
Iskra Company Trade Center (ITC), Tadulako
SUARA deru mesin mobil yang bertenaga tinggi memenuhi udara, menggetarkan jendela-jendela gedung mewah di sekitarnya. Suara gemuruh yang mencekam itu semakin dekat dan keras ketika ratusan mobil hitam yang elegan dan mengkilap dengan pengemudi yang mengenakan kacamata gelap lewat membelah jalanan kota.
Saat ratusan mobil serba hitam itu melintas, suara mesinnya memenuhi seluruh area, menciptakan hentakan yang menggetarkan lantai dan dinding gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Bagian-bagian metalik pada mobil-mobil itu bersinar terang karena cahaya dari jalan raya yang berderu, menciptakan siluet hitam yang misterius di tengah malam.
Ada suara-suara lain yang terdengar, seperti kaca mobil yang retak ketika melewati jalan yang berlubang, dan suara-suara jangkrik yang terdengar semakin jelas ketika deru mesin mulai mereda saat mobil-mobil tersebut melambat dan akhirnya berhenti.
Mereka berhenti di sebuah gedung mewah yang berdiri kokoh di tengah kota. Di atas gedung itu tertulis Iskra Company beserta logo perusahaannya dengan papan nama raksasa yang tampak bercahaya. Serentak, suara-suara lembut dari pintu mobil yang terbuka pun terdengar - diikuti oleh suara-suara langkah kaki yang keras dan teratur.
Ratusan pria berjas dan menyeramkan serentak keluar memenuhi jalan besar di depan gedung itu. Mereka keluar dari mobil dengan sikap yang arogan dan sombong, mengenakan pakaian hitam yang terlihat seram dan menggenggam senjata-senjata yang mematikan.
Seluruh pengawal di dalam ITC pun beramai-ramai keluar. Barangkali karena keributan yang diciptakan oleh deru mesin ratusan kendaraan itu. Wajah mereka tampak mengeras dan lalu secara insting membentuk sikap untuk bersiap akan konfrontasi yang kemungkinan besar akan terjadi.
"Siapa kalian!? Beraninya kalian membuat keributan di sini!" Teriak salah satu dari pengawal. Mereka tidak tahu ada urusan apa ratusan pria berjas yang tak dikenal itu datang dengan cara yang terlalu mencolok seperti itu. Tetapi jika kecurigaan mereka benar, mungkin saja orang-orang itu ingin menyerang Iskra.
Tampak tidak ada jawaban yang mereka lontarkan. Sebaliknya, hanya senyum meremehkan dan ekspresi haus darah saja yang mereka tunjukkan.
"Kita dapat jackpot!" Ujar salah satu dari para tamu tak diundang itu, diikuti oleh suara tawa kecil dari yang lain.
Seluruh pengawal Iskra mulai bersiaga. Banyak dari mereka menyalakan alat komunikasi di telinganya untuk memanggil bantuan. Karena bagaimana pun situasi ini sangat merugikan mereka jika benar para penyusup itu menyerang. Sebab nyaris semua pasukan Iskra masih berada di luar setelah peperangan yang terjadi beberapa waktu lalu di Distrik Utara.
Ratusan gangster itu perlahan berjalan mendekati pintu masuk utama ITC dengan membawa senjata di tangan mereka masing-masing - bersiap untuk menyingkirkan siapapun yang menghalangi mereka.
Namun tiba-tiba, sebuah mobil sedan putih masuk ke halaman depan ITC dan membuat gangster yang tadinya menutupi jalan perlahan menyingkir - seolah memberi jalan masuk untuk sedan mewah itu. Semua orang bertanya-tanya siapa yang mengemudikan kendaraan itu dan nekad masuk di tengah-tengah konflik yang sedikit lagi akan pecah tersebut.
Pintu mobil tersebut kemudian perlahan terbuka. Tiga orang pria yang tidak dikenal dengan mantap menampakkan diri mereka. Dua dari mereka tampak masih begitu muda dengan pakaian formalnya. Sementara yang satunya merupakan pria paruh baya yang berusia sekitar pertengahan 40 tahun; rambut putih dan keriput wajahnya menunjukkan itu.
