The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 20: MALAM TERAKHIR



FARHAN duduk bersantai di dalam limusin yang melaju menembus keramaian Kota Volgograd. Lampu-lampu neon yang berwarna-warni memantulkan cahaya pada wajahnya, dan suara klakson kendaraan yang saling bersaing menciptakan suasana yang hidup di tengah kota.


Farhan melihat keluar dari jendela mobil dan melihat pemandangan malam Kota Volgograd yang memukau. Banyak gedung-gedung tinggi yang menjulang dengan cahaya lampu yang menyala-nyala di sekitarnya, sementara air sungai Volga tampak berkilau di bawah cahaya lampu jalan.


Saat limusin mewah melintasi jalan raya, Farhan melihat sebuah masjid bernama Masjid Al-Mustafa yang merupakan salah satu masjid terbesar di Rusia. Masjid yang didirikan pada 1998 ini memiliki warna khas putih dan biru, dengan ornamen-ornamen menarik seperti kaligrafi, ukiran kayu, dan mozaik pada bagian eksterior bangunannya. Farhan menyentuh permukaan kaca mobil dan merasakan kehangatan yang membuatnya merasa nyaman di dalamnya.


Suasana di dalam mobil mulai hening. Hanya suara mesin mobil dan keramaian kota yang terdengar. Farhan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia berpikir tentang banyak hal, neneknya, sahabat-sahabatnya, dan juga alasan mengapa dia di sini.


Tiba-tiba, Farhan mendengar suara gemuruh dari luar mobil. Ketika dia melihat keluar, dia melihat sebuah mobil camry yang dikejar-kejar polisi. Lampu rotator mobil polisi menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di sekeliling jalan, memantulkan cahaya ke dalam mobil yang dia naiki. Farhan mengambil napas dalam-dalam, penasaran dengan apa yang sedang terjadi di kota ini di malam hari.


"Itu biasa terjadi di sini," ujar Avraam tiba-tiba memecahkan keheningan seolah dia tahu apa yang dipikirkannya.


Farhan tidak menjawab karena dia tidak tahu harus mengatakan apa. Namun Avraam masih ingin mengatakan sesuatu.


"Dan aku harap kau tidak tertipu dengan Florentina."


Farhan bingung dengan apa maksud di balik ucapan yang tiba-tiba itu, "Maksudnya?"


"Saat pertamakali melihat Florentina, apa yang kau pikirkan?"


"Aku tidak pintar menilai orang, tapi aku merasa dia wanita yang baik. Selain itu dia juga wanita cantik, muda, dan sukses," jawab Farhan dengan nada yang polos.


"Wanita muda?" Tawa Avraam nyaris ingin meledak mendengar kata-kata itu, "Menurutmu umurnya berapa?"


"Mungkin pertengahan dua puluh - dua lima atau dua enam?"


Tawa Avraam pun akhirnya pecah memenuhi limusin yang tadinya hening itu. Ini pertamakalinya dia melihat Avraam tertawa. Wajahnya yang biasa kaku dan menyeramkan itu sekejap hilang. Bahkan Avraam pun tidak tahu kapan terakhir kali dia tertawa lepas seperti itu. Avraam berusaha menenangkan dirinya. Air mata tampak keluar di ujung matanya.


"Matamu tidak salah menilai kalau dia tampak seperti wanita muda yang cantik, tapi biasanya apa yang terlihat bukan lah fakta. Karena faktanya dia tidak semuda seperti yang kau pikirkan."


"Huh?"


"Dia seumuran denganku dan Ded Vasya."


"Maksudnya, Pak Herman?"


Avraam mengangguk. Wajah Farhan menunjukkan keterkejutan. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana mungkin seorang wanita paruh baya berumur 40 tahun namun masih terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usia sebenarnya? Kesalahpahamannya terlalu jauh!


"Kau pasti terkejut," Avraam menurunkan kaca jendelanya, "Semua orang yang pertamakali melihatnya juga terkejut. Jadi kau bukan yang pertama. Tapi, aku tidak membicarakan usia. Itu tidak sopan. Yang ingin aku bicarakan adalah tentang sifat wanita itu. Aku memperingatkanmu, jangan mempercayainya. Cukup dengarkan aku saja."


"Kau tidak perlu berpikir terlalu jauh. Jadi selama kau di sini, jangan dengarkan dia. Kau bersamaku, jadi kau harus mendengarkanku saja. Ini bukan perintah, tapi nasehat."


Avraam menghirup udara malam Volgograd yang masuk lewat jendela mobil sebelum dia menutupnya.


Sebelumnya Avraam diberitahu oleh Pak Herman bahwa orang tua Farhan semuanya dibunuh oleh gangster. Farhan dibesarkan oleh neneknya sendiri. Namun belum lama ini neneknya diculik oleh sekelompok gangster yang oleh Herman dicurigai sebagai kelompok gangster yang sama dengan yang menculik orang tuanya. Alasan mengapa Farhan diberangkatkan ke Rusia adalah untuk balas dendam.


