The Revenge Of Mafia

The Revenge Of Mafia
BAB 37: SERANGAN TAK TERDUGA 2



DI DEPAN King's Palace, ratusan mafia berkumpul di dalam kegelapan malam. Halaman depan King's Palace sangat kacau. Sisa-sisa pertarungan seperti senjata tajam dan peluru senapan banyak bertebaran sejauh mata memandang. Untungnya kekacauan itu tidak sampai menghilangkan kemegahan istana tanpa raja itu.


Segerombolan mafia itu tampak mengenakan jas hitam yang rapi, dengan wajah yang penuh tekad dan tangan yang siap untuk bertindak. Lampu-lampu jalan yang redup memantulkan cahaya samar-samar pada senjata-senjata mereka yang berkilau, memberikan kesan yang menakutkan.


Seorang pria yang berada di paling depan, yang terlihat sebagai pemimpin operasi, berbicara dengan suara rendah, mengatur strategi serangan. "Kita akan menyusup ke dalam. Menurut informasi, sebagian besar anggota Iskra tidak lagi berada di sini."


"Apa yang akan kita lakukan di dalam istana itu, Pak?" Tanya salah satu dari bawahan yang mengikutinya.


"Kita diperintahkan untuk mengambil sisa-sisa harta Galen yang masih tersimpan di sana."


"Bagaimana dengan para eksekutifnya?" Tanyanya dengan suara yang sedikit menunjukkan kekhawatiran.


"Kau lihat mansion itu? Itu benar-benar kosong sekarang! Pemimpin mereka ditangkap. Pasti eksekutifnya juga ikut tertangkap."


Cahaya optimisme kembali tergambar di wajah bawahannya. Mereka pun mulai melakukan penyusupan. Meskipun mereka percaya bahwa King's Palace saat ini tak lagi berpenghuni, namun sikap profesional mereka sebagai mafia tetap mendorong mereka untuk bersikap hati-hati terhadap segala kemungkinan yang mungkin bisa terjadi.


Beberapa anggota mafia yang lain mulai sibuk memeriksa senjata mereka, menggantikan amunisi dan memastikan semuanya siap untuk serangan. Mereka berbicara dengan isyarat mata, mengecek posisi masing-masing sebelum akhirnya bergerak maju, melintasi halaman mansion yang luas. Langkah mereka cepat, senjata mereka siap untuk menembakkan peluru.


Tiba-tiba beberapa anggota IGIS yang berjaga di sekitar King's Palace muncul. Mereka langsung menyiapkan pistol dan senjata mesin mereka masing-masing. "PENYUSUP! TEMBAK MATI BAJINGAN-BAJINGAN ITU!"


Suara tembakan akhirnya pecah di udara, menghancurkan kedamaian malam. Meskipun mereka sudah menggunakan senjata api untuk menghalangi para penyusup itu, namun serangan penyusup berjas tersebut begitu terkoordinasi dan terencana. Belum lagi jumlah mereka yang mencapai ratusan membuat mereka yang menjaga kediaman utama Galen tersebut kewalahan.


Di tengah kekacauan itu, para mafia penyusup tersebut akhirnya berhasil membunuh sisa-sisa anggota IGIS yang berjaga. Mereka lalu merangsek masuk ke dalam King's Palace, memecahkan pintu dan melibas koridor-koridor yang mewah. Seperti di luar, keributan di dalam mansion juga tak terhindarkan. Ternyata masih banyak anggota IGIS yang berjaga.


Namun tampaknya itu tidak memberi dampak apapun pada mereka, karena mereka sudah sangat terlatih untuk melakukan tugas penyusupan dan penyerangan seperti ini.


Mereka menghadapi hambatan dan pertempuran sengit dengan para gangster IGIS yang berusaha mempertahankan properti bos mereka yang ingin dicuri. Tetapi, sayangnya mafia berjas itu terlalu kuat dan tak kenal ampun. Suara tembakan senjata mesin terus menggelegar di seluruh area mansion. Bau mesiu dan darah bisa tercium dengan jelas.


"Bos, kita akan ke arah mana? Tempat ini terlalu luas," tanya salah satu bawahan sembari mengendap-ngendap di antara koridor mewah itu. Mereka pun melihat ujung koridor yang terbagi menjadi dua: sebelah kiri dan kanan.


