
***
Nayra tampak sedang merapikan tempat tidur pagi ini. Melihat Nayra yang sendirian di dalam kamar, Nayla pun memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk ke dalam kamar Nayra dan Rafa.
"Ehem.." dehem Nayla yang sudah masuk ke dalam kamar Nayra.
Nayra yang mendengar itu memutar balik badannya ke arah Nayla yang berada di belakangnya.
"Mau apa kamu datang kemari?" Tanya Nayra.
"Gue datang kesini cuma mau ngingetin lo, lo tau kan bentar lagi gue sama Rafa bakal pergi dalam waktu yang lumayan lamalah, dan itu artinya peluang gue buat deketin dia semakin besar. Lagian gue juga yakin kalau Rafa pasti ngerasa terbebani punya istri kaya lo, " ucap Nayla berusaha untuk meracuni pikiran Nayra.
"Dek, kamu denger sendiri kan wanita ini bilang apa? Dia bilang kalau Papa kamu terbebani punya istri kaya Mama. Padahal kalau Papa kamu merasa terbebani punya istri kaya Mama, gak mungkin dong dia nitipin kamu diperut Mama. Dia wanita yang aneh dan gila,"
Batin Nayra tersenyum dan mengelus perutnya yang membuat Nayla mengernyit heran melihat apa yang Nayra lakukan barusan.
"Lo gila ya?" Tanya Nayla pada Nayra yang masih saja mengelus perutnya.
"Nggak ada yang gila disini. Kalau kamu gak punya kepentingan silakan keluar darisini!" Ucap Nayra yang malah mengusir Nayla.
"Lo liat aja nanti, gue atau lo yang bakal menang," ujar Nayla keluar dari dalam kamar tersebut.
Setelah Nayla pergi, Nayra pun duduk di sisi ranjang sembari masih mengelus perutnya dengan pelan. Ia masih tak percaya jika ada kehidupan disana.
"Tapi kalau kamu beneran ada di dalam sini, Mama kok gak bisa ngerasain kehadiran kamu, nggak kayak Ibu hamil lainnya, nggak ada mual ataupun pusing, nggak ada ngidam-ngidaman. Padahalkan Mama pengen ngerasain semua itu," ucap Nayra.
Cklek
"Kamu ngapain?" tanya Rafa yang masuk kedalam kamar dan mendekati Nayra.
"Gak ngapa-ngapain, cuma lagi ajak kamingsun ngomong," ujar Nayra menatap Rafa yang sudah duduk di sampingnya.
"Hah, kamingsun? Kamingsun siapa maksud kamu? Bukannya dari tadi kamu sendirian di kamar?" tanya Rafa kaget seraya melihat ke kanan dan ke kiri memastikan jika tak ada orang lain selain mereka disini.
"Kamingsun itu ada di dalam perut Nayra sekarang, kan bentar lagi calon debaynya coming soon jadi nama calon debaynya diplesetin jadi kamingsun," Jelas Nayra menepuk perutnya pelan.
Rafa tersenyum mendengar ucapan Nayra yang ternyata sudah menyiapkan nama untuk calon bayi yang ada diperutnya.
Melihat Nayra yang sangat antusias dengan kehamilannya membuat sesuatu membuncah dari dalam diri Rafa, ia tak tahu rasa apa itu. Dulu tak pernah terpikir sedikitpun oleh Rafa jika Nayra yang dulu dia anggap sebagai adiknya kini beralih menjadi istrinya, dan bahkan tengah mengandung darah dagingnya.
"Kamu seneng?" tanya Rafa.
"Seneng," jawab Nayra menyandarkan kepalanya di bahu Rafa.
Rafa mendekatkan mulutnya ke arah kepala Nayra dan mengecup ubun-ubunnya dengan pelan.
Mendapat perlakuan yang tak terduga dari Rafa, Nayra pun mendongak ke arah Rafa guna melihat wajahnya.
"Kenapa?" tanya Rafa yang melihat wajah Nayra tampak memelas.
"Umm.." ucap Nayra mengerucutkan bibirnya ke arah Rafa.
