The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Teka-teki



Cklek


"Rafa kam..."


Bukannya syok atau kaget, Rafa malah merasa tak terganggu sama sekali dengan kehadiran Nayla yang sudah menegang sedangkan tangannya masih memegang gagang pintu.


Nayra menarik wajahnya dan memperbaiki posisi duduknya. Ia hanya tak mau jika Nayla melihat hal lebih dari sekedar itu, yang ada nantinya Nayla akan panas dingin dan ujung-ujungnya akan mencari pelampiasan. Apalagi Nayra tahu jika wanita bule di depannya ini begitu mengincar suaminya.


"Lo gak papa? Yang lain bilang tadi lo mendadak pusing dan izin kembali ke penginapan lebih cepat. Gue khwatir lo kenapa-kenapa," ujar Nayla yang berjalan masuk ke dalam kamar dengan santainya seolah ia tidak melihat apapun.


"Gue nggak papa," ujar Rafa.


"Tapi gue khwatir sama lo fa. Gue periksa lo sekarang yah?" tanya Nayla menempelkan stetoskop miliknya.


"Nggak usah! Gue bisa rawat gue sendiri, gue dokter," ucap Rafa yang menolak bantuan Nayla. Bukannya tanpa alasan Rafa melakukan itu. Entah karena apa mendadak saat Nayla mendekatinya barusan membuat sesuatu bergejolak dari dalam dirinya.


Namun Nayla tak menyerah dan terus mendekati Rafa yang  mendekap mulutnya.


Hoek


Rafa tak dapat menahan lagi. Mencium aroma parfum Nayla barusan membuat dirinya kembali mual, padahal sejak dekat dengan Nayra tadi perasaanya sudah sedikit membaik.


"Rafa...baju gue..."  Nayla menatap jijik karena terkena sedikit muntahan berupa cairan bening yang mengenai pakaian miliknya.


Nayra melotot dan langsung mendekati Rafa lagi. Nayra mengambil beberapa lembar tissu dan memberikannya pada Nayla yang sudah memasang muka eneg.


"Ish..jorok banget sih," ujar Nayla melap bajunya dengan cara menggosok-gosokkan tissue tersebut.


Nayla menatap ke arah Rafa dan beranjak pergi darisana.


Nayra geleng-geleng kepala melihat sikap Nayla barusan. Katanya dokter, tapi baru melihat muntahan yang tak seberapa itu reaksinya terlalu berlebihan. Nayra jadi ragu apa Nayla itu benar dokter sungguhan atau dokter gadungan alias abal-abal.


"Kakak kenapa? Masih mual yah?" tanya Nayra.


"Sedikit, aku nggak kuat cium aroma parfum dia, itu bikin aku mual lagi," ucap Rafa.


Nayra menghela nafas pelan. Ia kasihan melihat Rafa yang harus menanggung akibat Nayra yang tengah hamil. Seharusnya kan ibu hamil lah yang mengalami mual-mual seperti itu bukan malah suami.


"Apa semua ini karna bayi ini, gara-gara bayi ini kakak jadi kaya gini," ucap Nayra melihat ke arah perutnya.


"Bayi ini nggak salah Nayra. Lagian dia juga hadir karena kemauan kita berdua kan? Bukannya kamu mau cepet-cepet kasih Mommy cucu? Jadi nggak ada yang salah disini," ujar Rafa menyentuh tangan Nayra.


"Maaf,"


"Nggak usah minta maaf,"


***


Nayra berkeliling mencari keberadaan Berta untuk melanjutkan rencananya. Setelah kesana kemari berkeliling, akhirnya Nayra bertemu Berta yang sedang beres-beres.


"Berta, sini!" panggil Nayra melambaikan tangannya.


Berta mengangguk dan bergegas menyusul Nayra.


"Gimana, tugas kamu udah selesai semuanya ?" tanya Nayra.


"Udah kak," jawabnya tersenyum.


"Yaudah kalau gitu kamu ikut aku sekarang juga. Ada sesuatu yang harus kita lakukan," ucap Nayra mengajak Berta untuk pergi darisana.


