
***
"Eh mau kemana lo?" Tanya Liora yang melihat Nayla menaiki anak tangga.
"Bukan urusan lo," Ucap Nayla ketus dan terus berjalan menaiki tangga tanpa memperdulikan pertanyaan Liora.
"Wah gawat nih, kayanya si bule nyasar mau ngelakuin sesuatu." Ucap Liora berlari menaiki tangga mendahului Nayla yang sudah setengah jalan.
"Awas-awas minggir! Ge duluan,wle..." ujar Liora sengaja menyenggol Nayla dan memeletkan lidahnya ke arah Nayla.
"Dasar bocah gak tau sopan santun," umpat Nayla kesal.
Liora bodo amat dan terus berjalan ke arah kamar sang Kakak dan iparnya. Liora menempelkan telinganya di depan pintu yang tertutup rapat.
"Gak ada suara, kayanya mereka masih tidur deh," Ucap Liora menjauhkan telinganya darisana.
"Awas minggir lo, gue mau panggil Rafa." Ucap Nayla yang sudah tiba disana juga.
"Owh gak bisa, lagian masih pagi juga, lo ganggu orang tidur aja. Lebih baik sekarang lo pergi darisini. Sana!" Liora mendorong tubuh Nayla.
"Gue gak mau, gue ada urusan sama Rafa. Bocil kaya lo gak bakal ngerti," Ucap Nayla.
"Ra..mmphh..."
Liora mendekap mulut Nayla yang hendak memanggil Rafa.
"Nih yah gue bilangin sama lo, Kak Rafa sama Nayra lagi ada kerjaan di dalem dan ada baiknya lo jangan ganggu mereka, karena kalau lo masih nekat gangguin mereka, lo bakal nyesal," Bisik Liora di telinga Nayla.
Nayla kesal dan menarik tangan Liora yang mendekap mulutnya.
"Maksut lo apa?" Tanya Nayla.
"Menurut lo apa yang bakal dilakuin suami istri pagi-pagi begini? Lo kan dokter kandungan yah?pasti lo tau dong maksud omongan gue barusan." Ucap Liora menaik turunkan alisnya.
"Gak mungkin, ya kali Rafa doyan sama perempuan manja kaya gitu." Ucap Nayla.
"Udah deh mendingan lo pergi sebelum emosi gue kambuh." Ucap Liora geram.
"Gue gak perduli,"
Tok..tok..
"Rafa..gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ucap Nayla mengetuk pintu kamar Rafa.
Tok..tok..
Cklek
Pintu kamar dibuka dan Rafa muncul dibalik pintu dengan wajah baru bangun tidur.
"Emm..lo baru bangun?" Tanya Nayla basa-basi.
"Iyah kenapa emang?" Tanya Rafa membuka lebar pintu kamar.
"Gue mau ngomong soal keberangkatan kita besok, gue nebeng sama lo yah," Ucap Nayla seraya tersenyum manis ke arah Rafa.
Rafa diam dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Tapi kayanya gue gak jadi berangkat." Ucap Rafa.
"Hah kenapa? Tapi kan kita berdua sama tim yang lainnya udah sepakat bakal berangkat lusa, " Ucap Nayla yang terkejut mendengar perkataan Rafa.
"Tap.."
"Siapa bilang gak jadi berangkat?" Ucap Nayra yang tiba-tiba berada di belakang Rafa.
Semuanya menoleh ke arah Nayra.
"Kak Rafa jadi kok berangkat lusa, tapi Nayra harus ikut." Ucap Nayra bergerak kesamping Rafa.
"Soalnya kalau Nayra gak ikut gak bakalan aman," Ucap Nayra melirik ke arah Nayla, sedangkan yang dilirik hanya bisa terdiam.
"Tunggu-tunggu, ini pada bahas soal keberangakatan dalam rangka apa nih? Kakak mau pergi?" Tanya Liora yang ikutan nimbrung.
"Urusan pekerjaan, " Jawab Rafa.
