The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 33: ISKRA VS. IGIS 2



DI MALAM yang gelap dan hujan, King's Palace terlihat seperti mimpi basah di tengah-tengah pohon-pohon cemara yang rimbun dan hijau. Lampu jalan yang redup menggantung di atas jalan masuk yang berliku-liku, menciptakan efek yang dramatis dan misterius. Sepasang tiang gerbang raksasa diapit oleh pagar besi yang tinggi dan menjulang ke atas, juga menambah kesan megah dan menakutkan.


Pada awalnya, tidak ada suara yang terdengar kecuali gemericik hujan. Namun, beberapa detik kemudian, suara kendaraan mulai terdengar di kejauhan. Semakin lama, semakin jelas. Dalam jarak yang sangat dekat, terlihatlah konvoi ratusan mobil Iskra yang dipenuhi dengan orang-orang yang berpakaian serba hitam. Mereka keluar dari mobil, satu per satu, dan berkumpul di halaman depan King's Palace.


Saat mereka berdiri di sana, tampak senjata yang mereka bawa tergantung di bawah jas mereka yang mewah. Mata mereka memancarkan rasa tidak sabar dan amarah. Mereka terlihat sangat tenang, tetapi di balik ketenangan itu, terdapat semangat yang menggebu-gebu.


"MALAM INI, TIDAK ADA LAGI IGIS!" Teriak salah satu dari mereka.


Di dalam mansion yang memiliki luas 67.000 meter persegi itu, Galen duduk di balik meja besar di ruangannya yang terletak di lantai 3, memandang keluar melalui jendela lebar yang menghadap langsung ke halaman depan mansionnya yang megah. Ratusan gangster berbaris di sana, mengenakan jas hitam dan topi fedora.


Di luar, hujan turun dengan derasnya, membuat cahaya lampu jalan yang temaram menjadi semakin suram. Galen mengernyitkan keningnya saat melihat gerak-gerik yang mencurigakan dari ratusan gangster Iskra di halaman mansionnya, menyadari bahwa mereka tengah bersiap-siap menyerang.


Dia mengambil revolver kuno yang diwariskan dari kakeknya dan meletakkannya di atas meja. Dia tahu bahwa senjata itu mungkin tidak seefektif senjata modern, tetapi dia merasa bahwa senjata itu memiliki kekuatan magis yang dapat memberikannya keberanian dan kekuatan ekstra yang dibutuhkannya dalam situasi seperti ini.


Tiba-tiba sekertaris pribadinya, Michelle, masuk ke ruangannya. "Semuanya sudah siap, Señor," ujar Michelle, wanita berdarah Meksiko, dengan pakaian semi-formalnya.


Galen mengagguk. Dia pun melangkah pergi bersama sekretarisnya sembari memegang revolver di tangan kanannya yang dipenuhi tato itu.


Di malam hari, koridor King's Palace terlihat seperti lorong yang tak berujung dengan langit-langit yang tinggi dihiasi oleh fresko dan lampu gantung kristal yang bersinar terang. Di kedua sisinya terdapat dinding berwarna krem dengan lukisan-lukisan yang dipajang di sepanjang koridor.


Di ujung koridor, terdapat pintu besar dengan ukiran kayu yang indah yang mengarah ke balkon. Namun tujuan mereka bukan ke pintu besar itu, tetapi pintu yang berukuran sedang di sebelahnya.


Sinar bulan yang redup masuk melalui jendela-jendela besar dan membentuk bayangan-bayangan aneh di lantai marmer yang dingin. Galen dan Michelle masih berjalan dengan langkah santai menyisiri koridor panjang itu, seolah-olah tak ada yang terjadi.


Namun tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar mansion. Tampaknya perang antara mereka dan Iskra sudah dimulai. Mungkin dua eksekutif yang berjaga sudah memobilisasi pasukan mereka dan mengurus mafia-mafia haus darah itu di luar.


Dor...


Dor...


Dor...


Ketika mereka sampai di ujung lorong itu, mereka berhenti di depan sebuah pintu berukuran sedang. Michelle lalu membuka pintu tersebut yang langsung menghadap ke sebuah area yang di penuhi oleh pepohonan tinggi. Ranting-ranting pohon terlihat menyerupai tangan-tangan yang meraih ke arah langit, menciptakan bayangan yang menakutkan di bawah cahaya bulan yang samar-samar. Hujan turun deras dari langit, membasahi dedaunan dan membuat tanah semakin berlumpur, meningkatkan kesan yang menakutkan dari tempat itu.


