
Black Mamba - Saratov, Rusia
KETIKA memasuki ruang kerja kepala penjara Black Mamba, mudah merasakan kegelapan dan hening yang menyelimuti seluruh tempat itu. Di dalam ruangan yang besar ini, terdapat sebuah meja panjang yang terbuat dari kayu tua yang diukir dengan indah, di atasnya terdapat berkas-berkas dokumen resmi dan foto-foto para narapidana.
Dinding ruangan ini terbuat dari beton tebal yang mengurung para narapidana dalam sel mereka. Di sudut ruangan, terdapat sebuah layar plasma yang menampilkan semua sisi penjara secara real-time. Tak ada suara yang terdengar kecuali desisan angin yang melintasi celah-celah jendela dan sentuhan suara dari langkah kaki para sipir penjara yang terdengar di kejauhan.
Namun, di balik kesunyian dan kegelapan yang menghantui ruangan ini, ada kegelapan yang lebih pekat yang tersembunyi di dalamnya. Di balik dinding beton ruangan itu, terdapat sebuah pintu rahasia menuju area bawah tanah di mana sel-sel kecil yang disiapkan secara khusus untuk menahan narapidana khusus yang paling berbahaya di Rusia berada.
"Direktur, tidak apa-apa jika kita melepaskan mereka?" Tanya salah satu sipir yang mengenakan seragam petugas khas Black Mamba yang berwarna abu-abu dengan aksen hitamnya. Beberapa sipir lainnya disibukkan dengan tumpukan-tumpukan dokumen para tahanan.
Pavel Ivanovich, yang merupakan kepala sipir penjara, tidak begitu mendengar apa yang bawahannya itu katakan karena dia masih fokus menatap layar CCTV yang menarik perhatiannya.
"Siapa pria itu?" Tanya Pavel dengan nada penasaran.
Dia tidak tahu kalau ada tahanan seperti itu di Black Mamba. Meskipun jumlah tahanan di penjara itu berjumlah ratusan ribu, namun dia masih bisa mengingat samar-samar wajah mereka semua. Namun kali ini ada yang aneh, dia sama sekali tidak mengenal siapa pria berambut pendek pirang di layar plasma itu.
Salah satu anak buahnya pun ikut melihat layar yang sama. Tampak di layar tersebut seorang pria kekar sedang berbincang dengan 'napi pesanan' mereka.
"Humm," sipir itu mencoba memeriksa data pria itu sembari membolak-balikkan dokumen di tangannya. Mungkin dia bisa menemukan sesuatu tentang pria asing itu. Setelah beberapa menit pencarian, sipir tersebut menemukan foto beserta data pria di dalam layar itu.
"Direktur, ini," sipir itu memberikan data pribadi tahanan yang tak dikenal itu. Pavel lalu mengambil dokumennya.
"Tahanan nomor H-111, Tyler Johnson, tinggi 180 cm, berat badan 70 kg," Pavel membaca data yang berada di tangannya itu dengan teliti, sampai dia melihat kolom kejahatan yang dilakukan dan hukuman yang dijatuhkan.
Turis gelap yang menggunakan dokumen palsu, perdagangan narkoba, dan membunuh petugas NSD (National Security Department)? Baca Pavel dalam hati. Siapa bajingan ini?
Anehnya dia sebelumnya tidak menerima kabar apapun tentang tahanan ini. Biasanya dia adalah orang pertama yang tahu jika ada tahanan baru, mengingat dia adalah kepala penjara di sini.
"Siapa yang memasukkan data ini dan mengirim pria itu ke Black Mamba!?" Tanya Pavel menatap tajam ke arah bawahannya.
Mereka saling menatap bingung, berharap ada seseorang yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan atasan mereka itu. Karena jika kepala penjara saja tidak tahu adanya napi itu, maka mereka pun juga tidak tahu. Bahkan setelah kebingungan yang rumit itu mereka baru menyadari bahwa ada yang salah dengan napi bernomor H-111 itu.
Apa dia penyusup?
Penyusupan ke dalam penjara atau biasa dikenal sebagai tahanan gelap adalah kasus yang sangat langkah. Memangnya orang bodoh mana yang berani masuk ke lubang buaya? Namun begitu, di beberapa negara seperti Amerika dan Australia, kasus eksentrik semacam ini pernah terjadi, salah satunya adalah penyusupan Frank Abagnale, seorang penipu ulung yang berhasil mengelabui banyak orang dan organisasi di Amerika sekitar tahun 1960 dan lalu menyusup ke dalam penjara dan menyamar sebagai tahanan di sana.
Namun, adalah tidak logis jika ada orang yang berani masuk ke salah satu penjara terketat di dunia - dan tempat di mana para monster ini dikurung - hanya untuk iseng. Jika memang pria itu adalah tahanan gelap di Black Mamba, lalu apa motifnya? Apa yang dia cari di dalam neraka seperti ini?
