The Secret Of My Boss [Soft]

The Secret Of My Boss [Soft]
Come To Knock You



(Author side)


"Aku tidak mau tau... Aku ingin wanita itu hancur. Yoongi." Ujar Seokjin dingin


"Ya! Seokjin. Kau ingin membunuh orang lagi??????" Tanya Bona tiba-tiba.


Deg


Sambutan Bona yang datang tiba-tiba membuat Seokjin langsung mematikan telepon dari Yoongi.


"Sejak kapan kau disitu??" Tanya Seokjin dingin. Bona menatap Seokjin heran.


"Kenapa?? Apa kau merencanakan sesuatu dan tidak memberitahuku??" Tanya Bona.


Bona baru saja selesai makan dan ingin menonton televisi sebelum tidur, namun niat nya terhenti karena rasa penasarannya akan Seokjin yang sedang mengobrol di ruang kerja nya. Wanita ini memberanikan diri membuka sedikit pintu yang tak suaminya kunci dan menguping pembicaraan Seokjin. Ini memang tidak sopan. Namun Bona berniat baik.


Seokjin diam tak menjawab pertanyaan Bona. Ia hanya menatap dingin sosok wanita yang berdiri diambang pintu ruang kerjanya itu.


"Jangan ikut campur. Tidurlah sana." Ujar Seokjin acuh. Pria itu bahkan tak menghadap Bona saat berbicara dan lebih memilih memandang jendela.


"Apa yang sedang kau rencanakan??" Tanya Bona. Ia tak peduli dengan perintah Seokjin untuk menyuruhnya pergi. Perasaan nya begitu menggebu untuk segera mengetahui rencana Seokjin.


Seokjin masih diam dan tak berniat menjawab. Melihat tak ada reaksi apapun dari Seokjin bukan berarti memadam kan rasa penasaran.


"Pergilah selagi aku masih baik saat ini." Ujar Seokjin.


Deg


(Apa ia akan melempar sesuatu padaku??!! -Bona)


Mendengar perkataan Seokjin membuat Bona menutupi tubuhnya dengan daun pintu dan hanya menampakkan kepalanya kedalam ruang kerja Seokjin.


"Apa tak ada yang bisa ku bantu??" Tanya Bona sekali lagi dengan intonasi yang lebih pelan.


"Kau baik-baik saja??"


Seokjin sama sekali tidak menggubris Bona yang masih ada dibelakangnya. Pria itu masih betah memandang kosong pemandangan malam Seoul.


"Seokjin... Seokjinssi... Seokjin..."


"Tinggalkan aku sendiri." Ujar Seokjin.


"Bagaimana jika aku tak mau??" Tanya Bona. Seokjin membalik badannya dan melihat Bona yang masih diambang pintu. Wanita menatap Seokjin dengan tatapan penasarannya. Seokjin menghela napasnya sembari memijit pelipisnya.


"Okey. Sekarang tuan Kim sedang pusing."


"YA!!"


Bona terperanjat kaget saat Seokjin meneriakinya.


Deg


Deg


Deg


"S-seokjin..." Saking syoknya Bona bahkan mengusap dadanya demi menenangkan dirinya. Teriakan Seokjin seakan membekas di benaknya.


"Sudah kukatakan padamu untuk pergi dan jangan mencampuri urusanku. Sadar lah dengan dirimu yang lemah itu." Ujar Seokjin lalu pergi dari ruangan itu.


(Kau seharusnya mendengarku. -Seokjin)


Masih terbayang wajah syok Bona didalam pikiran Seokjin. Benar-benar menggambarkan sebuah ketakutan.


Sementara Bona masih dengan posisinya langsung sadar dan mengejar Seokjin.


"Seokjin jika kau bersikeras seperti ini...aku akan..." Ujar Bona pada Seokjin yang sedang minum air di dapur.


"Akan apa?? Kau bahkan tak tau cara menghadapiku..." Ujar Seokjin sembari menatap Bona yang ada tepat didepannya.


Benar juga... Bona lupa memikirkan itu. Salahkan pekerjaan menumpuk yang selalu Seokjin berikan padanya.


Bona tersenyum.


