
Smoga kalian suka dan semoga part ini tidak mengecewakan.🙂🙏
.
.
.
"Tapi aku mencintainya.." ujar Rafa pelan tapi masih bisa didengar jelas oleh Nayra. Nayra langsung menghentikan langkahnya.
"Sayangnya itu hanya akan menjadi pengakuan yang tidak akan pernah terjadi." Ujar Nayla berontak melepaskan diri dan mendorong Rafa sehingga kepalanya terbentur ke kaki brankar.
"Argh..." Rafa menyentuh kepala bagian belakangnya.
"Kakak..." Nayra memutar balik badannya dan menghampiri Rafa yang terduduk di lantai.
Nayra menangis dan kedua tangannya menangkup wajah Rafa.
Rafa mengenggam kedua tangan Nayra yang berada pipinya.
"Jangan menangis!" Ujar Rafa dan kemudian menarik wajah Nayra lalu ********** secara perlahan di depan mata Nayla. Nafas Nayla seketika langsung memburu, matanya melotot dan keringat mulai membasahi wajah dan bagian tubuhnya yang lain. Nayla menggeram tertahan, sedangkan Rafa tetap melanjutkan kegiatannya.
"Argh.." Nayla menggeram kesal dan berlari keluar dari dalam sana.
Rafa yang melihat itu langsung melepaskan tautan bibir mereka dan mengecup kening Nayra pelan sedangkan Nayra masih terdiam.
"Semuanya akan baik-baik saja." Ujar Rafa menyentuh wajah Nayra dan merapikan anak rambut Nayra.
Nayra mengalihkan pandangannya ke arah pintu, memastikan jika Nayla benar-benar sudah pergi darisana. Tetapi bagaimana bisa hanya karena melihat Rafa yang mencium dirinya membuat Nayla memilih untuk pergi darisana?
"Bag.."
"Nayla, philemapobhia." Potong Rafa dengan cepat saat Nayra belum menyelesaikan ucapannya.
Nayra menatap Rafa dan mencerna makna kata yang diucapkan olehnya. Nayra berkedip beberapa kali dan hal ini membuat Rafa terkekeh karena melihat wajah Nayra yang tampak berusaha memahami ucapannya barusan.
"Nggak usah sok mikir begitu." Ucap Rafa menekan hidung Nayra pelan.
"Philemaphobia itu artinya phobia ciuman, dan aku baru ingat kalau Nayla phobia ciuman. Jadi aku pikir itu satu-satunya cara biar Nayla nggak nyakitin kamu." Ujar Rafa menatap manik mata Nayra.
"Sekarang lihatkan, caranya berhasil." Ucap Rafa lagi. Terbukti saat Rafa mencium Nayra tadi Nayla memilih pergi darisana.
Nayra hanya diam. Namun tangannya terulur menyentuh bagian belakang kepala Rafa yang sempat terbentur.
"Sakit nggak?" Tanya Nayra mengalihkan topik pembicaraan.
"Ck," Rafa berdecak pelan dan menarik tangan Nayra yang mengelus kepalanya. Membawanya melingkar ke arah lehernya dan mengangkat tubuh Nayra ke atas brankar.
"Akh.." desah Nayra saat Rafa menyentuh area luka baru yang berada di pinggang Nayra.
"Lukanya belum kering, makanya jangan banyak gerak!" Ucap Rafa menarik selimut dan menutupi tubuh Nayra sampai batas dada.
Keduanya saling pandang satu sama lain. Rafa yang menyadari ada aura lain yang keluar dari mata Nayra langsung menarik kursi dan duduk di samping Nayra.
"Kenapa hem? Ada aku disini." Ujar Rafa pelan.
"Aku, aku takut." Ucap Nayra menjulurkan sebelah tangannya dan meremas kuat tangan Rafa.
"Kamu aman disini." Ucap Rafa menyentuh tangan Nayra.
"Hiks..hiks..aku, aku mau pulang, aku nggak mau tinggal disini." Ujar Nayra yang terisak dan menarik-narik jas milik Rafa.