"Kita akan membagi tim. Lima puluh orang di sebelah kanan, dan tujuh puluh lainnya ambil koridor kiri. Aku akan memimpin yang sebelah kanan," ujar pria yang menjadi pemimpin penyusupan tersebut. "Masuki setiap ruangan dan ambil semua benda-benda yang berharga! Bunuh siapapun yang kalian temui."


Mereka pun pergi berdasarkan posisi yang sudah ditentukan. Regu yang berada di koridor kanan pun menyisiri koridor yang gelap itu. Mereka masih menememukan beberapa anggota IGIS yang tersisa. Namun tidak sulit bagi mereka untuk membunuh bawahan Galen itu.


Seketika, pemimpin regu melihat sesuatu yang membuatnya terpana. Di hadapannya, ada pintu besi yang mencurigakan. Sepertinya mereka berusaha menjaga tempat ini, pikirnya. Senyum tergambar di wajahnya. Dengan cepat, dia dan 50 anggota lainnya pun berusaha membuka pintu tersebut.


Namun sayangnya pintu itu terkunci. Ketua regu lalu melihat lubang pintunya. "Ini tidak akan mudah," gumamnya. Dia lalu memerintahkan anggota lainnya untuk mundur beberapa langkah. Dia kemudian mengambil sebuah granat dan langsung menarik pinnya. Tanpa aba-aba, dia menggantung granat tersebut di ujung gagang pintu logam itu. Hanya berselang beberapa detik saja, granat itu pun meledak.


Duaarrrrrr.......


Suara ledakan tersebut terdengar sangat keras - memekakkan telinga, menghasilkan suara gemuruh yang terdengar seperti guruh petir yang mengguntur. Api berkobar dengan ganasnya, merambat cepat dan membara. Serpihan-serpihan logam, debu, dan asap hitam pun terlempar ke udara, membuat pandangan mereka menjadi kabur.


Pemimpin regu lalu memberikan aba-aba untuk segera masuk ke ruangan rahasia itu seolah ledakan granat tadi tidak begitu mengganggu mereka.


Ketika mereka masuk ke dalam ruangan rahasia itu, yang mereka temukan bukanlah harta atau benda berharga sesuai dengan harapan mereka. Sebaliknya, yang mereka lihat adalah seorang pria muda berambut pirang yang hanya mengenakan ****** ***** dengan tubuh berotot yang dipenuhi luka. Tampak rambut pria itu acak-acakan dengan tangan yang masih terborgol.


"Huh, kirain siapa. Kalian mengganggu tidurku," ujar Rey dengan suara seperti orang yang mabuk. Namun begitu tatapannya sangat tajam. "Tapi makasih karena udah ngebuka pintu sialan itu, hehe..."


Para penyusup tersebut tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Siapa bajingan ini?" Tampak mereka mulai bersiap-siap untuk menarik pelatuk senjata api mereka.


"TEMBAK!" Teriak pemimpin regu.


Ketika mereka mulai menarik pelatuknya, tiba-tiba suara deru khas motor sport yang mendekat terdengar. Hanya dalam waktu beberapa detik saja, motor itu pun muncul dari pintu masuk di belakang mereka - melayang - dan menyambar mereka semua. Tampak si pengendara motor yang mengenakan jaket kulit hitam dan helm sport memegang senapan otomatis berjenis SMG di tangan kirinya. Dan tanpa memberikan jeda langsung menembaki para penyusup yang masih terkejut dengan kedatangan yang tiba-tiba itu.


Wuuuzzzzzzz.......


Asap tebal langsung mengisi ruangan dengan cepat, menciptakan kabut misterius yang menghalangi pandangan. Cahaya redup di dalam ruangan menjadi semakin suram, dan suara bising yang sebelumnya menggema di dinding pun menjadi redup.


Bau asap yang tajam dan pahit mengisi hidung, membuat pernafasan menjadi berat. Ruangan yang sebelumnya diterangi oleh cahaya terang kini menjadi hampir sepenuhnya gelap. Hanya cahaya samar-samar yang berhasil merayap melalui asap, menciptakan bayangan bayangan mengerikan di dinding-dinding ruangan.


Seluruh mafia tersebut masih tampak kebingungan mulai mencari jalan keluar. "SIAL! CARI JALAN KELUARNYA!" Teriak pemimpin regu marah.


