
RUANG pertemuan di gedung Zvezda milik Perun Group adalah tempat yang sangat megah dengan interior yang mewah dan kokoh. Dinding-dindingnya terbuat dari batu bata kuat yang berpadu dengan kayu mahoni yang indah. Langit-langit tinggi yang dihiasi dengan lampu gantung kristal membuat ruangan terasa lebih luas.
Di tengah ruangan terdapat meja bundar besar yang terbuat dari kayu ek, yang dikelilingi oleh sepuluh kursi empuk berwarna hitam dengan sandaran punggung yang tinggi dan lebar. Tampak tiga dari sepuluh kursi tersebut sudah diisi oleh Florentina, Iyal, dan Gina. Di belakang kursi Florentina, terdapat layar portabel yang menampilkan dekstop komputer yang dikendalikan oleh Aramazd yang terlihat sedang berdiri menekan beberapa tombol di laptopnya.
Beberapa saat kemudian layar tersebut menampilkan gambar panggilan video sedang dilakukan. Mereka bisa mendengar suara dering memantul dari sound system canggih di antara dinding-dinding di sekitarnya.
Drrr...
Drrr...
Drrr...
Iyal dan Gina tampak gelisah, terutama Gina yang terlihat tidak sabar untuk melihat wajah pria yang lama tak ditemuinya itu. Butuh waktu beberapa menit sampai bunyi klik - tanda bahwa panggilan diterima - terdengar.
Sosok pria dengan wajah yang menyegarkan pun muncul. Wajah pria itu memancarkan kepercayaan diri yang tinggi, terlihat jelas dari senyuman tipisnya yang terukir di bibirnya. Tatapan Farhan yang tajam memandang seluruh penghuni ruangan itu, seolah-olah menilai orang-orang yang hadir di ruangan itu dengan cermat. Alisnya tebal dan rapi, menambah kesan maskulin dan menantang pada wajahnya yang tampan.
"FARHAN!" Teriak Gina antusias berharap Farhan langsung memperhatikannya. Tampak bola mata Farhan berputar ke arahnya.
"GINA!" Balas Farhan tak kalah bersemangat. "Kamu ngapain di sini!?"
Air matanya perlahan menetes. Kerinduan yang tak terbendung bisa terlihat jelas, seolah itu terpendam dalam bertahun-tahun lamanya. Atmosfer ruangan itu tiba-tiba berubah haru. Iyal di sisi lain menggenggam tangan sahabatnya itu agar dia tetap tenang dan fokus mengobrol dengan pria yang dicintainya itu. Florentina terus tersenyum penuh misteri melihat pertemuan yang mengharukan itu.
"K-kau, kenapa kau ngga pernah hubungin aku lagi!" Gina tidak bisa membendung air matanya. Dia terus mengusap air matanya yang tak henti menyucur.
Tampak Farhan di layar itu sedikit menggaruk kepalanya seolah dia memikirkan sesuatu. "Hehe, maaf Gin, aku bener-bener sibuk di sini. Aku pengen nelfon kamu tapi aku ngga punya waktu," jawab Farhan di ujung telepon. "Nona Florentina terus memberiku banyak pekerjaan." Wajahnya tampak sedikit kesal.
Gina belum bisa membalas jawaban pria yang dicintainya itu. Kerinduan menggebu di dadanya seolah mengunci lidahnya karena bahagia yang dia rasakan setelah sekian lama merindukan pria tersebut.
"Tapi kamu ngga usah khawatir, aku ngga apa-apa kok!" Lanjut Farhan sembari mengacungkan jempolnya. "Gimana kabarmu?"
"A-aku baik, kamu sendiri gimana?"
"Aku juga. Hanya banyak kerjaan aja hehe."
Iyal tampak mengernyit. Apa dia aslinya seperti ini, ya? Tanyanya dalam hati. Entah mengapa ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Farhan tampak berbeda dari Farhan yang dia kenal.
"Bagusdeh," Gina menggenggam tangan Iyal. Dia sebenarnya bisa lebih cerewet daripada ini, tetapi karena dia tidak sendiri di ruangan itu jadi dia berusaha menahan dirinya. "Jadi kamu kerja apa di sini?"
"Aku ngurus administrasi perusahaan. Uang yang aku hasilkan, aku gunakan untuk mencari nenek."
Jawaban yang aneh, pikir Iyal. Dia tahu bahwa jawaban Farhan itu bohong, karena sebagai kandidat dia pasti melakukan latihan berat di antara hidup dan mati. Iyal tahu itu karena dia pernah di posisi ini dan menjalani kehidupan yang bak neraka itu. Meskipun begitu harus diakui, akting pria itu lumayan.
"Apa ada tanda-tanda atau informasi yang udah kamu dapet?"
Farhan menggelengkan kepalanya dengan wajah datar. "Untuk sekarang ngga ada, tapi aku ngga menyerah."
