The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Delapan



***


Setelah berjam-jam berdiri ditambah lagi dengan high hells yang sangat menyiksa akhirnya semuanya telah berlalu. Nayra kini sudah bisa untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya.


Beda halnya dengan Rafa, pria itu bahkan tidak bisa langsung beristirahat dikarenakan dirinya sedang diberikan wejangan panjang kali lebar , bahkan dirinya tidak diijinkan untuk sekedar mengganti pakaian.


"Jadi sekarang kamu paham kan tugas seorang suami itu seperti apa? Sekarang ada Nayra yang sudah menjadi tanggung jawab kamu, jaga dan sayangi Nayra sama seperti yang pernah Daddy lakukan pada Mommymu, karena wanita adalah


seumpama tulang rusuk pria yang harus dijaga dan dilindungi. Jangan pernah kamu menyakitinya barang sedikitpun! Kalau ada masalah kamu harus bisa menyelesaikannya secara dewasa, kamu harus ingat posisimu sekarang adalah kepala rumah tangga," jelas Arkan menasehati anak sulungnya itu.


"Dengerin tuh! Dan satu lagi yang mau gue sampaikan sama lo. Jangan pernah lo buat Nayra nangis atau sedih sedikitpun, karna kalau sampai gue tau lo ngelakuin itu, lo berhadapan sama gue. Dari kecil gue selalu memastikan kalau Nayra itu baik-baik aja, jadi sekarang tugas untuk menjaga Nayra ada di tangan lo fa. Jangan pernah hancurin kepercayaan kita. Gue yakin Nayra pasti bisa bahagia sama lo," ujar Brian Kakak laki-laki Nayra seraya menepuk bahu Rafa yang sedari tadi hanya bisa menjadi pendengar yang baik.


"Om juga setuju sama Daddy kamu dan juga Brian, Om harap kamu bisa melakukan tugas kamu menjadi seorang suami yang baik. Om percaya kamu adalah pria yang baik dan penuh tanggung jawab. Saya titip Nayra sama kamu," ujar Alex selaku papa Nayra.


***


Rafa berjalan menaiki tangga seraya menenteng jas miliknya, rasanya badannya sungguh benar-benar sangat lelah hari ini. Setelah mendengar wejangan panjang kali lebar akhirnya Rafa di ijinkan istirahat juga.


Rafa meraih knop pintu kamar yang memang sudah dipersiapkan sebagai kamar nya dengan Nayra, tiba-tiba ia menjadi teringat pada Nayra yang tak terlihat lagi sejak tadi.


Cklek


Rafa membuka pintu kamar dengan pelan, ia sedikit heran karena mendapati


Suasana kamar yang gelap dan hanya diterangi oleh beberapa lilin yang menyala. Meskipun gelap Rafa tetap masuk kedalam kamar, aroma bunga dan wangi-wangian langsung merebak menebus hidungnya. Samar-samar ia melihat tubuh seseorang yang tidur dengan posisi membelakangi dirinya.


Rafa pun berjalan mendekati sosok itu seraya melepas kemejanya menyisakan kaos berwarna putih miliknya. Rafa tersenyum tipis saat menyadari sosok itu ternyata adalah Nayra yang sudah tertidur meringkuk seperti bayi.


Rafa pun menarik selimut dan menutupi tubuh Nayra sampai batas bahunya. Ia pun memutuskan untuk segera mandi agar rasa gerah di tubuhnya berkurang.


Sedangkan Nayra perlahan membuka matanya saat mengetahui jika Rafa sudah masuk kedalam kamar mandi. Nayra pun bangun dari tidurnya dan menyingkap selimut yang dipakainya. Ia sengaja berpura-pura tidur saat mendengar suara derap langkah kaki Rafa yang masuk kedalam kamar, sejujurnya ia merasa sangat grogi malam ini, ada banyak sekali dugaan-dugaan dan pertanyaan yang sedari tak berhenti muncul di otak dan hatinya.