Nayra membawa Berta mengendap-endap mendekat ke arah kamar Nayla yang kosong. Sepertinya wanita itu masih berada di posko bersama yang lainnya.


"Sekarang kamu temenin aku masuk ke dalam sana!" Ucap Nayra yang mengajak Berta untuk masuk menemaninya menuju kamar Nayla.


"Tapi kak...kalau ketahuan bagaimana? Nanti yang ada kita dituduh mencuri lagi. Saya takut kak," Ucap Berta yang menolak ajakan Nayra untuk masuk ke dalam sana.


"Aku nggak ngajak kamu mencuri, aku cuma mau kamu nemenin aku masuk ke dalam sana," ujar Nayra.


"Tap..."


"Kamu mau dapet nomor ponselnya dokter Rafa kan?"


Berta mengangguk.


"Makanya kamu bantuin saya," bujuk Nayra.


"Yaudah iya, saya akan bantu kakak," final Berta.


Keduanya pun masuk ke dalam kamar Nayla lewat jendela belakang. Sesampainya di dalam keduanya pun berjalan ke arah kamar milik Nayla yang gelap karena lampunya padam.


"Kak, kok kamarnya serem yah? Nggak kaya kamar yang lain? Apa yang nempatin kamar ini juga serem?" tanya Berta yang berada di belakang Nayra.


"Kamu penasaran kan siapa pemilik kamar ini?" Tanya Nayra.


"Iya kak, memangnya siapa pemilik kamar ini?"


"Ayo sini aku tunjukkan," Nayra menarik tangan Berta ke arah nakas di samping tempat tidur dan menunjukkan sebuah bingkai foto.


"Ini dokter Nayla kan kak?" Tanya Berta.


"Iya, kamu bener," jawab Nayra.


"Cantik sih tapi sedikit seram," ujar Berta melihat bingkai foto Nayla.


Nayra mengangkat bingkai foto itu dan melihat bagian belakangnya. Ada sesuatu yang menarik perhatian Nayra.


"Kamu bawa senter?" tanya Nayra.


"Nggak ada kak, tapi kalau HP ada. Sebentar saya nyalain senternya dulu," ucap Berta mengeluarkan ponselnya dan menghidupkan senternya.


Nayra menggesek bagian putih yang terdapat di bagian belakang bingkai foto dengan kukunya. Awalnya sedikit susah namun akhirnya berhasil juga.


27 Juni 1968


Nayra menemukan sederet tanggal di balik bingkai foto itu. Nayra membalikkan bingkai tersebut dan melihat dengan seksama foto wajah Nayla yang masih terlihat muda.


"Berta..." panggil Nayra ke arah Berta yang memegang senter.


"Iya kak, kenapa?"


"Hari ini tanggal berapa?" tanya Nayra.


"Hari ini tanggal 27 Juni 2021 kak, memangnya kenapa?" tanya Berta.


"Coba deh kamu lihat tanggal ini, di sini jelas-jelas tertulis tanggal 27 Juni 1968 sedangkan sekarang adalah tanggal 27 Juni 2021. Itu berarti kemungkinan usia foto ini sudah mencapai 53 tahun, tapi kenapa wajah Nayla sekarang masih terlihat sama dengan foto ini, masih terlihat awet muda, seharusnya kan..."


"Seharusnya sudah keriput begitu kak?" sambung Berta yang mengerti maksut pembicaraan Nayra.


Nayra mengangguk.


"Ih serem banget, tapi coba Kakak perhatin lagi, siapa tau ini cuma settingan," ujar Berta.


"Ini kayanya beneran deh,coba kamu lihat warna fotonya juga sudah memudar dan hasil fotonya juga tak sejernih kamera seperti sekarang ini. Kita harus cari bukti lainnya," ujar Nayra meletakkan bingkai foto tersebut di tempat semula.


"Sebenarnya apa hubungan Kakak dengan dokter Nayla?" Tanya Berta.


"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, aku emang udah penasaran sama dokter Nayla. Dan satu lagi, dokter Nayla itu juga naksir dengan dokter Rafael. Jadi kita harus menyelidiki awal mula hubungan mereka," ujar Nayra.


