
CAHAYA kuning hangat menyinari kamar apartemen mewah di Mantikalore Residence. Di antara langit-langit berhias stukko yang indah dan lantai marmer yang mengkilap, Iyal dengan rambut hitam terikat dan dalam balutan gaun hitam tengah berdiri di depan meja kerja yang dipenuhi oleh setumpuk pakaian.
Iyal terlihat begitu sibuk, mata cokelatnya yang bersinar memantulkan cahaya neon tampak fokus menyelesaikan tugasnya. Dia merapikan pakaian yang sedang dilipatnya, menjadikannya tumpukan yang teratur. Kelembutan jari-jemarinya merapikan kerutan pada kemeja sutra berwarna merah muda, seolah-olah setiap lipatan adalah teka-teki yang rumit yang harus dipecahkan.
Dengan penuh perhatian, Iyal memasukkan pakaian yang sudah dilipat rapi ke dalam koper besar yang terletak di atas tempat tidur. Koper itu terbuat dari kulit berwarna cokelat tua yang terlihat mewah dan memiliki berbagai kompartemen yang bisa menampung pakaian, aksesoris, dan barang-barang berharga lainnya.
Setelah selesai dengan pakaiannya, dia lalu mengamati dengan seksama kamar apartemennya yang sudah bersih dan rapi; memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Dengan cermat, dia mengunci koper kulit besar itu dan menyimpan kuncinya di dalam tas selempang hitam yang selalu dikenakannya.
Setelah setiap pakaian sudah dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam kopernya, Iyal kemudian mengambil ponselnya dan menelepon Gina. Nada dering berdenting beberapa kali sebelum suara khas sahabatnya itu terdengar di ujung panggilan.
[Hallo, Beb!] Sapa Gina penuh semangat. Tidak biasanya sahabatnya itu menelepon tiba-tiba, apalagi di jam selarut ini.
"Hallo, Beb. Kamu di mana?" Senyum terukir di wajahnya. Padahal dia dan Gina baru bertemu tadi pagi, namun dia merasa sudah merindukan suara yang penuh energi itu.
[Aku lagi di super market,] jawab Gina. [Kenapa, Beb?] Iyal bisa mendengar suara keranjang belanja yang bergesekan di latar belakang - suara anak-anak yang riuh, suara pengumuman belanja di pengeras suara, dan deru mesin pendingin yang menghembuskan udara dingin - yang bergabung menjadi sebuah harmoni yang memenuhi telinganya.
"Ngga, ini tentang Farhan," suaranya mulai melambat.
[Farhan? Kenapa?]
"Aku ngga bisa nanyain kabarnya ke pamanku karena pamanku lagi sibuk di luar kota, jadi dia ngga bisa dihubungin."
Gina terdiam, hanya suara bisikan pelanggan yang bercakap-cakap di antara rak-rak yang dipenuhi oleh tumpukan produk yang terdengar.
"Tapi, aku berencana ke Rusia besok siang," lanjut Iyal.
[Kamu serius!?]
"Ya, aku menelepon hanya untuk nanya kalau kamu mau ikut."
[Ke Rusia?]
"Ya, aku udah beli dua tiket," ujarnya tersenyum. "Untukmu dan untukku."
[Besok?] Ada nada kebahagiaan yang terdengar di ujung telepon.
"Iya."
Sebenarnya dia tak berniat untuk pergi ke Rusia. Terakhir kali dia ke negara itu adalah 5 tahun yang lalu, ketika dia menyelesaikan inisiasinya di Stremyaschiysya bersama Rey, Gi, dan Dei selama beberapa tahun pelatihan yang ekstrim. Itulah hari-hari di mana dia merasa dunia seperti neraka. Bahkan mengingat momen-momen menyedihkan itu, luka-luka ditubuhnya terasa ngilu. Bukan sesuatu yang layak untuk diingat, pikirnya.
Alasan mengapa dia ke Rusia adalah karena sahabatnya, Gina. Gina sangat ingin mengetahui kabar sahabat masa kecilnya, di sisi lain dia ingin membantu menanyakannya pada pamannya, namun sejak penyerangan ke markas IGIS beberapa hari yang lalu, pamannya sampai sekarang tidak dapat dihubungi. Bahkan para eksekutif pun tidak berada di tempatnya.
Dia sudah mencoba menghubungi beberapa orang yang mungkin tahu keberadaan pamannya itu, namun mereka pun tidak tahu. Akhirnya dia berinisiatif untuk pergi sendiri. Sebab dia tidak ingin mengecewakan dan membuat sahabat barunya tersebut terus bersedih karena khawatir dengan pria yang dia temui di rumah sakit waktu itu.
[Baiklah, aku siap-siap dulu,] ujar Gina yang tampak sedang berlari. [Jam berapa?]
"Jam setengah satu siang."
