
Tadulako, Indonesia
LANGIT hitam dan pekat menutupi kota yang sunyi, dengan lampu-lampu jalan yang samar-samar menyinari komplek perumahan yang mulai sepi. Semua bangunan yang ada di sekitar tampak terabaikan. Suasana misterius dan tegang terasa di udara, dan terkadang terdengar suara gemerincing dari mobil yang melaju dengan cepat.
Beberapa kafe yang tutup, dengan kursi dan meja yang terlihat kosong dan sunyi. Namun, beberapa pedagang kaki lima tampak masih berjualan, dengan aroma rempah-rempah yang harum mengisi udara.
Tampak beberapa pengendara motor melintas dengan cepat, dengan suara knalpot yang berisik di telinga. Terkadang terdengar suara sirene polisi yang jauh, yang menambah kesan misterius dan merinding dalam malam yang gelap itu.
Di sisi lain jalan, terlihat beberapa rumah-rumah kecil dengan pintu dan jendela tertutup rapat, seakan mereka tidak ingin terganggu oleh kehadiran siapa pun.
Gina sedang duduk di rumah sahabatnya yang kini berada di belahan bumi lain. Ruangan yang sempit dan minim cahaya itu hanya dihiasi oleh beberapa perabotan sederhana seperti meja kayu, kursi, dan lemari kecil di sudut ruangan.
Dia duduk di atas kursi kayu tua, menatap ke arah jendela kecil di dekatnya. Meskipun kamar tersebut kecil, tetapi keheningan yang ada di dalamnya membuat suasana menjadi tenang dan damai. Dia memikirkan apa yang sedang Farhan lakukan dan bagaimana keadaannya. Sebab sejak kemarin, entah mengapa, dia merasa gelisah dan mengkhawatirkan sahabat masa kecil sekaligus pria yang dia cintai itu.
Dia menengok keluar jendela dan melihat langit malam dan bintang yang kerlap-kerlip seolah ingin menghiburnya. Di kejauhan, dia bisa melihat lampu-lampu jalan dan pegunungan yang gelap. Meskipun ruangan tersebut sempit, kenangan dan keberadaan sahabatnya melekat di setiap sisi rumah membuatnya merasa sedikit tenang dan terhibur.
Han, kapan kau akan pulang? Aku rindu.
Dia masih mengingat sehari sebelum keberangkatannya, Farhan memintanya untuk menjaga rumah itu sampai dia kembali. Tak ada pilihan lain selain mengaminkan permintaan terakhir sahabatnya itu. Jadi selama beberapa minggu sejak Farhan pergi, dia mulai tinggal di rumah tua itu. Mengisi kekosongan di dalamnya karena ditinggalkan oleh pemiliknya.
Tiba-tiba dalam kesendiriannya, ada suara ketokkan pintu terdengar. Gina pun melangkah ke pintu rumah. Dia melihat siapa yang datang melalui peep hole atau lubang intip di pintu. Itu seorang wanita cantik yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.
Siapa?
Gina pun membuka pintunya. Sepasang kaki jenjang pun tampak berdiri kokoh di depannya, terselimuti oleh balutan gaun hitam yang terlihat mahal dan elegan.
Dalam gaun itu, Gina melihat wanita anggun dan cantik. Rambutnya panjang, terurai dengan lembut di atas bahu, dengan sedikit gelombang di ujungnya. Matanya yang besar berkilauan seperti permata, menarik perhatiannya seolah kecantikan itu akan menggoda siapapun, termasuk dirinya.
"S-Siapa ya?" Tanya Gina gugup.
"Aku Iyal. Kenalannya Farhan," jawab Iyal dengan percaya diri. Dia memberikan tangan mulusnya ke arah Gina.
Jadi ini Iyal, wanita kaya yang membantu Farhan waktu itu, pikir Gina menyimpulkan. Dia tidak menyangka bahwa pertemuan mereka akan terjadi juga. Gina pun menyambut tangan wanita cantik itu dan memperkenalkan dirinya, "Aku Gina, sahabatnya."
Keduanya saling melemparkan senyum. Gina pun mempersilakan Iyal duduk di kursi tamu yang sederhana.
"Tunggu sebentar ya," ujar Gina langsung melangkah menuju dapur menyediakan sesuatu yang bisa dihidangkan untuk tamu mendadaknya itu. Kebetulan tadi siang dia sudah pergi membeli beberapa bahan makanan.
Di sisi lain, Iyal duduk menunggu di kursi kayu dengan bantalan yang sedikit sobek sembari melihat-lihat ruang tamu yang sangat sederhana itu. Meskipun dia terbiasa hidup mewah, namun baginya tidak ada masalah dengan kesederhanaan tersebut. Justru dia merasa lebih nyaman di tempat itu ketimbang di apartemen mewahnya.
