The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 23: PENJARA BLACK MAMBA



Saratov, Rusia


Saratov adalah kota yang terletak di tepi sungai Volga yang berjarak sekitar 300 kilometer dari Volgograd.


Sungai Volga membelah kota tua ini menjadi dua bagian: di satu sisi, ada area yang diisi oleh bangunan-bangunan kuno yang menyimpan sejarah panjang. Sementara di sisi yang lain adalah area modern dengan gedung pencakar langit dan jalanan-jalanannya yang ramai.


Tampak dari atas, Saratov seperti kota fantasi yang menampung dua dunia yang berbeda.


Ketika matahari terbit di pagi hari, terlihat pemandangan yang indah dari sungai Volga yang membentang luas dengan perahu-perahu nelayan yang beroperasi di sungai. Namun, seiring berjalannya waktu, suasana berubah menjadi ramai dan penuh aktivitas, dengan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalan-jalan kota dan orang-orang yang berkerumun di pasar dan toko-toko buah dan pakaian.


Namun, di balik keramaian dan kesibukan kotanya, Saratov memiliki area khusus tempat di mana para monster dikumpulkan: Penjara Black Mamba. Penjara ini didesain untuk menampung tahanan yang dianggap paling berbahaya di Rusia yang biasanya berhubungan dengan tindak kejahatan terorisme, pembunuhan berantai, dan kejahatan-kejahatan keji lainnya.



Penjara Black Mamba tampak seperti sebuah benteng abad pertengahan yang menjulang tinggi. Dinding penjara Black Mamba dibangun dengan beton yang tebal dan kuat memanjang sejauh mata memandang dengan tinggi 6 meter yang dilengkapi dengan kawat berduri.


Dengan menara-menara setinggi enam tingkat yang menjulang di sampingnya, penjara ini memiliki sistem keamanan yang ketat dengan CCTV dan para sipir terlatih yang bersenjatakan senapan otomatis yang bersiaga 24 jam.


Terdapat satu gerbang besar yang terbuat dari besi tebal yang menjadi pintu masuk ke penjara Black Mamba, di mana terdapat dua baris tembok yang terpisah dan dijaga ketat oleh para sipir.


Di atas gerbang, terdapat tulisan "BLACK MAMBA" yang terukir dengan aksara Rusia kuno yang dipenuhi dengan makna simbolik tersembunyi, sampai banyak orang yang menggambarkannya sebagai pintu masuk ke neraka.


Di balik gerbang besi itu, terdapat halaman yang luas dengan jalan setapak yang mengarah ke bangunan utama; sebuah bangunan yang memiliki dua lantai dan tampak seperti sebuah benteng dengan dinding yang tebal dan kokoh. Di atap bangunan, terdapat menara pengawas dengan senapan mesin yang terpasang di atasnya.


Kondisi di dalam bangunan itu jauh lebih mencekam: ada koridor yang gelap dengan lampu-lampu redup yang menyala, di mana para napi dipenjara dalam sel-sel yang kecil dan sempit.


Di masing-masing sel, terdapat petugas penjara yang bersiaga. Namun tidak jauh dari bangunan utama, terdapat gedung olahraga di mana Farhan tergeletak dengan tubuh yang tertindih barbel seberat 90 kilogram.


Dia tidak bisa bergerak. Dia terbaring lemah - menahan sakit fisik dan mental karena semalaman disiksa oleh para napi, bukan hanya mereka yang se-sel dengannya, tetapi juga napi-napi yang berada di sel lain.


Sudah beberapa minggu terlewat, dia sadar bahwa kehidupan normal yang dahulu dia jalani sudah tak ada lagi. Hidupnya di penjara tidak pernah mudah. Dia sering menjadi sasaran intimidasi dan penganiayaan oleh napi-napi lainnya sehingga tidak ada waktu semenit pun tanpa gangguan, pukulan, dan tendangan.


Setiap hari tubuhnya yang lemah selalu dijadikan layaknya samsak tinju dan dipaksa belajar untuk menahannya.


