The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 21: SANG RAJA YANG MELEPASKAN MAHKOTANYA



"TIDAK apa-apa meninggalkannya sendirian, Tuan?" Tanya supir dengan jas hitam ketat itu sembari menengok kaca spionnya sesekali seolah mau memastikan bahwa atasannya ada di sana.


Avraam tidak mendengarkan apa yang supir pribadinya itu katakan karena tenggelam dalam lamunannya. Dia duduk sembari memandang Sungai Volga yang memantulkan cahaya rembulan dan lampu-lampu kota. Pemandangan itu membuatnya teringat dengan saat dia pertamakali terlibat dengan dunia kotor itu karena termakan ambisi dan gengsinya.


...***...


Beberapa tahun yang lalu.


Stremyaschiysya


Suasana di bawah tanah itu kental dengan kegaduhan yang tak henti-hentinya. Orang-orang berdesak-desakan di sekitar ring pertarungan yang terletak di tengah ruangan yang suram. Lampu kuning redup menjadi satu-satunya sumber cahaya di dalam ruangan yang berukuran 1.900 meter persegi itu sehingga menciptakan bayang-bayang yang menyeramkan di sekitar dinding yang kotor dan basah.


Di atas ring yang dikelilingi oleh pagar berduri tersebut, ada dua petarung yang saling menatap tajam satu sama lain dengan perasaan yang bercampur aduk antara hasrat bertarung dan rasa takut. Mereka tahu bahwa satu kesalahan kecil saja bisa membawa mereka pada kematian, sebab tidak ada wasit apalagi medis yang berjaga seperti dalam pertarungan resmi.


Penonton memenuhi ruangan itu dengan semangat dan teriakan yang meriah. Ada yang bertaruh dengan 46.900 rubel (kurang lebih 10 juta Rupiah), dan ada yang bahkan menjadikan rumah mereka sebagai taruhannya karena percaya bahwa petarung andalannya akan menang. Karena itu, atmosfer di dalam ruangan tersebut begitu intens dan menegangkan.


Avraam kini datang memenuhi tantangan pria Asia yang beberapa waktu lalu berani memprovokasinya di depan wartawan dan fans-nya. Dia pun mencari di mana pria Asia itu berada. Pandangannya berusaha menjelajahi seluruh tempat kotor itu.


Sebagai petarung profesional, dia tidak pernah membayangkan akan berada di tempat semacam ini. Dia menatap sekeliling arena dengan keheranan dan rasa jijik. Dia melihat para penonton yang kasar dan liar, berteriak-teriak dan saling bertaruh dengan apapun yang mereka punya, sementara yang lain merokok dan minum minuman keras.


Ketika dia mengarahkan pandangannya ke arah ring yang jauh dari kata aman dan normal itu, dia melihat para petarung amatir yang bertanding di sana. Dari sudut pandang Avraam sebagai atlet profesional, mereka terlihat jauh lebih brutal dan tidak terlatih dibandingkan dengan petarung-petarung yang pernah dihadapinya di atas octagon.


Di atas area pertarungan, melalui kaca jendela besar, si pria Asia sedang melihat Avraam yang tampaknya sedang mencarinya itu. Si pria Asia sedang bersama bos-nya, Florentina.


"Eh, bukannya itu," tanya Florentina dengan nada keheranan yang bercampur dengan kaget, "The Assasin, Fyodor Avraam?"


Herman muda tersenyum, sudah 'kuduga dia akan terkejut.


"Iya, dia Avraam."


"Ada urusan apa Avraam ke sini?"


Sang juara biasanya punya harga diri yang tinggi. Namun aku mengusik harga dirinya dengan menantangnya di depan banyak orang, pikir Herman, tentu saja dia akan datang dan membalasnya.


Herman tidak menjawab langsung pertanyaan itu, dia justru bertanya ke pertanyaan lainnya, "Nona, menurutmu siapa yang akan menang jika aku bertarung dengannya?"


Pertanyaan itu membuat Florentina sadar siapa yang menjadi alasan mengapa sang raja MMA, Avraam, datang ke Stremyaschiysya miliknya.


"Jangan bilang kau yang menantangnya?"


"Untukmu," jawab Herman muda sembari tersenyum manis, membuat Florentina tersipu dengan senyum khas pria Asia itu.


Herman tahu bahwa Florentina menyukai pria-pria kuat yang saling bertarung, makannya dia memberikan Avraam sebagai hadiahnya. Itulah mengapa Florentina juga disebut sebagai Aphrodite, dewi cinta dan kesenangan dalam mitologi Yunani yang menarik banyak pria kuat, termasuk Ares, sang dewa perang.


Herman pun turun untuk menyambut tamu mereka itu. Tentu saja datangnya Herman ke arena bawah membuat pandangan orang-orang yang sedang menonton teralihkan dari pertarungan yang sedang terjadi.


