The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 39: RIO DAN GINA



DI PAGI hari yang cerah, matahari terbit, menyinari langit dengan warna oranye keemasan yang mencerminkan keindahan alam Tadulako. Pepohonan rindang tampak mengisi ruang di sepanjang jalan masuk kampus, dengan dedaunan yang gemerlapan oleh embun pagi.


Pintu gerbang kampus terlihat megah dan kokoh - terbuka lebar, mengundang pengunjung untuk memasukinya. Pintu masuk Universitas Ulujadi terdiri dari dua pilar setinggi 5 meter yang terbuat dari baja hitam mengkilap, dengan bentuk yang khas.


Di kedua pilar itu terdapat ukiran simbol-simbol kuno yang menarik perhatian. Di antara kedua pilar tersebut, terdapat pintu gerbang setinggi 3 meter yang terbuat dari baja dengan warna perunggu. Pintu itu dihiasi dengan panel-panel kaca yang menghadirkan efek cahaya berkilauan saat matahari bersinar.


Sebuah mobil mewah hitam tiba-tiba berhenti di depan gerbang salah satu universitas terbaik itu. Mobil tersebut terlihat elegan, dengan bodi yang mengkilap memantulkan cahaya matahari pagi.


Pintu mobil lalu terbuka, Rio keluar dengan langkah mantap bersama dengan Michelle. Rio tampak jauh berbeda dari biasanya. Tak ada kacamata dan sisiran samping yang rapi, seolah dia orang yang berbeda.


"Hubungi aku kalau Anda butuh sesuatu, Bos," ujar Michelle.


"Michelle, aku sudah bilang, jangan panggil bos. Bos IGIS hanya satu: Galen! Dan itu tidak akan pernah berubah."


Michelle tidak menjawabnya. Harus diakui loyalitas Rio pada Galen lebih daripada loyalitas anggota IGIS yang lain. Sebab loyalitasnya bukan dibangun karena hubungan antara bos dan bawahan yang lebih diikat oleh rasa takut, tetapi hubungan antara dua saudara yang lebih diikat oleh prinsip dan komitmen untuk saling menjaga dan melindungi.


Tiba-tiba dari arah belakang mereka, Gina muncul - menepuk pundak Rio untuk mengejutkannya. Namun Rio tidak terkejut karena dia sudah melihat Gina mengendap-ngendap melalui kaca spion mobil sebelumnya, tapi agar semuanya terkesan normal, Rio pura-pura terkejut.


"Ugh, jantungkungku hampir meledak," ujar Rio sembari mengelus-elus dadanya. Gina tampak tertawa cekikikan.


"Kamu dari mana aja sih? Kenapa nomormu ngga aktif?" Tanya Gina.


"Aku ada urusan keluarga," jawab Rio. Dia tidak ingin mengatakan alasan sebenarnya. Tak ada yang tahu, bahkan Farhan, kalau Rio punya hubungan erat dengan kelompok mafia paling berpengaruh di Distrik Utara, karena dia tak ingin kehidupan normal yang Galen ingin dia jalani terganggu. Di sisi lain, sangat berbahaya jika identitas aslinya terkuak.


"Setidaknya berkabar dong!" timpal Gina.


"Maaf, aku lupa."


Gina lalu melihat ada seorang wanita dewasa yang berdiri di sebelah Rio. Dengan pakaian formal serba hitam dan kacamata bacanya, wanita itu tampak seperti seorang pembawa acara berita yang biasa dia tonton di TV. Gina merasa sedikit aneh tentang bagaimana cara pria playboy itu menarik wanita yang tampak lebih tua beberapa tahun darinya itu. "Selesai dari urusan keluarga, langsung dapat gebetan, ya," ujar Gina dengan nada menggoda.


Rio dan Michelle terhentak dengan apa yang dikatakan wanita berambut sebahu itu. "Ini bukan gebetan, gila," ujar Rio sambil menepok kening Gina. "Ini kakakku!"


"Kakak? Kamu ngga pernah ngomong kalau punya kakak."


"Iya. Dia baru pulang dari luar negeri?"


"Oh..." Gina langsung memberi salam dan memperkenalkan dirinya kepada Michelle. Michelle mengangguk dan memperkenalkan dirinya juga.


"Kak, aku pergi dulu," ujar Rio sembari tersenyum. Michelle cukup terkejut karena tidak menyangka bahwa Rio hebat dalam bersandiwara.