Bagi Avraam itu adalah alasan yang masuk akal. Tapi tentu saja Avraam tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Farhan dikirim ke Rusia, karena Herman menyembunyikannya dari siapa pun bahkan dari sahabat lamanya sendiri tentang Pemburu. Namun benar atau tidaknya, Avraam sudah terlanjur bersimpati dengan apa yang terjadi pada pria muda di sebelahnya itu yang membuat jiwa orang tuanya terpanggil.


Limusin hitam mewah itu akhirnya sampai juga di sebuah lingkungan perumahan yang dikenal sebagai Krasnooktyabrsky, dengan apartemen dan rumah-rumah kayu tuanya yang konon telah ada sejak era Soviet. Perumahan ini terletak di sebelah timur Kota Volgograd, dan berlokasi strategis karena dekat dengan Sungai Volga. Meskipun Farhan pernah mendengar tentang sungai terpanjang di Eropa ini di kelasnya, namun melihatnya secara langsung jauh lebih menakjubkan.


Sungai Volga meluncur di antara bukit-bukit rimbun, mengikuti aliran seperti darah dalam nadi. Karena cahaya bintang-bintang, bulan, dan lampu-lampu gedung, permukaannya mengilap seperti cermin, memantulkan langit berbintang di atasnya. Namun Farhan tahu bahwa yang membuat sungai ini istimewa bukan hanya karena ukuran dan keindahannya saja, tetapi juga karena sejarah dan pengaruhnya terhadap budaya dan sastra Rusia.


Sungai ini dahulu pernah menjadi jalur transportasi penting karena menghubungkan banyak kota di Rusia sekaligus menjadi saksi bisu Pertempuran Stalingrad antara Pasukan Soviet dan Jerman selama Perang Dunia 2.


Ini membuat Farhan teringat kembali dengan film lawas yang pernah dia tonton berjudul 'Enemy at the Gates' yang mengisahkan bagaimana seorang penembak jitu Uni Soviet berjuang keras untuk melindungi Stalingrad (sekarang Volgograd) dari Nazi Jerman.


Namun terlepas dari sejarah berdarahnya, tidak dapat dipungkiri bahwa keindahan sungai Volga adalah sumber inspirasi bagi banyak seniman dan pujangga Rusia seperti Ilya Repin, Ivan Shishkin, Maxim Gorky, dan sastrawan realisme Ivan Turgenev.


Sebagai (mantan) mahasiswa Ilmu Budaya, aku tahu mereka, pikir Farhan sembari menikmati cahaya yang terpantul di tengah sungai tua itu laiknya sebuah mozaik.


Farhan teringat ketika professor sastranya mengulas tulisan Turgenev yang berjudul 'Fathers and Sons'. Salah satu kutipan dari buku yang diterbitkan tahun 1862 itu yang sampai saat ini masih dia ingat adalah "tidak ada yang bisa membantu seseorang dari kesepian. Ada saat-saat ketika manusia merasa sangat sendirian dan tak berdaya."


Kata-kata yang menusuk, pikirnya. Mungkin tepat dengan situasinya saat ini yang hidup sendiri tanpa neneknya.


Mereka pun berhenti di sebuah rumah bergaya klasik yang menyala dengan cahaya kuning hangat. Rumah itu tampak terbuat dari batu bata merah, sedang atapnya berbentuk segitiga yang terbuat dari genteng keramik merah.


Di sekitar, mereka bisa melihat beberapa pohon besar dan tanaman bunga yang diletakkan di sekitar halaman rumah. Dari sana, mereka bisa melihat Sungai Volga yang tenang dengan lampu-lampu yang menerangi perairan di malam hari. Supir limusin itu lalu menurunkan beberapa barang mereka dan juga koper.


"Untuk malam ini kau tidur di sini," ujar Avraam, "Nikmati malam ini. Kau akan ditemani sekertarisku. Dia akan datang 15 menit lagi."


Setelah itu, supir limusin datang menaruh barang-barang Farhan di atas teras rumah yang berlantaikan kayu meranti tersebut dan lalu kembali ke mobilnya.


"Ingat dan nikmatilah momen ini, sebelum kau menyesal, karena mulai besok hari akan terasa berat," ucap Avraam. Dia lalu meninggalkan Farhan sendirian tanpa memberikan penjelasan apapun tentang kalimat ambigu yang terdengar seperti ancaman itu. Limusin mewah pun pergi. Sekarang, hanya suara gemericik air sungai dan suara sayup-sayup angin yang menerpa dedaunan yang terdengar.


"Tunggu," ujar Farhan masih dalam kebingungan, "Bukannya orang Rusia punya semacam etika atau cara menyambut tamu?"