
Yang -18 silakan di skip aja yah, part ini ada sedikit adegan +. Jangan ngeyel klo dibilangin, dosa loh klo gak nurut π
***
Selesai makan malam, Rafa dan Nayra dipanggil oleh Alea menuju ruang tamu untuk membicarakan sesuatu yang penting. Keduanya pun duduk berdampingan di depan sang Mommy yang sudah menunggu.
"Ada apa mom? Tumben Mommy panggil kita berdua?" tanya Rafa.
"Iya, Mommy sengaja panggil kamu sama Nayra karena, Mommy mau kasih ini buat kalian berdua," ucap Alea memberikan sesuatu yang sebelumnya ia letakkan diatas meja.
Rafa pun menerima sodoran tangan sang Mommy dan memperhatikan benda yang sedang ia pegang.
"Jamu Kesuburan," ujar Rafa.
"Iyah bener, Mommy sengaja kasih ini buat kamu sama Nayra biar cepet dapat momongan. Kamu kan tahu Mommy udah pengen banget gendong cucu kaya teman-teman arisan Mommy," ucap Alea.
"Ya tapi gak gini juga caranya mom, aku mau semuanya ngalir gitu aja, lagian kita nikahnya juga baru beberapa hari yang lalu," ujar Rafa yang protes.
"Ya justru karna itu, kamu itu udah tua Rafa, udah 27 tahun, masa belum punya anak juga. Dulu di umur segini Mommy udah punya anak, jadi sekarang Mommy gak mau tau pokoknya dalam tempo 1 bulan Nayra belum hamil juga lebih baik kalian berpisah saja," ujar Alea seraya melihat Rafa dan Nayra secara bergantian.
"Mom," ujar Rafa.
"Tidak ada bantahan Rafa. Kamu merasa keberatan sama permintaan Mommy? Nayra kan udah jadi istri kamu sekarang, jadi kalau seandainya Nayra hamil gak akan ada yang marah atau komplain." Ucap Alea.
"Ya tapi Rafa gak mau nyentuh Nayra tanpa adanya perasaan diantara kita berdua," ujar Rafa.
"Perasaan bagaimana lagi yang kamu maksud?" tanya Alea.
"Aku gak mau nyentuh Nayra tanpa cinta," ucap Rafa.
"Perasaan itu bisa muncul seiring berjalannya waktu, hanya saja kamu dan Nayra perlu usaha untuk menumbuhkan rasa itu. Kamu tahu? Dulu Mommy juga pernah mengalami pernikahan tanpa adanya rasa cinta di hati Mommy, tapi berkat perhatian yang Daddy kamu berikan cinta itu perlahan hadir di hati Mommy dan sampai sekarang rasa cinta itu tak pernah memudar. Mommy juga yakin kamu dan Nayra pasti bisa melakukan itu, Mommy tau jika rasa nyaman dan rasa sayang perlahan mulai tumbuh dihati kalian berdua. Jangan pernah bohongi perasaan diri sendiri!" ucap Alea.
Rafa diam begitupun dengan Nayra yang juga diam.
"Nayra..." panggil Alea memanggil menantunya itu.
"Eh iya mom?"
"Apa kamu sudah dapet bulan ini?" tanya Alea.
"Sss...udah mom," jawab Nayra yang sedikit malu karna ada Rafa disana.
"Bagus kalau begitu, kamu sama Rafa harus rutin minum ini biar cepet dapat momongan dan satu lagi usahanya harus lebih keras lagi, soalnya kan Rafa udah tua." ucap Alea menyindir Rafa.
"Jadi keputusan Mommy sudah bulat, dalam waktu 1 bulan Nayra belum hamil juga lebih baik kalian bercerai saja. Mommy gak mau tahu," ujar Alea yang kemudian beranjak pergi meninggalkan keduanya.
"Ck," decak Rafa seraya menyandarkan badannya kesofa, sedangkan Nayra yang sibuk dengan pemikirannya. Ia menjadi takut jika semuanya akan terjadi, dimana ia dan Rafa benar-benar akan berpisah jika dalam tempo 1 bulan dirinya belum hamil juga. Bagaimana mau hamil jika Rafa saja ogah-ogahan untuk menyentuhnya lebih jauh lagi. Mengingat itu membuat Nayra merasa minder, ia merasa jika Rafa tak mau menyentuhnya karena dirinya tak menarik sama sekali, Nayra polos apa adanya dan tak tahu menahu dengan dunia make up dan fashion.
"Nay," panggil Rafa.
"Iya kak,"
"Udah malem, ayo tidur! Besok aku ada jadwal praktek di rumah sakit," ucap Rafa.
Nayra mengangguk pelan dan berdiri dari duduknya mengekori Rafa yang berjalan di depannya. Keduanya pun masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuh mereka masing-masing. Namun posisi tidur Nayra kali ini tampak berbeda, Nayra tidur dengan tubuh yang membelakangi Rafa dan itu membuat Rafa menjadi risih.
