The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Scolded Mr. Rafael



"Atau apa?" sela Rafa yang tiba-tiba muncul dengan raut wajah yang datar


"Mampus kita nay,"


Nayra yang melihat kehadiran Rafa dengan cepat menyembunyikan tangan kanannya di balik punggungnya agar Rafa tak melihat tangannya yang lecet. Nayra berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit di wajahnya.


"Aduh...gue kebelet pipis nih, gue duluan yah nay bye..." ujar Liora yang memilih untuk pergi sembari membawa belanjaanya, karena ia sudah bisa menebak jika sebentar lagi kakaknya itu akan mengomel karena mereka telat pulang ditambah lagi dengan Nayra yang mengalami luka lecet. Walaupun sebenarnya ia tak tega juga jika membiarkan Nayra yang akan kena imbasnya, tapi mana mungkin Rafa tega marah pada Nayra.


Anak mata Rafa menatap Liora yang main kabur sesukanya, setelah Liora berlalu kini Rafa mengalihkan pandangannya kearah Nayra yang sedari tadi hanya diam.


"Kamu tahu ini jam berapa?" tanya Rafa melirik jam tangan miliknya.


"Maaf kak, kita pulangnya telat," ujar Nayra memberanikan dirinya untuk melihat wajah Rafa.


"Angkat tangan kamu!" ujar Rafa meminta Nayra untuk mengangkat tangannya.


"Ini kan udah," jawab Nayra mengangkat tangan kirinya agar Rafa bisa melihatnya.


"Yang satunya lagi," ujar Rafa.


"Tangan Nayra sakit kak kalau harus diangkat," ujar Nayra yang akhirnya jujur dan menunjukkan tangan kanannya yang dibalut kain kasa. Jujur itu lebih baik, pikirnya.


"Kenapa bisa kaya gini? Kamu ngapain aja sama Lili?" tanya Rafa memegang tangan Nayra dan memeriksanya.


"Gak ngapain-ngapain kok, kita cuma belanja sama makan, udah itu aja," ujar Nayra.


"Ini akibatnya kalau keras kepala, aku kan udah bilang pulangnya gak boleh dibawah jam 5 sore. Tapi apa sekarang, kamu dan Liora malah mengingkari kesepakatan . Sekarang lihat kan, tangan kamu jadi luka kaya gini," ujar Rafa yang mengomel seraya membuka kain kasa yang membalut tangan Nayra.


"Jangan dibuka kak, itunya masih sakit," ujar Nayra saat Rafa membuka balutan kain kasa yang membalut tangan Nayra.


"Udah diem jangan protes, tunggu disini!" ujar Rafa yang beranjak mengambil kotak obat di dalam kamar dan menuju dapur untuk mengambil sebaskom berisi air dingin.


"Kamu ngapain bawa kotak obat?" tanya Alea yang melihat Rafa membawa kotak obat ditangannya.


"Mau obatin tangan Nayra mom," ujarnya.


"Emang Nayra kenapa?" tanya Alea khwatir.


"Tangannya lecet mom, ini Rafa mau obatin dulu," ujar Rafa.


"Ya ampun kok bisa sih?" ujar Alea yang berjalan kearah ruang tamu untuk mencari keberadaan Nayra.


"Tangan kamu kenapa nay? Kok bisa sampai lecet gini?" tanya Alea yang duduk di samping Nayra.


"Tadi keserempet dikit mom waktu Nayra keluar dari dalam taksi,"jawab Nayra.


"Trus pelakunya gimana? Dia tanggung jawab nggak?" tanya Alea.


"Enggak mom, lagian cuma luka kecil kok, pelakunya juga udah minta maaf tadi," ujar Nayra.


"Lain kali hati-hati dong nay, jangan sampai kejadian kaya gini keulang lagi, trus Lilinya mana?" tanya Alea.


"Udah balik ke kamar mom barusan," ujar Nayra.


"Yaudah, kamu disini dulu sama Rafa biar luka kamu diobatin dulu, nanti bisa infeksi kalau nggak diobatin. Mommy keatas dulu mau nemuin Liora, Mommy butuh penjelasan dari dia," ujar Alea.


"Iya mom," ucap Nayra.


Alea pun pergi darisana dan meninggalkan keduanya di sofa ruang tamu. Rafa meletakkan baskom yang ia bawa diatas meja beserta kotak obatnya.


Rafa mencelupkan kapas kedalam air dan membersihkan luka Nayra dengan pelan.


"Aw...pelan-pelan kak, ini perih banget," ujar Nayra menarik pelan tangannya yang dipegang oleh Rafa.


"Cuma bentar doang, nanti juga gak bakal sakit lagi," ucap Rafa yang tetap membersihkan luka Nayra.


"Iya tapi pelan-pelan,"


"Iya ini kan udah pelan, lemah banget jadi perempuan," ejek Rafa seraya meneteskan betadine dan membalut luka Nayra sedangkan Nayra mengerucut kesal karena Rafa mengatainya perempuan lemah.


***


Setelah Rafa selesai mengobati Nayra, Rafa meminta istrinya itu untuk mandi dan berganti pakaian.


"Udah selesai mandinya?" tanya Rafa yang masuk kedalam kamar.


"Udah kok, ini mau sisiran." Ujar Nayra yang duduk di depan cermin dan sedang menyisir rambutnya, ia sedikit kesusahan karena tangan kanannya masih sakit saat digerakkan.