"Beritahu aku, siapa yang ingin kau hancurkan?? Apa ia pernah merusak mu?? Kenapa kau dendam dengannya?? Beritahu aku jika kau percaya dengan ku." Ucap Bona serius.


"Kau tak akan mengerti."


"Kau yang tak mengerti." Balas Bona.


"Kau masih kekanakan. Orang seperti mu tak akan mengerti apa itu rasa benci." Ujar Seokjin sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Bona untuk menatapnya lebih dekat.


"Kukatakan pada mu, hilangkan rasa benci mu itu. Kau bahkan tak bisa mensyukuri kehidupanmu saat ini karena ambisi dari rasa benci mu."


"Aku akan puas saat aku melihatnya hancur." Ujar Seokjin. Bona menatap pria bersurai hitam itu tak percaya. Namun tak lama Bona tersenyum.


Gyut


Bona langsung mencubit kedua pipi Seokjin.


"Ya. Apa yang kau lakukan??" Tanya Seokjin heran sembari menepis jemari Bona yang mencubit pipi nya lalu pergi begitu saja dari dapur.


Tentu saja Bona kesal dengan sikap Seokjin yang seperti itu. Namun, ia sudah terlalu banyak merasa kesal hari ini. Dirogoh nya ponsel nya yang ada didalam saku dan langsung mengetik pesan dengan sangat geram.


To : Namjoon


[Aku tidak mau tau. Kita harus bertemu besok.]


(Kafetaria kantor)


Tuk.


"Katakan, apa yang Seokjin rencanakan??"


Namjoon baru saja duduk dan ingin bertanya kenapa ingin bertemu. Namun sudah Bona mendahului pembicaraannya. Terlebih pertanyaan nya sedikit 'jleb' di hati Namjoon.


Namjoon terlihat bingung.


"Apa kalian bertengkar??" Tanya Namjoon.


"Ani... Semalam aku menguping Seokjin menelepon dan ia bilang ingin menghancurkan seseorang yang ia sebut 'wanita itu'. Siapa 'wanita itu'??" Tanya Bona penasaran.


"Kau yakin hyung mengatakan itu?? Apa kau tak salah dengar??"


Bona mendengus pelan dan menatap Namjoon malas.


"Ayo kita ke dokter THT sekarang. Jika telinga ku baik-baik saja, aku akan menjewer telinga mu bagaimana??" Bona bahkan mempraktekkan cara nya menjewer dengan segenap kegeraman dihati dan itu terlihat sedikit menyeramkan bagi Namjoon.


"Kenapa kau jadi menyeramkan sekarang??" Ujar Namjoon heran.


"Aku berniat baik pada hyung mu. Jika kau tak berniat membantu ku, aku tak tau lagi pada siapa aku akan minta bantuan..."


Seketika Bona langsung terlihat pasrah dan tidak terlalu bersemangat dimata Namjoon. Apa yang sedang wanita itu pikirkan hingga terlihat selemas itu.


"Kau tau hyung mu itu kepala berlian... Sulit untuk di leburkan... Dipanasi tidak bisa... Apalagi didinginkan... Itu justru membuatnya semakin keras..." Gerutu Bona.


"Apa yang kau pikirkan Bona???" Tanya Namjoon geli. Bona hanya menatap malas Namjoon dan meminum es kopinya yang sedari tadi belum disentuhnya.


"Haah... Kenapa es nya pahit hari ini..." Sungut Bona.


"Kakak ipar ku yang kusayangi... Aku yakin Seokjin hyung pasti menyayangi mu."


Bona menatap Namjoon heran.


(Bona side)


17:00 kst.


Ting


Seokjin


[Pulanglah duluan... Aku ada urusan.]


Lagi. Dia menyuruhku pulang karena dia mengurus sesuatu. Apa yang harus kuperbuat hari ini?? Menurutinya?? Atau mengikutinya??


Daripada memikirkan jawaban nya lebih baik menemukan jawabannya.


Aku pun langsung menuju ruangan Seokjin. Aku yakin pria itu masih ada di ruangannya.


[Klek]


Benar.


