
Black Mamba - Saratov, Rusia
SEBUAH gemuruh menggema di koridor tergelap penjara, mengguncang dinding batu yang bersimbah lumut. Lampu remang-remang di langit-langit penjara yang rendah memancarkan cahaya kuning yang samar, menerangi lorong yang penuh teka-teki. Seorang sipir bertubuh sedikit gemuk menghampiri salah satu pintu sel, dengan cahaya senternya yang menyorot ke arah gembok besar yang mengunci pintu itu.
Dengan hati-hati, petugas penjara memasukkan kunci besar yang berkarat ke dalam lubang gembok, sementara suara klik yang menggetarkan hati bergema di seluruh penjara. Dia memutar kunci dengan gemulai, menaikkan tensi yang sudah tinggi menjadi lebih intens.
Setelah beberapa saat, petugas penjara mengangkat pegangan pintu dan menggesernya dengan lambat. Pintu sel yang berat itu mulai terbuka perlahan, memperlihatkan kegelapan di baliknya. Namun, sebelum petugas penjara memasuki sel, dia merasa ada yang aneh. Seolah-olah ada aura misterius yang menguar dari dalam sel.
Petugas penjara menyorot senternya ke dalam sel, mengungkapkan sebuah pemandangan yang tak terduga: seorang pria muda tengah duduk di sebelah seorang tahanan lain yang tubuh besarnya babak belur dan dipenuhi luka lebam di sekujurnya. Tangan dan wajah pria muda itu dipenuhi bercak darah. Di sisi lain, empat tahanan lain tampak duduk meringkuk di sekitarnya dengan wajah yang penuh ketakutan. Farhan melihat ke arah sipir dengan tatapan dingin.
Apa dia tahanan baru itu? Dia tidak menyangka bahwa pria yang baru beberapa bulan berada di Black Mamba bisa berubah begitu drastis. Dia tahu tinggal di lingkungan yang keras di antara para predator ini bukan hal mudah, apalagi bagi mereka yang terbiasa dengan kehidupan normal di luar penjara.
Tapi, ada apa dengan tatapan itu!? Apa dia tidak tidur beberapa hari!? Kantung mata Farhan yang menghitam bisa terlihat jelas. Namun yang paling mencolok adalah ekspresinya yang datar tanpa emosi, namun di saat yang bersamaan menembakkan tatapan yang dingin dan tajam.
"Tahanan K-235, ada pesan untukmu," ujar sipir itu berusaha tenang dan tetap terlihat berwibawah. "Ikuti aku!"
Farhan berdiri perlahan tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia melewati tahanan lain yang tak bergeming itu. Mereka tampak pucat pasih dan berkeringat dingin. Sejak dia menjadi tahanan di neraka itu, inilah kali pertama ada orang yang menghubunginya.
Meskipun dengan tangan yang terborgol, Farhan berjalan dengan langkah pasti namun perlahan di belakang sipir itu. Sedang para tahanan lain di sepanjang lorong menoleh dengan penuh rasa ingin tahu, tiap kali langkah mereka melewati setiap pintu sel yang gelap dan dingin.
Koridor penjara yang dilaluinya terlihat kuno dan gelap, dengan dinding beton yang dingin dan sinar lampu remang-remang yang memancar di sela-sela lorong yang sempit. Suara gemuruh dari para tahanan yang berbicara di sel-sel mereka terdengar samar-samar, menciptakan atmosfer yang penuh ketegangan.
Sipir itu tampak waspada, dengan tangan yang terus menggenggam tonfa khusus yang tergantung di pinggangnya. Dia mengawasi setiap gerakan tahanan muda itu dengan cermat, sementara sang tahanan tetap berjalan lurus dan tidak berbicara sepatah kata pun.
Perjalanan mereka terus berlanjut. Mereka melalui lorong-lorong terpencil dan sempit, hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu berat yang mengarah ke kantor kepala penjara.
Pintu besi yang tebal itu terlihat mengintimidasi, mencerminkan kekuasaan dan otoritas yang dipegang oleh kepala penjara. Sipir penjara lalu menghentikan langkahnya, dan dengan suara serak, dia memberi isyarat kepada sang tahanan untuk berhenti.
