
***
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, namun Nayra sedari tadi tidak bisa tidur karena mendengar suara petir yang sangat keras dari arah luar. Sesekali Nayra melihat kearah gorden jendela yang bergerak-gerak karena ditiup angin.
Nayra bergerak gelisah di tidurnya, padahal tangan Rafa sedari tadi memeluk pinggang miliknya. Nayra masuk kedalam selimut dan merapatkan kepalanya kearah dada Rafa, sampai ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Rafa. Nayra berharap dengan mendengarkan detak jantung Rafa dirinya akan mengantuk dan tertidur.
Namun saat akan mulai memejamkan matanya tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu dari atas nakas yang berada di samping ranjang. Nayra bangun dari tidurnya dan mengambil ponsel Rafa yang berbunyi diatas nakas.
Nay calling
Nayra terbelalak saat melihat nama si penelpon, ia pun berniat akan mengangkat telfon tersebut agar ia tahu siapa pemilik nama kontak tersebut.
"Kamu ngapain? Kok belum tidur?" tanya Rafa yang terbangun karena mendengar bunyi ponselnya.
"Ini mau tidur lagi kok, nih tadi ada yang nelfon kakak, kayanya penting," ujar Nayra memberikan ponsel tersebut kepada Rafa.
Rafa menerima uluran tangan Nayra, dan dengan cepat mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
"Halo....
"................."
"Ada apa, lo ngapain telepon malam-malam?"
" ................"
"Tolongin gimana maksut lo?"
"....................."
"Gue gak bisa,"
"...................."
"Yaudah ok kali ini gue bakal bantuin lo,"
"..................."
"Posisi lo dimana sekarang?"
".................."
Rafa meletakkan ponselnya diatas nakas dan berjalan keluar dari dalam kamar menuju pintu utama. Nayra yang melihat itu diam-diam membuntuti Rafa sampai depan.
Setelah sampai di depan pintu, Rafa pun langsung membukanya. Seorang wanita berambut panjang ternyata sudah menunggunya di luar dengan tubuh yang sudah basah kuyub.
"Rafa....hiks...hiks...." isaknya begitu melihat Rafa dan memeluk tubuh Rafa dengan erat.
"Lo ngapain malam-malam datang kesini basah kuyub kaya gini?" tanya Rafa.
"Gue....gue.....gue diusir dari rumah gue fa, orang tua gue gak mau nerima gue lagi, izinin gue buat tinggal beberapa hari kedepan disini sampai gue nemuin tempat yang baru," jelas Nayla.
"Ya tapi,"
"Tolongin gue fa," mohon Nayla.
"Gue gak bisa,"
"Lo tenang aja gue gak ada maksud apa-apa kok, niat gue murni cuma minta tolong," mohon Nayla.
Setelah mempertimbangkannya sejenak akhirnya Rafa mengizinkan Nayla untuk bertamu di rumahnya, ia hanya merasa kasihan bukan karena merasa simpatik dengan Nayla. Ia fikir setelah ini ia akan berbicara dengan orang tuanya dan juga Nayra.
"Buruan masuk! Diluar dingin," ucap Rafa yang mengajak Nayla untuk masuk kedalam rumah.
Nayla mengangguk pelan dan mengekori Rafa masuk kedalam rumah.
" Ikut gue!" ujar Rafa yang menaiki undakan anak tangga.
Keduanya sudah tiba di atas, Rafa pun menuntun Nayla menuju kamar tamu.
"Malam ini lo bisa nginap disini, gue permisi dulu," ujar Rafa yang beranjak pergi darisana.
"Tapi gue gak punya baju gantih buat malam ini, gue gak bawa apa-apa," ucap Nayla saat Rafa sudah beberapa langkah keluar dari ambang pintu.
Rafa berhenti sejenak dan melihat kearah Nayla.
"Nanti gue minta Nayra buat pinjemin lo pakaian," ujar Rafa lalu pergi.
"Ck, Nayra lagi, Nayra lagi. Kapan sih Rafa lo sadar kalo gue lebih baik daripada wanita manja itu, " gumam Nayla yang duduk diatas ranjang menghadap kearah cermin.
Nayra berdiri di depan ranjang untuk menunggu kehadiran Rafa disana, ia mau meminta penjelasan mengapa Rafa mengizinkan Nayla untuk menginap dirumah mereka.
Cklek
"Kamu belum tidur juga?" tanya Rafa yang sudah kembali kedalam kamar.
"Kakak izinin wanita itu tinggal disini?" Nayra malah balik bertanya.
"Iya nay, Nayla bilang dia diusir dari rumahnya dan sekarang dia gak punya tempat tinggal lagi," jelas Rafa.
"Ya tapi kenapa harus ke rumah ini, dia kan tahu kakak udah nikah dan punya istri, tapi masih aja gatel sama laki orang," ucap Nayra dengan nada tak suka.
"Kenapa? Kamu cemburu hmm?" tanya Rafa tersenyum menggoda kearah Nayra.
"Nggak. Nayra gak cemburu, cuma gak suka aja," jawab Nayra yang berusaha menutupi rasa cemburunya. Yah jelas saja Nayra cemburu, apalagi tadi ia sempat melihat Nayla yang memeluk Rafa.