Liora langsung manggut-manggut mengerti mendengar jawaban sang kakak.
"Perginya pasti bakalan lama nih, bagus tuh nay, lo emang harus ikut." Ucap Liora yang mendukung Nayra untuk ikut.
"Lili udah cukup! Berhenti mempengaruhi Nayra, gak ada yang bakal berangkat." Ucap Rafa menatap tajam sang adik.
"Soal keberangkatan besok nanti gue kabarin lebih lanjut, sekarang lebih baik lo siap-siap buat besok." Ucap Rafa pada Nayla yang sudah memasang wajah senangnya.
"Yaudah kalau gitu gue pergi dulu." Ucap Nayla pamit pergi.
Rafa mengangguk pelan.
"Loh Nayla ikut juga kak?" Tanya Liora.
"Iyah, Nayla emang mengusulkan dirinya buat ikut besok sama tim yang lainnya ." Ujar Rafa.
"Halah modus tuh, dia tuh ikut pasti gara-gara kakak juga ikut, dasar ganjen.Trus Nayra ikutan juga kan?" Tanya Liora lagi.
"Enggak, Nayra gak bakalan ikut." Ucap Rafa beralih menatap Nayra yang berada disampingnya.
"Tap.."
"Jangan protes, denger kata suami!" Ucap Rafa memotong ucapan Nayra.
"Ak..."
"Tadi malam kita udah bahas masalah ini, jadi aku udah mutusin bakal tetap berangkat besok dan kamu tetap tinggal disini," Ujar Rafa untuk kedua kalinya memotong ucapan Nayra.
"Tapi kan kesepakatannya kemaren gak kaya gitu, kakak kan udah janji gak bakal berangkat kalau..."
"Kalau apa?" Tanya Rafa.
"Tau ah, yaudah kalau kakak gak ijinin Nayra ikut biar Nayra cari cara sendiri buat ikut juga." Ucap Nayra berbalik masuk ke dalam kamar.
"Yaudah kali kak, kasihan Nayra kalau harus kakak tinggal disini. Lagian kakak pasti perginya gak sebentar kan? Lili tahu posisi kakak sekarang itu gimana? Seenggaknya kalau Nayra ikut kan kakak bisa kontrol dia setiap saat dan bakal ada yang ngurus kakak nantinya." Ucap Liora menasehati sang kakak.
"Gue gak mungkin bawa Nayra ke tempat sejauh itu, kondisi dan situasi disana gak memungkinkan gue buat bawa Nayra." Ucap Rafa.
"Kenapa gak mungkin sih kak? Kakak takut Nayra nyusahin kakak? Atau kakak malu yah punya istri kaya Nayra?" Tanya Liora bertubi-tubi.
"Bukan masalah itu, tapi karna.."
"Karna apa kak?"
"Ya karna.."
"Ih karna apa, ngomongnya yang jelas dong!"
"Ya karna Nayra ha....."
"Ha.. apa sih kak?"
"Lupain, mendingan lo pergi darisini! Gue masuk dulu kedalam." Ucap Rafa masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar.
Liora melongo heran melihat sikap sang kakak yang aneh.
"Apa sih maksut6nya? Ha? Ha apa coba? Tau ah gak jelas banget," Ucap Liora berjalan pergi darisana.
Rafa berjalan menghampiri Nayra yang duduk di atas ranjang seraya berpangku tangan.
"Kenapa? Marah hmm?" Tanya Rafa mendekati Nayra.
"Nggak kok ,cuma lagi malas gerak aja." Jawab Nayra.
"Aku gak ijinin kamu ikut itu karna..."
"Karna ada kak Nayla disana?Takut kalau nanti Nayra ganggu gitu? " Tanya Nayra.
"Bisa gak sih kamu berenti buat berpikir negatif terus? Ini gak ada hubungannya sama Nayla" Ucap Rafa.
"Tuh kan dibela, berarti ada apa-apanya, pantesan gak ijinin Nayra ikut." Ucap Nayra.
"Nayra." Panggil Rafa.