"Iya-iya, tapi tunggu luka kamu sembuh dulu." Ujar Rafa.
Nayra menggeleng cepat.
"Pulang!" Ucap Nayra.
Rafa menghela nafas dan menahan kedua tangan Nayra yang menarik-narik jas dokternya.
"Kita nggak akan pulang sebelum kamu tenang." Ujar Rafa.
"Nggak mau, aku mau pulang." Ujar Nayra.
"Iya kita pulang, tapi kamu harus istirahat sekarang." Ujar Rafa melepaskan genggaman tangan Nayra.
Nayra akhirnya menurut dan terlihat mulai tenang meskipun sebelah tangannya menggenggam tangan Rafa dan memeluknya erat. Perlahan-lahan mata Nayra mulai terpejam menyisakan air mata yang masih membekas di bulu matanya.
Tangan Rafa terulur untuk menghapus sisa-sisa bulir air mata Nayra dengan ibu jarinya.
***
Nayla tampak berlari semakin menjauh, mengindari kemungkinan dirinya akan ditangkap dan diminta untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, karena ia yakin jika cepat atau lambat pasti Rafa tak akan tinggal diam dan tak akan membiarkan dirinya bebas begitu saja.
Nayla bingung harus pergi kemana sekarang. Tak ada tempat yang aman untuk ia gunakan sebagai persembunyiannya sekarang ini.
Nayla melepas sepatunya dan berlari secepat yang ia bisa. Namun nasib baik sedang tidak berpihak padanya, dua orang pria muda tampak sudah menghalangi jalannya.
"Mau apa kalian?" Tanya Nayla was-was.
Kedua pemuda itu saling pandang satu sama lain seraya tersenyum sinis ke arah Nayla.
"Kelamaan, buruan bawa sekarang!" Ujar salah satu diantara pemuda tersebut.
Keduanya pun menarik pergelangan Nayla dan membawanya pergi menjauh kedalam hutan. Nayla yang merasa dirinya sedang dalam bahaya berusaha berontak saat dirinya sudah dibawa semakin jauh ke dalam hutan.
"Hei kau bocah? Lepaskan aku!" Ucap Nayla.
"Gimana nih? Kita bawa balik atau tinggalin disini aja?"
"Percuma dong kita capek-capek tangkap dia kalau ujung-ujungnya kita biarin gitu aja."
"Tapikan kita ditugaskan cuma untuk menangkap wanita ini bukan malah bawa dia kesini, dia ini psikopat bro, dia berbahaya."
"Persetan mau dia psikopat atau nggak. Gue nggak perduli. Mendingan sebelum dia kita bawa, gue mau nyicipin dia dulu."
"Gila lo, di tempat begini lo masih sempet-sempetnya mikir ngeres begitu. Gue nggak ikutan."
"Ah payah lo. Sayang dong yang mulus begini dianggurin gitu aja."
Salah satu diantara pemuda itu mulai mendekati Nayla dan mendorong tubuh Nayla hingga tubuhnya jatuh ke tanah. Pemuda itu kemudian mendekatkan wajahnya kearah Nayla.
Cuih..
Nayla meludah tepat di depan wajah pemuda tersebut. Dirinya geram karena merasa mendapat penghinaan dari Nayla.
Pemuda tersebut geram dan kemudian mencekik leher jenjang Nayla. Namun tak lama setelahnya ia melihat ada yang aneh pada bagian leher Nayla, terlihat seperti lipatan kulit baru.
Srek
Keduanya tercengang melihat pemandangan di depan mereka. Wajah cantik dan mulus milik Nayla lenyap begitu saja, ketika pemuda tersebut menarik dengan cukup kuat sebuah lipatan mirip kulit manusia yang membungkus leher dan wajah Nayla.
"In...i apaa..n?" ucap salah satu pemuda tersebut dan spontan berdiri dan mengangkat benda yang ia pegang.
"Jadi cuma topeng? Aslinya nenek-nenek?"