"Oh, gak mau ngaku juga?" tanya Rafa.
"Kenapa emang kalau Nayra cemburu, gak boleh?salah emang istri cemburu sama suaminya?" tanya Nayra bertubi-tubi.
"Ya bukannya gak boleh,"
"Kamu kok jadi aneh begini?" tanya Rafa.
"Aneh apanya, Nayra gak pernah berubah kok," ujar Nayra.
"Kamu jadi lebih banyak bicara dari biasanya, mulut kamu jadi makin pinter ngomong sekarang, diajarin sama siapa hmm?" tanya Rafa memegang dagu Nayra.
"Diajarin sama suaminya Nayra," ucap Nayra.
"Suami? Diajarin gimana maksudnya?"
"Kakak mau diajarin juga sama Nayra,"
"Boleh,"
"Tutup mata dulu, abis itu baru deh Nayra ajarin," ujar Nayra.
Rafa tersenyum dan menutup kedua kelopak matanya sesuai anjuran Nayra.
Nayra tersenyum dan perlahan mengalungkan kedua tangannya ke leher Rafa dan mulai mendekatkan wajahnya.
Cup
Nayra mengecup bibir milik Rafa sehingga Rafa membuka matanya, dan melihat apa yang Nayra lakukan.
Bibir mungil Nayra menyesap dan menggigit-gigit kecil bibir Rafa persis seperti yang Rafa lakukan ketika sedang mencium Nayra meski sedikit amatiran.
Rafa menarik pinggang Nayra, dan menuntunnya untuk berbaring diatas ranjang dan mengambil alih ciuman yang sebelumnya diciptakan oleh Nayra. Diluar hujan sedang turun dengan derasnya dan itu membuat kedua sejoli itu terbawa suasana.
***
Tok..tok..tok
"Apasih ganggu orang tidur aja," ujar Nayla yang terusik dari tidurnya karena mendengar bunyi pintu yang sedari tadi terus diketok.
Dengan malas Nayla bangkit dari atas ranjang dan membukakan pintu.
"Ada apa? Lo ngapain pagi-pagi buta udah gangguin orang tidur," ujar Nayla ketus saat melihat Nayralah yang sedari tadi mengetuk pintu.
"Nayra cuma mau nganterin ini," ujar Nayra menyodorkan beberapa pasang pakaian miliknya pada Nayla.
"Rafa mana, kok lo yang nganterin?" tanya Nayla.
"Kak Rafa lagi siap-siap di kamar," jawab Nayra.
"What? Kakak? Seriusan lo panggil Rafa dengan sebutan kakak? Apaan tuh masa manggil suami pakai sebutan kakak, aneh banget," ucap Nayla.
"Kenapa? Apa ada yang salah? Terserah Nayra dong mau manggil kak Rafa itu dengan sebutan apa, kak Rafa aja gak pernah merasa keberatan lah kenapa anda yang protes?" ujar Nayra tegas.
Nayla merasa mati kutu dengan jawaban yang diberikan oleh Nayra.
"Oh iya ini pakaiannya Nayra taruh disini, gak usah dibalikin juga gak papa. Nayra iklas kok, permisi," ujar Nayra masuk kedalam kamar yang ditempati Nayla kemudian pamit pergi.
"Kalau bukan karna rasa cinta gue, gue juga gak bakal sudi datang kerumah ini. Apalagi sekarang wanita manja itu udah berani ngelawan gue, lihat aja nanti gue pastiin kalau gue yang bakal jadi ibu untuk anak-anak Rafa," ujar Nayla berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Sedangkan Nayra kembali ke kamar untuk menemui Rafa yang tengah bersiap-siap.
"Kak....kakak....pakaiannya Nayra taro diatas ranjang yah," ucap Nayra dari luar kamar mandi.
Cklek
Rafa keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk berwarna biru tua.
"Kakak udah selesai mandinya?" tanya Nayra.
"Iya, kamu udah anterin bajunya?"
"Udah kok kak barusan," jawab Nayra.
"Hari ini kamu mau dirumah aja atau mau pergi keluar?" tanya Rafa seraya memakai kaos putihnya.
"Dirumah aja bantuin Mommy," jawab Nayra.
"Gak ada niat mau kerumah sakit?" tanya Rafa.
"Rumah sakit? Emang Nayra mau ngapain kerumah sakit?" tanya Nayra.
"Ya terserah kamu, hari ini aku dinas cuma sampe jam siang, siapa tau kamu mau jalan-jalan," ujar Rafa.
"Emang boleh?"
"Boleh lah kenapa nggak? Tapi inget nanti kalau kamu udah nyampe rumah sakit langsung kabarin aku. Aku gak mau kejadian waktu itu terulang lagi dan aku gak suka kamu ketemu sama Rion, dia itu bukan pria baik-baik. Kamu ngerti kan?" tanya Rafa.
"Iya Nayra ngerti kok," jawab Nayra tersenyum dan mengangguk.
"Bagus kalau gitu,"
***
Tbc
Mulai possesive ya bund
Smoga suka dengan part ini.
Jadi gimana guys, masih lanjut ato berhenti sampe sini?
Jangan pelit vote and coment dong, voment yg banyak biar makin semangat up💜
See you