Sipir penjara yang berpengalaman menarik gagang pintu dengan hati-hati, dan pintu itu pun terbuka perlahan. Cahaya terang dari dalam kantor kepala penjara menyilaukan mata Farhan yang telah terbiasa dengan pencahayaan yang redup di dalam selnya.
"Masuklah." Sipir penjara menganggukkan kepala, menunjukkan kepada tahanan muda itu untuk masuk. Dengan hati-hati, Farhan melangkah masuk, menyusuri lorong sempit yang mengarah ke meja kepala penjara yang terlihat mengesankan.
Kantor kepala penjara tersembunyi di dalam dinding tebal penjara yang konon sudah berdiri sejak abad ke-19. Ruangan itu dipenuhi oleh nuansa mistis yang menggelayut di udara, seolah-olah menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap. Cahaya temaram dari lampu-lampu gantung di langit-langit memberikan efek bayangan yang dramatis, menciptakan kontras antara terang dan gelap di sekitarnya.
Farhan memperhatikan sekitarnya. Tampak dinding-dinding kantor dihiasi mural bergaya gotik yang menggambarkan adegan-adegan dari masa lalu di penjara tersebut. Mural-mural tersebut menggambarkan tahanan yang berjuang, sipir penjara yang mengamankan pemberontakan, dan aksi penyelamatan yang dramatis. Lukisan itu begitu detail dan realistis, seakan-akan menghidupkan kembali kisah-kisah yang pernah terjadi di penjara itu.
Kepala penjara, Pavel Ivanovic, terlihat duduk di balik meja besar yang terbuat dari kayu berwarna gelap dengan ukiran yang rumit. Di atas mejanya terdapat tumpukan berkas dan dokumen, serta beberapa barang antik seperti jam dinding kuno dan pena emas yang terlihat sangat berharga. Di belakangnya terdapat dinding besar yang dipenuhi oleh rak-rak kayu dengan buku-buku tua yang jarang dibaca.
"Aku sudah membawanya, Pak," ujar sipir itu sembari membuat postur tegap dengan tangan kanan yang memegang baju tahanan lusuh yang Farhan kenakan.
Pavel mengangguk. Dia mengarahkan pandangan pada Farhan. Matanya yang tajam seakan-akan menyusuri setiap lipatan wajah tahanan muda yang baru berusia 25 tahun itu. Tidak ada ekspresi yang terbaca dengan jelas di wajahnya, namun air mukanya menggambarkan kombinasi antara penilaian tajam, keraguan, dan kewaspadaan.
"Sudah berapa lama kau di sini?" Tanya Pavel dingin. Dengan pengalamannya yang sudah bertahun-tahun di posisi yang mengharuskannya untuk mengawasi para tahanan, membuatnya peka pada apa yang para tahanan pikirkan bahkan jika dia hanya mengajukan pertanyaan sederhana.
"Dua ratus empat puluh tiga hari," jawab Farhan yang sudah mahir berbahasa Rusia dengan nada datar.
Pavel mengangguk dan tampak biasa-biasa saja mendengar jawaban tersebut. Dia lalu memeriksa tumpukan surat yang berada di atas mejanya. Beberapa detik kemudian, dia menemukan surat yang dia cari.
Dia meraih surat tersebut dengan gerakan tangan yang tenang, namun matanya seakan-akan memancarkan kecerdasan dan rasa ingin tahu yang menggelora. Ia menatap surat itu dengan tatapan yang tajam, seolah-olah mencoba membaca isinya hanya dari luar penutupnya yang terbungkus amplop.
Dia kemudian menghampiri Farhan dengan hati-hati, menyerahkan surat itu kepadanya dengan gerakan tangan perlahan, seolah-olah dia tengah mengoperkan benda berbahaya.
Farhan menerima surat tersebut dengan tatapan yang penuh teka-teki. Dia berniat memeriksa surat itu saat itu juga, namun dia urungkan karena dia tahu ada lebih dari sekadar kata-kata di dalam surat tersebut. Di sisi lain, dia tak ingin membuka surat pertamanya di depan orang lain.
"Siapa yang mengirimkan ini?" Tanya Farhan.