Rafa tersenyum melihat kode yang diberikan oleh Nayra. Rafa memegang kedua bahu Nayra dan mengecup bibir Nayra dengan pelan.
Cup
Nayra tersenyum setelah mendapatkan apa yang ia mau.
"Kak," panggil Nayra.
"Kenapa? Kamu ngerasain sesuatu?" tanya Rafa.
Nayra menggeleng pelan sambil tangannya memeluk sebelah tangan milik Rafa.
"Kakak nggak usah pergi yah, disini aja sama Nayra. Nanti kalau kamingsun nyari Papanya, Nayra jawab apa dong?" tanya Nayra.
"Kamu bilang aja kalau Papanya lagi cari nafkah buat dia." Jawab Rafa.
Nayra tersenyum mendengar jawaban Rafa barusan dan semakin mengeratkan pelukannya,seolah-olah tak ingin berpisah dari Rafa.
Rafa melirik jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 8:00. Waktu keberangkatannya sudah semakin dekat, sedangkan Nayra masih bergelayut di lengannya.
"Nay," panggil Rafa menyentuh kepala Nayra dengan telapak tangannya.
"Hmm, iyah," ucap Nayra.
"Aku gak bisa lama-lama lagi disini, aku harus pergi sekarang. Kamu jaga diri kamu baik-baik, aku usahain pulang lebih cepat," ujar Rafa meyakinkan Nayra.
"Hmm..iyah," ucap Nayra menegakkan badannya dan menatap ke arah depan.
Rafa berdiri dan menarik Nayra sekali lagi kedalam pelukannya, mengelus punggung wanita itu dengan lembut.
Rafa memberi sedikit jarak diantara mereka dan menarik dagu Nayra dengan tangan kanannya. Niat hati ingin mencuri satu ciuman di sudut bibir Nayra, tetapi Nayra malah menjauhkan wajahnya dan melepas sebelah tangan Rafa yang masih memeluk pinggangnya.
Rafa kecewa karena mendapat penolakan dari Nayra. Sorot matanya menunjukkan ketidak puasan.
"Udah sana berangkat, nanti telat lagi," ucap Nayra mendorong pelan tubuh Rafa agar segera keluar dari dalam kamar.
Mau tak mau Rafa pun keluar dari dalam kamar diikuti oleh Nayra yang berada di belakangnya. Keduanya menuruni anak tangga.
Nayla yang berdiri tak jauh darisana menatap tak suka ke arah Nayra yang berdampingan bersama Rafa. Ia memutar bola matanya malas dan berjalan keluar seraya menyeret kopernya.
"Kamu yakin mau berangkat hari ini?" tanya Alea yang melihat putranya itu sudah bersiap-siap akan berangkat.
"Yakin mom, kan kemarin Rafa udah cerita sama Mommy," ucap Rafa menatap ke arah sang Mommy.
"Yaudah kalau gitu. Mommy cuma kasihan sama Nayra, Nayra pasti bakal kesepian kamu tinggal sendiri. Apalagi waktunya juga gak sebentar kan?" ujar Alea beralih menatap ke arah Nayra yang tampak sedikit murung.
"Dan cita-cita Mommy mungkin ga bakal terwujud dalam waktu dekat ini. Apalagi kamu kan perginya bakal berbulan-bulan, padahalkan Mommy udah sangat-sangat mengharapkan semua itu," ucap Alea yang jadi ikutan sedih juga.
Perkataan Alea barusan sontak mengundang tanda tanya besar untuk semua orang yang berada disana. Arkan, Liora, Nayra dan Rafa tak mengerti arah pembicaraan Alea.
"Maksud Mommy apa?" tanya Liora buka suara.
"Ya kan Mommy pengen banget punya cucu dalam waktu dekat ini, tapi belum terwujud juga . Buktinya sampe sekarang Nayra belum hamil-hamil juga. Dan sekarang Rafa bakal pergi dalam beberapa bulan ke depan, dan itu artinya proses pembuatan cucu Mommy bakal ditunda," ucap Alea.
