
...***...
Malam sudah menjelang. Nayla sedari tadi tampak bergerak gelisah kesana kemari diluar posko. Nayla sangat berharap jika Rafa datang ke posko untuk bertemu dengan dirinya.
"Ehem.." Rion berdehem cukup keras dari arah belakang untuk mengagetkan Nayla.
"Lo ngapain disini?" tanya Nayla.
"Seharusnya gue yang nanya, lo ngapain malam-malam begini? Yang lain udah pada istrihat sedangkan lo masih berkeliaran di sini? Masih berharap kalau keajaiban bakal datang gitu? Cih, hidup lo begitu menyedihkan." Ucap Rion tersenyum remeh ke arah Nayla. Rion sebenarnya tahu jika Nayla sedang menunggu Rafa.
"Nggak usah sok ngurusin hidup orang." Ucap Nayla yang menggosok kedua telapak tangannya untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya malam.
"Dengerin gue baik-baik. Rafa nggak bakal mungkin nyusulin lo disini." Ucap Rion pergi meninggalkan Nayla yang tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Rion.
Nayla tetap menunggu di posko, berharap jika Rafa datang menemuinya.
Sesekali Nayla melihat jam di layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Rafa mana sih? Dari tadi siang kok belum balik-balik ke posko juga? Ini semua pasti karena wanita itu,pake acara nyusul segala lagi." Ucap Nayla.
"Apa gue datengin aja kali yah?" Gumam Nayla.
"Datengin aja deh." Ucap Nayla yang pergi menuju tempat penginapan yang dikhususkan untuk rombongan para dokter relawan dan anak koas.
10 menit kemudian Nayla tiba di depan pintu kamar Rafa yang terletak di pojok, diantara kamar-kamar yang lain.
Tok tok
Nayla mengetuk pintu kamar Rafa yang tertutup rapat. Selang beberapa saat kemudian pintu pun dibuka oleh seseorang.
"Ra..fa.." ucap Nayla yang melihat Rafa hanya menggunakan sehelai handuk berwarna putih ditambah dengan rambut yang masih basah.
Glek
Nayla menelan ludahnya saat melihat Rafa yang telanjang dada di depannya.
"Lo ngapain malam-malam datang kesini? Lo butuh bantuan?" Tanya Rafa.
"Eng..gak kok, gue tadi cuma mau mampir." Ucap Nayla nervous.
"Lo..lo mandi malem-malem begini?" Tanya Nayla.
Rafa mengangguk seraya mengacak rambutnya yang basah.
"Iya, dari siang gue belum mandi, soalnya tadi ketiduran." Jawab Rafa.
"Emm..lo sendirian di dalam kamar? Gue boleh masuk nggak?" Tanya Nayla semakin mendekat ke arah pintu.
"Lo kan punya kamar sendiri? Nggak, nggak gue mau istirahat abis ini. Lo juga butuh istrirahat, mulai besok rutinitas kita selama disini bakal dimulai. Jadi sekarang lebih baik lo istirahat!" Ucap Rafa.
"Bentar doang." Ucap Nayla yang mendorong pintu kamar dan masuk ke dalamnya.
Nayla melihat ke arah ranjang, matanya mendapati seorang wanita yang tertidur di balik selimut.
Dengan cepat Nayla menarik selimut itu dan menghempaskannya ke lantai. Matanya melotot saat mendapati Nayra yang tertidur menggunakan celana pendek dan tank top berwarna hitam.
"Nayla.." ucap Rafa yang menarik tangan Nayla keluar dari kamarnya.
"Jadi ini yang lo bilang istrihat fa, tidur dengan wanita lain di dalam kamar? Ini yang lo bilang namanya istrirahat?" Tanya Nayla yang mendadak kesal.
"Lo kenapa jadi marah-marah sama gue? Coba lo pikir salahnya dimana?" Tanya Rafa.
"Ya salah karena lo tidur berduaan dikamar sama perempuan lain, jangan bilang lo sama dia udah..."
"Nayra istri gue, mau gue ngelakuin apapun sama dia, itu hak gue." Ucap Rafa.
Nayla mengepal tangannya kuat dan pergi berlalu dari kamar Rafa. Rafa geleng-geleng kepala melihat sikap Nayla yang menurutnya tak punya sopan santun sama sekali, sudah berani main masuk ke dalam kamar orang lain tanpa ijin dari pemiliknya.
