The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Sembilan



***


Bangun pagi-pagi udah disuguhin sama pemandangan yang bikin mata pada jreng. Melihat Rafa yang tertidur merupakan suatu  keberuntungan bagi Nayra, pasalnya sejak dulu meskipun mereka sudah kenal dekat dan cukup lama Nayra belum pernah melihat Rafa  tidur dengan jarak sedekat ini, bahkan hanya tinggal beberapa centi saja.


Nayra terus menatapi wajah Rafa yang masih tertidur sambil sesekali bergerak-gerak untuk mendapatkan posisi tidur yang aman. Rafa bergerak kearah depan dan memepetkan tubuhnya pada Nayra, menarik pinggang Nayra agar semakin merapat padanya.


Nayra tersenyum kecil melihat tingkah Rafa yang demikian, Nayra pun semakin menarik selimut untuk menutupi tubuh Rafa yang sepertinya kedinginan karena suhu AC yang terlalu rendah.


Nayra pun melepas pelukan tangan Rafa yang masih melilit perutnya, ia berniat akan mencari remote AC untuk menaikkan suhu ruangan agar Rafa tidak kedinginan lagi.


Nayra membuka laci nakas dan beruntung ia menemukan remotenya. Nayra menekan tombol untuk menaikkan suhu ruangan agar kembali hangat. Ia masih saja menatapi wajah Rafa yang masih terlelap, kadang ia tersenyum melihat mulut Rafa yang juga ikut bergerak-gerak.


Kruk...kruk....kruk...


Tiba-tiba perut Nayra berbunyi, ia baru ingat jika semalaman dirinya belum makan apa-apa.


"Lapar?" tanya Rafa yang ternyata sudah membuka matanya, ia juga mendengar saat perut Nayra berbunyi minta diisi.


Nayra hanya bisa mengangguk polos sebagai jawaban atas pertanyaan Rafa barusan, ia juga sedikit malu karena Rafa mendengar perutnya yang keroncongan.


Rafa pun menyingkap selimut dan turun dari atas ranjang.


"Mau kemana kak?" tanya Nayra yang ikutan bangun juga.


"Mau mandi, kenapa? Kamu mau ikutan juga?"  tanya Rafa seraya tersenyum jahil kearah Nayra.


"Nggak usah deh, nanti Nayra belakangan aja,"  ucap Nayra yang tersipu.


Tanpa menunggu lama Rafa pun segera masuk kedalam kamar mandi seraya tersenyum geli  mengingat  sikap Nayra yang telihat canggung dengan dirinya, padahal sebelum menikah Nayralah yang selalu terang-terangan mendekatinya dan blak-blakan mengatakan kalau dia menyukai Rafa. Menikah dengan Nayra tak seburuk yang Rafa kira, kini dengan kehadiran Nayra Rafa merasa lebih nyaman, ada yang menemaninya saat tidur ditambah lagi dengan dirinya  bisa memeluk Nayra sepanjang malam.


15 menit Rafa habiskan untuk mandi, ia pun menarik handuk dan dengan cepat melilitkannya di pinggangnya, lalu berjalan keluar dari kamar mandi  agar Nayra bisa menggunakan kamar mandi.


"Nay,"


"Iya kak, kenapa?" tanya Nayra yang masih sibuk mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper.


"Aku udah selesai pakai kamar mandinya, sekarang giliran kamu, abis itu kita turun kebawah,"  ucap Rafa yang berdiri tak jauh dari posisi Nayra.


Ini benar kan Rafa yang ngomong barusan? Nada bicaranya terdengar  berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Nayra pun beranjak dari tempatnya dan berjalan kearah kamar mandi, ia berusaha untuk tidak melihat Rafa yang masih bertelanjang dada dan berdiri disana, takut khilaf soalnya.


Nayra berjalan kearah kamar mandi dengan cepat dan langsung menutup pintunya, bayangan tubuh Rafa yang kekar dan tegap terbayang nyata di dalam fikiran Nayra. Ia menjadi teringat saat teman-temannya dulu sering bercerita dan menyebut-nyebut roti sobek. Nayra yang saat itu penasaran hanya bisa melihatnya lewat foto yang diberikan oleh teman-teman kuliahnya atau sekedar melihat di majalah dan televisi, tetapi sekarang Nayra bisa melihatnya secara langsung dan nyata, sudah halal lagi.


"Eh tadi kan mau mandi, kok malah mikir yang aneh-aneh sih?"  gumam Nayra  seraya membuka semua pakaian miliknya dan menghidupkan shower.


***


Nayra dan juga Rafa berjalan beriringan kearah meja makan, semuanya sudah berkumpul disana menunggu keduanya yang baru selesai mandi.


"Sini nay duduk dulu, kita sarapan sama-sama," ujar Alea yang langsung tanggap melihat Nayra yang masih malu dan nampak canggung.


