
"KALIAN pikir aku datang di sini dengan ceroboh tanpa rencana?" Ujar Darius dengan senyum meremehkan. "Inilah yang aku suka ketika berurusan dengan orang-orang seperti kalian: orang yang ototnya lebih besar daripada otaknya."
Air muka para mafia penyerang itu tampak menegang. Itu adalah situasi yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan. Namun...
"Darius, tunggu sebentar." Si pria paruh baya itu tiba-tiba bersikap waspada dan menginstrupsinya. Di antara ratusan mafia yang mengepung mereka, muncul seorang pria berbadan besar dengan wajah yang dipenuhi luka menyeramkan. Karena dia mengenakan pakaian singlet tipis, otot dan gambar di tubuhnya terlihat sangat jelas.
"Siapa sangka satu dari Tiga Raja akan berada di sini," pria berpakaian singlet itu berjalan perlahan mendekati mereja bertiga. "Senior Toni, lama tidak bertemu."
"Ramos!" Pria paruh baya yang ternyata adalah satu dari Tiga Raja penguasa Distrik Barat tampak menujukkan ekspresi ketidak senangannya melihat pria itu.
"Ramos!? Tangan kanan Frans Jikwa!?" Ujar Ian tidak percaya. Yang lebih terkejut adalah Darius. Jaringan informasinya tidak pernah menyebut bahwa tangan kanan bos KELO tersebut akan turun langsung.
"Apa kau sekarang bekerja di bawah para antek asing itu?" Tanya Ramos dengan nada menyindir. "Mana idealismemu yang sangat membenci orang asing yang kau sebut penjajah tanah nenek moyangmu!?"
"Itu bukan urusanmu," timpalnya.
Ramos tersenyum kecil. "Aku penasaran, apa yang akan terjadi kalau dua raja yang lain tahu tentang ini." Ramos lalu berbalik tanpa menunggu respon dari Toni dan berkata pada anak buahnya, "Kita kembali. Situasinya berubah. Salah satu raja ada di sini, untuk sekarang kita bukan lawan mereka."
"Kata siapa kalian boleh pergi!" Ujar Ian sudah bersiap dengan belati militer di tangannya. Sayangnya, Toni menghalanginya, "Biarkan mereka pergi."
"Tuan!" Darius tampak tidak sependapat dengan keputusan itu.
"Fakta bahwa Ramos ada di sini, itu tanda bahwa kita berisiko dirugikan," ujar Toni dengan suara berat. "Aku tidak mau kita membung nyawa orang-orang kita untuk konflik yang tak ada hubungannya dengan kita ini."
"Kau selalu cepat memahami situasinya, senior. Aku juga berpikir seperti itu. Sepertinya tidak ada dari kita yang menyangka bahwa kita akan saling bertemu seperti ini," sambung Ramos. Toni tidak merespon ucapannya itu. Tetapi dia setuju.
"Baiklah, semuanya kita kembali!"
Mafia yang tadinya ingin memporak-porandakan gedung ITC itu pun mundur, sampai suasana yang tegang dan sesak perlahan mulai kembali normal.
"Kenapa Anda membiarkan mereka? Apa dia sekuat itu?" Tanya Darius yang masih belum menerima keputusan pria paruh baya itu. Dia merasa bahwa mereka sudah menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Bukan langsung menjawab, Toni melepaskan beberapa kancing baju yang dia kenakan, termasuk melonggarkan sedikit dasinya. Penampakan luka menganga yang nyaris menutupi separuh dada bidangnya pun terlihat.
"Tuan!"
"Apa kau melihatnya?" Ujar Toni seraya menunjukkan luka itu pada Darius. Ian juga ikut melihat. "Ini adalah luka yang dia buat sepuluh tahun lalu. Kalau kau memang ingin tahu seberapa kuatnya Ramos, lihatlah ini baik-baik."
Itu bukan luka biasa, batinnya. Darius tidak menyangka ada orang selain 3 penguasa distrik yang bisa meninggalkan luka fatal seperti itu kepada salah satu raja.
...***...
Rumah itu terletak di pinggiran kota Tadulako, di tengah-tengah ladang luas yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Bangunan dua lantainya terbuat dari batu bata merah yang dipahat dengan teliti, dengan sentuhan arsitektur yang sangat presisi dan indah.
Fasad depan rumah terhiasi dengan jendela-jendela besar yang dikelilingi oleh penghiasan batu ukir yang rumit. Pintu masuk utama terbuat dari kayu berwarna gelap dengan ukiran tangan yang rapi menggambarkan motif daun kelor dan bunga-bunga yang beragam.