Setelah beberapa saat, Gina datang dengan dua cangkir teh, diletakkannya dengan lembut di atas meja, dan memberikan satu cangkir kepada tamu cantik di hadapannya. Kemudian, dia duduk perlahan di kursi yang tersedia, menyimpan cangkirnya dengan hati-hati di atas pangkuannya.
"Jadi, ada urusan apa datang ke sini?" Tanya Gina berusaha sopan dan ramah di hadapan tamunya.
Senyum kecil terukir di bibirnya, namun Gina tidak bisa menghindar dari rasa khawatir yang menghantui pikirannya. Meskipun dia tahu, Farhan bukan anak cengeng yang harus diawasi dan dijaga 24 jam, tapi kekhawatiran baginya adalah hal yang normal, bukan karena Farhan ada atau tidak bersamanya, juga bukan karena Farhan memberi kabar atau tidak, tetapi karena itulah yang dirasakan hatinya yang mencintai.
"Makasih, Iyal."
Iyal mengangguk tersenyum. Dia menyadari sesuatu yang baru tentang persahabatan mereka - sesuatu yang tidak pernah dia rasakan, seolah dia bisa melihat kekhawatiran dan perasaan yang dalam dari wanita di hadapannya itu.
Mereka pun mengobrol tentang banyak hal, mulai dari perkenalan, keseharian, sampai apa yang mereka pikirkan tentang Farhan. Sesekali mereka tertawa, mengisi kesunyian di dalam rumah itu.
Mereka tidak menyadari bahwa obrolan santai malam itu akan menjadi awal kedekatan mereka. Di sisi lain, Iyal tidak memberitahukan Gina tentang permintaan Farhan yang terakhir sebelum dia pergi: "Bersahabatlah dengan Gina. Gina ngga terbiasa ngelakuin semuanya sendiri, tapi kamu bisa, meskipun aku tahu kamu juga kesepian. Mungkin kalian cocok."
Dia tak ingin mengatakannya karena gengsinya yang tinggi. Kekayaan keluarganya membuatnya tak bisa menjadi diri sendiri. Meskipun malam itu dia menikmati waktu yang mereka habiskan karena inilah kali pertama sejak terakhir kali dia tertawa dan berbicara dengan santai.
Keasyikan mengobrol, tak sadar waktu berlalu dengan cepat. Iyal lalu menengok jam tangan Graff Diamonds-nya - waktu menunjukkan pukul 11 malam. Mungkin aneh bertamu sampai larut di lingkungan ini, pikir Iyal.
"Gin," ujar Iyal. Dia tidak tahu sejak kapan dia menanggil Gina dengan panggilan akrab seperti itu padahal mereka baru berkenalan beberapa jam yang lalu, "Kayaknya aku harus pulang sekarang deh. Ini udah larut."
"Ugh, padahal lagi enak-enaknya ngobrol." Gina tampak kesal.
Iyal tertawa kecil, "Kita bisa ngobrol lain waktu." Iyal tiba-tiba menyodorkan ponselnya kepada Gina, "Masukkan nomormu. Aku nanti kirim nomorku. Biar janjiannya lebih gampang."
Gina dengan sigap langsung menyambar ponsel itu. Entah mengapa energinya tiba-tiba terisi dan suasana rumah yang tadinya suram itu mulai terasa lebih berwarna, "Kenapa aku ngga kepikiran, ya!"
Hanya beberapa detik kemudian, "Udah." Gina mengembalikan ponsel itu. Iyal pun melihat sebentar apa yang dituliskan oleh wanita berambut sebahu itu dan lalu menyimpan ponselnya di tas gantung mewah yang dikenakannya.
"Kalau gitu, aku pamit ya. Nanti aku hubungin," ujar Iyal mulai berjalan menuju pintu keluar dan diikuti oleh Gina.
"Aku tunggu!"
...***...
"Apa urusan Anda sudah selesai, nona?" Ujar pria bertuksedo yang tampaknya merupakan pangawal pribadinya. Dia membuka pintu belakang dan mempersilakan atasannya itu masuk.
"Iya," jawab Iyal singkat sembari masuk ke dalam mobil mewah gelapnya. Senyum manis yang tadi dia tunjukkan pada Gina tiba-tiba menghilang.
Mobil pun berlalu - melintas jalanan yang tak begitu luas di tengah perumahan yang saling berdempet-dempetan itu.
Iyal membuka ponselnya dan melihat apa yang dituliskan oleh Gina. Dia langsung menahan senyumnya karena tak ingin pengawal itu melihatnya.