Semuanya melongo mendengar unek-unek lAlea yang ngebet ingin punya cucu.
"Astaga mom, kirain apaan. Eh, ternyata masalah itu toh. Ya sabar dong mom, semuanya kan butuh proses," ucap Liora menasehati sang Mommy.
"Kalau emang Mommy ngebet mau gendong cucu, Mommy kan bisa minta sama Daddy. Daddy pasti bakal kabulin, iya nggak dad?" tanya Liora melirik ke arah Arkan.
"Itu beda cerita, Mommy kan mintanya cucu bukan anak. Lagian Daddy kamu udah tua, bangkotan lagi. Daddy kamu mana sanggup kasih Mommy anak lagi," ucap Alea yang malah meledek Arkan.
"Kamu ngeraguin aku? Orang masih seger begini juga," ucap Arkan tak terima karena istrinya itu meledeknya.
Liora, Rafa dan Nayra yang melihat itu hanya terkikik geli mendengar ledekan yang Alea lontarkan untuk Arkan.
"Nay, maafin omongan Mommy barusan yah. Mommy gak maksud buat menyudutkan kamu kok. Mommy cuma lagi berusaha ngungkapin apa yang ada di dalam hati Mommy. Liora ada benarnya, semuanya emang butuh proses dan Mommy harus bersabar untuk itu," ucap Alea meminta maaf, ia takut jika ucapannya barusan melukai hati Nayra.
Nayra tersenyum tipis ke arah Mama mertuanya.
"Nggak kok mom, Nayra nggak mungkin sakit hati cuma karna hal sepele kaya gitu. Nayra tahu kok kalau Mommy emang pengen banget punya cucu," ucap Nayra.
"Kamu bener nay, dari dulu emang Mommy pengen cepet-cepet punya cucu, tapi gak kesampean karna dulu itu Rafa susah banget kalau disuruh nikah. Alesannya selalu saja belum siap lah, terlalu muda lah," ucap Alea.
Rafa yang mendengar sang Mommy mengungkit masa lalu menjadi dongkol sendiri.
"Tapi sekarang Mommy nggak usah khawatir lagi, karna bentar lagi Mommy bakal dapat cucu," ujar Nayra menyentuh perutnya di depan semuanya.
"Jadi kamu..., kamu hamil nay?" tanya Alea syok.
Nayra mengangguk dan tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Ya Tuhan, ini beneran? Akhirnya Mommy bakal punya cucu juga, Mommy jadi seneng dengernya. Eh, tapi kamu kok baru cerita sekarang sama Mommy?" tanya Alea mendekati dan memegang tangan Nayra.
"Nayra lupa kasih tau mom," jawab Nayra.
"Trus gimana? Kamu ngerasin mual nggak? Atau minimal pusing gitu?" tanya Alea beruntut.
"Sejauh ini belum ada mom, Nayra juga bingung sama badan Nayra sendiri. Nayra gak kaya ibu hamil pada umumnya, gak ngerasain mual atau pusing," ucap Alea
"Kamu gak usah khwatir. Itu Normal kok, tapi sepertinya sebentar lagi bakal ada yang gantiin kamu buat ngalamin semua itu," ucap Alea melirik ke arah Rafa.
"Maksud Mommy?" tanya Nayra.
"Nanti kamu juga tahu sendiri nay. Pasti kamu suka," ucap Alea tersenyum misterius.
"Dan buat kamu anak Mommy yang ganteng, jaga diri baik-baik disana. Jangan macem-macem, inget disini udah punya istri yang lagi hamil anak kamu," ucap Alea menatap ke arah Rafa.
"Giliran seneng baru muji-muji, bukannya selama ini Mommy seneng kan nistain aku," ucap Rafa. Mengingat dulu Mommy sering mengejeknya karena tak kunjung menikah.
"Mana ada sih Ibu yang tega nistain anaknya sendiri, selama ini Mommy cuma bercanda sayang," ucap Alea tersenyum.
"Jadi ini seriusan, lo beneran hamil nay?" tanya Liora.
