
Black Mamba - Saratov, Rusia
MATANYA terbuka lebar dan napasnya terengah-engah ketika Farhan tiba-tiba terbangun di sebuah tempat yang asing.
Tak ada yang familiar dan nyaman di sekitarnya - hanya tembok beton dan sesuatu seperti tempat tidur besi yang bisa dia lihat. Di atas kasur tersebut terdapat sebuah selimut yang lusuh dan kotor serta bantal yang tampaknya sudah tidak bisa mengembang.
Di dinding beton, terdapat sebuah lampu pijar yang tampaknya sudah lama tak diganti sehingga cahayanya terlihat redup.
Ruangan itu dipenuhi dengan bau busuk seperti bangkai tikus yang membuatnya ingin muntah. Udaranya pun kotor dan panas sehingga membuat atmosfer di sekitarnya terasa seperti sebuah oven.
Semua benda di dalam ruangan itu terlihat tua dan suram, seperti tidak pernah dirawat dengan baik.
Farhan mencoba meraba-raba tubuhnya dan merasakan lantai yang kasar.
Matahari pagi mulai bersinar di luar jendela tinggi yang dikelilingi kawat berduri, memancarkan cahaya samar-samar yang menerangi ruangan yang gelap.
"Lho, aku di mana?" Farhan terus melihat di sekelilingnya dalam kebingungan. Dia masih ingat benar kalau semalam dia tertidur di atas kasur empuk. Tapi bagaimana dia tiba-tiba terbangun di tempat seperti ini? Farhan melihat ada sejenis pintu besi berongga yang besar di hadapannya.
"Ini kok kayak penjara, ya?"
Farhan mencoba berteriak, "AVRAAM! NONA FLORENTINA!" Dia hanya mengingat nama mereka berdua karena dia tahu dia berada di Rusia. Namun teriakannya itu tampak sia-sia karena suaranya seolah hanya memantul di antara dinding-dinding beton itu.
Ruangan itu terasa sangat sesak, dan membuat siapa pun akan merasa tertekan dan gelisah, tak terkecuali Farhan. Tiba-tiba, di tengah keheningan yang menakutkan itu, suara langkah kaki seseorang pun terdengar membelah koridor di balik pintu besi - semakin lama, semakin dekat - yang memberikan kesan menakutkan dan ketidakpastian di dadanya.
Di saat yang sama, pintu ruangannya pun terbuka dengan suara besi yang berderak keras. Seorang pria berseragam pun muncul. Pria itu tampak seperti patung yang tegak di depan pintu. Raut wajahnya dingin dan tegas, seolah tak akan tergoyahkan oleh apapun. Setiap gerakannya begitu presisi dan teratur, seakan dia sudah terlatih secara militer.
"Siapa namamu!?" Tanya pria itu dalam bahasa Rusia tegas sembari menatapnya dengan penuh kecurigaan dan kebencian. Namun Farhan tidak tahu maksud pria berkumis tebal yang berbadan besar itu.
"I can't speak Russian. Can you speak English, Sir?" Tanya Farhan berharap bahwa pria menakutkan di hadapannya itu bisa berbahasa Inggris, setidaknya seperti Avraam.
"Hei, aku bertanya! Jangan berbicara kecuali dengan bahasa Rusia. Siapa namamu!?" Suara pria itu mulai meninggi dengan tatapan yang penuh amarah. Itu membuat Farhan bingung bercampur khawatir.
Bagaimana dia akan berkomikasi dengan pria yang bahkan tidak bisa berbahasa Inggris dan berperawakan buruk itu.
Pria itu tampak melihat ke arah pakaiannya. Farhan pun ikut melihat pakaiannya. Dia sangat terkejut melihat bahwa dia tengah mengenakan sebuah pakaian tahanan berwarna abu-abu tua lusuh lengkap dengan nomor tahanannya yang dicetak dalam huruf besar yang mencolok bertuliskan: K-235.
