The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 30: PENYERANGAN DI STREMYASCHIYSYA



Volgograd, Rusia


DI ANTARA keramaian penonton yang menyaksikan pertarungan brutal di tengah-tengah ring itu, Avraam berjalan dengan langkah cepat ke tempat di mana Florentina duduk menonton. Dia tampak terburu-buru, seolah dia sedang dikejar sesuatu.


Avraam baru saja pulang dari Italia untuk mengurus beberapa bisnis Perun Group, mewakili Nona Florentina yang selalu berhalangan hadir. Namun ketika dia sampai di Rusia, dia langsung mendengar kabar yang tak enak dari ajudannya.


Sesampainya di ruangan VIP, tempat Florentina berada, Avraam langsung bertanya pada wanita itu tentang anak Indonesia yang dibawanya beberapa minggu lalu.


"Aku pikir kau membawanya ke tempat pelatihan kita seperti biasa!?" Tanya Avraam dengan nada dingin. Dia tidak senang dan merasa tidak dihargai jika anak yang seharusnya di bawah perlindungannya dirampas begitu saja. Padahal Avraam sudah berjanji pada anak itu akan menjaganya selama di Rusia.


Florentina tampak tidak begitu memperdulikan keluhan Avraam, "Aku tidak mengerti apa yang sedang kau permasalahkan, Avraam. Bukannya Ded Vasya ingin membuat anak itu kuat?"


Avraam tidak bisa menafikkan kebenaran dalam ucapan Florentina itu, tetapi entah mengapa dia masih tidak puas, "Tapi kenapa harus di Black Mamba?! Tidak biasanya kau mengirimkan seorang kandidat ke tempat itu."


Florentina menghela nafas. Dia malas menjelaskan apapun kepada Avraam. Lagian itu terserah padanya untuk memutuskan apapun mengenai para kandidat yang dikirimkan. Aramazd, pengawal pribadi Florentina, yang sejak tadi mendengar perdebatan itu pun mencoba memberitahukan Avraam apa yang direncanakan Florentina dan mengapa inisiasi Farhan berbeda dari kandidat yang lain.


"Tuan Avraam, Nona Florentina berencana untuk menjadikan anak itu vory untuk Moskow."


"Apa?" Avraam menunjukkan ekspresi terkejut. Dia tidak yakin apa yang baru saja dia dengar. Vory adalah gelar yang diakui dan dihormati di dunia kriminal di Rusia dan tidak semua orang bisa mendapatkan gelar itu. Tapi kenapa? Apa dia ingin menjadikan anak itu seperti Ded Vasya?


"Ya, itu keputusan Nona Florentina. Daripada menjadikannya bawahan Ded Vasya, nona ingin menjadikan anak itu bawahan langsung seperti Ded Vasya."


Tiba-tiba Florentina mengangkat tangannya agar Aramazd berhenti menjelaskannya, "Cukup, aku saja," ujar Florentina. "Aku akan menempatkannya di yurisdiksi mafia Solntsevskaya Bratva untuk menguasai dunia bawah dan menjadi perpanjangan tangan Perun Group di sana, seperti Ded Vasya yang menjadi perpanjangan tangan kita di Indonesia."


"Aku masih belum mengerti..."


Florentina menurunkan kaki jenjangnya yang tadi dalam posisi bersilang, "Kau tahu sendiri, selain St. Petersburg, Moskow adalah tempat yang sampai hari ini tidak bisa kita kuasai karena..."


"Ya, justru itu yang ingin aku tanyakan! Jika kau sadar bahwa kita tidak bisa menguasai kota itu, lalu bagaimana kau memaksa anak, yang bahkan kesulitan membunuh seekor semut, itu melakukannya untuk kita? Dia bahkan tidak mengerti situasi macam apa yang sedang dia hadapi!" Ujar Avraam yang nyaris kehilangan kesabarannya.


"Tuan Avraam, tolong jaga ucapanmu dan pelankan suaramu!" Timpal Aramazd.


Avraam melihat tajam ke arah Aramazd, "Aramazd, aku tahu kau adalah pengawal pribadi Nona, tapi kau berani menginstruksiku? Apa kau mau aku mematahkan gigimu seperti dulu!?"


Aramazd tampak tidak terkejut dengan ancaman itu, "Itu menarik Tuan Avraam, aku juga ingin menggambar luka lain di tubuhmu itu."


"Kalian berdua, hentikan!"


Suasana tiba-tiba semakin panas karena sepuluh pria bertopeng dan bersenjata memaksa masuk ke ruangan Florentina dengan membawa senapan dan pistol - mengancam ketiga orang yang sedang berdebat hebat itu.


"Sebaiknya kalian jangan melakukan hal yang sia-sia jika kalian tidak mau aku membuat lubang di kepala kalian!" Ancam salah satu pria bertopeng hitam sembari mengarahkan senapan otomatisnya ke arah ketiga orang tersebut.


Tanpa aba-aba apapun, Avraam dan Aramazd pun langsung bergerak cepat menyerang sepuluh pria bersenjata itu. Mereka pun menarik pelatuknya dan melepaskan tembakan mereka ke arah dua pria nekat itu.