"Selamat datang di Stremyaschiysya, The Assasin, Fyodor Avraam," sapa Herman dengan senyuman.


Semua orang tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Bintang MMA dan juara dunia kelas berat, Fyodor Avraam datang ke Stremyaschiysya! Itu adalah momen bersejarah yang membuat semua orang tak dapat menyembunyikan ekspresi keterkejutannya. Bahkan para petarung yang tadinya saling memukul pun berhenti karena ingin melihat salah satu petarung kebanggaan Rusia itu.


Mereka bertanya-tanya mengapa seorang Avraam datang ke Stremyaschiysya. Biasanya tempat di mana pertarungan ilegal ini dilaksanakan adalah tempat yang paling dibenci oleh atlet profesional seperti dirinya. Tapi apapun alasannya, itu tidak menepikan fakta bahwa mereka tidak menyesal datang ke Stremyaschiysya malam ini, sebab karena itu mereka akhirnya bisa bertemu langsung dengan idola mereka di ring MMA.


Avraam tampak belum menyambut sapaan yang blak-blakan itu. Avraam seolah tahu apa niat licik pria Asia itu. Dia lalu melihat ke atas - ke arah di mana para VIP duduk menonton dengan tatapan dingin.


"Aku datang karena kau menantangku. Sebagai pria dan sebagai petarung, aku tidak bisa mengabaikan tantangan itu," ujar Avraam.


Herman tersenyum. Seperti yang diharapkan, pikirnya.


"Kalau begitu," Herman mengalihkan pandangannya ke arah Florentina yang duduk di lantai atas sembari tersenyum, "Ayo bertarung, Avraam."


Mereka pun pergi menuju ke atas ring yang masih memiliki banyak bekas darah sisa pertarungan di setiap sisinya. Herman dan Avraam saling menatap dengan pandangan tajam dan penuh niat untuk mengalahkan satu sama lain. Di balik kawat berduri yang melingkari ring, penonton memadati area sekelilingnya sambil menunggu pertarungan antara dua bintang ini dimulai.


"Avraam, ini akan berbeda dengan pertarungan resmi," ujar Herman memperingatkan Avraam sembari meregangkan otot-ototnya. Tentu saja ini berbeda, Avraam tahu itu. Dia tidak berniat untuk meladeni pria Asia di hadapannya itu. Yang dia pikirkan hanya lah bagaimana menghajarnya dan pulang.


Ketika lonceng berbunyi, keduanya segera bergerak dengan cepat. Herman memperlihatkan gerakan yang gesit dan tangkas untuk menghindari serangan Avraam yang ganas, namun Avraam tetap melancarkan serangan-serangan yang keras dari segala arah dengan teknik-teknik Boxing dan Muay Thai yang terbukti ampuh, menjadikannya sebagai juara dunia MMA.


Namun, Herman tidak mempedulikannya dan terus bergerak cepat, menghindari semua serangan Avraam dengan apik. Tidak hanya itu, dia juga mencoba melancarkan beberapa serangan balik yang cepat. Sayangnya, pengalaman Avraam yang tak terhitung banyaknya itu membuatnya tidak kesulitan menghindari serangan-serangan tersebut.


Herman terus mengelak dan melangkah mundur, sementara Avraam tetap mengejar dan menjaga jaraknya sembari melayangkan serangan-serangan yang semakin kuat. Seiring dengan suasana yang kian menegang, keduanya terus bertarung sengit, dengan pukulan dan tendangan yang saling menghujam.


Avraam pun berhasil memukul Herman dengan keras tepat di wajahnya, namun Herman langsung membalasnya dengan tendangan tajam yang mengenai perut Avraam. Keduanya pun terpukul mundur.


Avraam tidak percaya apa yang sedang terjadi. Bagaimana bisa aku dipukul mundur oleh seorang amatir!?


Sementara itu penonton sulit mengedipkan matanya, seolah tidak rela menyia-nyiakan satu detik pun dari pertarungan sengit itu.


Herman lalu bergerak maju. Melihat itu, Avraam berusaha menghalanginya dengan sebuah pukulan ke arah wajah. Namun tiba-tiba Herman meludah ke arah matanya, sehingga membuatnya kehilangan fokus dan penglihatannya beberapa detik. Itu adalah trik kotor yang sudah direncanakan Herman!


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Herman menangkap lengan Avraam dan dengan teknik Jiu-Jitsu-nya, dia memutar tubuhnya dan membanting Avraam ke atas mat dengan keras. Suara penonton yang bersorak pun menggema di seluruh arena Stremyaschiysya.


"Bajingan, bagaimana bisa kau bertarung dengan trik kotor seperti itu!" Ujar Avraam tidak terima dengan apa yang dilakukan Herman. Dia bangkit dan kembali memasang kuda-kudanya.


