
Setelah Viska membuka jalan untukku, aku segera berlari masuk kedalam Kastil untuk mencari keberadaan Liliana yang sedang diculik oleh Goro, didalam kastil terdapat banyak sekali lorong-lorong yang memiliki banyak persimpangan dan membuatku kebingungan bukan kepalang. Disamping itu juga terdapat beberapa prajurit Elf yang berpatroli kesana kesini.
"Sialan, sebenarnya dimana lokasi Liliana berada?!" Gumamku
Sambil mengendap-endap diantara prajurit Elf dengan menggunakan skill Stealth milikku. Tentu saja tidak ada yang menyadari keberadaanku yang transparan ini, aku jadi lebih mudah untuk membunuh mereka semua diam-diam.
Jleb!!
"Ugh!!"
Dengan satu tusukan God Sword di leher, beberapa prajurit Elf tersebut langsung mati. Aku berlari menelusuri lorong-lorong dan membunuh setiap prajurit yang kutemui. Tidak lupa juga aku membuka setiap pintu yang kutemui untuk mencari keberadaan Liliana, tetapi hasilnya Nihil. Hingga skill Stealth milikku sudah mencapai batasnya dan tubuhku kini sudah tidak lagi transparan.
"Sepertinya tidak ada di lantai satu, kalau begitu akan kuperiksa ke lantai dua"
Dengan segera aku naik ke Lantai dua Kastil ini, beberapa kali aku bertemu dengan peajurit Elf yang menghalangi, tetapi aku berhasil membunuhnya dengan mudah. Akibat dari teriakan prajurit yang kubunuh sangat keras, beberapa prajurit lain mulai berdatangan dari segala arah untuk mengejarku. dan sialnya lagi, saat ini skill stealth milikku sedang dalam kondisi tidak dapat digunakan.
"Tangkap penyusup itu, jangan biarkan dia lolos atau Tuan Goro tidak akan memaafkan kita semua"
Sekitar belasan, Tidak. Tetapi puluhan prajurit Elf mengejarku dari belakang, aku hanya bisa terus berlari dan beberapa kali berbelok untuk mengecoh mereka semua. Selang beberapa kali berbelok dan berbelok, akhirnya prajurit tadi sudah tidak mengejarku, sepertinya mereka semua sudah kehilangan jejak setelah aku mengecoh mereka semua.
______________><______________
"Kau akan segera menjadi milikku Putri Liliana ... hehehe"
Sekarang Liliana berada di dalam salah satu kamar yang ada di kastil ini bersama dengan Goro. Dia diikat dikasur dan tidak dapat bergera maupun berbicara karena mulutnya telah disekap dengan kain.
Pakainnya juga sudah sedikit sobek, menandakan bahwa dia sudah mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari Goro.
Hingga ada seorang prajuritnya yang mendobrak pintu kamar dan berkata!!
"Tuan Goro ada penyusup yang masuk!!"
Mendengar hal itu dari prajuritnya Goro menghentikan niatnya untuk menyentuh Liliana. Dia mengerutkan dahinya dan bertanya kepada prajurit itu tentang siapa pelaku yang berani-beraninya menyerang markas rahasia miliknya ini.
"Sepertinya dia orang yang sama yang sudah memukulmu sebelumnya Tuan, terlebih lagi dia bersama seorang iblis dan membantai habis seluruh prajurit kita" ucapnya histeris.
"A-apa,, bagaimana bisa dia menemukan tempat kita sembunyi?!"
Prajurit itu hanya menggelengkan kepalanya untuk menandakan bahwa dirinya juga tidak tahu apa-apa mengenai pemuda yang bersama dengan iblis itu.
Urat-urat syaraf mulai muncul di kening Goro. Dia mengambil pedang yang terletak tidak jauh disana dan kemudian mengunci Liliana di kamar tersebut. Tidak lupa juga dia membawa beberapa prajurit untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak terduga.
________________><_______________
Jleb!! Jleb!! Slash!!