"Ya, nanti berkabar."


"Iya."


Meskipun masih pukul 8 pagi, kantin kampus sudah penuh sesak dengan mahasiswa dan dosen yang sibuk. Di tengah keramaian itu, ada pandangan-pandangan yang saling mencuri. Para mahasiswa yang tampak sibuk dengan studi mereka, seringkali berbisik-bisik atau bertukar pandangan penuh teka-teki.


Ruangan kantin itu berdinding kaca yang memungkinkan cahaya matahari masuk dengan leluasa, membuat suasana terasa cerah meskipun banyaknya orang. Meja-meja dan kursi-kursi terlihat modern dengan desain unik yang memberi kesan eksklusif.


Di meja-meja itu terdapat berbagai jenis makanan dan minuman yang menggugah selera, dari hidangan lokal hingga hidangan internasional. Aroma kopi segar dan bau rempah-rempah dari hidangan nasi goreng yang sedang dipanaskan mengisi udara, bercampur dengan suara riuh rendah dari percakapan para pengunjung.


Pelayan-pelayan dengan seragam khas kantin kampus itu sibuk mengantarkan pesanan-pesanan dengan gesit. Mereka bergerak lincah di antara meja-meja, terlihat sigap dan terorganisir dalam menghadapi kerumunan pelanggan yang ramai.


Di sisi lain, suasana di kantin itu terasa hidup dengan diskusi-diskusi sederhana antara mahasiswa dan dosen yang berbicara dengan antusias. Topik-topik menarik, mulai dari debat tentang teori-teori ilmiah hingga perdebatan tentang isu-isu sosial dan politik, mengisi udara dan membuat suasana semakin dinamis.


"Hei, kau kelihatan beda hari ini," ujar Gina melihat Rio dengan mata seperti seorang detektif. Mereka sekarang berada di kantin kampus yang terletak tepat di belakang gedung rektorat itu. "Rambutmu - dan mana kacamatamu!?"


Rio baru menyadari kalau dia tidak mengenakan kacamata karena tadi dia berangkat terburu-buru. Sedangkan rambutnya sedikit berbeda karena Michelle menyarankannya untuk mengganti gaya rambutnya seperti Galen. Wanita itu merasa dia dan Galen punya kesamaan.


"Kacamataku rusak, karena kemarin jatuh," jawabnya. "Kalau rambut ini, ini pekerjaan kakakku."


"Oh, kakakmu punya selera yang bagus."


Pesanan mereka akhirnya tiba. Rio hanya memesan segelas es jeruk dingin sedangkan Gina memesan steak dan jus alpukat favortitnya.


"Tumben ngga cerewet. Ada masalah?" Tanya Gina tiba-tiba. Dia merasa ada yang aneh dengan pria itu. Biasanya Rio adalah orang yang paling banyak berbicara. Dia selalu punya cerita tentang pengalamannya di dunia malam bersama perempuan-perempuan yang didekatinya. Tapi sekarang, dia lebih terlihat seperti mayat hidup yang sedang menghayal.


"Ngga ada masalah kok. Gimana Farhan, udah ada kabar belum?" Tanya Rio mengalihkan.


Wajah Gina tiba-tiba murung - menggelengkan kepalanya. Matanya yang tadinya berbinar kini terlihat redup. Ekspresi sedih tergambar jelas di wajahnya. Namun, dia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sedihnya secara terang-terangan.


Apa yang Herman rencanakan, tanya Rio dalam hati. Firasatnya buruk tentang ini, karena sudah tiga bulan lebih sahabatnya itu tak ada kabar sama sekali.


"Tapi Iyal nanti nanya ke pamannya," lanjut Gina.


"Iyal?"


"Dia cewek yang nolongin Farhan waktu itu."


Rio mengangguk. Jadi nama keponakannya, Iyal.


"Ya udah, kita tunggu aja kabarnya. Aku yakin dia baik-baik aja di sana. Dia hanya ngga punya waktu buat hubungin kita," ujar Rio berusaha menenangkan Gina, meskipun dia pun tak yakin dengan perkataannya sendiri.


Gina hanya mengangguk kecil sambil merentangkan bibirnya dalam senyuman tipis yang terlihat kaku. Senyum itu seolah terpaksa muncul di wajahnya, menghadirkan rona tipis kegugupan di sekitar mulutnya. "Ya, semoga."