***
Keadaan posko yang semula sepi menjadi mendadak ramai. Semua warga desa berbondong-bondong mendatangi posko karena kaget plus penasaran begitu mendengar bahwa Nayla sudah ditangkap dan dibawa menuju posko. Ternyata kabar Nayla yang hampir membunuh Nayra menyebar dengan sangat cepat. Mereka tak lagi segan-segan mengatakan jika Nayla adalah psikopat gila dan memang sepatutnya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Rafa yang memang sedang menemani Nayra semalaman menjadi terusik karena mendengar suara keramaian dari arah luar. Rafa bangun dari tidurnya dan sebentar melihat kondisi Nayra yang masih tertidur pulas. Rafa menghela nafas lega dan perlahan keluar untuk melihat sumber keributan di luar posko.
"Ada apa ini?" Tanya Rafa pada salah seorang anak koas yang berada diantara kerumunan.
"Emm..itu dok, dua diantara teman kami sudah berhasil menangkap dokter Nayla pagi ini." Ujarnya.
Rafa semakin mendekat ke arah kerumunan untuk memastikan apakah Nayla berada disana.
"Dimana dia?" Tanya Rafa yang tidak melihat adanya Nayla disana.
"Dia Nayla." Ujar Rion yang juga muncul disana.
"Gue yang minta mereka untuk membantu mencari Nayla." Ucap Rion lagi seraya melihat ke arah dua pemuda yang membawa Nayla.
Rafa hanya diam dan tak membalas ucapan Rion lagi. Melihat Rafa yang hanya diam, Rion pun berjongkok di depan seorang wanita yang tertunduk, wajahnya tertutup oleh rambutnya yang tergerai bebas.
"Angkat kepala lo dan tunjukkan wajah asli lo yang sebenarnya. Lo kalah sekarang. Gue kan udah pernah bilang kalau gue lebih pinter dari lo. Gue nggak akan biarin lo nyakitin wanita yang gue cintai gitu aja. Sekarang menyerahlah!" Bisik Rion di telinga Nayla yang masih tertunduk.
"Pegang tangannya!" Ucap Rion ke arah dua pemuda yang membawa Nayla tadi. Mereka mengangguk dan memegang kedua tangan Nayla yang sudah mengepal.
Kemudian tangan Rion terulur menyingkap rambut panjang Nayla sehingga seluruh wajahnya menjadi terlihat.
Beragam reaksi dan ekspresi mereka tunjukkan begitu wajah Nayla terlihat dengan jelas. Bentuk wajah yang terlihat sudah tak beraturan lagi, pipi yang cekung ditambah dengan bibir yang terlihat aneh. Kulit wajah Nayla yang setiap harinya terlihat mulus dan kencang berbanding balik dengan kenyataanya.
Kumpulan orang yang berada disana menjadi berbisik-bisik satu sama lain dan membicarkan wajah asli Nayla. Beberapa diantara mereka ada yang memilih menjauh karena jijik dan merasa takut, ada yang masih tak menyangka jika wanita berwajah hancur itu adalah Nayla. Pasalnya selama ini yang mereka tahu Nayla adalah sosok dokter yang cantik.
"Gue dapetin ini dari Nayra waktu kejadian kebakaran kemarin. Dan disini sudah ada bukti yang jelas kalau selama ini Nayla adalah psikopet yang sudah banyak memakan korban. Di dalam sini sudah tertera dengan jelas data-data pasien yang pernah ditangani oleh Nayla. Data pasien yang pernah melakukan aborsi. Kesempatan itu juga dia lakukan demi mengambil dan membedah kulit para pasiennya untuk kepentingan pribadi dan para kolaboratornya." Ujar Rion menunjukkan sebuah map yang ia pegang ditangan kirinya dan menyerahkannya ke Rafa yang sedari tadi hanya diam.
"Gue yakin lo tau apa yang harus lo lakuin sekarang. Gue udah telepon polisi untuk menangani kasus ini. Lo dan Nayra aman sekarang. Jaga Nayra. Bahagiain dia. Good luck." Ujar Rion menepuk bahu Rafa dan berlalu pergi darisana.