Tanpa sepengetahuan Rafa, Nayra perlahan menangis dalam diam, Nayra meremas kuat ujung selimut untuk meredam tangisnya agar Rafa tak tahu jika ia sedang menangis. Nayra menangis karena mengingat perkataan Rafa yang mengatakan tak akan menyentuhnya tanpa rasa cinta, itu berarti Rafa sebenarnya tak ada rasa untuk dirinya atau bahkan tak akan pernah ada rasa.
Rafa melirik kearah punggung Nayra yang bergetar naik turun, ia pun mendekati Nayra dan memeluk perut Nayra seperti biasa saat keduanya akan tidur.
"Kamu kenapa?" tanya Rafa karena melihat Nayra menolak saat dipeluk olehnya.
"Nayra...." panggil Rafa, karena Nayra tak kunjung menjawab, malahan getaran bahunya semakin kencang. Rafa menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Nayra dan memutarbalikkan tubuh Nayra menjadi menghadap kearahnya. Rafa kaget karena mendapati Nayra yang menangis.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Rafa saat melihat air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.
"Hiks...hiks...lepas..." ujar Nayra seraya menepis tangan Rafa yang menyentuh wajahnya.
"Aku salah apa? Kenapa kamu tiba-tiba jadi berubah kaya gini?" tanya Rafa lagi.
"Hiks...hiks...hiks...buat apa kak? Buat apa? hiks...hiks.." tanya Nayra.
"Maksut kamu apa?" tanya Rafa bingung dengan pertanyaan yang diucapkan oleh Nayra.
"Buat apa kakak nikahin Nayra? Buat apa kak?Sebenarnya apa tujuan kakak nikahin Nayra? Apa cuma karna kakak mau buktiin kalau kakak itu nggak gay gitu? Kakak pernah gak sih mikirin perasaan Nayra sedikit aja? Hati Nayra sakit kak hiks.." isak Nayra.
"Sebenarnya maksud kamu apa? Tolong jangan buat aku tambah bingung," ujar Rafa yang masih belum mengerti maksud Nayra.
"Nayra tau kok kalau kakak itu nyesel kan punya istri yang tampangnya kaya aku? Yang gak bisa dandan dan bahkan aku gak bisa ngerjain tugas seorang istri itu kaya gimana, aku gak bisa masak, aku gak bisa nyuci, aku gak bis...."
"Udah cukup. Udah puas ngomongnya?" ujar Rafa yang meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Nayra.
"Kakak jahat hiks...hiks..." Nayra menarik telunjuk Rafa dan menghempaskannya juga.
"Nayra..."
"Mungkin dimata kakak Nayra hanya akan tetap menjadi seorang adik buat kakak gak lebih, bahkan tadi kakak bilang gak bakal nyentuh Nayra sebelum perasaan itu ada. Nayra tahu kak perasaan apa yang kakak maksud," ucap Nayra.
"Kamu salah paham, maksud aku bukan kaya gitu, aku...."
"Nayra harus ngelakuin apa kak biar kakak peka sama perasaan Nayra? Nayra itu suka sama kakak dari Nayra kecil, bahkan perasan itu terus ada dan semakin besar. Nayra seneng kak waktu tau kakak ngelamar Nayra jadi istri kakak, Nayra seneng karna bisa bersanding sama kakak, tap...."
Rafa mendekatkan wajahnya kearah Nayra dan langsung mengecup kening Nayra dengan pelan dan penuh perasaan. Sontak hal tersebut membuat Nayra menjadi terdiam.
"Aku gak mau kita melakukan itu karena aku takut kamu belum siap, hamil dan mengandung itu tidak semudah yang kamu fikir Nayra, kita tunggu saja waktu yang tepat!" ujar Rafa.
"Sampai kapan kak? Sampai Nayra tua gitu?Atau kakak gak sudi punya istri kaya Nayra? Kalau emang iya sepertinya mulai sekarang Nayra harus mengubur jauh-jauh perasaan dan impian yang Nayra punya, ter...."
Rafa sudah tak tahan mendengar ocehan yang keluar dari mulut Nayra, ia pun menempelkan bibirnya pada Nayra dan perlahan ******* bibir gadis itu dengan pelan agar Nayra bisa menikmatinya.
Persetan dengan cinta, Rafa hanya mengikuti apa kata hatinya.
Bibir Rafa sudah merambat turun menuju leher Nayra dan memberikan beberapa kissmark disana, sedangkan Nayra menggigit bibirnya kuat agar suara desahannya tidak keluar.
"Jangan digigit, mendesahlah!" ucap Rafa seraya menatap kearah bola mata Nayra.
"Enghhh....sshhh..kakak..."
"Bukankah ini yang kamu mau? Tugasmu hanya diam dan nikmati apa yang akan aku lakukan, sebentar lagi Rafa junior akan tumbuh disini," ucap Rafa menyentuh perut Nayra dari balik piyamanya.
Tbc
Sengaja di pendingπ, ini adegannya mau dilanjut atau segitu aja udah cukup?
Maaf upnya telat, lgi sibuk soalnya π. Doain yah smoga tiap hari bisa up.
Terima kasih buat yang udah sabar nunggu author up π