
Penjara Nasional Celebes, Pulau Pariah
PULAU Pariah, yang terletak di sisi selatan Sulawesi ini, memiliki panorama alam yang indah, terdiri dari perbukitan, hutan, dan pantai yang memikat. Namun, suasana pulau ini tidak seindah penampakannya, sebab pulau ini dikenal sebagai tempat terakhir bagi terpidana kasus kriminal dan terorisme yang divonis mati atau penjara seumur hidup.
Di sepanjang pantai, ada pelabuhan kecil yang digunakan untuk mendaratkan narapidana yang akan dijebloskan ke penjara.
Di pelabuhan tersebut, terdapat sebuah gedung bertingkat yang digunakan untuk memeriksa barang bawaan dan orang yang akan masuk ke dalam pulau. Gedung itu dijaga ketat oleh aparat keamanan dan dilengkapi dengan metal detector untuk mendeteksi benda-benda berbahaya.
Setelah melewati gedung tersebut, terdapat sebuah jalan raya yang terhubung ke penjara-penjara yang ada di sepanjang pulau. Di sepanjang jalan, terdapat pos-pos pengamanan yang dijaga ketat oleh aparat bersenjata lengkap. Selain itu, kamera pengawas juga dipasang di setiap sudut jalan guna memantau gerak-gerik narapidana secara real-time.
Terdapat beberapa penjara yang tersebar di sepanjang pulau yang digunakan untuk menahan narapidana paling berbahaya dengan tingkat kejahatan yang berbeda-beda.
Pulau ini memiliki penjara yang terkenal dengan keamanannya yang sangat ketat karena memiliki sel yang terbuat dari beton setebal 20 cm dengan benteng besi setinggi 6 meter. Pintu-pintunya yang besar terlihat menjulang di sekeliling penjara. Di tengah-tengah penjara, terdapat sebuah lapangan yang dijaga ketat oleh aparat keamanan dengan sebuah menara pengintai yang ditempati oleh para sipir yang terlatih untuk memantau gerak-gerik tahanan.
Ketika memasuki area yang dipenuhi oleh sel tahanan yang diapit oleh koridor yang gelap dan kumuh, di ujung koridor tersebut terdapat papan nama yang bertuliskan:
...PERINGATAN! SEL TAHANAN KHUSUS!...
Suasana di dalam koridor itu begitu sunyi dan mencekam. Cahaya redup dari lampu sorot menghasilkan bayangan yang gelap di setiap sudut ruangan. Bau yang tak sedap dari sel-sel penjara tercium jelas di udara. Koridor ini panjang dan berkelok-kelok, membuat siapa saja yang melewatinya merasa terasing dari dunia luar. Dindingnya yang terbuat dari beton tebal membuat koridor ini terasa sepi dan menakutkan.
Tampak seorang sipir berjalan perlahan di sepanjang koridor, mengawasi setiap sel yang terletak di sisi-sisi koridor tersebut.
Setelah beberapa menit berjalan, petugas keamanan tiba di sebuah pintu besi yang sangat besar dan tebal. Ia menekan sebuah tombol di dinding dan pintu besi itu pun terbuka secara perlahan.
Di balik pintu besi tersebut terdapat sebuah tangga yang menuju ke area bawah tanah. Sipir tersebut menuruni tangga itu dengan hati-hati, berpegangan pada pegangan tangga yang terbuat dari besi.
Tangga tersebut membawa sang sipir ke sebuah terowongan bawah tanah yang sangat gelap. Hanya cahaya lampu senter yang menerangi lorong tersebut. Terowongan itu terasa sangat dingin dan lembap, membuat siapa saja yang melewatinya akan merasakan bulu kuduknya berdiri.
Setelah beberapa menit berjalan, petugas keamanan tiba di sebuah pintu besi yang terbuat dari baja yang sangat tebal. Pintu itu dijaga oleh beberapa sipir bersenjata lengkap yang siap menghadang siapa saja yang mencoba untuk masuk ke dalam.
Sipir yang membawa kunci membuka pintu besi tersebut dengan hati-hati. Di balik pintu besi itu terdapat sebuah ruangan kecil yang terbuat dari beton yang sangat tebal. Ada sebuah sel yang terletak di sudut ruangan tersebut. Sel itu memiliki dinding yang tebal dan hanya terdapat sebuah tempat tidur yang sangat sederhana di dalamnya.
