
PELABUHAN yang dikenal sebagai Pelabuhan Pantoloan itu terlihat suram di malam hari, dengan angin yang bertiup kencang dan gelombang laut yang besar menghantam dermaga. Hanya ada beberapa kapal besar yang terikat erat ke tiang dermaga.
Tampak suasana pelabuhan itu kacau dan berantakan, terlihat jejak-jejak pertarungan di sepanjang sisi dermaga. Terlihat bekas darah, pecahan botol, serta kertas-kertas yang tercecer, menjadi saksi bisu pertarungan yang terjadi beberapa waktu lalu.
Di antara deru ombak dan gelapnya malam, ada seorang pria yang berdiri di ujung dermaga, menghadap ke laut. Pria itu memakai kemeja putih ketat sehingga otot tubuhnya tampak menonjol, serta topi fedora hitam yang menutupi wajahnya.
Dia datang ke pelabuhan itu atas perintah bosnya, Galen, karena beberapa minggu yang lalu terjadi penyerangan di dua tempat bisnis mereka sekaligus. Sayangnya semua eksekutif saat itu sedang sibuk dan dua di antaranya berada di luar kota untuk urusan bisnis IGIS. Absennya eksekutif tampaknya dimanfaatkan Iskra untuk menyerang mereka.
Ketika dia menerima kabar tentang penyerangan di pelabuhan dan markas cabang mereka di LCB, satu-satunya kelompok yang dia curigai adalah KELO. Namun, dia tidak menyangka bahwa Iskra akan menyerang mereka, padahal selama ini Iskra termasuk kelompok yang tenang dan selalu menjaga jarak aman dari mereka.
Saat dia nyaris tenggelam dalam lamunannya, seseorang tiba-tiba datang mendekatinya. Orang itu adalah bawahannya yang mengenakan pakaian serba hitam. Dia tampak membawakan selembar kertas di tangan kanannya, "Aku sudah menemukannya, Pak," ujar pria bertuksedo itu sembari memberikan selembar foto kepada pria yang berdiri di ujung dermaga.
Pria yang mengenakan topi fedora itu lalu mengambilnya dan melihat gambar di foto itu. Tampak sebuah gambar di mana pria pirang dengan pakaian yang mencolok sedang duduk di sebuah sofa merah sembari meminum segelas minuman dengan dikelilingi oleh dua orang wanita malam di kanan dan kirinya.
"Apa kalian sudah menemukan di mana lokasi tempat ini?" Tanyanya.
"Sudah, Pak. Diskotik ini tidak jauh dari Pantai Talise."
Untungnya pria bertopi itu cukup akrab dengan hiburan malam di Tadulako. Jika itu memang diskotik, maka itu akan jadi lebih mudah untuknya. Satu-satunya diskotik di dekat Pantai Talise adalah Little Talisse Lodge, pikir pria itu yakin dengan kesimpulannya. Little Talisse Lodge (LTL) memang dikenal sebagai salah satu tempat hiburan malam terbaik di Tadulako, tapi ia satu-satunya diskotik yang berlokasi strategis di dekat pantai.
Dia heran mengapa pria yang tampak berusia pertengahan 20 tahun itu terlibat dengan kelompok mafia Iskra. Apa belakangan ini Iskra sedang mempekerjakan anak-anak yang pintar bersolek? Di sisi lain, dia tidak menyangka pria cantik dalam gambar itu bisa mengalahkan puluhan pasukan mereka. Jarang menemukan pria cantik yang bisa bertarung, pikirnya.
Pria itu pun berbalik. Di belakangnya puluhan gangster sudah berbaris membentuk dua barisan yang berjejer rapi lalu menciptakan sebuah jalan untuk dia lewati.
"Ayo," ujar pria itu, dan mulai melakukan perburuannya menuju LTL.
...***...
Di tengah-tengah ribuan orang yang bergerak di sekitar jalan-jalan yang sibuk, terdapat sebuah tempat yang dikenal sebagai Larkworthy Central Business yang merupakan area bisnis yang terletak di jantung kota Tadulako.
