The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 29: JADIKAN AKU MURIDMU



Black Mamba - Saratov, Rusia


DIA merasa seperti melayang ke udara ketika dia tiba-tiba berada di tepi jurang yang curam. Dengan perasaan linglung oleh suasana yang suram dan aneh di sekitarnya, dia merasa seperti berada dalam lingkaran hitam yang terus menariknya semakin dalam ke kegelapan.


Saat dia melihat ke bawah, dia merasa seolah-olah seluruh dunia telah berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Dia melihat darah membasahi kedua tangannya yang membuatnya bingung dan takut. Namun, dalam situasi yang menegangkan itu, dia melihat mayat wanita tanpa kepala di dekatnya. Mayat itu tergeletak dengan posisi yang aneh. Dia pun merasa mual dan jantungnya berdegup cepat.


Saat dia mulai mencari petunjuk tentang siapa pelakunya, dia mulai melihat tanda-tanda yang mengarah ke sebuah konspirasi yang aneh. Dalam kebingungan dan ketakutan itu, dia berusaha mencari tanda-tanda kehidupan, berharap ada seseorang yang bisa membantunya. Sayangnya, tak ada suara atau tanda kehidupan di sekitar. Dia merasa sendirian dan terisolasi di dunia yang absurd itu.


Namun tiba-tiba, dia mencium aroma amis dan merasakan sesuatu yang basah dan dingin menyentuh tubuhnya. Farhan terkejut, lalu terbangun dari mimpi yang aneh itu ketika dia menyadari bahwa dia sedang disirami dengan air toilet oleh para tahanan yang mengerumuninya. Mereka tertawa sembari memandangnya dengan tajam.


"Wah, tidurnya nyenyak ya! Hahaha..." Ujar salah satu tahanan.


Farhan masih dalam keadaan bingung dan kabur. Dia juga tidak mengerti apa yang mereka katakan. Dia merasakan air itu memberikannya sensasi yang membuatnya merinding.


Sial!


Salah satu tahanan tiba-tiba menarik rambutnya, "Hei, lima menit lagi waktu sarapan, jadi ambilkan aku makanan," ujar pria itu perlahan kata per kata sembari memberikan beberapa gerakan yang tampak seperti bahasa isyarat. Mereka tahu bahwa Farhan tidak mengerti bahasa Rusia, jadi cara terbaik untuk memerintah anak muda Asia itu adalah menggunakan bahasa isyarat.


Farhan pun mengerti maksud pria itu. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah mereka. Setelah beberapa minggu berada di penjara busuk dan sesak itu, Farhan belajar bahwa cara terbaik untuk bertahan hidup di tengah-tengah tempat di mana hukum rimba berlaku adalah dengan tidak mengatakan "tidak." Untuk orang lemah seperti dirinya, mengatakan "ya" adalah pilihan terbaik.


...***...


Kantin penjara Black Mamba atau stolovaya merupakan tempat yang sangat menyeramkan. Ia terletak di tengah-tengah kompleks penjara yang terbuat dari beton bertingkat satu. Meskipun terkenal dengan sistem keamanannya yang super ketat, ini adalah tempat favorit para narapidana yang menghuni salah satu penjara paling ketat di dunia ini. Di sini, para narapidana yang dianggap paling berbahaya dijaga ketat oleh para petugas keamanan yang terlatih.


Bagi seorang tahanan baru, memasuki kantin penjara Black Mamba terasa seperti memasuki sebuah labirin yang rumit. Dia harus melewati serangkaian pintu besi dan ruangan berwana abu-abu gelap yang dipenuhi oleh sekelompok narapidana yang kasar dan angkuh.


Setelah melewati beberapa ruangan, akhirnya Farhan tiba di kantin dan langsung disambut oleh aroma makanan tanpa suara percakapan sama sekali. Karena di tempat ini mulut digunakan hanya untuk mengunyah makanan, bukan untuk berbicara.


Kantin ini dipenuhi oleh meja-meja kayu tua dan bangku-bangku. Di satu sisi kantin ada dapur dengan beberapa koki yang sibuk memasak. Mereka mengaduk-aduk panci dan memasak makanan dengan sangat cepat, seolah-olah sedang mempersiapkan hidangan untuk tamu kerajaan.


Farhan mencoba mencari tempat duduknya. Namun ada yang aneh dengan atmosfer kantin hari ini. Dia melihat puluhan narapidana yang terlihat gugup sedang mengerubungi meja tempat di mana pria besar yang dahulu pernah membantunya itu duduk menyantap sarapan paginya. Anehnya, meskipun berada dalam situasi yang menegangkan itu, pria tersebut tetap terlihat tenang.


Tiba-tiba, seorang narapidana yang tampak marah berjalan menuju pria tersebut dan mencoba menyerangnya. Namun, dengan kecepatan yang luar biasa, pria tersebut menghindari serangannya dan menangkap lengan narapidana tersebut. Dalam sekejap, pria itu lalu melemparkan narapidana itu ke meja yang berada di dekatnya hanya dengan menggunakan satu tangannya sampai membuat meja tersebut rusak.


Dengan beberapa lebam dan luka di wajahnya, air muka Farhan menunjukkan kekaguman - terkesima dengan keahlian pria besar tersebut. Dia mulai bertanya-tanya tentang siapa pria itu dan mengapa dia berada di penjara. Ketika pria itu menyelamatkannya beberapa hari yang lalu, jangankan menanyakan namanya dan mengobrol dan mengucapkan terimakasih pun tidak sempat dia lakukan. Namun begitu, dalam hatinya, dia merasa bahwa pria tersebut bukan narapidana biasa.