Suasana di dalam sel itu terasa mencekam. Udara terasa sangat pengap dan gelap gulita. Terdapat seorang tahanan yang duduk di atas tempat tidur tersebut, menatap kosong ke arah dinding dengan wajah dan tubuh yang penuh lebam.
"Bos, maaf terlambat menyambutmu," ujar sang sipir pada Galen sembari membungkukan badannya sedikit.
Tampak Galen tidak menghiraukannya.
Ketika dia ditangkap, dia sama sekali tidak khawatir, karena dia tahu anak buahnya menyebar di semua tempat, termasuk di pulau ini. Namun yang membuatnya khawatir adalah anak buahnya di Tadulako, terutama Rio. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada anak itu.
Rio sudah dianggapnya seperti adik kandungnya sendiri. Memang Galen tidak punya keluarga yang sedarah di Indonesia (karena semua anggota keluarganya di Meksiko), tapi jika dia ditanya tentang keluarga, Rio lah orang pertama yang terlintas di kepalanya.
"Perintahkan seluruh jaringan kita untuk mengangkat eksekutif Rio sebagai wakil bos IGIS untuk sementara sampai aku keluar dari tempat ini."
"Siap, bos!"
Sipir itu kemudian pergi untuk segera melaksanakan tugas penting tersebut.
...***...
Beberapa jam yang lalu, di ruang introgasi
Plak! Plak! Plak!
Suara tamparan dan pukulan keras memenuhi ruangan kecil berukuran 2x3 meter itu, memantul di antara langit-langit beton setinggi 3 meter.
"Ugh..."
"Akhirnya waktu ini datang juga, Galen," ujar Herman yang tampaknya menikmati siksaan yang dia lakukan.
Galen terbaring lemah di lantai yang dingin, dengan wajahnya yang pucat dan mata yang sayu. Tubuhnya penuh tato itu terlihat hancur dan berdarah-darah, dengan bekas-bekas luka dan memar yang menyebar di seluruh tubuhnya. Pakaian tahanan itu kotor dan robek, terlihat seperti tidak pernah dicuci atau diganti selama berhari-hari.
Tubuhnya digantung dengan rantai besi yang menahan kedua tangannya, membuatnya terpaksa berlutut dan tidak dapat berdiri. Setiap kali dia mencoba untuk bergerak, rantai besi itu menarik tangannya dan membuatnya merasakan sakit yang mengerikan.
Di atas kepalanya, terdapat sebuah lampu yang terus-menerus menyala dan memantulkan cahaya yang menyilaukan, membuatnya terpaksa menutup mata.
Di sampingnya, ada seorang petugas penjara yang mengenakan pakaian serba hitam, juga Jendral Agus dan Herman. Mereka menatapnya dengan tatapan kosong dan dingin.
Di tangan kanan sipir itu, terdapat sebuah tongkat listrik dengan kabel panjang yang terhubung ke mesin di sudut ruangan. Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut petugas penjara itu, hanya terdengar suara mesin yang terus berbunyi dan mengeluarkan percikan listrik.
"Seharusnya orang luar sepertimu tidak dibolehkan masuk ke pulau ini apalagi melakukan penyiksaan pada tahanan kami, karena kau bukan petugas dan pihak berwenang di sini," ujar petugas itu, mentap tajam ke arah Herman. "Tapi sepertinya kau punya koneksi yang kuat."
Petugas itu tampak tidak menunjukkan kesenangannya dengan kehadiran Herman, yang notabene tidak punya kepentingan atau otoritas apapun. Sayangnya, dia adalah konglomerat yang punya banyak koneksi dan uang. Bajingan-bajingan seperti dia selalu mengorupsi hukum dengan kertas, ujarnya membatin. Makannya mereka bisa seenaknya melakukan apapun yang mereka mau.
"Ayolah, Pak Sipir, bukannya ini juga ada untungnya bagi negara dan tentu saja bagi kalian yang tak tahan melihat penjahat sepertinya berkeliaran bebas di luar? Aku membantumu menangkapnya. Setidaknya berikan aku hak istimewa sebagai hadiah atas kerja kerasku ini," ujar Herman dengan nada sarkas.