Keduanya pun bergabung bersama yang lainnya dan duduk di kursi yang bersampingan.


"Loh kok diam sih?Ayo dimakan. Gak usah malu nay,.sekarang kamu kan sudah menjadi bagian dari keluarga kami,"  ujar Alea tersenyum.


"Iya Tante," jawab Nayra.


"Jangan manggil Tante lagi, panggil Mommy biar sama kaya Rafa dan Liora. Sekarang kamu kan udah jadi anak Mommy juga,"  ujar Alea yang sedang mengisi air minum ke dalam gelas.


"Iya mom,"  ujar Nayra lagi.


"Sekarang kamu kan udah jadi istri, Mama kan udah pernah ajarin kamu jadi istri yang baik itu kaya gimana. Nah sekarang waktu kamu untuk memulainya dari awal,"  ujar Dwi yang berada disana.


Nayra pun mengangguk pelan dan bangkit dari duduknya, melakukan tugas seorang istri yang baik itu seperti apa.


"Kak, makannya Nayra yang ambilin yah?" tanya Nayra yang meminta izin pada Rafa lebih dulu, meskipun seharusnya  tanpa bertanya Nayra  sudah sewajarnya memang harus melakukan itu.


Rafa hanya mengangguk pelan dan menyerahkan piringnya kearah Nayra. Nayra menerimanya dan mengisinya dengan  porsi nasi serta lauk yang setara, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.


"Nay jangan pakai sambel, Rafa itu sama kaya Daddynya alergi makanan pedas,"  ujar Alea mengingatkan Nayra, namun  sudah terlanjur, Nayra sudah menyendokkan sambel keatas makanan Rafa.


"Maaf, Nayra gak tahu Mom,"  ujar Nayra.


"Gak papa, sambelnya kan masih bisa disisihin,"  ujar Rafa yang mengambil piring ditangan Nayra dan menyisihkan sambelnya.


"Besok-besok kalau kamu masak buat Rafa jangan yang pedes-pedes nay, untuk sekarang Mommy maklum kok, kan kamu baru pertama kali jadi istrinya Rafa,"  ujar Alea tersenyum.


"Iya mom,"  ujar Nayra mengangguk.


"Enak dong Kak Rafa, mulai hari ini bakal ada yang nemenin tidur, ada yang bangunin tidur, ada yang masakin, ada yang ngurus ini itu gak kaya dulu lagi," sela Liora di sela-sela kunyahannya.


"Iya dong, makanya kamu buruan cepat nyusul juga biar ada yang nemenin kamu kalau tidur,"  ucap Alea.


"Wah bener juga tuh mom, yaudah deh nanti Lili cari calon suami yang baik yang kaya dan pastinya mapan,"  ucap Liora.


"Emang ada cowok yang mau sama lo?" tanya Rafa meledek adiknya itu.


"Kalau banyak kok kamu gak pernah kenalin sama Mommy? Perasaan dari dulu kamu janji bakal bawa pacar kamu kerumah, tapi sampai sekarang gak ada tuh,"  ujar Alea.


"Bukannya gak ada Mommy, cuma dia lagi sibuk dan gak ada waktu buat nemuin Mommy,"  ujar Liora.


"Alesan kamu selalu aja begitu. Tapi seenggaknya Mommy sekarang udah bisa tenang karna akhirnya kakak kamu nikah juga. Mommy senang banget apalagi yang jadi mantu Mommy itu Nayra. Udah gak sabar banget,"  ujar Alea yang girang sendiri.


"Gak sabar apa mom?"  tanya Liora.


"Gak sabar mau gendong cucu, itu kan udah jadi cita-cita kami para orang tua, iya kan wik?" tanya Alea menatap kearah Dwi.


"Bener kata Mommy kamu,Tante juga udah gak sabar mau gendong cucu ,"  ujar Dwi.


"Jadi kapan nih kita dikasih cucu sama kamu  dan Nayra? Mommy saranin secepatnya, jangan kelamaan,"  ujar Alea yang paling ngebet diantara semuanya.


Uhuk....uhuk...uhuk...


Nayra tiba-tiba terbatuk-batuk karena keselek makanannya sendiri, ia kaget karena mendengar obrolan mereka yang protes minta cucu secepatnya. Baru juga semalam nikahnya, eh udah disuruh buat cucu. Emang buat cucu segampang membuat adonan  bolu? Tinggal campur air dan adonan tepung plus gula langsung jadi? Wah tidak semudah itu ferguso😅


"Makanya kalau lagi makan itu hati-hati!" ujar Rafa menyodorkan segelas air minum kearah Nayra yang tersedak.


