
Distrik Selatan, Tadulako
"BOS, BOS!" Teriak seorang pria yang mengenakan kemeja biru pada pria kekar yang sedang bersantai - berendam di kolam permandian hangat sembari merangkul dua orang wanita cantik berwajah mulus dan rambut panjang yang bergelayut di bahu mereka, memanjakan dirinya dengan pijatan lembut di setiap bagian tubuhnya.
Pria itu adalah Frans Jikwa, bos mafia KELO penguasa Distrik Selatan.
Dengan tubuhnya yang kekar dan kulit hitamnya yang terlihat mengkilap di bawah cahaya bulan, Frans membiarkan dirinya terendam di dalam kolam yang penuh dengan aroma wangi minyak esensial dan dengan gelembung-gelembung udara yang terus bermunculan di permukaan kolam.
"Ada apa? Kau tidak lihat aku lagi sibuk?" Tanyanya dengan suara berat.
"Maaf bos, ada informasi penting!"
"Humm?"
"Sepertinya besok Iskra dan IGIS akan berperang!"
Frans Jikwa yang mendengar kabar tersebut langsung membuat ekspresi serius dan menatap dingin ke arah anak buahnya. Frans sebenarnya sudah menduga bahwa api konflik antara IGIS dan Iskra akan segera membesar, karena belakang hubungan keduanya meregang karena serangan Iskra beberapa waktu lalu di pelabuhan dan di Larkworthy Central Business (LCB). Namun dia tidak menyangka akan secepat ini.
Ada senyum kecil terukir di bibir tebalnya. Dia merasa bahwa situasi di mana kedua kelompok saingannya akan saling berperang bisa menjadi keuntungan bagi KELO.
Aku hanya tinggal menunggu salah satu dari mereka melemah. Siapapun yang menang, Iskra atau IGIS, tetap kami yang akan menang, pikir Frans optimis.
"Bagus, itu kabar baik. Kau boleh pergi," ujar Frans pada anak buahnya, "Tapi sebelum itu, panggilkan dia."
Anak buahnya itu mengerti siapa yang bosnya maksud: "Baik, Bos!"
Ini adalah kesempatan yang langkah. Aku tidak perlu mengeluarkan keringat untuk menjatuhkan antek asing seperti mereka,¹ pikirnya mulai mempertimbangkan rencana apa yang akan dia lakukan untuk memanfaatkan situasi tersebut.
...***...
Angin malam yang dingin bertiup lembut di kota yang gemerlap. Di sekitar banyak suara langkah kaki dan cahaya jalan yang sibuk menerangi ruang. Di tengah keramaian itu, sebuah kafe mewah dengan dekorasi elegan dan suasana yang intim tampak menonjol di balik kehidupan malam yang riuh.
Pintu kaca berat membuka dengan gemerincing saat seseorang masuk ke dalam kafe. Suasana yang tenang seketika terganggu oleh suara cekikikan dan obrolan ringan. Orang-orang berdandan rapi dan terlihat cantik duduk di meja kayu coklat gelap, dengan lampu kristal yang menerangi wajah mereka yang bercahaya.
Meskipun dikelilingi oleh bangunan bertingkat yang menjulang tinggi, kafe mewah di tengah-tengah kota itu tetap terlihat megah dan eksklusif di antara lampu-lampu kota dan jalan. Cahaya hangat dari lampu kristal menyala di dalam ruangan menciptakan suasana yang tenang dan nyaman di malam yang dingin.
Di sekeliling ruangannya, terdapat meja-meja bermarmer putih, yang berhiaskan bunga-bunga mawar merah muda yang segar, dan di atasnya terdapat cangkir dan piring berisi makanan dan minuman yang nikmat.
Suara riuh rendah terdengar di sekitar di luar dan di dalam kafe, seiring dengan klir kaca dan suara mesin kopi yang berderak di latar belakang. Di sudut ruangan, seorang pria tampan dengan setelan hitam melambai kepada pelayan, dan menyebarkan senyumnya yang penuh pesona kepada tamu lain.
Tidak jauh dari sana, dua orang wanita cantik sedang tertawa dan bercanda sambil menikmati hidangan lezat dan minuman di meja mereka. Keduanya tampak bersenang-senang.
"Jadi kau berencana bakal buka cabang baru di luar kota?" Tanya Gina antusias.