Hak? Sekarang aku bingung, sebenarnya siapa penjahatnya di sini. Sipir itu masih tidak menerima alasan yang mengada-ngada dari pria paruh baya itu.
"Dia adalah bos gangster yang nyaris tak tersentuh oleh pemerintah, hanya aku yang bisa melakukannya," lanjut Herman penuh percaya diri. "Jadi mohon pengertiannya."
Kau juga sama, bedanya kau gangster berdasi, timpal batinnya.
Herman lalu menengok ke arah Jendral Agus seolah ingin mengatakan sesuatu. Jendral Agus yang melihatnya pun mengerti apa yang diinginkan Herman, meskipun dia kesal tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.
"Pak, tolong beri mereka waktu sebentar," ujar Jendral Agus.
"Aku tahu Anda adalah jendral, tapi Anda tidak berhak memerintah saya di sini. Bagaimana pun ini penjara dan ini bukan tempat di mana Anda bisa mengintervensi aturan penjara yang berlaku!" Ujar sipir itu tegas.
Dia tidak tahu apa yang terjadi sampai seorang jendral bintang tiga manut dengan pria seperti Herman, tapi yang jelas dia tidak bisa begitu saja menuruti apa yang mereka inginkan, sekalipun jendral sepertinya yang meminta. Ini adalah wilayah kekuasaanku, tegasnya dalam hati.
Namun tiba-tiba pintu ruangan introgasi terbuka, menimbulkan bunyi kreak yang menyeramkan. Itu adalah kepala penjara, Andi Santoso. Dia memiliki postur tubuh yang tegap dan kuat, dengan wajah yang serius dan tegas. Dengan seragam yang rapi dan bersih, dan tanda pangkat juga lambang lembaga yang jelas terlihat, membuat aura di sekitarnya seakan-akan mendingin.
"Maaf aku terlambat datang, Jendral. Saya baru sampai di pulau karena ada urusan mendesak di KEMENKUMHAM," ujar Andi Santoso memberi hormat dan lalu menghampiri mereka berempat.
Andi lalu melihat pria bertato yang sudah tak asing sedang terkapar tidak berdaya dengan tangan terikat di lantai dingin ruang introgasi itu. "Sepertinya para penjaga benar. Dalam perjalanan aku mendengar kalian berhasil menangkap Galen."
"Senang Anda sudah mengetahuinya, Pak Kepala Penjara," ujar Jendral Agus seadanya.
"Anda tidak perlu terlalu formal." Andi melirik seorang pria asing yang berdiri tepat di samping salah satu bawahannya yang bertugas khusus di ruangan itu. "Siapa dia?"
Herman pun menunjukkan rasa hormatnya pada pria berkarisma di hadapannya itu, "Maaf terlambat memperkenalkan diri. Saya Herman, CEO Iskra."
Tampak wajah tak senang kepala penjara muncul, "Mengapa orang sibuk seperti Anda datang ke tempat kumuh ini? Apalagi sampai masuk ke ruangan ini?"
"Kepala penjara, maaf berbuat seenaknya di tempat kekuasaan Anda. Tapi dia adalah orang yang menangkap Galen," Jendral Agus berusaha menjelaskan dan meyakinkan otoritas penjara di sebelahnya itu. Dia tak ingin terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
Kepala penjara melihat ke arah Herman, "Jadi, apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin diberikan waktu untuk berbicara dengannya. Sebentar saja," jawab Herman.
Kepala penjara, Andi Santoso, mencoba mempertimbangkannya. Galen sudah lama menjadi buruan pemerintah, sayangnya tak ada celah yang bisa mereka manfaatkan untuk menahannya. Keberhasilan Herman menangkapnya dan membawanya langsung ke pulau ini mempermudah separuh pekerjaan pemerintah. Mungkin tidak ada salahnya jika memberikannya sedikit kebebasan di sini, pikirnya.
"Baiklah, aku izinkan. Tapi kau hanya punya waktu beberapa menit saja. Kami tak ingin jadi buah bibir karena mengizinkan orang luar seperti Anda bersikap seenaknya di sini."
"Tentu. Itu lebih dari cukup," jawab Herman tersenyum tipis.
"Kepala penjara!" Tampaknya sipir tadi masih keberatan dengan keputusan atasannya itu.
"Tidak apa-apa. Anggap saja ini kompensasi. Aku yang akan bertanggung jawab."