Nayra mengangguk pelan.
"Akhirnya setelah penantian panjang Kak Rafa kasih ponakan juga buat gue," ucap Liora yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya lagi.
Sedangkan Arkan yang juga sudah mengetahui kehamilan Nayra ikutan senang meskipun ia tak seantusias Alea dan Liora.
"Kamu hebat boy," ucap Arkan menepuk pundak Rafa dengan tangannya.
"Ini masih awal, ada yang bakal lebih menantang dari ini, Daddy yakin kamu pasti suka," ucap Arkan.
Rafa melihat jam tangan miliknya, waktu keberangkatannya sudah semakin dekat. Mau tak mau ia harus bergegas cepat karena ini menyangkut tanggung jawabnya sebagai seorang dokter, meskipun sebenarnya ia tak rela jika harus meninggalkan Nayra.
"Nayra anterin sampe depan yah?" ucap Nayra melihat wajah gelisah Rafa.
Bagaimana tak gelisah, Rafa menjadi bingung sekarang. Disatu sisi ia harus berangkat, namun hati berkata agar tetap tinggal.
Rafa mengangguk pelan.
"Mom, dad Rafa pamit dulu," ucap Rafa menyalim kedua orang tuanya.
"Iya, kamu hati-hati disana. Inget pesan Mommy," ucap Alea.
"Iya mom, Rafa bakal inget kok,"
"Li, kakak pamit dulu yah," tak lupa Rafa juga pamit pada adiknya itu.
"Iya kak, hati-hati disana! Jangan lupa pulang," kekeh Liora.
Rafa mengangguk.
Nayra dan Rafa berjalan berdampingan ke arah luar.
"Kakak kenapa? Kok kaya gelisah gitu?" tanya Nayra saat mereka sudah berada di teras rumah.
"Nay.."
"Iyah?"
"Lihat aku!" ucap Rafa.
Nayra pun mendongak dan menatap wajah Rafa yang juga menatap ke arahnya.
Tangan Rafa menangkup wajah Nayra yang terlihat tembem dan mendekatkan wajah keduanya.
Tahu apa yang akan terjadi Nayra langsung menutup matanya pelan dan detik itu juga ia merasakan sapuan hangat di atas permukaan bibirnya. Nayra menikmati setiap sensasi yang dihasilkan oleh aktivitas keduanya.
Beberapa saat kemudian Rafa menjauhkan wajahnya dari Nayra, dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Memberikan kecupan di kepala dan kening Nayra.
"Aku pergi dulu, kamu baik-baik disini!" ucap Rafa melepas pelukan mereka.
Nayra mengangguk seraya tersenyum.
"Kakak juga hati-hati disana! Nayra sama kamingsun bakal setia buat nunggu Kakak pulang," ucap Nayra.
Rafa tersenyum mendengar ucapan Nayra dan beralih menatap perut Nayra.
"Kamingsun, Papa pergi dulu," ucapnya mengelus perut Nayra.
Nayla yang berada tak jauh darisana sudah mati-matian menahan gejolak api cemburunya saat melihat Rafa mencium Nayra.
"Ck, sial." umpatnya kesal dan menatap sinis ke arah Nayra
Nayra yang menyadari jika Nayla memperhatikan keduanya langsung mendekati Rafa dan mengecup pipi kanannya dengan cepat. Hal itu sukses membuat Nayla melotot, sedangkan Nayra memeletkan lidahnya ke arah Nayla.
"Kamu jangan senang dulu, karna aku gak akan tinggal diam aja disaat wanita penggoda sepertimu mengganggu suamiku."
***
Tbc.
Gimana sama part ini? Masih nyambung ga? Atau alurnya gak srek?
Jujur gue itu nulis part ini lagi dalam mode2 insecure, gue terkadang ngerasa kalau hasil tulisan gue gak sebagus author lain. Gue kek ngerasa minder aja gitu.
Tapi gue masih bersyukur kok buat yg masih setia nunggu up cerita ini. Karna sebenernya itu yg gue butuhin.