"Apa kau lupa ini bukan pertarungan resmi?" Balas Herman sembari mengarahkan pukulannya ke wajah Avraam, "Semua dibolehkan di sini!"


Avraam menangkis pukulan Herman, lalu menyerang balik dengan tendangan beruntun. Herman tampak kesulitan kali ini. Dia kemudian melangkah mundur untuk menghindari tendangan yang berat itu. Namun karena Avraam adalah atlet yang dikenal dengan kecepatan serangan dan responnya, Avraam pun mendekati Herman untuk memastikan Herman tidak punya ruang lagi untuk menghindari serangannya.


Avraam dengan gesit langsung memberikan tendangan berputar yang mustahil untuk dihindari sehingga mengenai wajah Herman dengan sangat keras dan membuatnya terpental jatuh.


"Aku tidak butuh trik kotor untuk mengalahkanmu," ujar Avraam dengan senyum puas. Herman yang terjatuh pun langsung bangkit lagi dengan ekspresinya yang serius, lalu dia maju dengan cepat memberikan pukulan jab, hook, dan crosss yang dilakukan secara berulang-ulang dan acak tanpa memberikan waktu bagi Avraam.


Boxing, huh? Pikir Avraam sembari berusaha menghindari semua serangan yang tampak berbahaya itu. Avraam berusaha bertahan sembari menyerang di saat yang bersamaan, hingga dalam momen yang tak terduga mereka pun saling memukuli wajah mereka dengan keras.


Teriakan penonton yang antusias pun terdengar bergemuru, sementara mereka berdua sama-sama terjatuh. Dampak dari serangan terakhir itu membuat keduanya tidak sadarkan diri.


Lampu tampak berkedip-kedip di langit-langit ketika Avraam membuka matanya. Dia terkejut dan bingung dengan situasi yang terjadi. Di sisi lain, dia juga merasakan kebas dan sakit di sekujur tubuhnya. Avraam mencoba bergerak, tetapi tubuhnya terasa berat seolah dia terikat ke tempat tidur.


Dia tidak tahu berada di mana sekarang. Dia melihat ke sekitarnya dan mencari-cari petunjuk. Ruangan itu terasa sejuk dan berkilau. Dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan seni modern yang mahal dan perabotannya terbuat dari bahan-bahan mewah seperti kayu jati dan kain sutra. Dia berada di tengah ruangan, di atas tempat tidur berukuran king-size yang dihiasi oleh selimut bulu angsa berwarna putih.


Suara gemerisik halus mengalun di ruangan itu saat seorang wanita asing datang menghampirinya. Dia tersenyum dan membuka jendela, membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan dan memperlihatkan pemandangan indah dari luar jendela. Dari jendela itu, tampak keindahan kota Volgograd yang megah.


Di sisi tempat tidur, terdapat meja kayu berwarna gelap yang dipenuhi dengan buah-buahan segar, minuman kopi, dan teh herbal yang harum. Di dekatnya, terdapat sofa kulit berwarna merah yang nyaman, dan di sisi lainnya, terdapat televisi layar datar yang besar.


Tidak jauh dari tempat tidur, terdapat lemari es yang terisi dengan berbagai jenis minuman keras dan makanan ringan. Tidak hanya itu, ada pula peralatan olahraga dan berbagai jenis buku, majalah, dan surat kabar yang cocok dibaca sebagai pengisi waktu senggang.


Wanita itu lalu menghampirinya, "Bagaimana perasaanmu?"


Avraam nyaris tak dapat berkata-kata karena tidak bisa fokus karena kecantikan wanita itu. Dengan rambut pirang yang panjang mengalir sejauh pinggangnya dan bibirnya yang berwarna merah menonjolkan pesona wajahnya.


"Baik. Aku di mana?" Tanya Avraam sedikit gugup.


"Di rumah sakit."


"Rumah sakit?" Avraam tidak yakin. Sebab semua fasilitas yang ada di ruangan itu memberikan kesan sebuah suite mewah di hotel bintang 5, bukan sebuah kamar rawat di rumah sakit.


"Apa yang terjadi?"


Wanita itu tersenyum, "Kau pingsan ketika melawan Ded Vasya."


Avraam memikirkan apa yang terjadi dengan pria itu.


"Aku punya tawaran untukmu," ujar wanita itu tiba-tiba, "Bagaimana jika kau bekerja denganku, Tuan Avraam?"


...***...


Sejak saat itu Avraam mulai bekerja di bawah Nona Florentina untuk mengurus Stremyaschiysya dan juga mengurus beberapa bisnis gelap Perun Group. Memang itu sudah bertahun-tahun yang lalu, tetapi Avraam masih tidak percaya dia bisa bekerja di tempat yang dahulu dia anggap hina ini.


Hidup memang sulit diprediksi, pikir Avraam.