
Beberapa hari kemudian
Perun Group - Volgograd, Rusia
AKHIRNYA, setelah berjam-jam perjalanan, Iyal dan Gina pun tiba di Volgograd, tepatnya di gedung Zvezda - kantor pusat Perun Group. Gedung 339 meter ini tampak megah di bawah langit malam Volgograd.
Ketika Iyal tiba di pintu masuk, banyak pengawal yang sudah menunggu kedatangan mereka, seolah Florentina tahu tentang kedatangan dua wanita itu ke kota bersejarah di Rusia tersebut.
"Anda sudah ditunggu di dalam, Nona Feriyal," ujar salah satu pengawal.
Iyal berjalan masuk ke dalam perusahaan manufaktur terbesar di Rusia itu seolah itu adalah tempat tinggalnya sendiri. Di sisi lain Gina terus mengikutinya di belakang dengan gugup.
"Hei, Iyal kenapa buru-buru sih? Ini ngga apa-apa kita masuk-masuk aja?" Tanya Gina berbisik pelan sembai melihat sekitarnya. Tampak orang-orang sedang memperhatikan mereka berdua. Itu sedikit membuat Gina khawatir.
"Ngga apa-apa," jawab Iyal. "Kamu tenang aja."
Bagi Iyal, Zvezda sama seperti gedung ITC, perusahaan pamannya. Jadi dia tidak merasa harus bersikap kaku dan formal datang ke tempat ini. Di sisi lain, pemilik perusahaan ini adalah kekasih pamannya.
Ketika mereka sampai di dekat meja resepsionis, seorang wanita pirang dan seorang pengawal datang menghampiri mereka.
"Wah, lama ngga ketemu. Baru lewat berapa tahun, tapi kamu udah gede ya," ujar Florentina dengan nada gembira menyabut kedua tamunya.
Sekejap, Gina sedikit terkejut mendengar wanita Rusia itu berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Dia nyaris mengira wanita itu orang Indonesia yang hanya berlagak seperti wanita Rusia.
"Dan kau membawa orang baru? Apa ini kandidat lain?" Tanya Florentina dengan mengedipkan matanya pada Gina.
Tiba-tiba Iyal menghalangi pandangan wanita paruh baya itu dengan merentangkan satu tangannya di depan Gina. "Dia bukan kandidat, dia temanku."
Florentina menutup mulutnya karena terkejut. "Kau punya teman? Wah, Iyalku udah dewasa sekarang."
Meskipun Gina tidak tahu apa hubungan antara sahabatnya dan wanita Rusia itu, tetapi Gina merasa ada yang tidak beres dengan wanita di hadapan mereka itu. Entah mengapa dia merasakan aura yang tidak menyenangkan dari wanita itu.
Iyal lalu menyuruh sahabatnya itu menunggu di lobi. "Aku mau ngobrol dengannya sebentar," ujar Iyal. Gina tak punya pilihan kecuali mengaminkannya.
Florentina lalu meminta para pengawal untuk menjaga Gina. Mereka pun pergi menuju ke suatu tempat di lantai atas dengan memakai lift.
"Tante, aku ke sini untuk melihat Farhan."
"Pria yang dibawa Avraam itu, ya?"
Iyal mengangguk.
"Kenapa? Apa dia pacarmu?" Tanya Florentina dengan nada menggoda. Iyal menghela nafasnya, ekspresinya menunjukkan ketidaksabaran. Florentina mencoba mengerti, "Sebagai kandidat Farhan tidak di sini, kau tahu, kan."
Iyal sangat mengetahui itu, karena dia dahulu pernah menjadi kandidat dan dilatih di tempat itu. Sayangnya, setiap kandidat selalu dilatih di tempat yang berbeda-beda, dan tidak ada yang tahu di mana lokasinya kecuali para supervisor.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Iyal.
Florentina tersenyum kecil. "Kamu ngga usah khawatir. Dia baik-baik aja. Aku sendiri yang bertanggung jawab selama dia di sini."
Ada perasaan lega terbesit di hatinya. Syukurlah. "Terus, apa aku boleh melihatnya sebentar?"