"Beneran kak? Kalau begitu saya juga setuju," ujar Berta.


Nayra membuka laci nakas dan tak menemukan apa-apa disana. Hanya ada lembaran kertas dan beberapa buku kedokteran yang Nayra sendiri tidak mengerti isinya. Sedangkan Berta juga sibuk menyingkap bedcover untuk mencari sesuatu disana.


Berta berjalan ke arah Nayra dan menunjukkan benda yang ia dapatkan. Nayra dengan cepat langsung membukanya dan melihat isinya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah foto-foto beberapa gadis muda yang Nayra pastikan merupakan data-data pasien milik Nayla, tetapi kenapa harus gadis belia? Sedangkan setahunya Nayla itu adalah seorang dokter kandungan.


Tap tap..


Suara langkah kaki terdengar dari arah luar.  Semakin cepat mendekat ke arah mereka.


"Kak itu..."


"Kita harus pergi sekarang juga!" Nayra menarik tangan Berta ke arah jendela dan membukanya dengan cepat.


Nayra dengan cepat mendorong tubuh tubuh Berta keluar dari jendela.


"Kak.."


Bukannya keluar, Nayra malah masuk kembali ke dalam kamar dan bersembunyi di bawah tempat tidur.


Cklek


Pintu terbuka. Nayra bisa melihat sepatu berwarna hitam yang melangkah masuk ke dalam kamar.


Nayra menelan ludahnya kasar, apa yang akan terjadi apabila Nayla mengetahui dirinya menyusup ke dalam kamarnya.


Hening sesaat.


Nayra tak lagi mendengar suara. Ia pun memutar posisinya menjadi berbaring menghadap ke atas agar perutnya tidak tertekan.


Tiba-tiba


Prang


Sebuah benda jatuh ke atas lantai diikuti belahan kaca yang hancur berserakan di lantai. Nayra melihat bingkai foto yang sebelumnya sempat ia pegang pecah tak berbentuk di lantai.


Nayla- wanita itu. Wanita yang berdiri di depan kaca, wanita yang membanting bingkai fotonya sendiri. Nayla menatap ke horden dan menyingkapnya sebentar sehingga perlahan cahaya matahari sedikit demi sedikit menerangi ruangan tersebut.


Nayla melepas jas dokternya dan melemparkannya begitu saja di atas lantai. Mengucir rambutnya lalu duduk di atas ranjang seraya menatap lurus-lurus ke arah cermin di depannya.


Plak


Terdengar suara tamparan yang sangat keras. Nayla menampar pipinya sendiri.


"Wajah ini sangat buruk dan menjijikkan," ujarnya.


"Gue harus apa biar Rafa bisa takluk? Apa wajah ini tidak cukup untuk menarik perhatiannya? Kenapa harus memilih wanita bodoh itu? Apa gue harus merubah wajah buruk ini menjadi wajah wanita bodoh itu? Hah...sepertinya memang harus," ujarnya tersenyum puas dan bangkit dari atas ranjang lalu beranjak menjauh dari ranjang.


Merasa jika Nayla sudah menjauh, Nayra pun berniat akan kelur dari persembunyiannya dan kabur dari tempat itu. Perasaan Nayra menjadi tidak tenang mendengar ucapan Nayla barusan. Tiba-tiba Nayra teringat ucapan Liora-adik iparnya yang pernah mengatkan jika Nayla adalah wanita gila. Dan sepertinya Nayla memang gila, tergila-gila dengan Rafa. Ada banyak sekali dugaan dan ketakutan yang mulai meracuni pikiran Nayra, siapa itu sebenarnya Nayla dan bagaimana ceritanya Rafa bisa kenal dengan wanita itu.


Nayra berhasil keluar dari  persembunyiannya. Namun ia baru ingat jika map yang sempat ia dapat tadi masih tertinggal di bawah ranjang. Nayra pun memutuskan kembali kesana untuk mengambil map tersebut.


Bersamaan dengan itu Nayla muncul  dari arah dapur, tak lupa disertai senyuman lebarnya yang ia tujukan untuk Nayra.