Sipir itu pun terdiam. Dia tidak ingin mengajukan keberatannya lebih jauh jika atasannya sendiri sudah mengaminkannya.
"Baik."
Mereka pun keluar meninggalkan Herman dan Galen di dalam ruangan yang dingin dan menyeramkan itu.
Ketika pintu besi ruangan itu ditutup, Herman langsung mendekati Galen yang tak berdaya, dan mengambil kursi yang tersedia di sana - duduk.
"Aku tak mau berlama-lama di sini, Señor. Jadi aku mau langsung ke pertanyaan inti," Galen menggulirkan matanya ke atas melihat Herman meskipun tubuhnya masih terbaring lemas di lantai ruangan yang berbahan logam itu. "Apa kau tahu Pemburu?"
"P-pemburu? Apa maksudmu?"
Herman mengambil tongkat listrik yang tadi digunakan oleh sipir tadi. Dan meletakkannya ke tubuh Galen. Sontak saja Galen berteriak kencang dengan suara seperti mengigil akibat tersengat oleh tongkat listrik tersebut.
"Aku tanya lagi, Señor. Apa kau tahu Pemburu?" Tanya Herman dengan suara datar.
"Aku tidak," sengatan listrik sekali lagi menjalar di sekujur tubuhnya. Teriakannya memantul di udara.
"Aku tanya lagi."
"Ugh, aku tak tahu apa yang kau maksud!"
Herman menarik rambut Galen dengan keras, "Señor, kalau kau tahu sesuatu, sebaiknya katakan sekarang, selagi aku bertanya baik-baik. Meskipun dulu kita tidak pernah saling mengusik, kau pasti sangat mengenalku!"
"Hey bajingan, sejak tadi kau bicara apa!? Aku tidak mengerti apa yang kau tanyakan. Pemburu? Siapa pemburu? Dan kenapa kau tanyakan itu denganku!?" Galen tidak merasa takut dengan siksaan yang akan dia terima. Meskipun dia dipenjara, dia tetap lah seorang bos gangster yang punya harga diri tinggi.
Ini tidak baik. Herman menghela nafasnya karena sepertinya Galen memang tidak tahu tentang Pemburu. Dia lalu melepaskan tangannya dan menceritakan pada Galen tentang Pemburu tanpa terlewat satu informasi pun. Mata Galen sedikit melebar karena mendengar informasi baru yang sama sekali tidak diketahuinya, bahkan jaringan informasi IGIS pun tidak punya informasi itu.
"Jadi Pemburu yang membunuh keluargamu ada di IGIS? Dan alasan kenapa kalian menyerang kami tidak murni karena masalah teritori saja, tapi masalah Pemburu?"
Herman tidak menjawab pertanyaan tersebut.
"Bagaimana kau tahu kalau Pemburu ini ada di IGIS? Aku tidak pernah mendengar seorang yang punya gaya bertarung dengan meninggalkan jejak aneh yang kekanak-kekanakan seperti itu."
Apa aku salah? Herman kemudian menceritakan tentang nenek Farhan yang beberapa bulan lalu menghilang di wilayah IGIS dan menerima jejak luka yang sama seperti kakaknya. Yang jelas, bagi Herman jejak dan bukti keberadaan Pemburu menunjukkan bahwa mereka berada di IGIS.
"Aku mendengar kabar itu, bahwa keponakanmu menyusup ke wilayah kami bersama seorang pria. Jadi nenek pria itu yang membuatmu mengira kalau pemburu sedang bersembunyi di IGIS?"
Herman tidak menjawab, namun raut wajahnya menujukkan bahwa apa yang dikatakan Galen itu benar.
"Kami tidak punya bajingan seperti itu, kecuali dia menyusup tanpa sepengetahuanku di dalam IGIS."
Jawaban Galen tersebut membuat Herman sampai pada ke kesimpulan bahwa mungkin saja dia selama ini salah mengira bahwa IGIS berkomplot dengan Pemburu. Ini membuat segalanya menjadi lebih rumit. Apakah aku harus memulainya dari awal lagi? Herman menunjukkan wajah kesalnya. Dia sudah sampai sejauh ini, namun hasilnya tetap nihil.
"Kalau urusanmu denganku sudah selesai, lepaskan anak buahku. Kita tidak perlu melanjutkan perang ini lebih jauh."