Di tengah hutan, terdapat sebuah jalan setapak yang terbentang menuju sebuah pondok terpencil. Hanya langkah kaki mereka yang menghancurkan jeda - sunyi yang menakutkan di hutan tersebut. Angin yang berhembus kencang membuat suara dedaunan yang bergerak seperti bisikan misterius yang memenuhi telinga. Di kejauhan, terdengar suara gemuruh petir yang diikuti oleh suara tembakan demi tembakan, membuat suasana semakin menegangkan.


Tak jauh dari sebuah pohon besar yang berada di seberang pintu, tampak sebuah mobil Jeep terparkir dengan mesin yang sudah memanas. Salah satu eksekutif IGIS yang mengenakan hoodie berwarna merah pun sudah menunggu mereka.


"Kau sudah di sini Rio."


Itu adalah Rio, sahabat dekat Farhan. Dia tampak berbeda dari biasanya. Di sisi lain dia tidak mengenakan kacamata andalannya.


Rio mengangguk. "Semuanya sudah siap, Bos. Silakan masuk."


Mereka pun memasuki mobil Jeep tersebut, dan Rio langsung menginjak pedal gasnya, menyusuri hutan dan jalanan rusak yang belum diaspal.


Mobil Jeep itu melintasi jalan setapak yang berkelok-kelok di dalam hutan yang gelap. Lampu-lampu depan mobil menyinari jalan dan menciptakan bayangan-bayangan yang menyeramkan di antara pepohonan besar yang menjulang tinggi di sekitar mereka. Suasana hutan yang hening hanya terganggu oleh suara mesin mobil yang bergetar dan suara kicauan burung-burung malam yang terdengar samar-samar.


"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Galen dengan suara dingin, dan menatap Rio yang sedang fokus menyetir itu.


"Bos tidak perlu khawatir."


"Aku sudah bilang, fokus saja dengan kuliahmu. Kalau aku tidak memanggilmu, jangan pernah ke tempat ini, apalagi terlibat. Apa kau mau menjadi bajingan sepertiku!?"


Rio tidak menjawab. Dia tidak tahu harus berkata apa, karena yang dia lakukan adalah apa yang hatinya inginkan. Dia tidak mungkin mengabaikan sosok yang sangat penting dalam hidupnya. Galen sudah seperti seorang kakak untuknya. Galen lah yang menyelamatkan hidupnya, dan untuk itulah dia harus membalasnya.


Suara bising tembakan di King's Palace perlahan tenggelam dalam deru mesin dan suara hutan di malam hari. Namun tidak berselang lama, tiba-tiba Rio harus menginjak pedal rem-nya.


"Señor, sepertinya kita masuk dalam jebakan," ujar Michelle.


Di depan mereka tampak Herman bersama tiga eksekutifnya - Dilman, Cristian Warobay, dan Arthur Cunha - sudah menunggu mereka. Di sana juga sudah ada jendral polisi, Agus Prabowo dan anak buahnya yang berjaga - menghalangi jalan dengan traffic cone (penghalang jalan) berwarna oranye mencolok.


Galen melihat itu dengan tatapan marah. Dia menggenggam kuat revolver tuanya, bersiap menembak jika konfrontasi tidak dapat dihindarkan.


Galen dan Rio pun keluar dari mobil. Hujan sudah berhenti.


Dengan singlet putihnya; tampak tato memenuhi kedua lengan pemimpin IGIS itu. Tubuhnya tinggi, kurus, dan tampil anggun di bawah sinar rembulan seolah tidak menunjukkan sosok seorang bos mafia paling kejam, namun mata birunya yang tajam memancarkan aura membunuh bagi siapa saja yang melihatnya.


"Aku tidak menyangka jika kepala polisi dan kapitalis kikir bisa bekerjasama hanya untuk menangkap warga sipil. Itu kombinasi yang bagus," ujar Galen dengan nada sarkas.


"Haha, aku anggap itu sebagai pujian. Tapi aku menyerang IGIS bukan tanpa alasan. Kalian sudah melanggar batas-batas wilayah kekuasaan dan menaruh markas dan bisnis kalian di area kami. Kau pikir Iskra itu taman bermainmu!?"


"Aku tidak pernah melanggar batas wilayah. Aku hanya menaruh toko kecilku di tempat yang strategis. Lagian, sejak kapan Iskra menjadi pemilik LCB dan pelabuhan itu!? Apa kau berlagak jadi pemerintah di sini?" Balas Galen sembari melangkahkan kakinya menuju Herman. "Dan, karena kau berbicara tentang melanggar batas wilayah, kenapa kita tidak membicarakan tentang keponakanmu dan boneka barumu itu?"


Herman mengernyitkan dahinya. Namun begitu dia berpikir bahwa pembelaan apapun yang Galen lakukan, polisi sudah berada di bawah kekuasannya. Toh jika dia tidak membunuh Galen malam ini, Galen tetap akan membusuk di dalam penjara.