***
Kasus Nayla sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Rafa akhirnya bisa bernafas dengan lega karena Nayla sudah ditangkap dan akan mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Hari sudah menjelang malam. Rafa yang seharian ini sibuk mengurusi kasus Nayla ditambah tugasnya di posko yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Rafa baru bisa melihat keadaan Nayra lebih dekat saat urusannya sudah benar-benar selesai.
Nayra tersenyum kecil saat melihat Rafa yang masuk ke dalam kamar. Siang tadi Rafa memang menyempatkan dirinya untuk membawa Nayra menuju kamar penginapan agar dirinya bisa beristirahat dengan tenang.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Rafa yang naik ke atas ranjang.
"Belum ngantuk, soalnya seharian ini Nayra tidur terus." Ucap Nayra.
Rafa merebahkan badannya di samping Nayra dan mengangkat kepala Nayra, kemudian menyelipkan tangannya disana menjadi bantal untuk kepala Nayra.
"Lukanya masih sakit?" Tanya Rafa.
Nayra mengangguk pelan.
"Aku obatin yah? Perbannya harus digantih." Ucap Rafa.
"Nggak usah. Tadi sore udah Nayra gantih kok dibantuin sama dokter Rion." Ucap Nayra.
Rafa diam sejenak.
"Dia kesini?" Tanya Rafa yang langsung berekspresi datar.
Lagi-lagi Nayra mengangguk.
"Kak Rion cuma mau bantuin ngga ada niat lain." Ucap Nayra.
"Owh."
"Kok jawabnya ketus gitu?" Tanya Nayra yang melihat wajah datar Rafa.
"Ngga papa, udah malam. Buruan tidur!" Ucap Rafa yang menarik kembali tangannya yang sempat menjadi bantal untuk Nayra.
"Kakak cemburu yah?" Tanya Nayra tersenyum menggoda.
"Nggak."
"Nggak salah lagi maksutnya? Papa kamu lucu kalau lagi cemburu hehehe.." ucap Nayra mengelus perutnya sejenak.
Hening.
"Kak, Nayla gimana sekarang?" Tanya Nayra mengalihkan topik.
"Ngapain bahas perempuan itu?" Tanya Rafa melihat ke arah Nayra.
"Aku takut." Cicit Nayra.
"Nggak ada yang perlu kamu takutin. Nayla sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya dan kamu sudah aman sekarang." Ucap Rafa menyakinkan Nayra.
"Kak, eum..."
"Kenapa lagi? Masih takut?" Tanya Rafa.
Nayra menggeleng.
"Ini masalah yang kemarin, itu...."
"Itu apa?"
Nayra mengigit bibir ragu. Antara mengutarakan apa yang ada dihatinya atau memilih hanya memendamnya.
"Ucapan Kakak yang kemarin itu seriusan atau???"
"Menurut kamu?" Tanya Rafa yang sudah memiringkan tubuhnya ke arah Nayra.
"Boh..hmphh.." detik itu juga Rafa langsung memagut bibir Nayra dengan pelan dan penuh perasaan. Berusaha menyalurkan jawabannya lewat ciuman yang ia berikan disaat mulut tak lagi mampu untuk berkata jujur.
Rafa menghentikan kegiatan mereka kemudian mengelus sebentar kening Nayra pelan. Nayra mengalungkan tangannya di leher Rafa dan menatap manik mata Rafa yang berada di depannya.
"Be mine today and forever"
"I want"
Rafa memutus kontak mata diantara mereka, kemudian kembali menyesap bibir mungil Nayra. Tangannya bahkan sudah merambat menarik sweater rajut milik Nayra menyisakan tanktop berwarna peach. Rafa menciumi leher dan bahu Nayra yang terbuka.
Dan.
Bersambung.😅
Gantung nggak? Gantung lah masa engga. Wkwk🙂
Jangan lupa absennya ( voment) ini wajib.
Telap post. Sorry, seminggu ini gue sakit dan baru bisa up sekarang. Doain semoga upnya cepat dan ngga lama2 lagi (Amin).
Reaction kamu buat part ini?