[Oke, besok aku nunggu di butikmu, ya!]
"Ya, aku akan menjemputmu."
Panggilan pun berakhir. Iyal menaruh kopernya di sebelah ranjang tidurnya, dan mulai menyiapkan beberapa hal yang lain, yang mungkin dia perlukan. Namun tiba-tiba bel kamar apartemennya berbunyi, menggema di dinding-dinding kamarnya.
Tamu? Di jam segini?
Iyal lalu berjalan ke arah pintu masuk dan melihat tamu siapa yang datang ke tempat tinggalnya di pukul 1 pagi melalui layar kecil di sebelah gagang pintu yang terhubung dengan kamera CCTV di luar kamar apartemennya.
"Darius!?" Ujarnya terkejut.
Itu adalah tunangannya. Tapi kenapa dia datang di jam seperti ini? Meskipun dia adalah tunangannya, namun Iyal tidak begitu mengenalnya. Mengingat pertunangan mereka hanya didasarkan atas bisnis, alih-alih cinta. Tetapi, sejauh yang dia tahu, Darius adalah orang yang sangat sibuk. Dia biasanya membuat jadwal sebelum datang menemuinya. Kedatangannya yang tiba-tiba adalah sesuatu yang tidak lumrah.
Pintu apartemen yang terbuat dari logam mewah itu pun terbuka.
"Hey!" Sapa Darius sembari tersenyum. "Bahkan di rumah aja kau tetap cantik."
"Kenapa datang ke sini?" Tanya Iyal tegas, tampak tidak peduli dengan ucapan Darius.
"Ya ampun, pertanyaannya. Apa salahnya datang ke tempat tinggal tunanganku sendiri?"
Iyal terdiam.
"Apa aku boleh masuk? Di sini dingin."
Iyal tidak punya pilihan lain selain membiarkan usahawan muda itu masuk. Lagian dia tidak punya alasan yang bagus untuk menolaknya.
...***...
"Aku dengar kau menjaga perusahaan dari KELO," ujar Iyal. Mereka berdua duduk di ruang tengah - di atas sofa Clemence berwarna putih. Di depan mereka, Iyal sudah menyiapkan minuman di atas meja mewahnya.
"Itu bukan masalah besar. Aku tahu om Herman lagi ngga ada di sini, jadi aku datang," jawab Darius. Dia duduk dengan kaki yang dilipat. Dengan pakaian formalnya, dia tampak berkelas dalam posisi itu.
Iyal mengangguk kecil. Dia sebenarnya bingung topik apa yang harus dia tanyakan. Dia juga tidak bisa bersikap biasa dengan pria itu, sebab dia adalah sosok penting bagi Iskra. Jadi, alih-alih tunangan, dia lebih merasa seperti sedang mengobrol dengan atasannya sendiri.
"Terus, ada urusan apa datang ke sini? Ini sudah larut."
Tampak Darius tersenyum kecil. "Ngga ada apa-apa kok," Darius tiba-tiba menurunkan kakinya. "Tapi, mau sampai kapan kau bicara formal kayak gitu?"
Iyal menggenggam erat gelas kaca di tangannya dengan sedikit merunduk.
"Iyal, pertunangan kita udah tiga tahun. Jangan gini terus, aku ngerasa kayak penjahat."
"Apa kau hanya mau ngomongin itu?"
"Huff..." Darius menghela nafasnya. Sikap dinginnya masih sama, pikirnya. "Sebenarnya aku ngga punya alasan yang begitu penting. Aku hanya khawatir denganmu, dan berencana untuk tinggal di apartemen ini untuk sementara waktu."
"Maksudnya?" Iyal terkejut mendengar ucapan pria itu.
"Tenang, ini bukan karena aku menguntitmu, aku hanya mau tunanganku aman. Ini juga permintaan om."
"Paman? Dia menghubungimu?"
"Ya, beberapa jam yang lalu. Jadi aku langsung ke sini sendiri."
Kenapa dia tidak menghubungiku atau paling tidak menjawab teleponku? Tanya Iyal dalam hati. "Pamanku di mana sekarang?"
"Di Pulau Celebes. Bos IGIS akhirnya ditangkap dan dipenjarakan di sana. Dia lagi ngurus beberapa hal, jadi dia mungkin agak sulit dihubungi sekarang," Darius menyeruput sedikit tehnya di meja dan mulai beranjak dari tempat duduknya. "Jadi aku di sini untuk menjagamu, mengingat om belum ada di tempat."
"Kamu ngga perlu..."
"Sssttt," Darius menaruh jari telunjuknya di bibirnya. "Aku ngga mau berdebat. Kalau gitu aku pergi, mungkin besok aku mulai pindah ke tempat ini."
Iyal tidak bisa berkutik. Darius pun pergi meninggalkan kamar apartemen mewah tunangannya itu.