"Kalau kakak emang gak ijinin Nayra ikut, nanti Nayra minta bantuan aja sama dokter yang lain biar Nayra bisa ikut, kaya dokter Rion misalnya." Ucap Nayra.
"Coba ulangin lagi! Kamu bilang apa tadi?" Tanya Rafa.
Nayra diam karena mendengar ucapan Rafa yang terkesan dingin.
"Yaudah kalau gitu, kamu pergi sama dia aja, terserah!" Ucap Rafa pergi dan masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Nayra.
"Yah kok jadi gini sih?Aku kan cuma bercanda." Ucap Nayra yang menyesali ucapannya barusan.
***
"Nayra bantuin yah?" Tanya Nayra pada Rafa yang sedang meletakkan koper di atas ranjang.
"Nggak usah, aku bisa sendiri." Ucap Rafa membuka koper dan beranjak menuju lemari, namun dengan cepat Nayra berlari lebih dulu dan menghalangi Rafa yang hendak membuka lemari.
"Mau yah Nayra bantuin? Soal yang tadi Nayra minta maaf." Ucap Nayra.
Rafa diam.
"Maafin dulu, kalau nggak Nayra bakal berdiri disini sampe pagi." Ucap Nayra merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Minggir nggak." Ucap Rafa berkacak pinggang di depan Nayra.
"Nggak mau, maafin dulu baru Nayra bakal minggir," Ucap Nayra yang kekeh tak mau menuruti perintah Rafa.
Karena Nayra tak kunjung bergerak Rafa pun nekat mengangkat Nayra dan berniat akan meletakkanya di atas ranjang. Kesempatan itu Nayra gunakan untuk memeluk leher Rafa yang menggendongnya dan melilitkan kedua kakinya di pinggang Rafa.
"Turun Nayra!" Ucap Rafa saat mereka sudah tiba di depan Ranjang.
"Maafin dulu, baru Nayra Turun." Ucap Nayra meletakkan dagunya di bahu Rafa dan senyum-senyum sendiri.
"Kapan lagi bisa digendong sama orang ganteng, wangi lagi," gumam Nayra terkikik geli melihat tingkahnya yang lebih agresif dari biasanya.
"Kak maafin dong, janji gak bakal salah sebut lagi," Ucap Nayra.
"Terserah." Ujar Rafa yang merasa bodo amat meskipun Nayra tak mau turun dari gendongannya. Rafa berjalan ke arah lemari dan mengepak barang yang akan ia bawa besok tanpa merasa terganggu dengan Nayra yang masih setia menempel di tubuhnya.
"Kak, Nayra boleh ikut yah?" Tanya Nayra yang masih memeluk leher Rafa.
"Terserah,"
"Berarti boleh dong, yaudah kalau gitu Nayra mau packing juga buat besok." Ucap Nayra melepas lilitan tangannya di leher Rafa,ia berniat turun.
"Siapa yang ijinin kamu turun?" Tanya Rafa menahan pantat Nayra.
"Nggak ada, inisiatif Nayra aja. Nayra berat kak, entar kakak capek kalau gendong Nayra terus."Ucap Nayra.
"Bisa diem nggak?"
"Iya-iya ini juga mau diem, ganteng-ganteng ko galak, untung cinta." Ucap Nayra pelan tetapi masih bisa Rafa dengar dengan jelas. Rafa tersenyum mendengar ucapan Nayra barusan, ia sangat suka mendengar kata cinta yang diucapkan wanita itu, terkesan berbeda.
Lama kelamaan Nayra juga merasa pegal berada di gendongan Rafa layaknya bayi koala yang di gendong oleh induknya. Nayra mengeratkan pelukannya dan menutup matanya pelan, tanpa ia sadari dirinya tertidur di pundak Rafa.
***
Tbc.
Maaf kalo makin gaje.
Vote dan coment buat cerita ini, biar makin semangat buat up.
Voment menipis, author juga bakal kekurangan mood buat up part selanjutnYa.
See you🙂