Iyal mengangguk sambil tersenyum, "Ini mimpi lama sih."
"Gimana kalau lulus nanti aku melamar di butikmu?" Tanya Gina dengan nada bercanda.
Mereka pun tertawa bersama-sama. "Wah, aku iri! Kau bisa ngelakuin apa yang kau mau."
Itu ngga salah, tapi itu juga ngga benar, pikir Iyal sambil tersenyum. "Masa sih? Hahaha..." Dia tidak yakin apa iya dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Sepertinya tidak.
Iyal merasa bahwa kebebasan yang dia punya adalah kebebasan yang terbatas. Kekayaan keluarganya memang menjamin kebebasan tersebut, tetapi sebagai perempuan satu-satunya di keluarga kaya raya semacam itu adalah tembok pembatasnya. Ada kewajiban dan pandangan orang lain yang harus dia jaga. Dia merasa seperti seekor beruang di kebun binatang, atau di tempat penangkaran; dia memang bebas ke mana pun yang dia mau, selama itu masih di berada di sekitar penangkaran.
"Hahaha, aku juga iri sama kamu," balas Iyal dengan wajah merenung, "Kamu bisa ngelakuin apapun yang kamu mau dan kamu juga punya banyak sahabat-sahabat yang baik di sekitarmu."
Gina sepertinya menangkap emosi dari pujian yang tulus dari wanita itu. "Hei," Gina menimpali ucapan tersebut dan lalu memegang tangan Iyal, "Kamu kan udah punya sahabat sekarang: itu aku," ujarnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Iyak merasa terharu dengan kata-kata itu. Tampak matanya perlahan mulai berkaca-kaca mendengar ucapan yang terdengar tulus dari wanita yang baru dikenalnya itu, "Makasih, ya!"
"Ngomong-ngomong, Farhan udah hubungin kamu belum?" Tanya Iyal mengalihkan sembari menyeruput Americano-nya yang masih hangat.
"Ngga, sejak dia pergi nomornya ngga pernah aktif lagi," jawab Gina dengan wajah murung. Padahal dia berharap meskipun Farhan jauh, setidaknya mereka masih bisa berkomunikasi.
"Sabar ya. Nanti aku ngomong sama pamanku."
Gina mengangguk, namun dengan senyum yang dipaksakan. Dia berusaha berpikir positif dan berharap pria yang dicintainya itu akan baik-baik saja di sana.
Tiba-tiba ponsel Iyal berbunyi mengalihkan perhatian mereka berdua. Itu adalah telepon dari seseorang yang penting. Dia lalu melirik Gina yang tampak masih memikirkan Farhan. Dia sedikit merasa bersalah.
"Angkat aja dulu. Siapa tahu penting," ucap Gina lembut pada sahabat barunya.
"Iya, tunggu ya," Iyal lalu pergi, menjawab panggilan yang tiba-tiba itu di luar kafe.
Gina memperhatikan sekitarnya yang ramai. Dia mulai membayangkan jika suatu hari nanti dia dan Farhan bisa duduk di kafe ini sesekali. Mungkin untuk berkencan, pikirnya. Memikirkan itu terjadi membuat senyumnya perlahan terukir. Di sisi lain, malam yang dia habiskan bersama Farhan waktu itu masih melintas di benaknya. Dia seperti orang gila karena sekuat tenaga menahan senyumannya di tengah orang-orang yang sibuk dengan percakapan mereka sendiri.
Selang beberapa menit kemudian, panggilan telepon itu pun selesai. Iyal lalu kembali ke meja mereka dengan wajah yang sedikit menegang.
"Gina, maaf ya aku harus kembali sekarang," ujar Iyal dengan nada memelas dan perlahan mengeluarkan kunci mobilnya dari tas gantung mewahnya, "Ada hal penting yang harus aku lakukan."
"Oh, ya udah, kalau gitu aku juga mau balik aja," jawab Gina tersenyum.
"Aku antarkan, ya."
Gina mengangguk tak bisa menolak.
...----------------...
CATATAN:
1. Mungkin yang dimaksud oleh Frans Jikwa dengan "antek asing" adalah karena Galen yang berdarah Meksiko, sedangkan Herman yang merupakan perpanjangan tangan dari perusahaan Rusia, Perun Group.