Lebih baik daripada tidak sama sekali, pikir Iyal. Setidaknya dia bisa menghilangkan kekhawatiran sahabatnya. "Baiklah."
"Kalian istrahatlah di sini, aku udah nyiapin kamar."
"Tidak, aku sudah pesan kamar hotel."
Florentina mengangguk. Dia lalu meminta anak buahnya untuk menyiapkan kendaraan dan mengantarkan Iyal dan Gina menuju hotel mereka yang tak jauh dari Gedung Zvezda.
...***...
Tsaritsynskaya Hotel, Volgograd
Dalam cahaya purnama yang menghiasi langit malam Volgograd, mereka berdua bisa melihat siluet gedung hotel Tsaritsynskaya yang tampak megah berdiri menjulang di atas tepian sungai Volga.
Ketika mereka sampai di bangunan hotel tersebut, mereka mendapati bahwa hotel bintang 5 itu terlihat seperti benteng kuno yang kokoh, dengan dinding batu bata merah tua yang terawat dengan baik.
Di sisi lain, pintu masuk utama Tsaritsynskaya Hotel dikelilingi oleh pilar-pilar marmer yang indah. Lambang hotel yang dipahat di atas pintu masuk menyiratkan warisan bersejarah yang dimilikinya, mengingatkan pada sejarah panjang kota Volgograd.
Begitu masuk ke dalam, mereka berdua langsung disambut oleh ruang lobi yang megah dengan langit-langit tinggi yang dihiasi dengan kaca patri berwarna, menggambarkan sketsa kota Volgograd yang legendaris. Lantai teraso mewah dengan mozaik seni yang rumit, menciptakan suasana yang menggoda dan memikat.
"Iyal, kau yakin kita akan menginap di sini? Ini kelihatannya mahal!" Bisik Gina dengan suara gugup. Ini pertamakalinya dia masuk ke hotel mewah seperti ini. Terakhir kali dia ke hotel pun terjadi ketika dia dan Farhan mengikuti sebuah seminar bisnis.
Iyal tersenyum. Dia mengerti tentang kekhawatiran sahabatnya itu. "Tenang aja. Aku yang bayar."
"B-bukan soal itu, tapi ini pasti mahal!"
Iyal langsung menggenggam tangan Gina. Dia berusaha meyakinkan Gina bahwa semuanya baik-baik saja.
Setelah check in, mereka pun masuk ke salah satu koridor hotel. Koridor hotel yang panjang dan berliku-liku yang mereka lewati dihiasi oleh lukisan-lukisan klasik bergaya Eropa Timur yang menggambarkan sejarah Rusia dan kota Volgograd. Setiap sudut koridor terasa seperti museum pribadi yang menawarkan pengalaman seni dan sejarah yang tak terlupakan.
Kalau Farhan di sini, pasti dia suka, pikir Gina. Dia kan suka lukisan.
Akhirnya mereka pun sampai di pintu kamar. Iyal mengeluarkan kunci hotel dari dalam tasnya dan menggesekkannya di slot pintu. Pintu terbuka, menyingkapkan kamar yang terang dengan lampu-lampu gantung yang bersinar di langit-langit.
Mereka berdua pun masuk dan kemudian melepaskan mantel mereka dan meletakkannya di atas tempat tidur. Mereka saling pandang dan tersenyum lega.
"Jadi gimana?"
"Untuk sekarang, kita ngga bisa ketemu Farhan secara langsung. Kita hanya bisa menghubunginya dan mengobrol lewat video call. Ngga apa-apa?" Iyal merasa bersalah karena hanya itu yang bisa dia lakukan.
Senyum tipis terukir di wajah Gina. "Ngga apa-apa, setidaknya aku tahu dia baik-baik aja di sini." Karena bagi Gina, kabar tanpa harus bertemu langsung pun tidak masalah. Dia hanya ingin melihat wajah pria yang dia cintai itu tak peduli bagaimana pun caranya.
Iyal mengangguk dan menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Kalau gitu aku mandi dulu, ya. Lengket nih hehe," ujar Iyal yang mulai beranjak dari tempat tidur mereka.
"Bareng, yuk!" Tawar Gina dengan nada menggoda.
"Apa sih!" Mereka tertawa lepas.