"Tuan Herman, sepertinya Anda salah paham dengan tindakan kami. Tapi kami tidak pernah mengganggu bisnis Iskra di LCB, karena bagaimana pun seluruh wilayah Tadulako adalah otonom. Anda jangan lupakan itu. Dan kami hanya melakukan bisnis murni di yurisdiksi Iskra secara legal," ujar Michelle mencoba menengahi.


"Legal? Apakah menjual narkoba di tempat kami itu legal? Aku tidak tahu bagaimana di sini, tapi wilayah kami adalah tempat yang sehat!"


"Tuan, Anda tidak perlu tahu apa yang kami kerjakan di sana. Dan Anda tidak berhak menuduh..."


"Cukup, Michelle. Tidak ada gunanya berdebat dengan mereka," ujar Galen mengakhiri pembicaraan yang menurutnya tak berarti itu. "Sekarang kau mau apa? Membunuhku?"


Rio yang sejak tadi diam mulai bersiap. Dia bersiap untuk menarik belatinya yang dia sembunyikan di dalam hoodie-nya.


Herman tersenyum tipis, "Kau sudah tahu jawabannya."


Tiga eksekutif Iskra pun maju bersama-sama untuk menangkap Galen.


Galen tidak memperdulikan ketiga eksekutif itu. Dia melihat ke arah Jendral Agus Prabowo, "Jendral, Anda sudah memihak orang yang salah."


Ketiga eksekutif pun menyerang Galen secara bersamaan dengan belati mereka, namun tiba-tiba senjata mereka bertiga terlepas begitu saja dari genggamannya hanya karena satu gerakan cepat dan sederhana dengan teknik kuda-kuda Galen yang tidak biasa itu.


Semua orang yang melihat kejadian itu sontak terkejut, terutama Jendral Agus Prabowo yang merasa sangat familiar dengan gerakan itu.


Fuerzas Especiales?


Mata sang Jendral melebar tidak percaya. Hanya dalam waktu beberapa detik, ketiga eksekutif Iskra, yang konon merupakan petarung terbaik setelah Herman, pun tersungkur di atas tanah yang masih basah dan berlumpur dengan begitu mudahnya. Tiba-tiba Galen mengeluarkan revolvernya - mengarahkannya pada ketiga eksekutif yang terjatuh itu.


"Sekarang, semuanya jadi lebih mudah," ujar Galen dengan nada mengancam. Namun tampaknya situasi tidak berjalan semulus yang diharapkan.


"Itu performa yang bagus, Señor Galen," ujar Herman yang kini berada di belakangnya sembari merangkul leher Rio dan mengarahkan sebuah pistol tepat di kepala eksekutifnya itu. "Atau harus kah aku memanggilmu mantan kapten Fuerzas Especiales, Kapten Galen Silva?"


Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Herman itu membuat mereka semua terkejut. Karena tak ada yang menyangka bahwa bos mafia yang paling dicari itu adalah mantan anggota pasukan khusus Meksiko, Fuerzas Especiales. Apalagi dia disebut sebagai mantan kapten di unitnya. Bahkan Michelle yang sudah lama menjadi bawahan Galen pun tidak tahu apa-apa tentang fakta ini.


"RIO!" Teriak Galen hingga urat lehernya terlihat. Suara-suara malam yang hening pun terputus oleh teriakan pria nomor satu di dunia bawah itu, menciptakan gema yang mengerikan di tengah keheningan hutan yang mematikan.


"Sepertinya anak ini penting untukmu, Kapten?"


"Kau, bajingan licik!"


"Sebaiknya kau menyerah. Aku juga punya batas kesabaran, Kapten."


Michelle yang tepat berada di sebelah Rio pun tak dapat melakukan apa-apa. Sebab dia tidak memiliki keahlian apapun selain kemampuannya dalam manajemen dan berkutat dengan pena dan kertas. Kaki jenjangnya tiba-tiba bergetar ketakutan.


Galen yang masih teralihkan oleh ancaman Herman itu pun tiba-tiba langsung dijatuhkan oleh ketiga eksekutif ke tanah. Mereka menindihnya dan lalu menahan tangan dan kakinya. Jurang kekuatan yang berasal dari perbedaan berat badan membuat Galen tidak dapat berkutik - bergerak.


Dilman lalu mengambil revolver dari genggaman Galen. Berjaga-jaga jika bos IGIS itu melakukan sesuatu yang tidak terduga. Di sisi lain, Jendral Agus sudah mengeluarkan borgolnya dan memborgol bos mafia paling dicari itu.


"Kau ditahan, Galen."


"BOS!!" Teriak Michelle dan Rio bersamaan.