Terlihat jelas di sekujur tubuhnya luka lebam dan bahkan sayatan yang membuatnya nyaris kehilangan akal sehatnya. Yang bisa dia lakukan hanya lah menangis, berteriak, dan merintih. Di sisi lain dia memikirkan dirinya yang dulu; dirinya yang normal.


Dia dahulu berpikir bahwa dia akan menjadi lebih baik di negeri orang dan akan menyelamatkan neneknya, namun ternyata tidak. Penderitaan yang dia rasakan seolah membuatnya lupa dengan alasan mengapa dia berada di sini. Sebab pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh rasa takut, kebencian, kerinduan, dan juga dendam yang bercampur menjadi satu.


Tiba-tiba seorang napi menginjak tubuhnya. Itu sudah tidak mengejutkan lagi untuknya, namun sayangnya dia masih belum terbiasa dengan rasa sakit dan penghinaan itu. Dia pun merintih karena tubuhnya yang terluka.


"Hei kecil, daripada malas-malasan, bagaimana kalau kau mengambilkanku makanan?" Ujar pria itu dengan nada menghina.


Farhan masih belum memahami bahasa Rusia, tetapi dia mengerti bahwa pria brutal itu ingin dia membawakannya makanan, karena ini sudah masuk jam makan siang. Farhan seolah memahami pola permintaan preman-preman lapas itu tanpa perlu belajar bahasa mereka. Toh, siapa juga yang akan mengajarkannya bahasa Rusia?


Farhan pun pergi mengambil makanan untuk preman itu sebelum dia berubah pikiran dan malah menyiksanya dengan alasan untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaganya.


Ketika sampai di kantin penjara - atau dalam bahasa Rusia disebut stolovaya - itu, aroma makanan yang sederhana dan terbatas mulai tercium. Tampak seorang narapidana yang berambut pendek pirang dengan tato di lehernya duduk sendirian di meja terdekat dan memakan rotinya dengan lahap.


Tidak ada obrolan yang terdengar di antara para napi, kecuali bisikan-bisikan kecil. Para sipir yang berjaga di sekitar terus mengamati gerak-gerik mereka, memastikan tidak ada tindakan yang melanggar aturan selama makan siang berlangsung. Suhu ruangan terasa dingin, namun ketegangan dan ketakutan di antara mereka jauh lebih menggigilkan daripada suhu ruangan itu sendiri.


Ketika dia sampai di meja tempat memesan makanan, dia merasa seolah-olah sedang melakukan transaksi ilegal di pasar gelap. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya dan memilih makanan yang tersedia di menu yang terlihat kotor dan usang itu. Hanya ada sedikit menu yang tertulis di sana: roti, nasi, daging sapi, ayam, dan ikan.


Farhan harus mempertimbang makanan yang cocok untuk preman itu, sebab dia tidak mau salah memilih manu dan berakhir menjadi samsak tinju lagi hari ini. Sensasi pukulan para napi itu masih sangat terasa di sekujur tubuhnya, dan dia yakin dia mungkin akan mati jika dia menerima beberapa pukulan lagi.


Ketika Farhan ingin mengambil makanannya, tiba-tiba seseorang menarik rambutnya ke belakang dengan keras, sehingga membuat dirinya dan makanan di tangannya terjatuh. Itu adalah napi yang tinggal di sel yang sama dengannya.


Pria botak itu masih menarik rambutnya, "Hei, seharusnya orang yang lebih tua dulu yang ambil makanan! Apa kau tidak diajari sopan santun sama orang tuamu!?" Teriak pria itu sembari melemparkan piring yang tadi Farhan gunakan untuk menaruh makanannya.


Farhan tidak bisa melakukan apa-apa selain menahan rasa sakit seolah rambutnya akan terlepas dari kulit kepalanya. Mau berbicara pun percuma, dia tidak memahami bahasa mereka. Bahkan berteriak pun hanya akan membuang-buang energinya, karena Farhan tahu sipir penjara itu tidak akan peduli apalagi menolong.


Pria itu terus menarik rambut sembari memukuli wajahnya. Pukulannya begitu keras sehingga menciptakan bunyi kletak yang nyaring.


