
DI RUANG kerja yang mewah di lantai paling atas gedung Zvezda milik Perun Group di pusat kota Volgograd, Avraam tampak sedang duduk di kursi hadap di depan meja kerja Florentina dengan tumpukan berkas dan layar komputer yang bersinar terang.
"Apa Ded Vasya tahu kalau anak itu ada di Black Mamba?" Tanya Avraam kepada wanita awet muda itu. Di sebelahnya, seperti biasa, Aramazd berdiri tegap sebagai pangawal pribadinya.
"Ya, dia tahu," jawab Florentina. "Itulah mengapa aku berani memutuskan ini."
Apa dia serius? Avraam tampak masih sulit mempercayai jawaban itu. "Kita sering melakukan ini pada kandidat-kandidat sebelumnya - rencana kita untuk menguasai dunia bawah di Moskow, tapi semuanya gagal! Mengapa Anda begitu tertarik pada anak itu!?"
Florentina sangsi menjawab karena alasan dia menarik Farhan adalah informasi yang Herman berikan padanya tentang keluarga Farhan beberapa hari sebelum Farhan tiba di Volgograd. Itu informasi menarik, pikirnya. Dia merasa, Farhan bisa menjadi kartus AS-nya. Yang dia perlu lakukan hanyalah mengasah bakatnya dan membangkitkan naluri bertarungnya di neraka itu. Ketika dia menyampaikan idenya ini, saat itu Herman langsung mengaminkannya. Jadi, tentu saja semuanya sudah mereka rencanakan, sayangnya tanpa sepengetahuan Avraam.
"Jawabanku, kau bisa melihatnya nanti ketika anak itu keluar," jawab Florentina.
Tampak Avraam menghela nafasnya; ada guratan kekecewaan di sana. "Apa kalian punya sesuatu yang kalian sembunyikan? Mengapa Anda selalu mengecualikanku dalam rencana sepenting ini!?"
"Jangan tersinggung. Aku mengecualikanmu bukan tanpa alasan," timpal Florentina sembari memperbaiki posisi duduknya. "Apa kau ingat saat kau pertama kali datang ke Stremyaschiysya? Alasan mengapa dia mengalahkanmu adalah karena cara pandangmu yang naif dan kaku itu," sambung Florentina dengan jari telunjuknya yang mengarah pada Avraam. "Secara teknis, sebagai mantan juara dunia, tak ada yang bisa mengalahkanmu, tetapi idealisme moralmu yang hanya melihat semuanya hanya dari sisi benar dan salah membatasi potensimu. Aku tidak mau kandidat ini mengikuti jejakmu, sebab syarat menjadi seorang vory adalah dengan menjadi tidak bermoral!"
Avraam mengerutkan kening dan mengepalkan tangannya. Apa yang wanita itu katakan seolah menjadi tanda tersirat bahwa dia tidak menyukainya.
"Tapi aku menghargai bakat dan pengalamanmu sebagai petarung murni. Itulah mengapa saat itu aku menawarkanmu pekerjaan ini. Sayangnya, tawaran itu tidak berlaku untuk moral dan idealisme naifmu itu."
Avraam tidak dapat berkata-kata. Memang benar, sejak awal dia tidak begitu menyukai pekerjaannya saat ini. Dia membuang semua pencapaian dan kehidupan lamanya karena gengsi dan harga dirinya yang tinggi sebagai sang juara yang dikalahkan oleh seorang amatiran. Itu adalah hal yang menyakitkan untuknya saat itu.
Ketika bertarung di Stremyaschiysya, dia melihat sisi lain dari kehidupan seorang petarung yang tidak dia dapatkan di lingkungan profesional. Dari sekian banyak pertarungan yang dia lewati sampai ketika dia terjebak di dunia bawah ini, dia menyadari bahwa kemenangan adalah kemenangan, tidak peduli apakah itu didapatkan dengan cara kotor sekalipun.
Hasratnya yang selalu ingin menjadi petarung nomor satu membuatnya melangkah ke jurang gelap itu. Ketika dia bertemu Herman, dia menyadari bahwa cara Herman bertarung denganya mewakili cara dunia ini bekerja, bahwa seringkali dunia tidak bekerja mengikuti hukum atau aturan yang kita yakini dan juga di luar dari apa yang kita harapkan. Dia menyadari kekalahannya saat itu adalah akibat dari idealismenya yang tidak realistis bahwa Herman akan mengikuti aturan yang sama dengannya.
