
Tadulako, Indonesia
SUASANA gelap dan tegang terasa di jalanan yang sepi. Langit dan awan-awan hitam yang menggantung di atasnya, sebagai tanda bahwa hujan deras akan segera datang.
Tiba-tiba, petir menyambar langit, memecah kegelapan dengan cahaya terang yang memantulkan setiap detail gedung-gedung tinggi yang berdiri di sekitar. Air mulai turun dengan deras, memenuhi setiap sudut kota dengan suara gemuruh yang menggema melalui jalan-jalan kosong.
Halaman bangunan tua itu gelap dan terlihat tidak ramah. Keheningan yang membeku, ditambah dengan hujan deras, memberikan kesan yang mencekam dan membuat suasana menjadi semakin menegangkan. Beberapa jeruji besi berkarat berdiri di tengah halaman, menciptakan bayangan aneh dan tak beraturan di sekitar dinding bangunan yang runtuh.
Di tengah-tengah hujan yang deras itu, ratusan mafia Iskra sudah berkumpul di halaman sebuah bangunan tua yang luas. Dengan tuksedo dan jas hitam, mereka tampak gelap dan misterius, dihiasi dengan tatapan tajam yang penuh amarah dan ancaman. Suara langkah mereka yang keras memantul di antara dinding bangunan yang rapuh, mengirimkan gema yang menakutkan di sekitar halaman.
Sebagian mereka basah oleh air hujan, sementara yang lain berlindung di bawah payung hitam seolah tengah berada di pemakaman. Meskipun begitu, mereka tetap berdiri kokoh seolah dinginnya malam dan derasnya hujan takkan mampu menggoyangkan tujuan mereka.
Sekilas, pemandangan itu tampak seperti sebuah pertemuan resmi, tetapi orang-orang yang dibesarkan di dunia bawah akan merasakan tensi yang kuat di udara. Terdengar suara-suara berbisik dan tatapan-tatapan tajam yang mereka lontarkan satu sama lain.
Saat itu, tiba-tiba terlihat sebuah SUV mewah berwarna hitam pekat tiba di depan mereka dan Pak Herman pun keluar dari dalamnya, diikuti oleh tiga eksekutifnya. Dia mengenakan jas yang elegan dan memegang payung hitam besar untuk melindungi dirinya dari hujan. Namun, ada yang aneh dengan dia. Dia terlihat tenang dan santai, bahkan ada sedikit senyum di wajahnya, seperti menikmati suasana tegang di sekitarnya.
Dia berjalan menuju kerumunan, dan tanpa mengeluarkan kata-kata, para mafia itu dengan cepat membentuk lingkaran di sekelilingnya - mempersilakan bos Iskra penguasa Distrik Timur itu lewat di antara mereka. Mereka menghormatinya, meskipun mereka tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang sulit.
Pak Herman membuka suaranya dan berkata, "Aku rasa kalian sudah tahu mengapa kita berkumpul di sini malam ini dari eksekutif kalian masing-masing." Pak Herman langsung meninggikan suaranya, "KITA AKAN MENYERANG DAN MENGHANCURKAN IGIS HARI INI! MALAM INI JUGA!" Suara sorakan dan teriakan ratusan gangster itu pun menggelegar, diikuti dengan suara gemuruh yang menakutkan.
Dia melanjutkan, "Namun, kalian harus ingat, dalam penyerangan ini, kerjasama adalah hal terpenting. Jangan ada yang menunjukkan ketakutan atau keraguan di depan mereka! Karena sekuat apapun aku dan para eksekutif, kami tidak akan bisa melakukan apapun jika kalian ragu dan takut."
Karisma seorang pemimpin yang kuat dari Pak Herman membuat ratusan pasukan berjas itu mengangguk dan memperlihatkan ekspresi yang penuh tekad - siap untuk melakukan apapun demi kemenangan mereka.
Pak Herman lalu mengakhiri pidatonya dan memerintahkan ratusan anak buahnya tersebut untuk bergerak maju mengikuti ketiga eksekutif yang akan bertugas sebagai pemimpin regu. Ada ratusan mobil jenis MPV, SUV, dan pick up serba hitam yang sudah tersedia - berjejer membentuk garis lurus ke utara.
