The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 27: PEMBALASAN IGIS 2



Gi berlari terhuyung-terhuyung dengan nafas yang tersengal-sengal melewati koridor gedung ITC. Wajahnya menunjukkan kepanikan karena berlari sembari menggenggam pundaknya yang terus menyucurkan darah tiap kali dia mengambil langkah hingga koridor yang berlantaikan marmer putih itu pun kini memiliki bercak-bercak darah yang membentuk sebuah jejak di sepanjang jalan yang dia lewati.


Dia tidak menyangka bahwa salah satu dari tiga eksekutif IGIS akan mendatanginya. Dia bertarung dengan seorang pria yang mengenakan baju pantai, namun dia menyadari bahwa jurang kekuatan mereka sangat jauh. Dia tidak tahu jika eksekutif IGIS akan sekuat itu. Tetapi untungnya dia berhasil lolos dan menyelamatkan dirinya.


Selang beberapa menit kemudian, Gi akhirnya sampai di sebuah ruangan yang terletak di ujung koridor. Pintu itu terbuat dari bahan stainless steel yang sangat tebal dengan detail yang rumit dan indah. Pada bagian atas pintu, terdapat logo perusahaan yang dilapisi emas murni yang berkilauan.


Dua buah tiang yang terbuat dari marmer hitam yang mengesankan tampak menopang pintu masuk itu. Di sana juga terdapat sensor gerak yang tersembunyi, sehingga saat seseorang mendekat, pintu masuk akan terbuka secara otomatis.


Di balik pintu masuk, terdapat sebuah ruangan besar dengan langit-langit yang tinggi dan ornamen yang indah. Ruangan ini dilengkapi dengan furnitur mewah seperti kursi kulit dan meja yang terbuat dari kayu eboni yang sangat mahal. Di satu sisi ruangan, terdapat jendela-jendela besar yang memungkinkan udara segar dan sinar matahari masuk. Sementara di sisi lainnya terdapat pintu masuk ke ruangan kerja CEO Iskra Company, Pak Herman.


Gi pun membuka pintu ke ruang kerja Pak Herman dengan terburu-buru. Namun tidak ada siapa-siapa di ruangan itu.


Apa CEO udah pulang? Tanyanya dalam hati. Dia melihat arlojinya. Sekarang sudah pukul 12:30 malam.


Meskipun dia tahu sekarang sudah sangat larut, tetapi biasanya CEO tetap berada di ruang kerjanya karena sering lembur. Ruang kerja ini sudah seperti kamar pribadinya. Jadi tidak biasa jika beliau pulang lebih awal.


Dia tidak tahu bagaimana harus menghubungi Pak Herman, karena dia lupa membawa ponselnya.


Dia lalu menggunakan telepon kabel yang berada di atas meja kerjanya untuk menghubungi nomor pribadi CEO Iskra itu. Kebetulan dia menghafalnya. Namun ketika dia baru masuk ke ruang kerja Pak Herman, tiba-tiba....


"Gi?"


Itu Pak Herman. Namun ada apa dengan wajah yang penuh dengan bercak darah itu.


"Pak, aku mencarimu!"


Pak Herman melihat ke area pundak bawahannya yang terluka itu.


"Ada apa?"


"Salah satu eksekutif IGIS menyerang!" Jawab Gi sambil menahan rasa sakit.


Pak Herman bisa memastikan bahwa luka di pundak salah satu anggota Mata Tombak itu sangat parah. Tetapi dia tidak perlu khawatir, sebab para Mata Tombak adalah anak-anak terbaik dan terkuat yang dia pilih. Luka semacam itu akan segera sembuh.


"Hum, berarti orang-orang yang 'ku kalahkan tadi hanya bawahannya," ujar Pak Herman sembari menaruh jarinya di dagu.


CEO juga diserang?


"Jadi kita harus gimana, Pak?"


"Kau obati dulu lukamu dan istrahat. Besok datang lah ke ruang pertemuan. Aku akan memanggil para eksekutif," jawab Pak Herman.


"Bagaimana dengan anggota Mata Tombak yang lain?"


"Tidak perlu. Tugas Mata Tombak bukan untuk mengurus hal-hal seperti ini. Kami hanya akan mendengarkan penjelasanmu nanti."


Gi mengangguk. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengikuti apa diperintahkan. Ditambah lagi dia sadar kemampuannya tidak akan begitu membantu dalam situasi ini, sekalipun dia ingin. Ada rasa kesal dan kecewa yang bercampur muncul di hatinya. Dia pun pergi.


...***...


Keesokan harinya.


Dia menuju ke ruang pertemuan yang dihiasi dengan furnitur mewah seperti meja konferensi besar dengan permukaan kaca yang mengkilap, kursi kulit empuk, dan lampu gantung kristal yang indah. Di sekeliling ruangan, terdapat karya seni yang menarik perhatian, seperti lukisan-lukisan besar yang terpampang di dinding, patung-patung klasik, dan bunga-bunga segar yang diletakkan di vas besar.