Senjata otomatis mereka menyemburkan api, menyebarkan suara ledakan dan dentuman yang menggema di seluruh ruangan. Peluru berlalu lalang di udara seperti kawanan lebah yang bergerak cepat, merobek dinding dan menghancurkan benda-benda di sekitarnya.


Bau mesiu dan bau logam langsung bercampur menjadi aroma yang khas di dalam ruangan itu. Kebisingan yang tak terelakkan membuat seluruh orang di Stremyaschiysya lari berhamburan menyelamatkan diri. Namun tampaknya itu tidak berlaku bagi Avraam dan Aramazd.


Mereka dengan gesit menghindari tembakan itu dengan menggerakkan tubuh mereka secara fleksibel dan mengalihkan perhatian musuh dengan melemparkan meja dan kursi ke arah para penyerang. Dalam waktu yang bersamaan dan sangat singkat, keduanya pun berhasil menjatuhkan dan merebut senjata mereka dengan memanipulasi jari dan melepaskan magazen senjata para penyerang.


Itu membuat para penyerang bersenjata terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa dua orang itu mampu mengalahkan mereka yang bersenjata lengkap tanpa masalah berarti.


Tanpa memberikan kesempatan, Avraam dan Aramazd pun melumpuhkan mereka semua dengan sangat mudah, seolah mereka hanya sedang berurusan dengan anak kecil. Bahkan beberapa dari mereka yang bersikeras melawan balik pun tak punya waktu untuk melakukannya, sebab sebelum mereka menyerang, duo tersebut sudah mematahkan lengan mereka dengan cepat seperti mematahkan ranting pohon. Akibatnya suara teriakan kesakitan pun menggelegar di ruang VIP itu.


"Jadi, siapa yang mengirim kalian?" Tanya Avraam seraya mengepalkan tangannya dengan erat dan meraih leher musuhnya dengan kekuatan yang luar biasa, lalu mengangkatnya dari tanah. "Aku tidak tahu apa kalian salah alamat atau memang bodoh - menyerang Stremyaschiysya saat aku di sini."


Dalam cahaya yang memantul di ruangan tersebut, kedua mata Avraam tampak seperti mata predator yang tengah membidik mangsanya. Wajahnya menunjukkan ekspresi kepuasan, seolah-olah dia menikmati saat-saat terakhir pria nekat di genggamannya itu.


Dalam keheningan yang menyelimuti ruangan tersebut, suara nafas yang tersengal-sengal dari penyerang yang malang itu terdengar begitu jelas. Avraam masih mengepalkan tangannya dengan erat, seolah-olah dia tidak akan melepaskan musuhnya sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Aku pikir kau tidak perlu menanyakan itu lagi, Tuan Avraam," ujar Aramazd. Di tangannya sudah ada selembar kertas yang tampaknya seperti sebuah surat. "Aku menemukan selembar surat di saku salah satu dari mereka. Ini adalah surat perintah. Dan di sini..." Aramazd menunjukkan surat tersebut pada Avraam.



"Bukannya itu..." Avraam mencoba melihat surat itu lekat-lekat. "Organisasi mafia Mexico, La Familia Sangrienta?"


Aramazd mengangguk. La Familia Sangrienta adalah organisasi mafia yang sangat berpengaruh di Amerika Latin yang bermarkas di Tepic, sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat Meksiko.


"Kenapa mereka mengirimkan orang-orang ini ke Stremyaschiysya? Sejauh yang 'kutahu, kita tidak pernah berurusan dengan mereka," tanya Avraam, lalu diikuti dengan suara high hells Florentina yang sejak tadi bersembunyi di toilet.


"Tidak ada keterangan apapun di surat ini. Di sini hanya tertulis: HANCURKAN PERUN GROUP, DAN SELAMATKAN PEMBAWA PESAN," jawab Aramazd sembari membaca kertas di tangannya.


Pembawa pesan?


"Mungkin ini berkaitan dengan Volga Bratva," ujar Florentina tiba-tiba, menyambung jawaban Aramazd sembari membersihkan pakaiannya. "Mereka tahu kalau Volga Bratva adalah didikan Stremyaschiysya. Mereka ingin menyingkirkan harimau liar dengan melenyapkan hutannya."


Avraam dan Aramazd akhirnya sedikit mengerti dengan alasan mafia Meksiko itu mengirimkan agen pembunuh yang tampak profesional kepada mereka. Volga Bratva adalah salah satu kelompok mafia yang paling berpengaruh di Rusia terutama di Volgograd, yang mana seluruh anggotanya adalah mantan petarung dan didikan Stremyaschiysya. Singkatnya mereka adalah mafia yang berada di bawah naungan Perun Group.


Volga Bratva memang sering berkonflik dengan kelompok mafia lain seperti Solntsevskaya Bratva di Moskow, Chernaya Reka di Chelyabinsk, Ndrangheta di Italia, dan bahkan Kartel Tijuana di Meksiko, tetapi dia baru tahu bahwa La Familia Sangrienta pun termaksud. Namun begitu hal yang paling membuat mereka penasaran adalah siapa yang dimaksud dengan 'pengirim pesan' dalam surat tersebut? Apakah kemungkinan ada mata-mata di antara mereka?


Terlepas dari itu, akibat dari penyerangan tiba-tiba tersebut, perdebatan antara Avraam dan Florentina malam itu harus ditunda.