Selagi Rafa masih mandi Nayra pun memutuskan untuk membersihkan kamar dari segala jenis bunga dan wewangian yang baginya sangat menganggu penciuman. Ia menduga jika yang melakukan semua ini adalah mama dan ibu mertuanya, entah apa tujuan mereka melakukan semua itu.


Nayra pun beranjak keluar dari kamar untuk mencari sapu dan serokan sampah di lantai bawah.


"Lagi nyari apaan Nay?" tanya Mira yang merupakan kakak iparnya. Kebetulan ia sedang di dapur dan sedang membantu menyiapkan makan malam.


"Lagi nyari sapu kak, tapi dari tadi gak ketemu juga, kakak ada lihat nggak?" tanya Nayra.


"Nggak ada tuh," jawab Mira berbohong.


"Kok aneh yah tiba-tiba sapunya bisa ilang?" gumam Nayra yang masih berusaha untuk mencari sapu yang diinginkannya.


"Kamu coba cari di depan nay, siapa tau sapunya ada disana," ujar Mira.


"Udah kak, tetap aja gak ada." Ujar Nayra.


"Nyari sapunya besok aja nay, sekarang lebih baik kamu panggilin Rafa buat makan malam, kakak juga mau manggil yang lainnya," ucap Mira mengalihkan perhatian Nayra agar berhenti mencari sapu.


"Yaudah kalau gitu, Nayra balik keatas dulu kak," ucap Nayra berlalu pergi.


Selang beberapa saat setelah kepergian Nayra, Alea dan Dwi muncul bersamaan.


"Nayranya mana ra?" tanya Alea.


"Udah aku suruh balik kekamar tan buat manggilin Rafa," jawa Mira.


"Bagus deh, tapi Nayra gak berhasil nemuin sapunya kan?" sela Dwi.


"Nggak kok mah, aman," ujarnya mengacungkan jari jempolnya.


Usut punya usut ternyata ketiganya memang bersekongkol untuk menyembunyikan sapu dari Nayra, mereka sudah menduga jika Nayra pasti akan mencari sapu untuk membersihkan hasil karya tangan mereka di dalam kamar Nayra-Rafa.


Nayra membuka pintu dan masuk kedalam, ia mendapati jas dan kemeja milik Rafa yang masih berada di tepi ranjang. Nayra pun mengambil dan menaruhnya kedalam keranjang kotor bersamaan dengan gaun miliknya lalu kembali memikirkan cara agar kekacauan di dalam kamar tersebut bisa hilang. Nayra pun berjongkok di lantai dan mengumpulkan taburan kelopak bunga yang berserakan di lantai. Sekarang kamarnya lebih mirip seperti kuburan bukan kamar tidur.


Cklek


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Rafa keluar dengan jubah mandi yang melekat di tubuhnya. Ia keheranan melihat Nayra yang sedang berjongkok di lantai dan tampak sedang mengerjakan sesuatu.


"Lo ngapain jongkok di lantai?" tanya Rafa seraya mendekati Nayra dari belakang


Mendengar suara Rafa, Nayra langsung berhenti melakukan aktivitasnya dan berdiri memutar balik badannya kearah Rafa yang berdiri di belakangnya.


"Emm...ini kak Nayra lagi bersihin bunga-bunga ini, Nayra gak suka baunya," ujar Nayra berusaha untuk tidak gugup di depan Rafa.


Nayra pun memutuskan untuk mengentikan kegiatannya mengumpulkan taburan bunga-bunga itu. Nayra pun berdiri dan duduk di tepi ranjang sembari menunggu Rafa yang masih berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian Rafa keluar dari kamar mandi dengan setelan piyama tidur miliknya. Rafa naik keatas ranjang dan menyandarkan bahunya di kepala ranjang, ia memandang punggung Nayra dari belakang yang sedari tadi hanya diam tak ada pergerakan.


"Nayra," panggil Rafa pelan.


"Eh, iya kak," jawab Nayra.


"Lo mau duduk semalaman disitu?" tanya Rafa.


"Nggak kok kak, biar nanti Nayra tidur dibawah aja," ujar Nayra.


"Lo ngapain tidur di bawah?Sini tidur disamping gue," ucap Rafa seraya menepuk tempat kosong disampingnya.