Malam ini, Pak Herman berencana akan menyerang jantung kekuatan IGIS: King's Palace, tempat di mana bos IGIS, Galen, tinggal. Sebab cara terbaik untuk mengakhir perang ini adalah dengan melumpuhkan kepala pemimpinnya terlebih dahulu.
Seluruh mobil pasukan pun sudah pergi. Suara deru ratusan mobil membelah jalan, seolah menjadi tanda bahwa gelombang bencana akan segera datang di utara.
...***...
Beberapa jam sebelumnya
Irjen Polisi Agus Prabowo baru saja tiba di Alan Mirage Resto, sebuah restoran mewah yang terkenal dengan menu masakan Prancis-nya yang lezat. Lokasinya sangat strategis, karena berada di pusat Kota Tadulako, di antara butik-butik high-end, toko-toko seni, dan teater dengan pemandangan kotanya yang indah.
Agus merasa sedikit tidak nyaman, karena dia jarang makan di restoran seperti itu, tetapi malam ini dia punya pertemuan penting dengan seseorang.
Teras restoran menawarkan pemandangan indah ke taman yang diterangi cahaya malam yang lembut. Ketika jendral dua bintang itu memasuki restoran, dia disambut oleh suasana yang tenang dan elegan. Langit-langit setinggi enam meter dan dinding-dinding putihnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan karya seniman terkenal, memberikan sentuhan elegan dan mewah yang tak terlupakan.
"Selamat datang, Tuan. Anda sudah ditunggu di ruang VVIP."
Pelayan-pelayan yang mengenakan black tie langsung mengantarnya ke dalam ruang makan khusus VVIP yang terletak di seberang pintu masuk restoran.
Agus hanya mengangguk. Dia melihat-lihat di sekitar - interior ruangan yang dipenuhi dengan nuansa emas dan warna-warna krem mewah yang diterangi lampu-lampu kristal gantung dan lilin-lilin putih. Ini menjadikan restoran itu menjadi sangat terang dan cemerlang. Dia tiba-tiba merasakan kehangatan dari suasana intim dan tenang tersebut, ditambah lagi dengan musik klasik yang memenuhi udara.
Terdapat beberapa ruang makan yang masing-masing dirancang dengan tema dan nuansa yang berbeda-beda, namun semuanya memiliki kemewahan yang sama. Di ruang makan utama, dia menemukan meja-meja yang terbuat dari kayu mahoni - dikelilingi oleh kursi-kursi empuk yang nyaman. Di sisi lain, terdapat sofa berwarna krem yang lembut, yang memberikan kesan lega bagi para tamu.
Ketika dia menengok ke arah tenggara, dia melihat meja dapur berbahan stainless steel dan granit. Salah satu ciri khas yang mencolok dari restoran yang mendapatkan tiga bintang dari Michelin Guide ini adalah konsep open kitchen-nya; hal ini memungkinkan para tamu melihat langsung bagaimana koki-koki profesional bekerja - memasak makanan yang berkualitas tinggi.
Ketika dia melewati pintu masuk menuju ruang VVIP, dia segera menyadari bahwa dia telah memasuki dunia yang sama sekali berbeda. Suasana mewah yang sudah terasa di ruang makan utama terasa lebih intensif di ruang VVIP. Langit-langit tinggi dipenuhi lampu kristal besar yang tergantung di atas kepalanya, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan dan menciptakan aura kemewahan yang luar biasa.
Suasana di ruang VVIP itu terasa lebih eksklusif dan tenang dibandingkan dengan ruang makan utama, seolah-olah tamu yang berada di dalamnya berada di atas sebuah panggung rahasia di mana mereka mendapatkan hak istimewa menikmati makanan terbaik dengan privasi yang terjaga.
Di seberang pintu masuk, terdapat meja makan kecil berwarna emas yang terbuat dari kayu mahoni yang halus dan dipoles dengan baik. Di sana seorang pria yang tampak berkarisma dengan pakaian - jas yang dipadukan dengan dasi kupu-kupu dan celana panjang - serba hitamnya sedang duduk menunggu. Berbeda dengan dirinya yang masih mengenakan pakaian dinas kepolisiannya.