Gina tampak kembali tersenyum. Sifat sahabatnya yang pantang menyerah itu tidak berubah. Mengetahui bahwa pria itu baik-baik saja pun sudah cukup membuatnya bahagia.
"Aku dan Rio juga udah usahain buat nyari nenek dengan banyak cara. Aku harap nenek baik-baik aja," ujar Gina tersenyum mekar.
"Ya, pasti. Kamu jaga diri ya selama aku ngga ada," balas Farhan yang lalu melihat ke arah Iyal. "Dia ngga jahatin kamu, kan?" Farhan melemperkan tatapan penuh curiga.
Gina dan Iyal saling memandang. Tiba-tiba mereka langsung mengangkat tangannya yang saling bergandengan erat. Itu membuat wajah Farhan sedikit terkejut.
"Wah, KAU SELINGKUH!" Farhan menunjuk ke arah mereka berdua.
Mereka bertiga pun langsung tertawa lepas. Perasaan lega mengisi hati mereka. Gina lalu menjadi dirinya yang lama, seolah energi yang lama hilang kembali lagi mengisi tubuhnya dengan gairah hidup yang baru. Namun kelegaan itu tak berselang lama, karena Florentina sudah mendehem - memberi tanda bahwa waktu mereka sudah selesai.
"Sepertinya sampai di sini dulu," ujar Farhan. "Aku akan menghubungimu lagi nanti. Tunggu aku."
Wajah Gina kembali murung. "Kayaknya aku kangen sendirian."
"Kata siapa! Aku juga. Aku hanya ngga bisa berbicara seenaknya di depan atasanku," Farhan mengelak sembari melirik Florentina. "Nanti panggilan selanjutnya, kita bisa mengobrol santai."
Gina berusaha mengerti dan mengangguk. "Jaga dirimu."
"Kamu juga," balas Farhan tersenyum lebar.
Layar portabel itu pun mati. Suara-suara percakapan yang tadinya mengisi ruangan perlahan mereda dan digantikan oleh keheningan yang canggung. Hanya suara langkah kaki pegawai di luar ruangan yang terdengar. Cahaya matahari yang menyinari ruangan terasa kurang cukup untuk menerangi ruangan dengan sempurna, membuat suasana menjadi sedikit sumpek.
"Maaf kita ngga bisa melakukan panggilan lebih dari sepuluh menit," jelas Florentina.
Iyal tampak tidak senang, sebab sepuluh menit itu waktu yang singkat. Kita jauh-jauh datang ke Rusia hanya untuk mengobrol sepuluh menit!?
"Iya ngga apa-apa," Gina merespon. "Setidaknya aku bisa melihatnya lagi dan aku bisa mastiin dia baik-baik aja. Itu cukup."
Florentina mengangguk.
"Kau yakin?" Bisik Iyal dengan suara pelan di telinga sahabatnya itu.
Gina mengangguk, dan lalu memandang Florentina. "Terimakasih, tolong jaga dia. Dia satu-satunya sahabatku."
Florentina hanya tersenyum tanpa menjawab permintaan tersebut.
...***...
"Apa Anda yakin ini tidak apa-apa?" Tanya Aramazd. Ruang pertemuan itu kembali sepi. Hanya tinggal dia dan Florentina saja di sana.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mau melihat seberapa bergunanya teknologi DeepFake ini. Perusahaan kita sudah menggolontorkan banyak dana untuk pengembangannya, dan kalau ini tidak berhasil menipu anak-anak seperti mereka, aku akan membunuh orang-orang itu," jawab Florentina sembari memegang sebuah perangkat yang mirip remot mini berlabel PerunTech! "Tapi aku tidak menyangka kalau selain bisa menirukan wajah, teknologi ini juga bisa menirukan gaya bahasa dan merespon sesuatu dengan akurat."
"Ya, meskipun kelemahan teknologi ini hanyalah persoalan waktunya yang sangat singkat. Sekarang, untuk membuat panggilan video, ia hanya bertahan selama sepuluh menit, lebih dari itu akan terjadi error."
"Tidak masalah, ini cukup. Melihat wajah polos mereka tadi, aku sudah puas."
Aramazd mengangguk.
...----------------...
CATATAN:
DeepFake adalah singkatan dari "Deep Learning" dan "Fake". DeepFake adalah teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menggunakan teknik machine learning untuk membuat video atau gambar yang terlihat asli, tetapi sebenarnya palsu. Teknologi DeepFake dapat menggabungkan dan memanipulasi video dan gambar untuk menciptakan konten palsu yang terlihat nyata, seperti memasukkan wajah orang lain ke dalam video atau foto yang sudah ada.
Tetapi karena DeepFake sering digunakan untuk tujuan yang buruk, seperti menyebarkan informasi palsu, memfitnah, atau menyebarkan konten pornografi, maka banyak negara dan organisasi yang membatasi atau memperketat penggunaan teknologi ini.