Kehidupan seorang petarung tidak boleh diikat oleh aturan! Begitu yang dia simpulkan. Tetapi, sekeras apapun dia berpikir dan meyakini bahwa jalan yang dia pilih saat ini benar, selalu ada yang mengganjal di dalam hatinya, namun dia selalu mengabaikan itu.
"Lalu, sampai kapan dia akan di Black Mamba?" Tanya Avraam, menarik nafas dalam.
"Sampai dia layak," jawab Florentina.
Avraam mulai berbalik membelakangi atasannya itu dan berjalan menuju pintu keluar dengan kedua tangan yang dia masukkan ke saku bleazer-nya.
Florentina tampak tersenyum dengan peringatan yang terdengar seperti ancaman itu. "Kau tidak perlu khawatir. Akan aku pastikan, yang satu ini tidak akan menggigit pemiliknya."
Pintu pun tertutup.
Tiba-tiba Florentina langsung berdiri dan menarik leher Aramazd yang tepat berada di sampingnya dan saling bercumbu. Dengan lembut, Aramazd membalas kecupan bibir wanita itu, mengawali sebuah ciuman yang lembut dan lambat. Bibir mereka berpadu, saling menyatu seperti pasangan yang tak terpisahkan.
Ciuman itu semakin dalam dan intens. Aramazd merasakan gairahnya meluap pada wanita paruh baya itu. Dalam dekap basah itu, dia berusaha mengendalikan nafasnya yang semakin berat. Florentina merespon ciuman itu dengan penuh semangat, membalasnya dengan keinginan yang sama kuatnya. Tubuh mereka bergerak bersama, terikat oleh sesuatu yang aneh.
Mereka merasakan detak jantungnya satu sama lain, seolah beradu dalam satu irama. Aramazd mencium leher atasannya itu, menggigit lembut di bagian belakang telinganya, membuatnya gemetar dengan kenikmatan. Florentina merasakan sensasi yang tak tergambarkan, membalas dengan ******* yang penuh gairah.
Dengan sedikit keberanian, Aramazd menaruh tangan kirinya di sekitar pinggang langsing Florentina, menariknya lebih dekat ke dalam pelukannya yang hangat. Dia lalu tersenyum, mengusap lembut pipi Florentina yang merah padam. Wanita itu tersenyum malu.
Dengan perlahan Aramazd langsung mengangkat tubuh Florentina ke atas meja kerja mewah itu. Dia lalu menindihnya dengan lembut di atas meja kerja. Florentina sedikit terkejut, namun dia tak bisa menahan ******* kenikmatan saat pengawal pribadinya itu menciumi lehernya dengan gairah liar, dan lalu menggigit lembut bagian belakang telinganya.
Aramazd dengan cekatan melepaskan baju Florentina, membuka satu per satu kancing yang menghalangi tubuh indah di bawahnya. Kulit mereka bersentuhan, memancarkan panas yang membara. Aramazd merasakan kulit atasannya itu sangat halus dan lembut meskipun sudah berkepala empat, menciptakan sensasi yang menggetarkan.
Florentina di sisi lain merasakan campuran antara keragu-raguan dan hasrat gelap yang saling tarik-menarik. Dia mencengkeram erat bahu kekar pengawalnya itu, merasakan kekuatan dan kelembutan dalam genggamannya. Mereka terjebak dalam dunia mereka sendiri, dan tak bisa memikirkan apa pun selain apa yang sedang mereka lakukan saat ini satu sama lain.
Saat baju atasannya terlepas, Aramazd lalu menciumi dada atasannya tersebut dengan penuh gairah, membuat Florentina merintih dalam kenikmatan. Dia merasakan perasaannya yang memuncak, sehingga nyaris tak bisa menahan dirinya.
Mereka saling meraba, saling mencumbu dalam hasrat yang begitu kuat - terperosok dalam kenikmatan yang memabukkan, tak lagi bisa mengendalikan gairah yang membara. Tubuh mereka terjalin dalam ciuman yang liar dan penuh nafsu, menciptakan ikatan yang tak terbantahkan di antara mereka.
Di tengah suara ******* Florentina yang khas. Di balik pintu ruangan itu, Avraam sedang bersandar di pintu. Sejak tadi, dia sama sekali tidak meninggalkan pintu masuk tersebut. Dia samar-samar bisa mendengar apa yang sedang dua orang di dalam ruang kerja CEO Perun itu lakukan. Sembari menyalakan puntung rokoknya, dia memandangi langit-langit koridor di atasnya dengan wajah tanpa ekspresi yang jelas.
"Kau sudah jatuh cinta pada orang yang salah, teman," gumamnya di antara asap tebal di mulutnya sembari memikirkan Herman.