
DARI kejauhan, Little Talisse Lodge tampak seperti sebuah istana gemerlap yang meriah. Cahaya neon dan laser yang berkilauan memancarkan sinar di sekitar bangunan, menunjukkan kesan kegembiraan dan kebebasan yang ditawarkan oleh tempat hiburan tersebut.
Setiap ornamen pada bangunan itu sangat elegan, laiknya sebuah mahkota megah. Selain itu, pintu masuk yang lebar dan tinggi terbuat dari kaca dan besi yang berkualitas tinggi, yang diberikan beberapa sentuhan artistik indah, membuat setiap pengunjung merasakan dorongan yang kuat - tak sabar untuk segera menginjakkan kaki mereka ke dalam.
Namum begitu, tidak semua orang berkesempatan masuk ke dalamnya, sebab tepat di depan pintu masuk, terdapat dua pria berpakaian hitam yang menjaga pintu masuk yang lebar itu.
Di seberang jalan, Anca De Luca tengah berjalan menuju tempat yang penuh cahaya dan jedag-jedug itu dengan kemeja putih ketat dan topi fedora hitamnya sembari menghisap rokoknya. Dia memutuskan untuk masuk ke tempat itu sendiri, dan memerintahkan semua anak buahnya untuk berjaga di luar, memastikan bahwa target mereka malam ini tidak akan kabur.
Ketika dia sampai di pintu masuk, dia dihalangi oleh kedua penjaga berpakaian formal dengan tatapan tajam, "Anda siapa? Malam ini ada acara khusus, hanya undangan saja yang boleh masuk," ujar penjaga itu dengan nada tegas.
"Maaf, Pak, anak saya ada di dalam, saya orang tuanya. Saya mencarinya karena ibunya baru saja masuk rumah sakit," jawab Anca dengan nada dan wajah yang memelas.
Para pengawal itu saling melihat satu sama lain, lalu mengeluarkan sebuah kertas yang berisi daftar tamu malam ini.
"Siapa nama anaknya?" Tanya salah satu dari mereka sembari mengecek nama tamunya.
"Namanya," pria itu tampak ingin mengambil sesuatu dari saku celanannya, "Anca De Luca."
Mendengar nama itu kedua pengawal terkejut, namun itu sudah terlambat, mereka tidak punya waktu bahkan hanya untuk berteriak. Sebab hanya dalam hitungan sepersekian detik saja, kedua leher penjaga itu sudah tersayat dengan sayatan yang dalam. Mereka berdua pun terjatuh dengan darah segar yang terus keluar dari luka di lehernya.
"Huff, sudah 'kuduga, aku memang tidak cocok jadi seorang ayah, bahkan mereka pun meragukan wajah tua ini."
Anca De Luca pun melangkah masuk tanpa kendala.
Suasana di dalam LTL sangat sesak. Suara musik terus menghentak keras memenuhi ruangan, menyelimuti para pengunjung dengan ritme hasil kreatif dari tangan emas sang DJ yang memukau. Lampu warna-warni di seluruh ruangan bergoyang-goyang dan memantulkan cahaya yang berkilauan, mengisi udara dengan semilir sinar yang terang.
Di sudut ruangan, beberapa pasang mata saling bertemu dengan tatapan intens dan penuh hasrat. Semua orang berada dalam suasana yang bebas untuk mengekspresikan diri mereka dengan cara mereka sendiri. Di bar, bartender dengan lincah menyiapkan minuman yang tak pernah berhenti diantarkan ke meja-meja yang tersebar di sepanjang dinding.
Sebagai pria yang berusia 40 tahun, dia merasa dunia seperti ini bukan lah tempatnya. Namun malam ini tugasnya bukan untuk menikmati alunan musik breakbeat itu, melainkan untuk berburu. Meskipun jauh di dalam hatinya, jiwa mudanya sangat ingin merasakan kegembiraan itu, tetapi sebagai eksekutif IGIS, kegembiraan baginya hanya lah dengan melaksanakan perintah bosnya.
Anca lalu memperhatikan sekelilingnya, mencari pria pirang yang ada di dalam gambar itu. Paling tidak dia masih punya ingatan yang baik untuk mengingat wajah pria muda yang berani menghancurkan bisnis mereka tersebut. Memang cara termudah untuk mengingat seseorang adalah dengan mengingat keburukannya, pikirnya.
Setelah beberapa menit berkeliling, Anca De Luca akhirnya menemukan pria pirang yang dia cari-cari. Pria itu sedang duduk sendirian di sofa - di sudut ruangan yang tak jauh dari tempat bartender beratraksi dengan gelas dan botol minumannya. Tampak pria muda itu sedang merokok dan meminum segelas wiski yang mahal. Dia pun melangkah mendekati pria yang duduk sendirian itu.
Ketika sampai, dia langsung duduk di sebelah Rey. Rey yang tampak sedikit mabuk itu melihat pria paruh baya di sampingnya. Pria aneh yang mengenakan topi di dalam ruangan.
Dia ngga kepanasan? Tanya Rey dalam hati.
Namun Rey tidak begitu peduli dengan keberadaan pria asing itu dan justru lanjut meneguk wiskinya.
"Kau sudah mabuk," ujar Anca melihat pria muda itu. Rey mengabaikannya, dan terus minum.
"Kalau begitu, ini akan lebih mudah."
Rey terkejut karena tiba-tiba sebuah pisau telah menancap di paha kanannya dengan sangat dalam. Dia mencoba memukul wajah pria itu dengan gelas di tangannya, namun pria itu dengan mudah menangkisnya dengan tangan berototnya.
