Tatapan pria itu kosong dan bola matanya bahkan tak bergerak kekanan maupun kekiri(?)
(Apa dia kurang darah?? -Bona)
Bona terus menikmati wajah tampan suaminya dengan banyak pertanyaan dikepalanya. Bahkan makanan di hadapan nya tidak ia hiraukan.
"Seokjin?? Kamu tidak sarapan??" Tanya Bona. Mendengar namanya disebut, lamunannya seakan buyar dan Seokjin nampak gelagapan.
"Eoh... Aniya... Ayo makan." Ucapnya.
Bona pun memberi semangkuk nasi pada Seokjin.
(Sepertinya bukan kurang darah. -Bona)
To Be Continue