Ruangan itu sudah diisi oleh Pak Herman dan para eksekutifnya: Dilman, Cristian Warobay, dan Arthur Cunha. Meskipun ruang kosong masih cukup banyak karena luasnya ruangan itu, namun entah mengapa atmosfer di dalamnya terasa sangat sesak seolah ada dua kelompok yang saling bertikai memenuhi ruangan tersebut.


Gi pun mengambil tempat duduknya yang berada di seberang Pak Herman.


"Karena semuanya sudah di sini, mari kita mulai," ujar Pak Herman sembari menatap ketiga eksekutifnya dan juga Gi yang merupakan satu-satunya anggota Mata Tombak di tempat itu.


"Gi, jelaskan tentang penyerangan tadi malam."


Tanpa berbasa-basi, Gi langsung menceritakan apa yang terjadi malam itu.


Saat itu dia tengah berjalan di sebuah gang, namun tiba-tiba seorang berpakaian pantai dan berambut cepak datang menghalangi jalannya. Pria itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, setelah itu dia langsung menyerang Gi dengan belati lipatnya.


Awalnya Gi bisa menyeimbangi dan menangkis semua serangan pria itu, tetapi performanya tiba-tiba menurun ketika belati pria itu menyambar lehernya dan menimbulkan luka gores kecil di sana. Untuk sesaat, Gi merasakan tubuhnya sangat kaku, namun tanpa punya waktu untuk mencari alasannya, pundaknya sudah ditusuk oleh belatinya.


Gi tahu jika dia tetap meneruskan pertarungan, dia akan mati di gang itu. Pria asing itu lalu mengatakan sesuatu padanya bahwa dia adalah eksekutif IGIS dan ingin membalas serangan Iskra terhadap markas mereka malam itu.


Seluruh ruangan menjadi senyap beberapa saat.


"Rambut cepak? Apa itu Enzo?" Tanya salah satu eksekutif, Arthur Cunha.


Pak Farhan dan dua eksekutif Iskra lainnya mengangguk setuju. Sebagai organisasi yang menguasai salah satu distrik di Tadulako, mengenal musuh adalah salah satu pekerjaan mereka. Meskipun mereka jarang bersitegang dengan kelompok lain termasuk IGIS, tetapi mereka cukup mengenal beberapa petinggi-petinggi IGIS, termasuk para eksekutifnya.


Ketika mereka masih sibuk membicarakan penyerangan tersebut dan mempertimbangkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba seorang wanita yang mengenakan mini dress masuk dan menggemparkan seisi ruang pertemuan itu.


"Pak, LTL diserang! Dan Rey menghilang!" Ucap Dei, salah satu anggota Mata Tombak, dengan ekspresi panik.


Wajah Pak Herman menegang mendengar kabar yang datang tiba-tiba itu, begitu juga dengan yang lain.


"Siapa yang melakukannya?" Tanya Dilman.


"Salah satu eksekutif IGIS, Anca De Luca!"


Itu membuat semua orang di ruangan itu cukup terkejut. Sebab tak ada yang tidak mengenal nama itu. Dia adalah eksekutif terkuat dan mantan penguasa Distrik Utara sebelum Galen muncul dan mengalahkannya 20 tahun yang lalu.


"Aku tidak tahu kalau orang sombong seperti dia akan turun langsung. Aku pikir dia di kampung halamannya," ujar Warobay.


Pak Herman menghela nafas, situasi sudah semakin buruk dan percikan api sudah mulai terbakar di antara kedua kelompok. Tapi bagi Herman IGIS sudah melangkah terlalu jauh sampai menculik salah satu anak didiknya.


"Ketua, sepertinya tidak ada cara lain," ujar Warobay sembari memperbaiki bleazer putihnya, "Mereka terang-terangan menyerang markas kita dan menculik salah satu orang kita."


Gi, Dea, dan dua eksekutif lain hanya diam menunggu respon dan keputusan Herman. Namun mereka sudah tahu ke arah mana situasi ini akan pergi: perang tidak dapat dihindari!


Sebagai salah satu kelompok penguasa, adalah buruk bagi citra Iskra jika Iskra membiarkan tindakan semena-mena IGIS di wilayah mereka. Bisa-bisa kelompok lain akan meremehkan mereka dan supremasi Iskra di Distrik Timur akan dipertanyakan. Itu tentu sangat buruk.


"Persiapkan diri kalian dan pasukan kita, besok malam kita akan menyerang King's Palace!" Ujar Herman dengan nada dingin.


Semua orang tampak setuju. Itu keputusan yang realistis!