"Maaf, aku terlambat," ujarnya.
Pria itu memperbaiki posisi duduknya, mempersilakan kepala kepolisian daerah di hadapannya itu duduk. "Tidak masalah, aku mengerti. Sebagai jendral Anda pasti punya banyak kesibukan."
Agus Prabowo lalu mengambil tempat duduknya.
"Kita langsung saja. Ada hal penting apa sampai CEO Iskra memanggilku?"
Tampak senyum tipis terukir di bibirnya. Pak Herman mencoba menyeruput kopinya perlahan, "Anda selalu tegang seperti biasa. Aku hanya ingin bersilaturahmi dengan teman lama."
Silaturahmi pantatku, dongkolnya. Dia tidak pernah suka dengan sikap para pengusaha dan orang-orang kaya seperti Herman. Banyak kemunafikan yang mereka sembunyikan di dalam bibir manisnya.
Agus menghela nafasnya. Dia muak berlama-lama di ruangan itu, sekalipun itu adalah tempat terbaik di restoran mewah tersebut. "Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi, dan aku yakin kau juga seperti itu. Jadi langsung saja, apa yang kau inginkan?"
Herman tahu bahwa jendral bintang dua itu membencinya, tetapi bagaimana pun dia membutuhkan bantuannya untuk menghancurkan IGIS. Meskipun tabiat keras kepala jendral itu tidak bisa diluluhkan dengan uang, tetapi Herman tahu apa kelemahan pria paling berpengaruh di kepolisian daerah itu.
"Hahaha, baik aku langsung saja. BANTU ISKRA UNTUK MENANGKAP GALEN!"
Permintaan itu sedikit membuat Jendral Agus terkejut. "Aku sudah bilang, aku tidak punya waktu untuk mendengar omong kosongmu!" Jendral Agus lalu berdiri, dan bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.
"Haha, kau benar jendral. Kalau begitu, tunggu sebentar, aku punya hadiah untukmu," ujar Herman, lalu menekan beberapa tombol di ponselnya sembari tersenyum.
"Herman, sekarang kau mau menyuapku?" Suara Jendral Agus Prabowo tiba-tiba meninggi dan terdengar mengancam. Dia tidak tahan dengan sikap orang-orang berduit itu yang mendapatkan sesuatu dan menyelesaikan masalah dengan uang.
Herman menatap pria berseragam itu dengan pandangan heran. "Kau tahu aku orangnya seperti apa. Kali ini aku tidak ingin menyuapmu karena aku sangat mengenalmu," ujar Herman dengan senyum yang tampak menyembunyikan sesuatu. Beberapa menit kemudian, seorang pria berjas dan berbadan besar masuk ke ruang mewah itu dengan membawa map hitam di tangan kanannya.
Sekarang apa lagi yang bajingan ini rencanakan!?
Herman mengambil map hitam tersebut dan mengeceknya sebentar. Lalu dia menyodorkannya ke hadapan sang jendral sambil tersenyum sinis. "Silakan diperiksa, Jendral."
Ketika Jendral Agus membuka map mencurigakan itu dan membaca beberapa lembar dokumen di dalamya, Jendral Agus tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya yang mengeras.
Apa ini!?
"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa isi dokumen itu," ujar Herman sambil tersenyum seolah sudah membaca apa yang jendral itu pikirkan hanya dengan melihat air wajahnya yang tegang.
"Di-Di mana kau dapatkan ini!?" Tanya Jendral Agus dengan suara bergetar, sambil membolak-balikkan dokumen-dokumen itu.
"Jendral, Anda tidak perlu tahu dari mana dokumen itu aku dapatkan, tetapi sebagai pebisnis aku terbiasa bekerja efisien. Uang memang hebat, tapi informasi jauh lebih hebat," jawab Herman dengan nada penuh sarkas saraya menyeruput kopinya. "Tapi setelah aku membaca seluruh dokumen itu, seharusnya kasus itu cukup untuk menggemparkan masyarakat. Tetapi dengan kekuatan seorang jendral bintang dua, itu menjadi tidak lebih dari sekadar angin lewat."