"Informasi tidak jelas. Mungkin identitas pengirim ada di surat itu," jawab Pavel.
Farhan terdiam sejenak, melihat surat di tangan kanannya itu. Apa ini dari Pak Herman? Atau Gina? Tanyanya dalam hati.
Dengan tangan terikat, Farhan pun pergi meninggalkan ruangan pribadi si kepala sipir bersama sipir yang mengawalnya.
Apa dia anak polos dan lemah waktu itu? Tanya Pavel dalam hati, kebingungan melihat perubahan Farhan yang begitu cepat di Black Mamba.
Sebenarnya dia sudah mendengar bahwa sekarang pria itu sudah menjadi Staryshka* baru di selnya. Itu bukan hal lazim bagi seorang untuk menjadi Staryshka di usia muda, sebab aturan yang berlaku di Black Mamba dan seluruh penjara Rusia, Staryshka umumnya dipilih berdasarkan pengalaman, usia, dan status sosial di kalangan para tahanan. Cukup mengejutkan pria yang baru beberapa bulan masuk di Black Mamba sudah menjadi penguasa di selnya.
"Nona Florentina benar, seharusnya aku tidak meragukannya," ujar Pavel.
...***...
Farhan duduk di sudut selnya yang gelap, dengan kedua kaki yang terlipat di depan dada. Wajahnya dipenuhi oleh ekspresi campuran antara rasa penasaran dan cemas ketika tangannya gemetar membuka amplop surat yang baru saja diterimanya dari kepala penjara itu. Cahaya samar-samar yang menyinari dari atas sel, cukup untuk menerangi surat yang dipegangnya.
Amplop putih bersih itu terasa kasar di ujung jarinya saat dia memasukkan kuku ke dalam lipatan dan mengeluarkan selembar kertas berlipat lalu meluruskannya. Namun, sebelum dia sempat membacanya, sesuatu jatuh dari lipatan surat itu dan menghantam lantai dingin selnya. Dia menatap benda itu dengan keterkejutan yang tak tergambarkan.
Foto?
Foto yang jatuh itu menggambarkan seorang wanita tua yang terkapar tak berdaya dengan wajah dan leher yang bersimbah darah. Farhan mengenali wajah wanita tua itu. "NENEK!" Teriaknya keras. Membuat semua tahanan di sepanjang koridor, terutama 5 tahanan yang se-sel dengannya, terkejut, seolah mereka mendengar auman singa yang kehilangan anaknya.
Tampak wajah sang nenek tergeletak dengan mata yang sudah tidak bercahaya lagi. Emosi dalam dirinya mengalir deras memenuhi darahnya. Matanya melebar, hatinya terasa berat, dan jantungnya seperti berhenti berdetak sejenak. Marah dan dendam pun membara di dalam dirinya.
Farhan menggenggam foto itu dengan gemetar penuh amarah, dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca. Pikirannya berkecamuk, mencari jawaban yang bisa memuaskannya. Namun tak ada jawaban yang bisa memuaskannya selain untuk membunuh bajingan yang melakukan ini pada satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Farhan langsung berlari menuju ke pintu sel itu dan berusaha mendobraknya dengan cara menendang dan memukulnya sekuat yang dia bisa.
Dentuman keras terdengar, dan pukulan-pukulan mematikan menghantam pintu besi itu, mencerminkan kemarahan yang begitu kuat dari dalam dirinya. Kemarahan yang memuncak membuatnya merasa seolah-olah dia digerakkan oleh kekuatan yang lebih besar; sebuah dorongan alami yang paling liar untuk membebaskan diri dari belenggu penjara dan membalaskan dendam untuk neneknya yang mati terbunuh.
"PAVEL! PENJAGA BAJINGAN! LEPASKAN AKU DARI SINI, SIALAN!" Teriak Farhan penuh umpatan dengan amarah yang tak terkendali, membuat kebisingan yang tak berarti di tengah-tengah penjara yang dingin dan gelap.
Dia menggertakkan giginya, mata yang memerah penuh kemarahan, dan pukulan serta tendangan yang tak kenal lelah terus menghantam pintu sel itu.