"Kenapa kau belum pulang chagi??" Tanya nya heran padaku. Nampaknya pria ini bersiap pergi kesuatu tempat.


"Karena aku ingin tau kau kemana." Jawaban yang sangat jujur.


Seketika ia menurunkan suhu kemanusiaannya dan menjadikanya manusia yang dingin. Aku masih berdiri diambang pintu bahkan tubuhku menghalangi jalan keluar.


"Kau bercanda?? Apa kau tidak sadar apa yang akan kulakukan jika kau membangkitkan kemarahanku??" Tanya Seokjin penuh dengan aura menyeramkan darinya.


Apa aku hanya tukang pembangkit amarahmu saja???


"Aku tidak bercanda... Justru kau yang bercanda." Ujarku sekenaku saja. Namun kulihat Seokjin seperti menahan amarahnya dan menatap ku tajam.


Apa aku salah???!!!!!!!


Aku menggaruk kepala ku yang memang gatal karena belum mandi sekaligus karena kebingungan.


"Shin Bona... Ini sama sekali bukan sesuatu yang menyangkut dengan mu dan keluargamu... Kau tak perlu tau." Ujar Seokjin sembari menerobosku untuk keluar namun aku langsung meraih lengannya dengan kedua tanganku sekuat tenagaku. Takutnya orang ini lari.


Tapi, Seokjin...


"Ini menyangkut denganmu. Kau adalah suami ku secara hukum dan iman. Mana ada istri yang membiarkan seorang suaminya menjadi penjahat! Kau adalah tanggung jawab ku Seokjin."


Aku menatap Seokjin, namun pria ini sama sekali tak berniat menatap ku atau pun melirikku. Aku memang tak mengharapkan kau menatapku, namun apakah kau bisa mendengarku?? Sedikit saja ku mohon.


"Sudah kukatakan aku menikahi mu bukan karena dasar cinta... Jangan terlalu tenggelam dalam peranmu itu." Ujarnya dingin


Ini seperti hantaman besar dalam benakku.


Tenggelam dalam peran, katanya??


Demi apa pria ini....


Ini sedikit nyilu didalam benakku. Namun, Seokjin...


"Kau ini aneh. Saat ada yang peduli denganmu malah kau perlakukan seperti ini... Namun, saat ada yang membuangmu kau malah membenci mereka dan mengatakan mereka tak mengerti dirimu." Ujarku. Seokjin masih diam dan tidak merespon.


Aku peduli padamu Seokjin...


Akupun melepas tanganku pada lengannya. Kini ia membelakangiku. Aku dibelakang lagi.


"Jujur saja, aku tak mengerti apa itu cinta atau apalah itu... Aku hanya peduli dan ingin menolongmu... Maafkan aku yang terlalu peduli dan membuat mu marah... Aku pulang dulu... Selamat malam." Ujar ku lalu berjalan pergi.


Rasanya sedikit sakit di dalam benakku, itu seperti sebuah jarum kecil yang menusuk dalam dan secara perlahan. Menyerah??? Itu bukanlah diriku.


(Author side)


"Ini menyangkut denganmu. Kau adalah suami ku secara hukum dan iman. Mana ada istri yang membiarkan seorang suaminya menjadi penjahat! Kau adalah tanggung jawab ku Seokjin."


Bona menatap pria yang ia tahan saat ini. Namun Seokjin sama sekali tak berniat melirik wanita yang menahan lengannya saat ini.


"Sudah kukatakan aku menikahi mu bukan karena dasar cinta... Jangan terlalu dalam tenggelam dalam peranmu." Ujar Seokjin dingin.


Seketika genggaman dilengan Seokjin melemah dan Bona malah tersenyum miring.


"Kau ini aneh. Saat ada yang peduli denganmu malah kau perlakukan seperti ini... Namun, saat ada yang membuangmu kau malah membenci mereka dan mengatakan mereka tak mengerti dirimu." Ujar Bona sembari benar-benar melepas genggamannya di lengan Seokjin dan hanya menunduk menatap lantai. Walaupun Bona sudah melepas nya, Seokjin sama sekali belum melangkah sedikitpun. Apa ia masih menunggu Bona bicara??