Pada malam hari, Larkworthy Central Business atau yang biasa disingkat LCB ini menjadi sebuah kota yang sangat hidup dan enerjik. Cahaya lampu neon yang berkelap-kelip di gedung-gedung pencakar langit dan billboard-billboard raksasanya, menciptakan bayangan dan refleksi cahaya yang mempesona di atas permukaan aspal dan beton yang padat.
Di sekitar jalanan, terdapat musik dan suara bising kendaraan yang berlalu lalang. Suara gemerincing klakson dan desisan rem mobil dan truk yang melintas, menciptakan keramaian dan kebisingan yang khas di area ini.
Namun, di balik gemerlap dan kehidupan malam yang meriah ini, ada kekuatan yang beroperasi di balik layar. Ada tempat-tempat tersembunyi dan jalur-jalur rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang: sebuah terowongan yang terletak di bawah jalanan kota.
Seorang pria besar yang mengenakan baju pantai yang penuh warna dan gambar itu tengah berdiri di tepi terowongan, memeriksa sekelilingnya dengan teliti sambil memegang belati di tangan kanannya. Wajahnya yang dingin dan tegas menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang bisa dianggap remeh.
Di sekitar, beberapa anak buahnya mengamati dengan waspada, siap siaga untuk menghadapi bahaya apa pun yang mungkin muncul. Terowongan itu tampaknya cukup besar dan dalam, dengan dinding bata yang kasar dan gelap.
Pria itu berjalan perlahan-lahan ke dalam terowongan. Langkahnya terdengar menggetar di dinding-dinding bata, dan suaranya menggema di seluruh ruangan yang sepi.
Ketika dia berjalan lebih jauh, dia melihat sebuah pintu yang terkunci di salah satu sisi terowongan. Dengan sigap, dia mengambil kunci di saku bajunya dan membuka pintu tersebut. Setelah melewati pintu, dia menemukan sebuah ruangan rahasia yang penuh dengan barang-barang berharga seperti perhiasan dan uang tunai.
"Di sini aman," pria itu tersenyum puas, "Sepertinya mereka tidak menemukan tempat ini." Gumamnya. Dia lalu menyuruh anak buahnya untuk mengamankan semua barang-barang yang ada di ruagan tersebut dan memindahkannya.
Pria berbaju pantai itu lalu melihat ke langit-langit terowongan, "Berarti hanya tinggal satu masalah yang tersisa. Membunuh bajingan yang berani membakar markas cabang kita!"
...***...
Beberapa kilometer di sebelah Utara, Galen, bos IGIS, sedang memegang segelas anggur merah di tangan kirinya yang diletakkan dengan santai di atas meja yang terbuat dari kayu eboni dengan lapisan emas di tiap sisinya. Tangan kanannya dilipat di atas pangkuannya, menunjukkan sikap yang tenang dan percaya diri.
Dia memandang ke luar jendela yang mengarah langsung ke lampu-lampu kota dari dataran tinggi dengan tatapan kosong, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu yang mendalam.
Rokok terbakar dalam asbak di dekatnya, dan asapnya bergulung-gulung di udara, menambah suasana misterius di ruangan tersebut. Sementara itu, pelayan wanitanya yang setia dan berpenampilan profesional tiba-tiba masuk ke ruangan menyuguhkan makanan ringan di atas nampan perak yang diposisikan di depan bos mafia paling berpengaruh itu.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Galen tiba-tiba dengan suara serak yang khas.
"Dua eksekutif, Anca De Luca dan Enzo, sudah bergerak, Bos," jawab pelayan itu lembut.
Mendengar itu Galen hanya mengangguk namun tanpa menunjukkan ekspresi apapun seolah ada sesuatu yang mengganggunya. Seolah itu belum memuaskan dirinya.
Di sisi lain, pelayannya tahu bahwa bosnya adalah sosok yang jarang menunjukkan ekspresinya, meskipun ada saat-saat tertentu dia menampilkannya seperti jika ada sesuatu yang berhubungan dengan bisnisnya. Tetapi belakangan ini entah mengapa suasana hati Galen terlihat buruk.
Dia ingin menanyakan apa yang mengganggunya dan kalau bisa membantunya menyelesaikannya, tetapi Galen tampaknya tak ingin menerima uluran tangan siapapun untuk saat ini, dan ingin menimbun masalahnya sendiri bahkan dari orang-orangnya yang paling setia.