Setelah Nayla pergi, Rafa menutup pintu kamar lalu memperbaiki letak selimut yang sudah tercecer di lantai. Anak matanya menatap ke arah Nayra yang tertidur meringkuk seperti bayi. Rafa mendekati Nayra yang masih menutup matanya. Tetesan air dari rambut Rafa jatuh tepat di bibir Nayra, hal itu membuat Nayra perlahan membuka matanya dan reflek mendorong Rafa hingga terjungkal ke lantai.
"Aaa..in...hmmpphh.." Rafa dengan cepat membekap mulut Nayra dengan telapak tangannya.
"Kamu itu kurang ajar banget jadi istri." Ucap Rafa memegang pinggangnya yang sakit karena jatuh.
"Aduh maaf, Nayra pikir tadi...anu..itu.." gagap Nayra.
"Aaa..anu apa?" Tanya Rafa kesal yang kemudian beranjak menuju koper dan membawanya ke atas ranjang.
"Mau Nayra bantuin nggak?" Tanya Nayra saat Rafa sudah mengobrak-abrik isi kopernya.
"Nggak usah!" Ucap Rafa yang sudah mendapatkan pakaian yang akan ia kenakan.
"Kak.."
"Hmm?"
"Nayra laper kak, dari siang kan belum makan. Kasihan kak, kamingsun belum dapat asupan dari siang." Ucap Nayra mengelus perutnya.
Rafa tak menyahut dan malah masuk kedalam kamar mandi. 5 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan kaos abu-abunya.
"Buruan siap-siap sana!" Ujar Rafa menatap ke arah Nayra.
"Bapak kamu ganteng banget sih sun? Gak salah emang kalau Kak Rafa jadi calon Papa kamu, hihihi.." ucap Nayra terkikik pelan.
"Aku tunggu di depan." Ucap Rafa keluar dari kamar. Rafa tampaknya sedang dalam mode irit bicara sekarang.
Nayra turun dari atas ranjang dan langsung memakai pakaian luarnya yang tadi sore sempat ia buka karena merasa kegerahan, dan untungnya Rafa tak ambil pusing saat Nayra membuka baju dan celananya yang hanya menyisakan hotpants dan tank top saja.
Nayra menghampiri Rafa yang sudah menunggu di luar kamar. Rafa sedang mengotak-atik layar ponselnya yang menyala dengan terang.
"Yuk kak, Nayra udah siap nih." Ujar Nayra yang menarik tangan Rafa dan menyelipkan tangannya.
Keduaanya pun berjalan keluar dari kamar. Udara malam yang dingin membuat Nayra menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
"Kak, kita mau cari makanan dimana nih? Emangnya di tempat ini ada yang jual makanan malam-malam begini?" Tanya Nayra saat mereka sudah sedikit jauh dari penginapan.
"Menurut kamu?"
"Menurut aku kayanya ngga ada deh, dari tadi aku perhatiin semuanya sepi, nggak ada orang." Ucap Nayra.
"Namanya juga di desa. Kehidupan di desa sama di kota itu jelas beda." Ucap Rafa.
Nayra mengangguk-angguk paham.
"Tapi disini dingin kak, Nayra nggak kuat nahan dinginnya. Kaki Nayra juga jadi kram." Ucap Nayra.
"Ayo naik! Ini udah malem." Ujar Rafa yang bersiap akan menggendong Nayra.
Nayra tersenyum dan langsung naik ke atas gendongan Rafa.
"Pegangan yang kuat!" Ucap Rafa.
Nayra mengeratkan pelukan tangannya di leher Rafa, sedangkan Rafa kembali berdiri dan berjalan melangkah dengan Nayra yang sudah berada di gendongannya.
"Kak..."
"Apa?"
"Nggak ada apa-apa, Nayra cuma panggil doang." Ucap Nayra terkekeh.
Rafa pun membawa Nayra menuju sebuah tempat. Sebuah warung nasi goreng yang kebetulan masih buka.
"Pak, saya mau pesan nasi gorengnya dua porsi yah." Ujar Rafa.
"Aduh maaf sebelumnya mas, tapi ini stok nasinya tinggal sedikit lagi, ini juga sebentar lagi saya mau tutup." Ujar seorang pria paruh baya pemilik warung nasi goreng.
"Yaudah kalau gitu saya pesan satu porsi aja pak"
"Baik mas, ini nasi gorengnya mau yang pedas atau yang biasa aja?" Tanyanya lagi.
"Kamu suka pedes?" Tanya Rafa pada Nayra.
"Emm suka.."
"Yaudah pak kalau gitu yang pedes aja." Jawab Rafa.