Narapidana lain yang tadinya hanya tertawa dan menonton pun mulai berdatangan dan ikut memukulinya. Di dianggap sebagai mangsa yang segar untuk dijadikan pelampiasan rasa kesal dan bosan mereka. Tendangan, temparan, dan pukulan yang tak terhitung jumlahnya terus berdatangan sampai membuat tubuhnya terasa seperti terkoyak.


"Seru juga ya melihat hewan buas itu saling menggigit!" Ujar salah satu sipir kepada sipir lainnya, menikmati pemandangan menyedihkan di depan mereka.


Tampak beberapa napi terus memukuli pria tak berdaya itu sambil menyumpah dengan kata-kata kasar seolah tengah melepaskan kekesalannya, sedang yang lainnya menendangnya sambil tertawa lepas seolah puas karena akhirnya ada sesuatu yang bisa menyembuhkan rasa bosan mereka.


Ketika Farhan masih terus dipukuli, tiba-tiba bunyi bletak yang keras terdengar diikuti dengan jatuhnya para narapidana yang memukulinya.


"Sialan, apa kalian tidak melihatku makan!?" Suara itu menggelegar dan penuh ancaman - cukup membuat suasana di tempat itu berubah sunyi dalam sekejap.


Farhan tidak tahu apa yang diucapkan napi tersebut, tetapi dia tahu orang itu marah dengan narapidana lain, entah karena keributan itu sehingga dia merasa terganggu ataukah karena dia tidak suka melihat yang lemah ditindas - atau dua-duanya. Namun apapun itu, karena kedatangannya pengeroyokan pun berhenti.


Farhan menengadahkan wajahnya ke atas meskipun sulit baginya melihat karena matanya yang bengkak. Namun sekilas dia bisa melihat, itu adalah narapidana berambut pendek pirang dengan tato di lehernya!


Apa dia bos di sini?


Farhan bertanya-tanya. Tubuhnya masih terasa begitu sakit. Kedua matanya terpejam rapat, bibirnya terbuka, dan wajahnya dipenuhi darah segar. Anggota badannya terkulai lemas seperti boneka rusak.


Begitu banyak luka dan memar yang terlihat di tubuhnya, sehingga hampir mustahil untuk menghitungnya satu per satu. Dia berusaha untuk bernafas, namun setiap napas yang diambil terasa sakit dan berat. Dia merasakan rasa sakit yang begitu hebat seolah sedang dilindas sebuah truk.


Pria itu menengok Farhan yang malang terkulai lemas di atas lantai kantin penjara yang dingin dan kotor. Tampak tidak ada narapidana lain yang berani dengannya, sebaliknya semua orang tampak tertunduk takut seolah sedang melihat penguasa rimba di hadapan mereka.


Pria itu lalu berkata padanya dengan bahasa Inggris namun dengan aksen Rusia seperti Avraam, "Apa kau orang Thailand, Malaysia, atau Indonesia?"


Itu adalah pertamakalinya sejak dia pertamakali di penjara itu bertemu dengan orang yang bisa menggunakan Bahasa Inggris. Farhan menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaan dari pria menakutkan itu, "Indonesia."


"Pantas," pria itu mulai berbalik, "Kau mirip seorang yang 'kukenal. Dia juga orang Indonesia."


Pria itu pun pergi.


Farhan berusaha membuka matanya yang bengkak itu. Dia melihat punggung pria itu dengan perasaan campur aduk. Dia melihat punggung yang besar dan bulat, seakan-akan itu adalah punggung seorang raksasa yang sulit untuk dikalahkan laiknya Goliat dalam kisah alkitabiah.


Farhan tidak tahu menilai secara tepat seberapa kuat seseorang, tetapi instingnya sebagai napi terlemah dan mangsa yang berada di tengah-tengah kerumunan hyena mengatakan bahwa pria itu lebih berbahaya dari yang lain: dia adalah satu-satunya harimau di sini, penguasa rimba. Bahkan napi-napi yang tadi mengeroyoknya pun belum sadarkan diri.


Dia tidak bisa membayangkan seberapa kuat pukulannya sampai membuat orang-orang kekar dan menakutkan itu jatuh hanya dalam sekali pukul.