"Jujur saja, aku tak mengerti apa itu cinta atau apalah itu... Aku hanya peduli dan ingin menolongmu... Maafkan aku yang terlalu peduli dan membuat mu marah... Aku pulang dulu... Selamat malam."


Walaupun Bona mengucapnya pelan, Seokjin dapat mendengar ucapan wanitanya itu.


Bona terlihat memperbaiki ekspresinya saat berjalan mendahului Seokjin dan hanya menggenggam erat tali ranselnya. Namun sepertinya wanita yang sudah berjalan beberapa langkah dari Seokjin itu tak dapat menahan rasa nyeri di dadanya.


Tes!


Tes!


Sementara itu Seokjin masih menatap punggung Bona yang perlahan menghilang. Bohong jika ia tak mendengar ucapan Bona barusan. Hanya saja sepertinya ia pantang untuk menatapnya. Apa yang dipikiran pria ini.


Sesuatu mendorong benaknya


"Bona..ya..." Panggilnya.


Sunyi tak ada jawaban.


Apa Bona sudah jauh??


"Bona ya...!!!" Seokjin memanggil sekali lagi wanitanya. Sama, tak ada yang menjawab.


"Bona ya!!!"


Entah apa yang mendorongnya, Seokjin langsung berlari menyusul Bona dengan seruannya yang cukup nyaring.


"Bona ya!!!"


Bona langsung mengelap air matanya dan tidak jadi keluar gedung karena seseorang meneriaki namanya dan orang itu adalah Seokjin. Bona membalikkan badannya dan dapat melihat Seokjin berlari menuju posisinya. Sebenarnya ini agak membingungkan bagi Bona.


"Iya?? Kenapa??" Tanya Bona bingung. Seokjin terlihat masih mengumpulkan napasnya sehabis berlari. Bona masih menunggu.


Gyut.


Seokjin memeluk Bona erat tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Pria itu benar-benar mengurung Bona dalam pelukannya seakan tak ingin melepasnya. Tanpa ragu, Bona langsung menepuk pelan punggung pria keras kepala itu sembari tersenyum. Berharap dapat menyalurkan rasa nyaman darinya.


Setelah cukup lama memeluk tubuh Bona, Seokjin pun melepasnya dan menatap kedua mata dark brown wanita itu.


"Kau menangis?? Apa aku menyakiti mu??" Tanya Seokjin kalut saat melihat mata sembab Bona.


Bona tersenyum tipis.


"Aku menangis karena diriku... Kau tidak salah.." Ujar Bona. Ya. Karena dirinya yang tak bisa membantu Seokjin.


Seokjin merangkup wajah Bona dan masih menatap dalam Bona.


"Aniya... Kau tak salah apapun chagi... Kau melakukan segalanya yang terbaik untukku." Ujar Seokjin sembari tersenyum tipis pada Bona.


"Jangan pernah menyerah untuk ku chagi..." Ucap Seokjin sembari memeluk tubuh Bona sekali lagi.


Bona menarik napas dalam dan tersenyum dalam dekapan Seokjin.


Klik


Klik


Klik


Klik


[Presdir Lee Shunhyun)


"Jadi sekretaris nya adalah istrinya..."


Seorang pria paruh baya yang beberapa hari yang lalu Seokjin menolak memberinya bantuan, nampak sedang memandang beberapa lembar foto yang sekretarisnya berikan.


"Ya. Tuan. Mereka baru beberapa hari menikah." Ucap sang sekretaris. Kang hyujin. Sunghyun terkekeh dengan suara beratnya.


"Bocah ini... Dia pikir aku tak tau isi otaknya itu... Beraninya mengusik bisnisku..." Dengan geram Shunhyun meremas foto Seokjin dan Bona di tangannya.


"Tuan Kang. Aku mau kau mengusik mereka. Bukankah sebuah tindakan harus ada timbal baliknya?? Apapun alasan mereka mengusik bisnisku, tetap saja harus dibereskan." Titah Shunhyun.


"Baik tuan." Tuan Kang sang sekretaris pun undur diri dari ruangan tuannya.


(Paginya)


(Apartemen Seokjin)


Dddrrrrtttttt......ddddrrrttt.....