Beberapa saat kemudian, keributan besar pun pecah di kantin penjara, "DIA HANYA SENDIRI! BUNUH DIA!" Ratusan narapidana dengan wajah menyeramkan yang dipenuhi tato mulai mengerumuninya lagi. Itu adalah situasi berbahaya. Farhan mencoba mundur dan menjaga jarak. Sebab tidak ada yang bisa dia lakukan, bahkan para sipir yang berjaga pun hanya melihat tanpa melakukan apa-apa; entah karena mereka masa bodo dengan pemandangan itu ataukah karena mereka juga ketakutan seperti dirinya.


"Aku tahu penjara ini tidak akan mengecewakan, hahaha..." Ujar pria itu dengan nada tinggi dan angkuh seolah situasi itulah yang lama dia tunggu-tunggu.


Tiba-tiba pria itu melompat ke udara dan dengan satu pukulannya mampu menumbangkan tiga orang narapidana dalam sekejap. Itu membuat suasana kantin menjadi senyap. Semua mata tertuju pada pria itu. Dia menunjukkan kemampuan bertarung yang memukau; gerakan-gerakan tinjunya cepat dan presisi seperti seorang profesional.


Pria tersebut terus menyerang dan mempertahankan dirinya dengan gaya yang begitu cekatan. Dia menghindari serangan narapidana lain dan lalu membantai mereka satu per satu dengan pukulan dan tendangan yang kuat. Namun, beberapa narapidana yang keras kepala terus berusaha menyerang pria tersebut. Salah satunya bahkan berhasil menyerang pria itu dengan belati yang tersembunyi di balik baju tahanannya. Untungnya pria hebat itu dengan cepat mengambil pisau tersebut dan menunjukkan keterampilan bela dirinya.


Farhan terpana melihat pertarungan epik di hadapannya itu. Dia merasa seperti sedang menonton film aksi yang diperankan oleh aktor favoritnya seperti Iko Uwais dan Dony Yen. Namun, dia menyadari bahwa apa yang sedang disaksikannya adalah kenyataan.


Sejumlah narapidana lain tidak berhenti begitu saja. Seolah mereka percaya bahwa kuantitas mereka bisa mengalahkan kualitas lawannya. Mereka terus mencoba menyerang pria tersebut secara beramai-ramai, namun lagi-lagi, kekuatan pria itu melampaui harapan mereka.


Mereka semua akhirnya berhasil ditaklukkan dengan cepat dan mudah. Dalam waktu singkat, ratusan tubuh narapidana tampak menutupi lantai penjara yang dingin dan kotor itu. Sebagian dari mereka bahkan ada yang mengalami cidera serius.


Farhan tidak bisa berkata-kata dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ada dorongan aneh yang spontan muncul di dalam dirinya.


Tiba-tiba kedua kakinya melangkah dengan sendirinya tanpa dia sadari ke arah pria kuat yang masih berdiri dengan tangan yang bermandikan darah itu. Entah mengapa Farhan merasa tubuhnya seperti sedang diambil alih oleh sesuatu. Perasaan takut yang tadi dia rasakan bahkan lenyap, dan digantikan oleh gairah yang aneh.


Pria kekar berambut pirang pendek itu pun menengok ke arah Farhan. Dia seperti melihat anak yang berbeda dengan anak lemah yang kemarin dia selamatkan. Mereka kini saling berhadapan layaknya David yang menatap Goliat.


"Jadikan aku muridmu. Ajari aku cara bertarung," ujar Farhan dalam bahasa Inggris dengan akses khas Indonesia-nya. Pria itu menatapnya dengan tajam, seperti orang dewasa yang menatap anak 10 tahun.


"Kalau kau bisa mengalahkan tahanan lain di sel yang sama denganmu, aku akan mengajarimu," jawab pria itu tegas.


Farhan mencoba mencerna kalimat itu. Bagaimana caranya mengalahkan tahanan-tahanan yang menakutkan itu. Dia tidak memiliki keahlian apapun. Tetapi karena keinginannya untuk menjadi kuat dan keluar dari penjara itu begitu tinggi, dengan wajah yang meyakinkan dia pun menyanggupi tantangan berbahaya tersebut. Dia hanya berharap dia tidak akan mati, karena dia hanya bermodalkan nekat tanpa pengalaman dan keahlian bertarung apapun.


"Aku berikan waktu dua hari. Dalam dua hari kau harus menjadi bos di selmu sendiri."


Pria itu pun melangkah pergi seraya memakan roti yang tadi tidak sempat dia habiskan itu.


"Nama Anda siapa?" Tanya Farhan dengan formal.


Dia berpikir akan lebih mudah jika nama narapidananya bisa ditaruh di masing-masing baju para tahanan, biar lebih mudah untuk saling memanggil dan tidak perlu repot-repot untuk menanyakan nama. Namun di penjara ini tidak menggunkan sistem yang memungkinkan para tahanan untuk saling memanggil nama, sebab identitas para tahanan di Black Mamba hanya menggunakan nomor tahanan, bukan nama.


Pria itu berhenti dan berbalik. Dalam tradisi di Black Mamba, ada aturan yang tidak tertulis di mana menanyakan nama dianggap sebagai perilaku tercela. Sebab di tempat neraka seperti ini, para tahanan dipaksa untuk mengubur masa lalu dan jati diri mereka. Apapun alasannya, hanya nomor tahanan saja yang boleh digunakan. Namun karena pria itu bukan narapidana biasa, dia tidak terikat dengan aturan yang kekanak-kanakan semacam itu.


"Tyler Johnson," jawab pria kekar itu singkat, dan kembali melangkah meninggalkan kantin yang kacau balau seperti habis diterjang bencana alam itu.