Tubuhnya merinding penuh ketakutan dan pikirannya dikuasai oleh kepanikan. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Kenapa aku di penjara? Farhan bertanya-tanya pada dirinya dan berusaha mengingat-ngingat kembali apa yang sudah dia lakukan kemarin sampai membuatnya dipenjara. Namun sekeras apapun dia mengingat, tidak ada satu pun tindak kriminal yang dia lakukan. Sebab setelah sampai di Volgograd, dia dan Avraam hanya datang ke perusahaan milik Nona Florentina untuk menyapa, lalu kemudian menginap di sebuah rumah di dekat sungai Volga. Itu saja!
Farhan lalu melihat pria paruh baya di depannya. Berarti dia adalah sipir penjara! Pikir Farhan mulai menyimpulkan situasi yang tengah dia hadapi.
Dia mulai menyadari bahwa dia terjebak dalam sebuah konspirasi besar yang dibuat oleh seseorang. Ini pasti hanya salah paham, ujar Farhan dalam hati berusaha meyakinkan dirinya bahwa ada yang salah.
"Pak sepertinya ada sesuatu yang... " ujar Farhan memelas mencoba menjelaskan situasi absurdnya, tetapi sipir tersebut tidak mau mendengarkan dan langsung memukul belakang kepalanya hingga dia terjatuh tak sadarkan diri.
"Kau dari tadi menggumamkan apa, sialan!"
...***...
Beberapa jam kemudian.
Farhan membuka matanya dan merasakan sakit di kepalanya. Dia mencoba mengingat apa yang telah terjadi, tetapi ingatannya kabur. Dia melihat sekelilingnya dan mendapati bahwa dia berada dalam sel yang gelap dan kotor, selain itu di sekitarnya sudah ada sekelompok napi yang menyeramkan.
Mereka memandanginya dengan sinis dan curiga, seperti gerombolan serigala yang mengamati mangsanya. Farhan merasakan detak jantungnya semakin cepat ketika dia menyadari bahwa dia telah ditempatkan di tengah-tengah para penjahat paling berbahaya di Rusia.
Farhan mulai merasa ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya. Dia tidak tahu apa yang akan orang-orang itu lakukan padanya.
Namun Farhan mencoba untuk tetap tenang dan mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada napi-napi itu, "Maaf, ini di mana?"
Para napi itu hanya menatapnya kebingungan dan dengan tatapan yang merendahkan.
Farhan tidak mengerti apa yang pria-pria menyeramkan itu katakan. Akan sulit baginya mencari informasi, jika dia tidak bisa memahami bahasa mereka.
Tiba-tiba napi yang kepala plontosnya bertato maju mendekatinya. Karena suasana yang mencekam dan penampilan menyeramkan napi itu, membuat aliran darah ditubuhnya semakin cepat karena mulai diserang kepanikan.
Tiba-tiba napi tersebut menginjak pahanya dengan keras tanpa aba-aba, "Hei, kau tadi menghina kami!?" Pijakannya semakin keras sehingga membuat Farhan berteriak kencang dan meneteskan air mata. Dia tidak mengerti apa yang membuat napi itu marah. Di sisi lain dia tidak terbiasa dengan rasa sakit semacam itu karena dia tidak pernah diperlakukan dengan buruk sebelumnya.
Ketika preman-preman lain menertawakannya, preman botak itu mulai memukulinya, menendang, menginjak, meludahinya, dan bahkan mengencinginya.
Dia tidak pernah menerima perlakuan buruk dari orang lain, karena orang-orang di sekitarnya selalu ramah dan baik padanya. Namun, perlakuan kasar yang dia terima dari preman itu membuatnya memikirkannya kembali.
Yang bisa dia lakukan hanya lah berteriak dan menangis tanpa ada yang peduli. Bahkan ketika sipir penjara lewat dan melihat kekerasan itu, sipir itu hanya mengabaikannya dan menatapnya dengan sinis seolah dia adalah makhluk rendahan yang menjijikan.
Farhan teringat dengan apa yang dikatakan Avraam: "Ingat dan nikmatilah momen ini, sebelum kau menyesal, karena mulai besok hari-hari akan terasa berat." Apakah ini yang Avraam maksud? Apa semua ini rencana mereka? Tanyanya dalam hati sembari menangis dan berteriak.