"Emang boleh kita tidurnya seranjang?" tanya Nayra.


"Lo kenapa tiba-tiba jadi bego gini sih? Lo pikir aja sendiri, emang ada suami istri itu tidur terpisah?" ucap Rafa.


Bukannya menjawa Nayra pun naik keatas ranjang dan bergerak kesamping Rafa yang masih menyenderkan badannya.


Nayra pun merebahkan tubuhnya ke arah samping sehingga membelakangi Rafa. Ia sangat grogi mengingat ini adalah malam pertama mereka, malam yang kata orang adalah malam spesial bagi pengantin baru. Mengingat itu membuat Nayra menelan ludahnya kasar, apakah Rafa juga akan menuntut haknya sebagai seorang suami?


Rafa menarik selimut untuk menutupi tubuh Nayra kemudian ikut bergabung di sampingnya.


"Gak sopan tidur sambil belakangin suami kaya gitu, balikin badan lo sekarang juga!" ujar Rafa.


Beberapa detik kemudian Nayra akhirnya mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke arah Rafa, ia tak berani untuk sekedar menatap wajah Rafa. Keberaniannya mendadak hilang sejak statusnya telah menjadi istri, padahal sebelum mereka menikah ia tak pernah se grogi ini saat berhadapan dengan Rafa.


"Lihat gue!" ucap Rafa tepat di depan Nayra.


Nayra pun mendongak dan mata keduanya langsung beradu pandang satu sama lain. Ia sedang mencoba untuk tidak gugup saat berada di depan Rafa.


"Mulai sekarang jangan pernah panggil gue dengan sebutan kakak lagi karena sekarang gue suami lo bukan kakak lo, ngerti?" tanya Rafa.


"Gak bisa kak, kesannya kaya gak sopan banget. Nayra nyaman dengan panggilan itu," ucap Nayra.


Mendengar kata nyaman dari mulut Nayra entah kenapa membuat Rafa jadi tersenyum sendiri, tak bisa ia pungkiri jika kehadiran Nayra juga perlahan membuatnya merasa nyaman entah dalam artian apa.


"Yaudah terserah lo aja," ucap Rafa sembari tangannya memeluk pinggang Nayra dari depan.


Nayra kaget dengan perlakuan yang Rafa berikan, ia tak percaya jika Rafa benar-benar memeluknya saat ini.


"Kak," panggil Nayra pelan


"Biarin kaya ini. Gue suka posisi tidur kaya gini dan gue mau ini jadi kebiasaan kita sebelum tidur, gue gak terima penolakan," ucap Rafa final dan menutup matanya.


Tok....tok......tok


"Rafa, Nayra ayo makan malam dulu," panggil Alea yang mengetuk pintu dari luar.


"Kak, itu Tante Alea ada di depan," ucap Nayra.


"Udah biarin aja, lagian gue gak laper, mereka juga bakal ngerti kok," ucap Rafa.


Dan benar saja beberapa detik kemudian suara ketukan pintu sudah tak terdengar lagi, sepertinya Alea sudah benar-benar pergi.


"Kak,"


"Hmm..."


"Kakak gak mau minta itu? Nayra siap kok kalau kakak mintanya sekarang," ucap Nayra pelan.


Rafa membuka matanya karena ucapan Nayra barusan. Bahkan dirinya saja tak kepikiran sampai kesana, namun ternyata Nayra sudah berpikir sejauh itu.


"Gue mau semuanya mengalir gitu aja nay, gue gak mau terlalu terburu-buru. Gue juga gak bakal mau ngelakuin itu sebelum kita benar-benar siap," ucap Rafa.


"Yaudah deh, Nayra ngerti sekarang," ucap Nayra kemudian memejamkan matanya.


Nayra mengerti sekarang kenapa Rafa berkata seperti itu, seharusnya ia sadar jika mereka menikah hanya melibatkan satu perasaan saja dan itu adalah Nayra sedangkan Rafa ia tak tahu pasti bagaimana perasaan pria itu.


Tbc