The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 11: TAWARAN PUN DITERIMA!



RUANG pribadi Pak Herman adalah tempat di mana dia biasa mengerjakan berbagai pekerjaan yang berkenaan dengan bisnis perusahaannya.


Tak jauh berbeda dari kelompok mafia di distrik lain, Iskra Company, sebagai mafia yang menguasai Distrik Timur Tadulako, pun punya bisnis mereka sendiri. Di antara bisnis yang mereka jalankan adalah bisnis properti, media, perhotelan, dan transportasi (bandara dan pelabuhan). Bahkan Iskra juga memiliki saham di tempat lain seperti bank, kasino, pasar, restoran, dan bisnis besar lainnya di dalam dan di luar negeri.


Ruang kerja yang berada di sisi barat gedung ITC ini diapit oleh sebuah meja kerja besar, sebuah kursi kerja, satu kursi hadap, dan sebuah almari panjang untuk menyimpan berbagai benda seni dan manuskrip bersejarah. Selain itu, gaya arsitektur Palladio tampak kental di ruangan yang memiliki luas 70 meter persegi ini.


Di bagian belakang meja kerjanya, terdapat jendela yang berhadapan langsung dengan gedung-gedung megah lain. Jendela yang berukuran 800 x 100 cm ini membuat akses cahaya matahari dan udara mudah masuk sehingga ruangan itu tidak terkesan sumpek, sekaligus membuatnya terlihat lebih cerah dan lapang. Sangat cocok bagi seorang yang sibuk seperti dirinya yang nyaris separuh hidupnya dihabiskan di dalam ruangan.


Hari yang ditunggu pun tiba. Farhan datang untuk memberikan jawabannya atas tawaran yang Pak Herman berikan tempo hari.


"Jadi kau sudah memutuskan mau kerja di sini atau tidak?" Tanya Pak Herman yang tengah duduk di kursi kerjanya.


"Iya, Pak, aku mau bekerja di sini. Setidaknya sampai aku bisa namuin nenekku lagi," jawab Farhan.


"Bagus, keputusan yang tepat!" Pak Herman lalu mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon seseorang, "Sebaiknya kau bersiap-siap."


Farhan tahu apa maksudnya. Karena dia sudah masuk dalam bagian rencana Pak Herman untuk memburu sekelompok pembunuh, maka mau tidak mau dia harus menjadi kuat agar cukup untuk menjadi ancaman bagi Pemburu. Namun sayangnya Farhan tidak menyadari bahwa dia bukan hanya akan bekerja di bawah seseorang yang dikenal sebagai pebisnis yang sukses, tetapi juga di bawah sebuah kelompok mafia terorganisir.


Di meja kerjanya, tampak Pak Herman yang masih sedang bercakap-cakap dengan seseorang dalam bahasa yang sama sekali tidak dia mengerti.


Apa itu bahasa Rusia?


Dia tidak tahu apa yang sedang Pak Herman bicarakan dengan pria di ujung telepon itu. Tapi kelihatannya mereka tengah membicarakan dirinya karena sesekali Pak Herman menyebut namanya lalu diikuti oleh anggukan yang dituju kepada pria di dalam telepon itu.


Mendengar betapa fasihnya pria paruh baya, yang akan menjadi atasannya, itu berbahasa Rusia, jelas bahwa Pak Herman dahulu pernah menetap di negara bekas Soviet itu untuk beberapa waktu. Sebab menurutnya tidak mudah untuk belajar bahasa tersebut kecuali orang itu datang dan mencelupkan dirinya langsung ke negara asli penuturnya. Alfabet cyrillic, kata konsonan, ejaan, dan pengucapan yang jauh berbeda dari bahasa-bahasa lain menjadikan bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Slavia Timur itu sangat rumit; setidaknya lebih sulit daripada bahasa Inggris.


Farhan sangat kagum dengan pria itu. Karena dia bukan hanya pecinta seni dan pebisnis handal tetapi juga fasih berbahasa asing. Dia teringat sebuah kutipan yang berkata bahwa bahasa adalah gerbang ilmu pengetahuan. Sebab dengan menguasasi bahasa, akses seseorang untuk mempelajari berbagai pengetahuan pun akan lebih mudah.


Selama ini Farhan berpikir, karena terus disibukkan oleh bisnisnya maka Pak Herman takkan punya waktu untuk mengerjakan hal-hal lain yang diminatinya, ternyata dia salah.