"Sudah kuduga jika kau akan dengan senang hati menyerahkan nyawamu kemari, maka biarkan aku yang mengambilnya sekarang," ucap Nayla mendekat ke arah Nayra yang hendak bersembunyi.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Nayra berjalan mundur.


"Aku siapa? Coba kau pikir aku ini siapa? Aku adalah malaikat pencabut nyawamu dan kau memang ditakdirkan mati ditanganku," ujarnya mendekat ke arah Nayra.


"Tolong...tolong....Kak Rafa tolongin Nayra," ujar Nayra menggeleng-gelengkan kepalanya saat Nayla menarik sebuah pisau dari dalam bra miliknya.


"Jangan lakukan itu! Pergi!"


"Kau yang akan pergi bodoh!"


Dengan cepat Nayla menarik rambut Nayra dan menusukkan pisaunya di pinggang Nayra.


"Akh...anakkku..." ucap Nayra.


"Kau sudah hamil ternyata? Maka aku akan membuat kalian berdua mati bersama-sama," ujarnya meninggalkan Nayra dan mengunci pintunya rapat-rapat.


Nayla mengambil jeregen minyak yang memang sudah ia siapkan. Menyirami kamar tersebut dengan minyak dan melemparkan pematik api disana. Seketika kobaran api langsung terlihat, melihat itu Nayla tersenyum puas dan berlalu pergi darisana seolah tidak terjadi apa-apa.


Sedangkan di tempat lain, Berta tampak tergesa-gesa kesana kemari mencari Rafa.


"Permisi dokter, apa anda melihat dokter Rafael?" tanya Berta saat melihat Rion yang baru saja selesai memeriksa pasien.


"Memangnya ada apa? Kamu sakit?" tanya Rion.


"Gawat dokter,"


"Gawat kenapa?"


"Kak Nayra..."


"Nayra kenapa?"


"Kak Nayra dalam bahaya, kita harus membantunya dokter,"


"Baiklah kita kesana sekarang," ujar Rion yang bergegas pergi.


Kobaran api yang tadinya kecil menjadi semakin besar dan sudah merembes ke segala sisi. Nayra yang masih berada di dalam terbatuk-batuk karena asap yang semakin tebal dan mengurangi pasokan udara bersih.


"Akh.." Nayra mencabut pisau yang masih menancap di pinggangnya. Nayra meraba luka tusuk di pinggangnya, memastikan jika pisau tersebut tidak melukai rahimnya.


"Argh...bertahanlah sayang, kita akan keluar darisini," ucap Nayra merobek lengan bajunya dan menyumpal lukanya agar darahnya berhenti keluar.


Rafa keluar dari kamarnya. Setelah beristirahat sejenak akhirnya dirinya merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya.


"Dokter Rafael," Berta berlari memanggil Rafa.


"Ada apa?"


"Adik dokter sedang dalam bahaya." Ujar Berta.


"Apa adik? Siapa yang kamu maksud?"


"Kak Nayra, bukankah itu adik dokter?"


"Nayra?"


"Benar, ayo dokter kita harus membantunya," ujar Berta menarik tangan Rafa.


"Apa yang terjadi?" tanya Rafa yang masih tak mengerti.


"Nayra ada di dalam. Gue juga nggak tau kenapa Nayra ada di dalam sana," jawab Rion.


"Gue harus masuk sekarang," ujar Rafa nekat dan bersiap menerobos masuk.


"Rafa..." tahan Rion.


"Lepasin gue!"


"Rafa, udah! Mendingan sekarang kita tunggu bantuan datang, ini terlalu bahaya buat lo. Lo juga harus mikirin keselamatan lo. Lo harus tenang," ucap Nayla yang tiba disana dan ikutan menahan Rafa.


"LEPASIN GUE! LO PIKIR GUE BISA TENANG DISAAT ISTRI DAN ANAK GUE LAGI ADA DALAM BAHAYA HAH? LO MIKIR PAKE OTAK. LO NGGAK NGERASAIN APA YANG GUE RASAIN" teriak Rafa yang berhasil membuat Nayla terdiam.


***


Tbc.


Gimana sama part ini? Wajib voment loh. Mau next cepet2 nggak? Mau kan. Makanya jangan pelit voment.