Herman mengambil selembar tisu di dekatnya, lalu mengelap mulutnya, "Korupsi pengadaan peralatan militer - menurutku sebagai orang yang pernah bekerja di bidang ini - adalah keteledoran yang fatal, Jendral. Aku penasaran, berapa banyak Rupiah yang kalian kumpulkan?" Herman melirik jendral yang tampak gemetaran di hadapannya itu.
"APA KAU MENGANCAMKU SEKARANG!?" Jendral Agus tidak bisa menahan amarahnya karena merasa dipermainkan oleh Herman.
"Hahaha, tenang dulu. Aku lebih suka menyebut ini bisnis daripada ancaman. Di sisi lain, ini adalah kekhawatiran saya sebagai masyarakat biasa. Keterlibatan Anda dalam korupsi pengadaan senjata api dan kendaraan taktis itu membuat citra lembaga Anda rusak, belum lagi itu akan mengancam keamanan nasional."
"Kau tidak perlu munafik! Sejak kapan orang sepertimu peduli dengan kemananan nasional!"
"Hahaha, jendral, jendral. Ayolah, itu wajar jika aku khawatir. Tapi yang lebih mengkhawatirkan dan membuatku kesal adalah kau yang bekerja sama dengan gangster IGIS itu. Aku yakin kau membeli beberapa alutista seperti senjata api dan kendaraan militer lain dari gangster-gangster itu supaya kau bisa mendapatkan harga yang lebih murah, dan sebagai gantinya kalian akan menutup mata atas kejahatan mereka."
Jendral Agus tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Peluh keringat kekhawatiran mulai menyucur di wajahnya. Dia tidak bisa mengelak lagi.
"Kau tahu kan Iskra punya saham di banyak industri media," lanjut Herman seraya memperbaiki posisi dasi kupu-kupunya, "Kira-kira apa yang akan terjadi jika dokumen ini tersebar?"
"HERMAN!" Teriakan sang jendral memecah keheningan di ruang kedap suara itu.
"Huff kau membuatku takut. Haha, jangan salah paham, ini bukan seperti aku sedang mengancammu. Memangnya aku siapa yang berani mengancam seorang jendral?" Ucap Herman dengan nada meremehkan. "Aku hanya ingin membuat kesepakatan."
"Apa yang kau mau?" Tanya Jendral Agus dengan nada yang tajam.
"Besok malam, bantu aku menangkap Galen."
Apa dia serius?
"Kenapa kau ingin menangkap Galen? Bukannya Iskra dan IGIS tidak pernah berkonflik?"
"Jendral, tawaran yang aku ajukan bukan untuk memuaskan rasa penasaranmu. Kau cukup menjawab 'ya' atau 'tidak'," ujar Herman tegas, "Jika kau menjawab 'ya', aku akan menghilangkan semua bukti-bukti korupsimu dan menganggapnya seolah tidak pernah ada, tapi kalau kau menjawab 'tidak' - kau tahu akibatnya."
Jendral Agus tertegun mendengar permintaan yang mengancam itu. Namum di sisi lain dia berpikir bahwa momen di mana IGIS dihancurkan sudah tiba. Pihaknya dan IGIS memang tidak bekerjasama secara formal, melainkan sekadar melakukan bisnis bersama untuk saling menguntungkan.
Meskipun jauh di dalam hatinya, dia sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah kesalahan. Bekerja sama dengan para kriminal itu jauh dari romantisme-nya sebagai jendral berbintang dua. Di sisi lain, dia tidak suka perilaku pria di hadapannya itu. Semua yang keluar dari mulutnya, membuat telinganya sakit, seakan-seakan setiap kata yang keluar dari mulutya hanyalah olok-olok dan omong kosong.
Namun begitu, sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain mengaminkan permintaan Herman. Toh idealisme dan harga dirinya sebagai jendral sudah lama jatuh di jurang kemunafikan. "Baiklah, apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu."
"Bukannya aku sudah bilang? Datang dan tangkap Galen di King's Palace. Besok malam!"