Aku masih terus membunuh setiap prajurit Elf yang kutemui sambil memeriksa setiap ruangan-ruangan yang kutemui. Tetapi hasilnya tetap saja sama seperti sebelumnya, akhirnya aku mulai frustasi dan membunuh prajurit dengan brutal untuk melampiaskan kekesalanku saat ini.
Puluhan prajurit yang tadi mulai menemukanku lagi, tetapi kali ini aku akan menghadapi mereka langsung karena akan terlalu menyusahkan jika dibiarkan. Dengan segera aku melesat dan membunuh mereka satu-persatu sampai darah mereka memancur kemana-mana.
Tidak ingin membuang lebih banyak waktu lagi, aku segera naik ke lantai ketiga atau lantai terakhir Kastil ini. Anehnya saat aku sampai disana, tidak seperti lantai satu dan dua sebelumnya.
Lantai ketiga cenderung sangat sepi dan juga hening, tidak ada siapapun dan seorang prajurit yang berpatroli di lorong-lorong ini. Apa mereka sudah menyadari keberadaanku? jika betul seperti itu, maka mereka sendirilah yang nantinya akan menemuiku secara langsung.
Meski berpikir seperti itu, aku masih tetap memeriksa setiap ruangan yang ada di lantai ketiga ini. Membuka setiap pintu dari satu pintu ke pintu lainnya hingga beberapa kali. Tetapi aku tetap tidak menemukan apapun, hingga aku menemukan sebuah ruangan yang pintunya terkunci. Penasaran, akupun langsung mendobrak keras pintu itu sampai hancur.
"Liliana!!"
Aku langsung menghampirinya dan membebaskannya dari ikatan yang menahan dirinya di kasur itu. Setelah itu dia langsung memelukku sambil menangis di pundakku.
"Ke-keiji,, ini jebakan ... seharusnya kau tidak datang untuk menolongku ... hiks ... hiks"
"Ya aku sudah tahu itu, tetapi menolongmu adalah keinginanku sendiri. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri untuk itu, bersikaplah egois seperti biasanya dan aku akan dengan senang hati menerimanya" ucapku lalu mengelus-elus kepalanya.
Wajah Liliana menjadi sangat memerah dan asap mengepul mulai muncul diatas kepalanya. Aku kembali ke mode serius, dengan segera aku menarik tangan Liliana dan mengajaknya keluar dari Kastil ini.
Tepat setelah aku berhasil keluar dari kamar, sudah terdapat Goro beserta banyak prajurit yang siap menghadang jalan kami. Aku memasang sikap siaga dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
"Sepertinya kau sudah tidak waras ya ingin melawan kami yang jumlahnya sudah jelas lebih banyak darimu?!"
"Kurasa yang tidak waras itu dirimu, memangnya sudah berapa banyak prajurit yang kubunuh dibawah sana?!"
"Kau tidak mengerti, prajurit yang kubawa ini adalah pasukan Elite milikku. Jika kau melawannya sendiri, aku yakin kau tidak dapat menang" Balas Goro dengan senyum jahatnya.
"Kalau begitu tinggal kuserahkan pada yang lebih kuat saja kan"
Setelah mengatakan itu kemudian Divine Beast yang sedari tadi mengikutiku berubah menjadi besar kembali. Goro beserta dengan pasukan Elitenya merasa merinding saat merasakan tekanan luar biasa dari burung besar itu.
"J-jangan-jangan, Divine Beast legendaris?!"
Kiyak!!
Divine Beast bersiul keras hingga membuat Goro beserta pasukannya terjatuh lemas dilantai. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur sementara burung besar tadi sedang mengulur waktu untuk kami.
"Keiji ... kenapa kau memiliki Divine Beast?!"
"Akan kujelaskan setelah kita berdua berkumpul dengan Viska"
Kemudian kami berdua mulai turun dari lantai ketiga begitupun seterusnya hingga kami berdua telah sampai di lantai terbawah kastil. Aku segera keluar dari Kastil dan melihat Viska sudah menghabisi prajurit yang ada diluar.
Dan disaat yang bersamaan, tepatnya di tempat Kastil tadi terdengar suara detuman yang sangat besar sekali hingga membuat kami bertiga terkejut.
Boom!!!!
-
To be continue.