Dia benar-benar menjadi seperti banteng yang mengamuk. Dia tidak peduli dengan konsekuensi yang akan dia dapatkan, dia tidak peduli dengan aturan penjara, dan dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah dendam dan kemarahan yang sudah menguasainya.
"HAAAAAAA!!! KELUARKAN AKU, BAJINGAN!"
Lima tahanan yang sejak tadi menahan diri itu pun mencoba menahannya dan menenangkannya, namun, adalah kesalahan besar menjinakkan hewan buas yang sedang mengamuk. Dalam sekejap, dia berubah menjadi sosok yang ganas. Farhan yang sudah gelap mata karena amarah itu langsung mematahkan tangan dan kaki mereka semua. Pukulan dan tendangan yang keras mendarat dengan presisi, membuat anggota tubuh tahanan lain yang terkena jadi patah berkeping-keping. Lantai perlahan-perlahan dibasahi oleh darah para tahanan yang menjadi korban pelampiasan amarah sang predator.
Namun, tiba-tiba beberapa sipir bersenjata lengkap masuk untuk menjinakkannya. Mereka mencoba menenangkannya, berbicara dengan suara lantang, mencoba mengendalikan situasi. Tetapi amarah tahanan itu tak bisa diredam, dia terus mengamuk dengan nafsu dendam yang membakar.
Para sipir penjara semakin khawatir, hingga mereka pun mengambil langkah tegas untuk menghentikan tahanan itu. Tongkat listrik mereka dinyalakan, mengeluarkan suara gemerincing yang mengancam. Namun, Farhan tampak tak peduli, dia masih terus mengamuk, mengabaikan ancaman para sipir.
Tanpa tanda yang jelas, tongkat listrik akhirnya dilekatkan ke tubuhnya dengan keras. Listrik langsung mengalir melalui tubuhnya, membuatnya terguncang hebat. Farhan merasakan sensasi terbakar yang tak tertahankan, tetapi dia masih terus mencoba melawan, seolah amarahnya lebih kuat daripada apapun.
Para sipir terus mengoperasikan tongkat listriknya dengan menaikan sedikit tegangan listriknya, akhirnya tubuh Farhan tak kuat lagi. Dia langsung terkulai lemas, terjatuh ke lantai sel yang dingin. Matanya perlahan terpejam, kesadarannya pun meredup. Dia pingsan akibat aliran listrik yang menghantam tubuhnya dengan brutal.
Sel penjara akhirnya kembali menjadi sunyi, hanya terdengar napas berat tahanan-tahanan yang kesakitan yang naik turun. Para sipir segera mengamankan situasi, memeriksa keadaan tahanan-tahanan lain yang terluka; tiga dari mereka mengalami cidera berat di bagian kepala dan dada. Lima tahanan tersebut terbaring tak berdaya, dengan tangan dan kaki yang patah.
"Dia benar-benar monster," ujar salah satu sipir. "Bajingan-bajingan ini bahkan tidak berkutik, padahal mereka semua adalah pembunuh berantai yang haus darah."
Di ruangan lain, Pavel tampak tersenyum puas dengan mata berbinar sembari melihat layar plasmanya yang terhubung langsung dengan CCTV di tiap sel Black Mamba. "Nona tidak salah memilih kandidat, dia benar-benar monster! Hahaha!"
...----------------...
CATATAN:
Di dalam satu ruangan sel di penjara di Rusia, pemimpin atau ketua biasanya dikenal sebagai "Staryshka" atau "Baba". Staryshka atau Baba adalah tahanan yang dihormati dan diakui oleh sesama tahanan sebagai pemimpin atau otoritas di dalam satu ruangan sel.
Staryshka atau Baba umumnya dipilih berdasarkan pengalaman, usia, atau status sosial dalam kalangan tahanan. Mereka dapat memiliki peran yang beragam, seperti memastikan disiplin di dalam sel, memediasi konflik antara tahanan, mengatur tugas-tugas harian, atau mengatur aturan-aturan yang berlaku di dalam sel. Sebagai pemimpin di dalam sel, Staryshka atau Baba seringkali memiliki pengaruh dan otoritas yang diakui oleh sesama tahanan.