"Cari tahu siapa yang memasukkannya di sini. Karena tidak ada orang luar yang bisa mengakses sistem keamanan Black Mamba kecuali ada pengkhianat di antara kita," ujar Pavel dingin. "Dan aku peringatkan kalian, jika ada di antara kalian yang bertanggung jawab atas kejadian ini, sebaiknya kalian bersiap karena aku akan membuat kalian merasakan penderitaan sampai kalian berharap untuk mati!"
Kita harus segera mencari pengkhianatnya!
Seluruh sipir pun bergerak cepat, meninggalkan ruangan yang menakutkan itu. Sedang Pavel masih melihat dokumen di tangannya. Dia merasa pernah melihat pria di dalam dokumen itu di suatu tempat, tetapi dia tidak yakin di mana.
Sudahlah, entah dia penyusup atau bukan, itu akan terungkap nanti.
Pavel meraih kunci dari sakunya dan membuka pintu rahasia di ruangan itu. Dengan hati-hati dia mendorong pintu tebal berbahan baja tersebut. Dia melewati koridor gelap dan tangga curam yang minim pencahayaan perlahan sembari menggenggam tonfa hitamnya di tangan kanan. Ini adalah prosedur normal bagi sipir untuk berjaga-jaga. Apalagi ruangan tempatnya berada sekarang adalah tempat di mana tiga narapidana paling bengis di Rusia ditahan.
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk menyusuri koridor bawah tanah tersebut, Pavel akhirnya sampai juga di ujung koridornya. Hawa dingin pun mulai menyerang. Meskipun Pavel sering ke tempat ini, tetapi dia tidak pernah terbiasa dengan situasi di dalamnya, seolah keseluruhan Black Mamba tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tempat ini.
Di atas koridor, terdapat sebuah papan logam kuning yang bertuliskan aksara Rusia: Сибирская камера (Sel Siberia). Dinamakan demikian karena kondisi di dalam sel yang sangat sulit dan ekstrem seperti Siberia. Siberia dikenal sebagai daerah yang sangat dingin dan sulit dijelajahi, sehingga penggunaan nama ini mungkin dimaksudkan untuk menekankan kondisi yang ekstrem dan sulit di dalam sel khusus tersebut.
Dengan cepat, Pavel berjalan ke depan - ke sel yang telah lama ditinggalkan ini. Ketika dia mencapai sel tersebut, dia melihat ada tiga tahanan yang berada di balik jeruji besi, namun di dalamnya terdapat tiga sel sempit yang berukuran tiga meter persegi. Setiap sel itu diisi oleh satu tahanan. Karena ukurannya yang sempit, sel khusus itu cukup untuk membuat tahanan di dalamnya merasa tidak nyaman dan terkekang.
"Kalian sudah menunggu lama, bukan?" Tanya Pavel dengan suara serak. Tahanannya hanya menjawab dengan senyum menghina.
"Ada perintah dari Nona Florentina untuk kalian."
Ketiga tahanan tersebut mengangkat alisnya, kebingungan terlihat di wajah mereka. Kepala penjara tersenyum misterius.
...***...
Di atas lantai kantin yang kotor dan basah tampak lima orang tahanan terkapar tak sadarkan diri dengan luka lebam di wajah mereka. Bahkan hidung dan telinga tiga dari mereka pun berdarah hebat. Di dekat mereka, Farhan tengah berdiri sembari memegang bahunya yang kelihatannya terkilir. Badannya juga dipenuhi oleh luka lebam dan sayatan benda tajam.
"Bertarung dalam kondisi trance? Ini pertamakali aku melihatnya," ucap salah satu sipir dengan wajah terkejut. Semua orang di kantin saling berbisik kagum dan antusias melihat apa yang baru saja terjadi di hadapan mereka: seorang pria muda yang mengalahkan lima orang gangster sekaligus!
Tyler Johnson tersenyum tipis melihat pertarungan yang tak lazim itu. Meskipun dia berusaha untuk menyembunyikan kekagumannya, tetapi dia tidak menyangka bahwa dia akan melihatnya di tempat seperti ini.
Bertarung dalam kondisi trance, itu sangat langka. Bahkan di dunia MMA pun mustahil terjadi, pikir Tyler. Dia pun menghampiri Farhan yang masih berdiri tak bergeming melihat ke arah lima korbannya. Tatapannya kosong tanpa ekspresi, dan nafasnya masih teratur. Tepukan tangan Tyler yang berotot di pundaknya membuat Farhan tersadar.
"Kerja bagus," ucap Tyler dengan nada datar. "Aku akan mengajarimu cara seorang profesional bertarung."
...----------------...
Catatan:
Kondisi trance adalah suatu kondisi psikologis yang ditandai dengan hilangnya kesadaran sehingga menciptakan ketajaman fokus pada pikiran atau insting. Orang yang mengalami trance dapat merasa seperti berada dalam keadaan yang terpisah dari kenyataan dan terkadang merasakan sensasi yang tidak biasa dan tidak terkendali. Dalam cerita ini, kondisi trance yang Farhan alami dilanjutkan dengan kondisi spasme atau dalam istilah medis myoclonus (aktivitas motorik involunter) di mana otot tubuhnya bergerak sendiri secara insting meskipun dalam kondisi tak sadar.