"Masnya orang baru yah disini? Saya kok baru lihat?" Tanya pria paruh baya tersebut.
"Iya pak, saya datang kemari karena ada urusan pekerjaan."
"Kalau saya boleh tahu profesi masnya apa yah?
"Saya seorang dokter pak, saya datang kemari bersama beberapa tim dokter yang lain." Jelas Rafa.
"Owh begitu."
"Itu adiknya ya mas, saya perhatiin dari tadi mas gendongin terus?" Tanyanya melihat Nayra yang masih berada di gendongan Rafa.
"Bukan pak, dia istri saya." Ucap Rafa.
"Istrinya lagi ngidam yah mas?"
"Bukan pak, cuma tadi bilangnya lapar jadi saya inisiatif buat cari makanan di luar." Jawab Rafa.
"Kalau di desa mah susah nyari warung nasi, kalaupun ada cuma beberapa saja. Kalau di kota mah beda lagi, pasti banyak." Ujarnya seraya membungkus nasi goreng pesanan Rafa.
"Ini mas nasi gorenya, nggak usah dibayar juga gak papa." Ucap pria paruh baya tersebut sambil menyodorkan plastik kresek ke arah Rafa.
"Jangan pak, biar saya bayar saja." Ujar Rafa menarik dompet miliknya dari saku celananya dan mengeluarkan selembar uang merah.
"Ini pak, kembaliannya ambil saja. Saya permisi." Ucap Rafa.
"Terima kasih banyak mas."
"Sama-sama pak." Ucap Rafa.
Rafa pun menenteng bungkusan plastik dan berjalan kembali ke arah penginapan. Selama di perjalanan Nayra tampak bergerak gelisah di gendongan Rafa.
"Kak, Nayra turun aja yah." Ucap Nayra melepas lilitan tangannya di leher Rafa.
"Nggak usah, udah mau nyampe." Ucap Rafa.
"Nggak. Nayra mau turun aja." Ucap Nayra yang memaksa turun dari atas gendongan Rafa.
"Sini biar Nayra aja yang bawa." Ucap Nayra menarik bungkusan plastik dari tangan Rafa dan berjalan lebih dulu.
Baru beberapa langkah Nayra langsung memutar balik badannya ke arah Rafa yang masih berada di belakang.
"Kenapa balik?" Tanya Rafa yang berjalan dengan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya.
"Itu di depan sana ada..."
"Ada apa?"
"Ada hantu kak, aku takut." Ujar Nayra memegang tangan Rafa.
"Makanya jangan ngeyel kalau dibilangin!" Ucap Rafa yang berjalan lebih dulu.
"Iya maaf." Nayra berjalan beriringan bersama dengan Rafa.
"Kak, ada yang gerak-gerak di atas sana."
Ucap Nayra menunjuk ke arah pohon kelapa yang ditiup angin.
"Bisa diem nggak?" Tanya Rafa berubah jadi sewot.
"Nggak ada hantu disini!" Jawab Rafa lagi.
Beberapa saat kemudian keduanya sudah sampai depan kamar penginapan. Nayra langsung ngacir masuk ke dalam kamar dan menarik selimut sampai batas dada.
Rafa meletakkan bungkusan plastik yang ia bawa diatas meja kecil disamping ranjang.
"Mau makan sekarang atau nanti?" Tanya Rafa mendekati Nayra.
Nayra menggeleng.
"Aku nggak laper, kakak makan sendiri aja." Ucap Nayra tidur dengan posisi menyamping.
"Kamu mungkin nggak butuh, tapi calon bayi di perut kamu butuh. Aku nggak mau anak aku kekurangan asupan makanan karena punya ibu yang teledor." Ucap Rafa.
"Jadi Nayra teledor gitu? Kakak kenapa sih? Kok berubah jadi kasar begini? Nayra nyesal udah susulin kakak disini. Yaudah sini nasi gorengnya Nayra makan, biar nanti kamingsun nggak kekurangan asupan MAKANAN." Ucap Nayra turun dari atas ranjang dan mengambil bungkusan nasi goreng tersebut.
Rafa menghela nafas pelan melihat perubahan moodnya yang tidak stabil. Rafa memeluk pinggang Nayra dari belakang.
"Maaf"
Tbc.
Tolong siapa pun kamu yang udh baca ini, kasih masukan dong. Aku lagi berada dalam fase writersblock sekarang 😑. Lagi-lagi mood nulis harus jadi taruhannya. Disamping itu ada masalah di dunia realita yang mau nggak mau mesti dihadapin.