Seokjin nampak meraba nakas disamping ranjangnya dengan mata yang masih setengah terpejam. Pria itu pun berhasil menggapai ponselnya dan terpampang nama Yoongi disana.


04:48 am


"Hmm wae???" Tanya Seokjin sembari melirik Bona yang sedang terlelap disampingnya.


[Jimin memberitahuku jika mereka tidak ada kegiatan import hari ini....]


"Ya sudah. Lagi pula itu bukan tujuan awal kita." Ujar Seokjin acuh.


[Itu masalahnya Seokjin. Apa kau tidak berpikir jika mereka mencurigai kita??]


"Mereka akan sangat bodoh jika tidak tau itu...sudah lah. Besok saja bicara nya."


Bip!


Seokjin langsung meletakkan kembali ponselnya dan langsung kembali tidur.


(Yoongi's place)


"Mereka akan sangat bodoh jika tidak tau itu...sudah lah. Besok saja bicara nya."


Tut....tut....


Yoongi menatap tidak percaya pada layar ponselnya.


"Orang ini... Aku bahkan belum selesai bicara dan tidak tidur karenanya." Gerutu Yoongi sembari meletakkan ponselnya di meja kerjanya dan kembali melihat komputernya yang terdapat rekaman audio.


[Play]


["Jadi sekretaris nya adalah istrinya..."]


["Ya. Tuan. Mereka baru beberapa hari menikah."]


["Bocah ini... Dia pikir aku tak tau isi otaknya itu... Beraninya mengusik bisnisku..."]


["Tuan Kang. Aku mau kau mengusik mereka. Bukankah sebuah tindakan harus ada timbal baliknya?? Apapun alasan mereka mengusik bisnisku, tetap saja harus dibereskan."]


["Baik tuan."]


(Beberapa waktu lalu)


[Yoongi aku mau kau memasang penyadap pada mr. Lee.]


"Bukankah aneh jika kau malah mengusik mr. Lee??" Tanya Yoongi heran. Tak ada suara dari Seokjin diseberang telepon.


"Jadi, tujuan mu sebenarnya apa??"


[Menghancurkan bisnis orang dan kehidupannya sekaligus. Lakukan saja...]


Mau tak mau Yoongi menuruti nya.


(Flashback off)


Zzraaassshhhhhh.........


. . . . . . . . .


Bona merenungi nasip nya yang sulit pulang dari mini market karena hujan pagi hari yang cukup deras. Sembari menenteng kantong plastik berisi belanjaannya, Bona berdiri merenungi nasip di depan mini market. Hari ini Seokjin tidak masuk kerja karena kurang enak badan atau kurang enak hati??? Bona abaikan dugaan yang kedua.


Niat hati Bona ingin membuat kue untuk Seokjin dirumah setelah berbelanja bahannya, namun hujan ini menunda perjalanannya. Terlebih Bona tak membawa payung dan uang yang ia bawa tak cukup untuk membeli payung.


(Apa menerobos saja??? -Bona)


Bruk


"Ehh..!!"


Posisi Bona sedikit tergeser akibat seorang wanita tak sengaja menubruknya karena ingin berlindung.


"Maafkan aku... Eh?? Kau Shin Bona kan??!!!!"


Bona menatap bingung wanita bersurai pendek hitam dan berkacamata itu bingung.


"Ini aku!!! Kim Myeongsoo!!! Kita sekelas saat SMK!!!"


Bona nampak nya masih menscan memory di otaknya tentang wanita dihadapan nya saat ini.


"Wooaahh.... Aku mengingat mu!! Bahkan kita pernah sebangku!! Yaa... Aku merindukan mu!!" Setelah mengingatnya Bona langsung memeluk teman lamanya itu dengan erat begitu pun sebaliknya. Ini reuni tak terduga.


"Ya.. Bona... Bagaimana kabarmu?? Woahh cincin ini... Kau sudah menikah?!!" Myeongsoo memperhatikan jari manis Bona yang terlingkar sebuah cincin disana. Bona hanya tersenyum.


"Aku baik-baik saja seperti biasa. Bagaimana dengan mu? Kau bekerja atau masih kuliah??" Tanya Bona penasaran.