Tak lama kemudian Pak Herman pun menyelesaikan percakapannya dan menutup teleponnya.


"Karena kau sudah menjadi bawahanku, aku akan memberikanmu waktu sepuluh hari untuk melakukan apapun yang kau mau," ujar Pak Herman dengan nada yang jauh berbeda dari sebelumnya.


"Sepuluh hari?"


"Ya. Setelah sepuluh hari, kau akan dikirim ke Rusia dan dilatih di sana sebagai ujung tombak rencana Iskra."


Farhan butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja dia dengar. Dia tahu bahwa dia mungkin akan dilatih untuk menjadi kuat, tetapi dia tidak menyangka pelatihan tersebut akan dilakukan di Rusia.


Apa itu sejenis Dojo?


"Ingat, kau tidak punya pilihan lain selain setuju dan mengikuti semua yang 'kusuruh. Aku sekarang atasanmu."


Bukan hanya nada bicara, tatapan dan auranya pun berubah. Di mana Pak Herman sepuluh menit yang lalu?


"Aku juga mau mengabarkan kalau empat hari lagi akan ada pertemuan khusus. Datang dan berkenalan lah dengan yang lain."


Yang lain?


...***...


Stremyaschiysya, Rusia


Tempat yang tak begitu terang bercahayakan lampu oranye dan beberapa spot light yang mengarah ke arah dua orang pria yang saling membalas pukulan secara brutal tampak sangat ramai - dipenuhi oleh penonton yang bersorak memberikan dukungan kepada petarung favorit mereka.


Tampak tidak ada wasit di tengah ring yang dikelilingi oleh pagar berduri itu. Yang ada hanya lah darah dan keringat para petarung yang membasahi lantai.


Ring tarung bebas yang dikenal sebagai Stremyaschiysya ini terletak di area bawah tanah Perun Group - perusahaan yang berpusat di jantung kota Volgograd, Rusia.


Seperti MMA, Stremyaschiysya membolehkan berbagai jenis teknik pertarungan, seperti pergumulan, tendangan, dan pukulan. Tidak ada aturan apalagi wasit. Sebab pertarungan hanya akan berhenti tergantung dari dua kondisi petarungnya: mati atau menyerah.


Di koridor bagian atas yang mengelilingi ring tersebut ada tempat khusus bagi para VIP termasuk pemilik Perun Group agar mereka dapat menyaksikan pertarungan brutal itu lebih jelas.


Banyak bos-bos perusahaan bahkan mafia Rusia yang ikut menyaksikan pertarungan tersebut untuk mencari kandidat yang cocok dengan mereka. Biasanya jika ada petarung yang disukai oleh para VIP, mereka akan menandatangani sebuah kontrak dengan Perun Group untuk membeli petarung tersebut senilai dengan kualitasnya. Inilah sistem perbudakan yang dijalankan di dunia bawah.


Di antara para VIP tersebut, seorang wanita pirang yang mengenakan cardigan hitam yang dipadukan dengan rok bodycon dan hells baru saja menutup teleponnya. Wanita Rusia itu dijaga oleh seorang pengawal pribadinya yang berperawakan kekar dan tampak berusia sekitar 40an tahun. Dengan kemeja putih tipis dan ketat yang dikenakan pria tersebut, meskipun mereka berada di area yang temaram, otot dada dan bicepnya masih bisa terlihat jelas.


Wanita yang berparas cantik ala Rusia itu lalu menghisap rokoknya sembari memandang ke arah lampu-lampu sorot di atas mereka, seolah pertandingan yang tengah berlangsung tidak lagi menarik untuknya.


"Ada masalah?" Tanya pengawalnya dengan suara berat dalam Bahasa Rusia.


"Dia menelepon," jawab wanita itu sambil menurunkan kaki jenjangnya yang dia silangkan.


"Dia?"


"Ded Vasya."


Mata pengawal bernama Aramazd itu langsung melebar. Sudah berapa lama dia tidak mendengar nama itu lagi. Tak ada yang tidak mengenal nama itu di ring Stremyaschiysya atau paling tidak di seluruh Volgograd.


"Dia bilang apa?"


"Dia akan mengirimkan seorang calon lain."


...----------------...


Catatan: Ded Vasya, adalah julukan atau gelar di dunia mafia Rusia yang berarti "kakeknya bos" atau "kakeknya raja".