Begitu masuk ke dalam rumah, Michelle dan Anca langsung disambut oleh foyer yang luas dengan lantai marmer berpola indah. Dinding-dindingnya dicat dengan warna krim yang lembut, dan dihiasi dengan lukisan-lukisan minyak bergaya klasik yang dipajang anggun.
"Jadi bagaimana situasi di sana?" Tanya Enzo dengan suara beratnya.
"Sangat kacau. Kami tidak menyangka ledakannya bisa sebesar itu," jawab Michelle dan diikuti oleh anggukan dari Anca De Luca. "Tapi kita berhasil membunuh mereka semua."
Enzo mengangguk. "Baguslah. Tapi apa ini tidak apa-apa?" Tanya Rio tiba-tiba.
"Ini permintaan bos sebelum Iskra menyerang. Dia sudah memperkirakan bahwa penyerangan itu kemungkinan besar akan dimanfaatkan oleh kelompok lain. Siapa sangka dugaannya benar. Sepertinya bos sudah memikirkan hal ini akan terjadi," jawab Michelle lembut.
"Bos memikirkan banyak hal sendiri," ujar Enzo.
Michelle mengangguk. "Dia memintaku meledakkan King's Palace untuk menghilangkan bukti yang bisa saja digunakan polisi untuk menangkap kita sekaligus untuk menjebak para penyusup yang memanfaatkan situasi ini."
Ada perasaan lembut yang tiba-tiba menyentuh hati mereka. Perasaan haru memikirkan bagaimana Galen yang rela mengorbankan dirinya dan menjadi martir demi mereka semua. Tetapi sepertinya Rio berbeda dalam melihat pengorbanan Galen. Dia mengubah perasaan itu menjadi kebencian yang besar pada mereka yang telah membuat bosnya mendekam di penjara dan merusak harta dan pencapaian yang susah payah bosnya dapatkan. Wajahnya mengeras penuh kebencian - ingin membalaskan dendam pada orang-orang itu.
"Lalu apa yang kita lakukan selanjutnya? Dan bagaimana dengan bisnis kita?" Tanya Anca De Luca.
Michelle tampak tidak khawatir. Sebagai sekertaris pribadi Galen, Galen sudah memberikannya instruksi untuk dijadikan alternatif apabila situasi semacam ini terjadi. "Tidak ada yang berubah. Jalankan bisnis seperti biasa. Bos mengatakan untuk sementara markas kita di sini sampai dia kembali."
Michelle tampak melihat ke arah Rio. "Dan baru-baru ini bos mengirimkan pembawa pesan." Mereka semua terlihat bersemangat mendengar kabar itu, terutama Rio.
"Bos memerintahkan agar eksekutif Rio diangkat menjadi bos sementara, selama bos tidak ada di sini," ujar Michelle dengan senyum kecil di bibirnya.
Ketiga eksekutif terkejut. Apa bos serius? Batin Anca, sedikit ragu dengan keputusan bos mereka itu.
"Mungkin ini terlalu tiba-tiba, tapi keputusan bos diambil berdasarkan pertimbangan bahwa kita tidak mungkin bergerak tanpa kepala. Jadi, untuk sementara, eksekutif Rio akan menjadi bos IGIS."
"T-tapi!?" Rio tampak belum bisa menerima keputusan yang tiba-tiba itu. Menjadi bos mafia adalah sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan bahkan di dalam mimpi terliarnya sekalipun.
"Ya, Bos?" Michelle tampaknya mudah beradaptasi dengan situasi dan mulai memanggil remaja 25 tahun itu sebagai bos.
"Jangan panggil aku bos!" Rio tampak sedikit tersipu, meskipun dia menutupinya dengan ekspresi terkejutnya. "Kenapa bos menunjukku sebagai bos sementara? Aku tidak bisa melakukan ini. Kau tahu sendiri, aku tidak bisa bertarung!"
Mereka bertiga memaklumi keraguan Rio itu. Tapi sepertinya keputusan Galen sudah bulat sejak awal. Di sisi lain, Michelle mengangguk pelan.
"Pesan bos tidak sampai di situ," ujar Michelle membuat mereka benar-benar mempersiapkan telinga mereka masing-masing. "Sepertinya bos tahu kau akan berkata seperti itu," sambung Michelle. "Bos mengatakan bahwa 'jangan khawatir tentang cara bertarung. Anca dan Enzo akan membantumu. Dan jangan khawatir soal bisnis, Michelle yang akan membimbingmu'."
Ada rasa haru yang kembali menyentuh hatinya, tapi Rio yakin bahwa pesannya tidak sampai di situ saja, "Dan?"
Michelle berjalan ke arahnya dan lalu menepuk pundaknya, "Aku memilihmu, karena kau adik kecilku yang paling aku percayai."
Tetesan air mata tiba-tiba mengalir di pipinya.
Bos.