Dia bertanya-tanya sejak kapan hidupnya seperti ini. Bayangan neneknya, Gina, dan Rio mulai melintas di benaknya bersamaan dengan tiap pukulan preman yang mengenai wajahnya.
Begitulah hari-hari berat yang akan Farhan jalani selama dirinya di Rusia.
...***...
300 kilometer di sebalah utara penjara, seorang pria yang mengenakan jaket kulit berwarna gelap baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan yang luas.
Pavel merasa seakan-akan masuk ke dalam dunia yang berbeda. Di sekelilingnya terdapat furnitur-furnitur elegan dan mahal yang dihiasi dengan lukisan-lukisan klasik.
Di sudut ruangan terdapat piano kuno yang terlihat seperti baru, sedangkan di dinding tergantung beberapa artefak antik yang sangat menarik perhatian.
Pavel kemudian melirik ke arah meja kerja yang terletak di ujung ruangan. Di sana Nona Florentina sedang duduk sembari menatap layar laptopnya.
"Kau sudah sampai," tanya Florentina tanpa memperhatikannya.
"Iya nona," jawab Pavel. Wanita itu hanya mengangguk - menunggu laporannya.
"Aku ingin memberikan laporan tentang pria yang dibawa Avraam," Pavel melirik ke arah Florentina, "Anak-anak akan mengurusnya sampai dia layak diinisiasi."
Meskipun dia sudah lama bekerja untuk Perun Group karena suap, Pavel masih belum terbiasa berada di dekat Florentina, seakan-akan wanita itu memancarkan aura yang tak menyenangkan. Apalagi ini pertamakali untuknya datang ke ruang kerja bos mafia penguasa Volgograd ini secara langsung.
Ruangannya sangat jauh berbeda dengan ruangan miliknya di Black Mamba, sekalipun Pavel adalah kepala sipir di sana. Dia bisa melihat tak ada satu pun benda yang tidak berguna dan bernilai di ruangan ini.
Semuanya mahal dan berkelas, bahkan kertas dan pulpennya!
Florentina tampaknya sudah selesai dengan pekerjaannya. Dia lalu menutup layar laptopnya dan melirik ke arah Pavel dengan tajam, "Kau tidak perlu melaporkan sesuatu seperti itu. Tentu saja anak-anak harus mengurusnya."
Pavel menundukkan pandangannya dan mengangguk. Namun Florentina bisa melihat bahwa sepertinya kepala sipir di hadapannya itu punya sesuatu untuk dikatakan, "Ada lagi?"
"Aku tidak tahu apakah aku boleh menanyakan ini atau tidak, tapi anak bernama Farhan itu... Di mana Avraam menemukannya?" Tanya Pavel dengan suara yang terdengar ragu.
"Ada masalah?"
Pavel merasa semakin ragu karena suara tajam wanita itu terdengar tidak suka dengan pertanyaannya. Dia tidak ingin membuat masalah hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya, tapi jika dia tidak melanjutkannya justru itu akan memperparah situasinya. Dia tidak punya pilihan lain selain menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
"Aku penasaran, mengapa Anda memasukkannya ke penjara. Aku merasa dia tidak akan bertahan lama," ujar Pavel perlahan, memastikan bahwa wanita di hadapannya itu memahami keraguannya.
Tampak Florentina menghela nafas dan memegang kepalanya seolah tidak nyaman dengan pertanyaan tersebut, "Pavel, aku membayarmu bukan untuk menjawab pertanyaanmu. Yang harus kau lakukan adalah bekerja sesuai perintahku dan mengawasi para kandidat yang 'kukirimkan untuk memastikan mereka akan menjadi anjing yang setia dan tidak akan menggigit tuannya saat mereka keluar."
Pavel mengangguk, "Maafkan aku, Nona."
Dia menyadari bahwa dia seharusnya tidak mempertanyakan keputusannya. Dia hanya perlu melakukan apa yang diperintahkan tanpa bertanya. Tak mau berlama-lama di situasi yang menegangkan itu, Pavel pun pamit dan melangkahkan kakinya ke pintu keluar.