Tangan-tangan panik tampak meraba-raba di udara, mencoba mencari jalan keluar, tetapi terhalang oleh kabut yang pekat. Langkah-langkah terdengar bertelekan, suara-suara orang yang menghela nafas terengah-engah ketika mereka berusaha menghindari rintangan yang tidak terlihat di hadapan mereka. Sementara itu, asap terus menyelimuti ruangan, menyebabkan mata mereka semakin pedih dan sulit untuk berkonsentrasi.


Tiba-tiba suara deru mesin motor terdengar tak begitu jauh dari mereka, diikuti oleh penampakan sebuah siluet yang menaiki motor tersebut seiring dengan asap yang mulai menipis. Mereka yang merasa bahwa itu adalah kesempatan untuk membunuh pria bermotor itu, langsung menarik pelatuk mereka tanpa ragu. Api mesiu pun menyala di ujung senjata mereka, menembakkan ratusan peluru terus menerus tanpa henti. Ruangan itu sekali lagi menggema memantulkan suara yang memekakkan telinga yang berasal dari senapan otomatis.


"MATILAH KAU, BAJINGAAAAAANNNNNN!" Teriak mereka.


Asap tebal pun perlahan lenyap dan mulai menyatu dengan udara sekitar. Mayat siluet misterius itu pun menampakkan diri dengan darah dan lubang peluru di sekujur tubuhnya.


"KETUAAA!"


Ternyata sosok siluet yang mereka serbu dengan ratusan peluru mereka itu bukanlah si pengendara motor, tetapi pemimpin regu mereka.


...***...


Di kedalaman hutan di belakang King's Palace Rey tampak dibopong oleh si pengendara, tertatih-tatih menjauhi King's Palace secepat yang mereka bisa.


"Ugh, kenapa kau lama sekali," ujar Rey dengan nada kesal, diikuti oleh si pengendara motor yang perlahan melepaskan helm yang dikenakannya, "Mikhail!"


Tampak seorang pria muda tampan berwajah oval dengan sorot mata tajam. Rambut cokelat gelapnya ditiup angin malam yang sepoi-sepoi, menyebabkan rambutnya bergoyang-goyang secara dramatis saat dia bergerak maju sembari membopong Rey. Wajahnya yang tampan terlihat tegap, dengan mata cokelat tajam yang penuh dengan tekad dan kecerdasan.


"Maaf, senior, ada banyak hal yang terjadi kemarin," ujar Mikhail yang kemudian membuang helm sport-nya begitu saja di hutan itu. "Tapi, daripada itu, kita harus cepat menjauh dari King's Palace."


"Kenapa?" Tanya Rey yang masih dibopong. Kelihatannya kaki kirinya patah.


Mikhail melihat arlojinya. "Sepuluh detik lagi, itu akan meledak."


Benar saja, sepuluh detik kemudian tiba-tiba, sebuah cahaya besar yang menyilaukan muncul di sekitar mansion itu.


Duaaarr......


Ledakan dahsyat mengguncang tanah, dan seolah merobek malam yang tenang. Cahaya merah jingga dari api yang berkobar terpancar dalam gelapnya malam, menciptakan gambaran yang kontras dan menyeramkan. Asap hitam pekat langsung menghantui ruang udara, dan melingkupi mansion yang beberapa menit yang lalu begitu megah itu.


Api merah membesar dengan cepat, menjilat-jilat bangunannya dan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Suaranya menggelegar, menyebabkan getaran yang bisa terasa di seluruh area sekitarnya.


Kehancuran King's Palace menjadi pemandangan yang mempesona dan menakutkan secara bersamaan. Reruntuhan bangunan terpental ke segala arah, menghancurkan dinding-dinding dan langit-langit yang ada. Pecahan kaca dan batu-batu berterbangan, menciptakan adegan yang sangat dramatis.


"Huah! Apa itu perbuatan CEO?" Tanya Rey terkesima melihat kobaran api yang besar itu seolah sedang melihat sebuah pertunjukan kembang api.


"Aku juga ngga tahu," jawab Mikhail yang juga melihat ke arah ledakan. "Aku hanya mendapatkan informasinya secara kebetulan dari orang yang aku ngga kenal."


"Hah!?"