"Tuan Darius!?" Ujar salah satu dari pengawal Iskra dengan ekspresi terkejut. Mereka tidak tahu apa yang dilakukan oleh tunangan dari keponakan bos mereka itu di sini. Tidak biasanya CEO muda pemilik AMN Group tersebut datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Sepertinya Iskra melemah setelah nyaris seluruh pasukannya dikerahkan ke King's Palace," ujar pria paruh baya itu sembari menghisap puntung rokok terakhirnya.
Darius berjalan ke arah para pengawal seperti seorang pangeran kerajaan yang berjalan ke arah rakyatnya - begitu elegan.
"Kalian panggil lah bantuan," ujar Darius kepada mereka. "Aku yang akan mengurus orang-orang ini."
Mereka semua tanpa ragu langsung mengaminkan permintaan pria muda itu seakan-akan itu adalah perintah atasan mereka.
"Tiga orang?" Tanya Darius memotong ucapan pria itu sambil maju berjalan ke arahnya. "Apa kau buta? Atau tidak bisa menghitung?" Darius melihat ke arah jalan raya.
Pria itu langsung mengikuti ke arah mana Darius melihat. Itu sontak membuatnya terkejut setengah mati. Di luar, banyak pria berjas lain yang tampaknya bukan bagian dari mereka sedang mengerumuni mereka semua. Jumlah mereka bahkan jauh lebih banyak. Mereka tampak seperti koloni besar semut yang tengah mengerumuni gula.
"Sejak kapan!" Ujar pria itu yang mulai menunjukkan kepanikan yang tak bisa dia sembunyikan.
Darius hanya tersenyum, "Kalian pikir aku datang di sini dengan ceroboh? Inilah yang aku suka ketika berurusan dengan orang seperti kalian: orang yang ototnya lebih besar daripada otaknya."
...***...
"Untuk sementara kita di sini dulu," ujar Michelle pada Rio yang tampak murung di ujung ruangan kecil itu.
"Ini semua gara-gara aku yang terlalu lemah." Rio merasa bersalah. Dia berpikir bahwa apa yang terjadi pada Galen adalah karena dia yang kurang kompeten sebagai eksekutif. "Andai saja aku bisa bertarung seperti eksekutif lain."
"Jangan salahkan dirimu sendiri," Michelle berusaha memahami perasaan pria muda itu. "Kekerasan tidak selalu menjadi solusi, itu kata bos. Bos tidak mau kau seperti dirinya yang hanya tahu memakai kepalan tangannya saja. Yang bos mau, kau bisa menghargai hidupmu sendiri dan hidup normal seperti orang lain."
Rio menangis dan menutup wajahnya dengan lututnya.
"Kau tahu sendiri, bos lebih suka kau belajar daripada mengurus bisnis IGIS seperti eksekutif lain," lanjut Michelle. "Jadi jangan salahkan dirimu sendiri. Bos pasti akan keluar cepat atau lambat."
Apa yang dikatakan Michelle memang benar. Tapi dia tidak bisa merasa tenang ketika dia tahu orang yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu ditangkap di depan matanya. Dia benar-benar merasa tidak berguna.
"Jangan pernah berpikir yang aneh-aneh, apalagi balas dendam. Bos berkorban untuk kita, jadi jangan buat situasinya semakin sulit," ujar Michelle sambil menuangkan air ke dalam gelas plastik dan memberikannya pada Rio. "Besok, belajarlah seperti biasa."
"Terus bagaimana dengan IGIS?"
"Tidak perlu khawatir. Aku, Anca, dan Enzo akan mengurusnya. Untungnya bajingan itu tidak menghancurkan IGIS. Mungkin karena tujuan mereka sejak awal hanya untuk menangkap bos."
Tiba-tiba pintu ruangan tempat mereka berdua bersembunyi itu terbuka dengan keras. Itu adalah salah satu anggota IGIS yang masuk dengan wajah yang penuh kepanikan.
"Nona, King's Palace diserang!" Ujar pria itu panik.
Mendengar kabar tak menyenangkan itu, Rio langsung berdiri dengan ekspresi geram. Sulit menerima belakangan ini banyak orang yang meremehkan IGIS.
"Lagi! Siapa!?"