Myeongsoo nampak memperbaiki kacamata besarnya.


"Jjang!!!! Ehem.. Kim Myeongsoo, penyidik kepolisian metropolitan Seoul."


Dengan bangganya Myeongsoo menunjukkan kartu namanya pada Bona.


"Yaaa.... Selamat..." Ujar Bona senang.


"Ya... Aku baru selesai pendidikan setahun yang lalu dan aku ini masih baru."


"Aku senang kau bisa seperti ini Myeongsoo!!! Jika mengingat mu dulu rasanya sangat luar biasa..."


(Flashback 7 years ago)


(Daegu vocational school)


(Shin Bona (16 tahun) side)


Hiks...hikss...


Seketika bulu disekujur tubuh seorang siswi yang sedang mencuci tangannya di kamar mandi ini langsung merinding saat mendengar sayup-sayup suara isakkan dari salah satu bilik toilet yang paling ujung. Siswi yang sedang ketakutan ini adalah Shin Bona muda.


"Ehem... Siapa disana???" Tanya Bona penasaran. Seram nya, isakkan itu langsung menghilang dan digantikan dengan suara ketukan dari dalam bilik toilet.


Lantas saja Bona langsung berniat lari dari toilet, namun ia berhenti saat mendengar isakkan itu muncul lagi. Rasanya penasaran namun sekarang sudah masuk kelas. Apa yang harus ia lakukan sekarang???


Tanpa ingin berpikir lama Bona langsung menuju bilik toilet yang bertuliskan toilet rusak itu dan mengetuknya dari luar.


"Ada orang didalam?? Toilet ini terkunci..." Ujar Bona bingung.


"Tolong....siapapun itu...." Bona dapat mendengar suara seseorang dari dalam bilik dan


BRAK!!!


BRAK!!!!


BRAK!!!!


Bona benar-benar merusak pintu toilet sekolahnya dengan menendang pintu kayu tipis itu hingga enselnya lepas. Tak mengherankan jika seorang anggota pecinta alam memiliki kekuatan ini.


Pintu itu pun terbuka dan Bona dapat melihat siapa didalamnya. Seorang siswi yang berseragam seperti Bona terlihat basah kuyup dengan potongan rambut berserakan di seluruh lantai bilik dan jangan lupa kondisi syok siswi itu.


"Myeong... Kau kenapa??!!!" Otomatis Bona langsung melepas jas sekolah kebesarannya dan langsung menyelimuti siswi yang ia panggil Myeong itu. Myeongsoo hanya diam sesekali sesegukan saat Bona mengantarnya ke UKS.


"Siapa yang membuat mu seperti ini??" Tanya Bona saat Myeongsoo sudah berada di UKS dan sudah jam pulang sekolah.


Tak ada jawaban dari Myeongsoo, nampaknya ia takut memberitahu siapa orang yang membuat rambutnya cepak sebelah itu. Kebetulan Myeongsoo adalah teman sebangku nya Bona. Namun, mereka tak terlalu dekat karena Myeongsoo yang suka menyendiri dan pendiam, seperti orang yang banyak masalah.


"Kenapa kau tak pulang??" Tanya Myeongsoo. Seketika Bona langsung melihat jam dinding UKS.


05:15 pm


"Kau dijemput??" Tanya Bona. Myeongsoo menggeleng.


"Aku naik bus dan ada les nanti." Jawab Myeongsoo.


"Kau tidak masalah dengan gaya rambutmu itu??"


Myeongsoo langsung meraba kepalanya. Bona setengah mati menahan bibir nya agar tak menarik senyum.


"Katakan... Siapa yang mengganggu mu??? Tidak usah takut... Kau tidak ada salah kan???"


"Nanti kau memberitahu para guru."


"Eh?? Kenapa tidak??? Itu kan memang tugas ku sebagai anggota keamanan OSIS." Jelas Bona.


"Tak apa... Aku baik-baik saja."


"Walaupun begitu, kenapa mereka membully mu??" Tanya Bona.


"Hmm... Bukan lah hal yang penting... Aku baik-baik saja."