"Iya kak, tadi telennya kecepatan jadinya keselek,"  ujar Nayra setelah meminum air yang diberikan Rafa, walaupun sebenarnya ia tersedak  karena mendengar permintaan ibu mertuanya.


"Lain kali hati-hati dong nay. Soal omongan Mommy yang tadi gak usah dianggap serius, semuanya pasti punya waktu, kita tunggu aja,"  ujar Alea.


***


"Mama beneran mau balik sekarang?" tanya Nayra saat Dwi yang bersiap akan kembali.


"Iya nay, sekarang kamu kan udah nikah dan udah punya suami, jadi mulai hari ini kita tinggalnya pisah,"  ujar Dwi memberikan pengertian.


"Tapi Nayra masih pengen sama Mama, Nayra gak mau pisah rumah sama Mama, sama Papa juga."  ucap Nayra memeluk Dwi.


"Gak bisa gitu sayang, kamu kan udah jadi istrinya Rafa dan mulai sekarang semua tanggung jawab kamu ada di Rafa. Mama yakin Rafa pasti bisa jagain dan bahagiain kamu. Sudah sewajarnya seorang istri ikut sama suaminya, itu artinya kamu akan tinggal bersama Rafa. Kamu harus bisa jadi istri yang baik dan pengertian, dan satu lagi jangan manja jadi perempuan, perempuan itu harus kuat dan tahan banting," nasehat Dwi.


"Iya mah, Nayra pasti bakal selalu inget pesan Mama," ujar Nayra melepas pelukan mereka.


"Nah gitu dong, baik-baik sama Rafa. Nanti kita ketemu lagi,"  ujar Dwi.


"Hmm, Nayra bakal kangen dipeluk sama Mama lagi, bakal rindu curhat sama Mama lagi,"  ujar Nayra yang sudah berusaha menahan air matanya.


"Udah kaya tinggal beda benua aja, jangan sedih dong, dulu juga kamu waktu kuliah pisah rumah sama Mama, kan dulu kamu yang minta tinggal di apartemen aja," jawab Dwi.


"Ya kan itu beda mah," ucap Nayra.


"Jadi kamu maunya gimana? Mau tetap ikut sama Mama dan melupakan kewajiban kamu?" tanya Dwi.


Nayra diam.


"Nggak kan? Jadi sekarang kamu harus belajar untuk terbiasa, kamu kan punya Rafa, kamu bisa cerita dan curhat sama dia. Mama yakin dia pasti mau denger,"  ujar Dwi.


"Mama bener, Nayra kan punya kak Rafa, Nayra lupa mah,"  ujarnya.


"Yaudah kalau gitu Mama sama Papa pamit dulu yah, jaga diri baik-baik, kalo ada apa-apa jangan lupa buat kabarin Mama atau Papa,"  ujar Dwi.


"Iya mah, Nayra pasti bakal baik-baik aja kok,"  ujar Nayra.


Setelah berbincang singkat Nayra pun keluar bersamaan dengan Dwi dari dalam  kamar dan beranjak  menuju ruang tamu.


"Udah selesai?" tanya Alex yang melihat Nayra yang hampir menangis.


Nayra mengangguk pelan seraya menghapus air mata yang sudah berada di sudut matanya.


"Udah jangan sedih gitu, kapan-kapan kan kita masih bisa ketemu lagi. Lo gak malu apa, udah nikah tapi masih cengeng begitu?" ujar  Brian kakak Nayra.


"Kakak kamu bener nay, udah jangan sedih lagi dong, kan masih ada Rafa yang bakal nemenin kamu setiap harinya,"  ujar Mira kakak iparnya.


"Iya kak Nayra gak sedih kok,"  jawab Nayra berusaha untuk tersenyum.


Semuanya pun pamit untuk pulang dari kediaman keluarga Rafa, dan meninggalkan Nayra yang sekarang sudah menjadi bagian keluarga besar Keano.


Nayra terduduk di sofa saat beberapa menit yang lalu ia melepas kepulangan keluarganya.


"Jangan sedih nay! Sekarang kita adalah keluarga,.kamu sudah Mommy anggap seperti anak sendiri. Jadi jangan pernah sungkan untuk berbagi apapun itu,"  ujar Alea memegang erat tangan Nayra.


"Makasih mom,.sekarang Nayra berasa punya dua mama, Nayra beruntung,"  ujar Nayra.


"Sama-sama sayang,"  ucap Alea.


"Huaaa...mau dipeluk juga,"  ujar Liora yang mendekati keduanya dan memeluk mommy dan kakak iparnya itu.


"Kamu tahu kan tugas kamu selanjutnya itu apa?Keluarga Nayra sudah mempercayakan Nayra sama kamu, jadi jaga baik-baik amanat dari mereka, Daddy percaya sama kamu,"  ujar Arkan menepuk bahu Rafa yang duduk disampingnya.


Tbc


😊