"Nak, apa kau yang menyerang pelabuhan dan mengambil barang-barang kami?"
Rey terkejut, orang ini dari IGIS!?
Dia tidak menyangka bahwa IGIS akan datang ke tempat ini.
Tanpa menjawab pertanyaan pria tersebut, Rey mencabut pisau yang masih menancap di paha kanannya dan mengarahkannya untuk menyerang wajahnya. Namun, sekali lagi, serangan itu bisa ditepis bahkan pria itu hanya menggunakan dua jarinya untuk menghentikan pisau tersebut. Yang paling mengagumkan dari pria tua itu, dia bahkan tidak bergeming sedikit pun dari tempat duduknya seolah dia hanya sedang bermain dengan anak kecil.
"Berarti pelakunya memang kau."
Tiba-tiba sebuah pukulan yang sangat cepat namun berat mengenai wajahnya sampai membuat Rey terlempar dan jatuh dari sofa. Mendengar keributan itu, semua orang pun berteriak dan panik.
Semua orang tampak berteriak, mencoba memanggil penjaga, namun sayang tidak ada respon apapun.
Rey memegang wajahnya yang berdarah. Dia terkejut dengan kekuatan pria di hadapannya itu.
Tanpa memberi kesempatan, Anca langsung menginjak tubuhnya, "Nak, kalau begitu kau harus ikut aku ke IGIS, biar bos kami yang akan bertanya," ujarnya dengan nada ancaman sembari merapikan topi fedoranya.
"Ughh..."
"Tapi sebelum itu..." Pria itu melirik sebuah pintu yang terletak di sebalah timur panggung DJ - sebuah pintu kayu berwarna hitam yang berukirkan berlian, "... Ayo temani aku ke sana."
Rey melihat ke arah di mana pria itu memandang.
Gawat! Aku harus ngasih tahu mereka!
Rey mencoba menekan beberapa angka darurat pada tombol ponsel di dalam sakunya secara diam-diam, namun...
"Aghhhh!"
Suara kretek jari-jemarinya yang patah terdengar. Anca menginjak tangannya yang masih di dalam saku itu dengan keras.
"Jangan lakukan hal bodoh, Nak."
Anca De Luca lalu mengangkat tubuh Rey layaknya mengangkat sekarung beras dan lalu pergi menuju pintu yang mencurigakan itu.
...***...
"Wah, lihat bajingan-bijangan ini," ujar Anca ketika melihat apa isi dari ruangan rahasia itu.
Dia menemukan tiga pria asing berbadan kurus kering yang digantung dengan rantai besi dalam keadaan setengah telanjang dan tidak sadarkan diri, sementara satunya lagi adalah pria yang dia kenal - tengah tergeletak di atas meja penjang dengan tangan dan kaki yang terikat. Untungnya, pria itu masih sadar meskipun dalam keadaan yang mengenaskan.
"Bukannya kau Ivan, yang bertanggung jawab di markas cabang di Distrik Timur?" Tanya Anca pada pria lemas yang tergeletak itu.
"P-Pak, ma-maaf," jawab Ivan lemas.
Anca De Luca menghela nafas. Dia tidak percaya anak buahnya akan diperlakukan seperti ini. Selain itu, dia akhirnya tahu bahwa bukan KELO saja yang akan menjadi musuh IGIS ke depan, tetapi juga Iskra.
Anca lalu menghempaskan Rey kelantai begitu saja dari pundaknya, dan lalu menginjak wajahnya. Kemudian dia mengambil ponsel di sakunnya dan mulai menelepon anak buahnya yang sejak tadi berjaga di luar untuk segera masuk dan menyelamatkan salah satu anggota mereka itu.
Sembari menunggu anak buahnya, Anca mencoba mencari tanda apapun. Sebab tugas yang diberikan kepadanya ada dua: mencari pelaku penyerangan dan mengambil kembali barang yang dicuri. Dia sudah menyelesaikan yang pertama, tetapi yang kedua dia belum menemukan tanda apapun.
Karena tak ada petunjuk tentang barang-barang IGIS yang dicuri di ruangan tersebut, maka tidak ada pilihan lain selain menanyakannya langsung kepada pelakunya.
Anca lalu mendudukkan Rey di atas kursi sembari memegang belati di tangan kanannya untuk mengancam pria pirang itu.
"Nak, di mana barang-barang yang kau curi?" Tanya Anca dengan senyum yang tampak dipaksakan.
"Hehe, mana aku tahu," jawab Rey dengan nada meledek.
"Kau keras kepala juga. Aku jadi ingat masa-masa muda dulu. Tapi berani bercanda denganku itu kesalahan fatal, Nak," belati pun menancap di paha kirinya sampai membuat Rey berteriak kencang karena kesakitan.
Wajah Rey memerah karena menahan rasa sakit di kedua pahanya dan juga jari-jarinya yang patah. Di sisi lain, para anggota IGIS yang berada di bawah Anca De Luca pun sudah sampai di ruangan rahasia itu dan langsung menyelamatkan Ivan yang masih terkulai lemas.
"Sepertinya kita tidak punya waktu banyak di sini mengingat sifat keras kepalamu itu," ujar Anca De Luca, "Jadi, kita akan menyelesaikannya dengan cara kami."
Anca lalu mengeluarkan sebuah suntik dari saku bajunya dan tanpa basa-basi langsung menusuknya ke leher Rey. Rey yang sejak tadi lemas itu pun mulai merasa linglung dan perlahan dia bahkan tidak merasakan tubuhnya lagi seolah dia dan tubuhnya telah terpisah. Sedetik kemudian, dia pun jatuh tak sadarkan diri.