Rafa yang melihat itu langsung mendekati Nayra dan mengambil sisir ditangan Nayra.


"Udah sini biar aku aja," ucap Rafa dan mulai menyisir rambut panjang Nayra, kemudian mengambil ikat rambut diatas meja dan mengucir rambut milik Nayra.


Nayra sedari tadi terus tersenyum sambil memandangi bayangan dirinya dan Rafa di depan cermin. Ia menjadi teringat saat masih kecil, dimana dulu Mamanya selalu menyisir rambutnya sebelum tidur malam.


"Gak papa, cuma seneng aja," ujar Nayra. Tak bisa bohong jika ia memang senang hanya karena perhatian sederhana yang Rafa berikan untuknya, yang tak pernah ia dapatkan pada pria manapun.


Rafa ikutan tersenyum saat mendengar ungkapan Nayra, itu berarti Nayra bisa merasakan perhatian yang ia berikan.


"Mau makan sekarang?" tanya Rafa yang masih berada di belakang Nayra.


"Tapi tangan Nayra masih sakit kak kalau harus ditekuk buat makan," ujar Nayra.


"Tunggu disini," ujar Rafa yang berjalan keluar dari kamar.


"Loh, Nayranya mana fa?" tanya Alea saat melihat Rafa datang sendirian.


"Di kamar mom," ujar Rafa.


"Kenapa gak kamu ajak sekalian Nayranya, ini kita dari tadi nungguin kamu sama Nayra loh," ujar Alea.


"Tangan Nayra masih sakit mom kalau harus makan sendiri," jawab Rafa.


" Memangnya apa yang terjadi pada Nayra? Daddy kok gak tahu?" tanya Arkan yang belum tahu.


"Emm itu dad, Nayra keserempet waktu lagi jalan sama Lili tadi sore,"  ujar Liora.


"Keserempet bagaimana? Trus keadaan Nayra sekarang gimana?" tanya Arkan yang ikutan khwatir saat mengetahui kondisi menantunya itu, bagaimanapun juga ia susah menganggap Nayra seperti anaknya sendiri.


"Ya gitu, tadi waktu Nayra keluar dari taksi tiba-tiba ada motor yang nabrak Nayra dari belakang , untungnya tadi Kak Rion datang dan bantuin Nayra buat obatin lukanya"  ucap Liora yang menjelaskan kronologi yang sebenarnya.


"Rion?"  tanya Rafa dengan nada tak suka.


"Iya kak, tadi kebetulan kak Rion ada disana waktu Nayra ketabrak,"  ucap Liora.


"Daddy curiga kalau semua ini sudah direncanakan seseorang. Rafa kamu harus  lebih tanggap dengan situasi, Daddy percaya kamu bisa melindungi Nayra, Daddy takut kalau seseorang tengah merencanakan sesuatu yang buruk,"  ujar Arkan.


"Daddy kamu ada benarnya fa, tanggung jawab Nayra ada ditangan kamu,"  tambah Alea.


"Iya dad, Rafa akan berusaha untuk itu,"  jawab Rafa.


***


Cklek


Terdengar suara pintu dibuka, Nayra mengalihkan pandangannya kearah pintu dan mendapati Rafa yang membawa nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan minumannya.


"Kok cuma satu, kakak gak makan juga?" tanya Nayra saat Rafa duduk disampingnya.


"Nggak, aku udah makan tadi, ini aku udah bawain makanan kamu,"  ujar Rafa.


Nayra pun menerima makanan yang diberikan oleh Rafa dan duduk bersila diatas ranjang, sedangkan Rafa hanya memandangi Nayra yang akan menyendokkan nasi kedalam mulutnya dengan menggunakan tangan kirinya.


Dret....


Ponsel Rafa bergetar diatas nakas, dengan cepat ia mengambil dan membuka sebuah pesan masuk disana.


Rafa mengernyit heran saat membaca sebuah pesan singkat di layar ponselnya.


+6281265.........


"Istri lu cantik juga, nemu dimana? Gue jadi tertarik mau main-main sebentar."


Rafa langsung mematikan layar ponselnya dan melirik kearah Nayra yang sedang makan. Ini pertanda tak baik. Rafa tahu siapa pengirim pesan tersebut.


***


   Setelah makan Nayra pun merebahkan badannya diranjang  bersamaan dengan Rafa yang sedang membaca email dari rekan sesama dokternya.


"Kak, Nayra tidur duluan yah?"  tanya Nayra kearah Rafa yang masih asyik membaca.


"Hmm..." dehem Rafa.


"Good night,"  ujar Nayra seraya memejamkan matanya dan tidur membelakangi Rafa.


"Aku kan udah pernah bilang tidur belakangin suami itu gak baik,"  ingatkan Rafa saat Nayra tidur membelakanginya.


"Oh iya lupa,"  ujar Nayra terkekeh dan memutar badannya kearah Rafa kemudian kembali memejamkan matanya.


Rafa meletakkan ponsel miliknya diatas nakas kemudian berbaring di depan Nayra yang tidur meringkuk seperti bayi. Rafa tersenyum tipis saat melihat pose tidur Nayra, ia pun memperbaiki posisi tidur Nayra dan menarik selimut.


"Gue sayang sama lo Nay,"  ujar Rafa menarik pinggang Nayra dan memeluknya lalu memejamkan matanya.


Tbc


See you