Tap


Tap


Tap


Dengan wajah Bodohnya Bona berjalan menuju rumahnya. Pada akhirnya, Myeongsoo juga tak ingin pulang bersama Bona, walaupun begitu Bona bersedia meminjamkan jas sekolahnya.


"Kenapa dia dibully ya??"


Bona sangat kepikiran dengan hal satu ini.


(Esoknya)


"Ya.... Myeongsoo!! Kenapa kau pakai topi kesekolah??!!"


Pandangan Bona langsung teralihkan pada sang objek seruan oleh teman sekelasnya.


Myeongsoo tak menggubris dan hanya menunduk malu menuju kursinya yang berada disebelah Bona.


"Kau sudah memperbaiki rambutmu??" Tanya Bona. Myeongsoo hanya mengangguk kecil dan Bona tersenyum kecil.


"Baguslah... Boleh kulihat?!!" Tanya Bona penasaran.


Myeongsoo menatap Bona tak percaya. Apa Bona juga akan membully nya??


Tiba-tiba Bona terkikik.


"Heheh... Aku bercanda... Kalau kau tidak suka atau tidak mau katakan saja tak usah takut." Jelas Bona pada Myeongsoo.


Tiba-tiba seorang siswa menghampiri meja Bona.


"Bona... Pinjam tugas matematika mu." Pinta siswa itu tiba-tiba.


"Buat apa??" Tanya Bona heran.


"Aku ingin melihat caramu mengerjakannya." Jawab siswa itu.


Bona pun memberikan buku catatannya.


"Ini kan buku catatan."


"Eoh. Iya... Aku juga belum mengerjakan tugas nya. Jadi kau pakai saja buku catatanku ya.. sayang ya..." Bona bahkan menepuk pelan bahu teman sekelasnya itu dengan penuh kasih sayang. Dengan hati sedikit dongkol pria itu langsung pergi dari meja Bona.


"Kau belum mengerjakan nya?? Kan hari ini dikumpulkan!?" Ujar Myeongsoo. Ia merogoh tas nya dan memberi Bona buku latihannya.


"Kau meminjamkan nya??" Tanya Bona. Myeongsoo mengangguk.


Bona terkekeh. Rasanya aneh saat ada yang mau memberi contekan padanya. Bona pun mengambil buku Myeongsoo.


"Tumben sekali kau mau meminjamkannya padaku??" Tanya Bona


"Aku berterima kasih padamu." Ujar yeongsoo.


Bona menatap Myeongsoo sembari tersenyum.


(Bersambung)


(Flashback off)


Myeongsoo sudah pergi dari 30 menit yang lalu saat hujan masih lumayan deras. Ya, Bona harap temannya itu tak kebasahan saat tiba dikantor. Berkat Myeongsoo yang baik hati suka mentraktir, Bona pun mendapat payung darinya. Karena itu, Bona dapat kembali ke apartemen nya walaupun hujan masih agak deras. Lampu merah pun menyala, sehingga Bona mulai menyeberang jalan tanpa menyadari sebuah mobil sedan hitam nampak melaju lurus pada Bona.


Brrmmmmmmmmm....


"Nonaa!!!!!!"


"Waaaa!!!!!"


Brukk.


Bbbrrrrnmmmm......


Bona tak menyangka naluri menghindarnya secara refleks menarik tubuhnya kebelakang hingga terduduk dengan tidak elitnya di tengah jalan.


"Haahhh...haahh.....hhaahh..."


"Nona kau tidak apa-apa???!!!"


Beberapa orang langsung mengerumuni Bona yang terduduk di tengah jalan dan menanyakan berbagai pertanyaan. Bagaimana tidak, jika Bona tak refleks mundur dia akan tetabrak oleh sebuah sedan yang sedang melaju itu.


Dengan wajah 'blank' Bona menatap sekelilingnya dan langsung bangkit berdiri.


"Aku tidak apa-apa... Terima kasih..." Bona pun melanjutkan perjalanan pulangnya sembari mengusap dadanya yang masih berdegup kencang karena kejadian tak terduga itu.


(Sepertinya kaki ku terkilir -Bona)


To Be Continue