
***
"Kita mau kemana kak?" tanya Nayra saat Rafa menarik pergelangan tangannya menuju kantin rumah sakit.
"Kantin, aku lapar," ujar Rafa datar dan masih menggenggam tangan Nayra.
Rafa pun mengajak Nayra duduk disana menjauhi Rion yang tadi sempat mendekati Nayra. Ia tak suka melihat Rion yang terang-terangan mendekati Nayra, terlihat dengan jelas jika Rion sedang berusaha untuk menarik perhatian Nayra. Apalagi waktu itu Rafa pernah menerima pesan dari sebuah nomor tak dikenal, ia yakin jika orang yang mengirim pesan tersebut adalah Rion. Rafa tahu siapa itu Rion, seorang playboy yang suka bergonta-ganti pasangan dan gila akan wanita. Rafa tak mau jika Nayra menjadi korban, ia sudah berjanji akan menjaga Nayra apapun yang terjadi.
"Kamu mau makan apa?" tanya Rafa yang mau memesan makanan untuk mereka berdua.
"Nggak usah kak, ini tadi Nayra udah bawa makanan dari rumah," ujar Nayra menunjukkan paperbag ditangannya lalu menaikkannya ketas meja.
"Kamu masak sendiri?" tanya Rafa.
"Nggak, tadi dibantuin masak sama Mommy dan ada Liora juga," ujarnya seraya mengeluarkan rantang makanan dari dalam paperbag.
Rafa memperhatikan tangan Nayra yang sedang mengeluarkan makanan, matanya tak sengaja menangkap telapak tangan Nayra yang terluka.
"Ini kenapa? Kok bisa luka?" tanya Rafa.
"Eh iya, ini tadi gak sengaja kepotong waktu masak, tapi udah gak papa kok," ujar Nayra tersenyum tipis.
"Kalau tau luka kenapa gak diobatin? Ini bisa infeksi kalau nggak diobatin," ujar Rafa menarik pelan telapak tangan Nayra dan mendekatkannya kearah mulutnya, kemudian meniupnya seraya mengelus pelan luka ditangan Nayra.
"Tadi Nayra lupa kasih obat, soalnya buru-buru mau kesini," ujar Nayra menunjukkan sederet gigi putihnya. Ia tak bohong, ia memang sengaja belajar masak hari ini agar Rafa bisa menikmati hasil masakannya.
"Ceroboh," ujar Rafa pelan kemudian mengeluarkan sebuah plester luka dari dalam saku jas dokternya. Rafa menempelkannya pada luka di tangan Nayra.
Nayra merasa senang dengan perhatian kecil yang Rafa berikan untuk dirinya, meskipun tadi Rafa sempat mengomel karena ia lupa mengobati tangannya yang terluka.
Nayra pun membuka rantang makanan dan meletakkannya di depan Rafa agar suaminya itu bisa menikmati makanan yang ia bawa, Nayra berharap jika Rafa menyukainya.
"Kamu nggak makan juga?" tanya Rafa saat melihat Nayra yang hanya menyodorkan makanan kearahnya.
Nayra menggeleng pelan.
"Nggak kak, tadi Nayra udah makan yang banyak jadi gak laper lagi," ujarnya.
"Makan sekarang juga, ini perintah!" ucap Rafa membuka rantang yang satunya lagi dan memberikannya kearah Nayra.
"Tapi kak.."
"Makan Nayra! Jangan pernah membantah perkataan suami," ujar Rafa seraya menyendokkan nasi kedalam mulutnya.
Nayra akhirnya menurut dan memakan makanannya sembari sesekali ia melirik kearah Rafa yang makan, ia ingin tahu seperti apa ekspresi Rafa saat memakan hasil masakannya.
"Kenapa?" tanya Rafa saat Nayra kedapatan curi-curi pandang kearahnya.
"Emm...itu, rasa masakannya enak nggak kak, soalnya Nayra masih belajar masak hari ini," ucap Nayra.
"Enak kok," ucap Rafa memberikan penilaian.
Nayra tersenyum lega saat mendengar ucapan Rafa, tak sia-sia ia belajar masak hari ini.
"Ehem...kenapa? Cemburu?" tanya Rion mendekati Nayla yang sedang menatap kerah Nayra dan Rafa.
"Siapa juga yang cemburu?" jawab Nayla dengan pandangan mata yang lurus menghadap Nayra dan Rafa. Jelas-jelas ia cemburu namun tidak mau mengaku juga.
"Ck, gue tau lo cemburu kan ngeliat Rafa? Lo fikir gue gak tahu," ujar Rion tersenyum miring kearah Nayla.
"Sok tau. Ngapain juga gue harus cemburu sama perempuan kaya gitu, gak ada menariknya sama sekali. Gue heran kenapa Rafa mau nikah sama perempuan bodoh kaya gitu, apasih yang Rafa lihat dari perempuan itu?" ucap Nayla dengan berpangku tangan.
"Yang bodoh itu lo, gak usah sok ngenilai orang lain, perbaiki diri lo dulu sana! Baru deh ngenilai orang lain," ujar Rion.
"Lo sendiri juga suka kan sama perempuan itu?" tanya Nayla.
"Kalau iya kenapa? L tahu Nayra itu jauh lebih baik daripada lo, wajar Rafa lebih milih nikah sama Nayra dibanding sama perempuan gak bener kaya lo," tanya Rion.
"Maksut lo apa ngomong kaya gitu?" tanya Nayla yang mulai marah.
"Lo pikir gue gak tahu sama masa lalu lo? Lo salah besar. Gue bisa aja bongkar siapa lo sebenernya," tekan Rion tersenyum sinis kearah Nayla, kemudian pergi darisana meninggalkan Nayla yang terdiam karena mendengar ucapan Rion barusan.
Nayla mengepal tangannya kuat seraya memandang punggung Rion yang tampak berjalan menuju kantin mendekati meja yang ditempati oleh Nayra dan Rafa.
Rion mengambil posisi duduk di samping Nayra tanpa memperpedulikan Rafa yang sudah menatapnya datar. Rion dengan santainya malah menyenderkan tangannya di pundak Nayra.
Sedangkan Rafa menatap tajam kearah tangan Rion yang masih berada di pundak Nayra.
"Eits santai bro, gue cuma bercanda. Istri lo cantik juga," ujar Rion yang kemudian menarik tangannya dan mencolek dagu Nayra dengan pelan.
Rafa pun bangkit dari duduknya dan dengan cepat menarik kerah kemeja Rion dan
Bugh
"Brengsek lo, maksud lo apa ngomong kaya gitu hah? Jaga sikap lo!" tekan Rafa setelah menghadiahi Rion satu bogeman di bagian rahangnya.
Rion menyentuh rahangnya yang dibogem oleh Rafa, ia malah tersenyum remeh melihat kilat kemarahan yang mulai terpancar di kedua bola mata Rafa.
"Kak udah jangan berantem lagi! Lebih baik sekarang kita pulang," ujar Nayra menarik tangan Rafa yang masih mengepal, ia tak mau jika keduanya harus berantam di tempat seperti itu.
Rafa yang ditarik Nayra hanya bisa menurut dan berjalan beriringan bersama dengan Nayra menuju parkiran.
***
Nayra mencuri-curi pandang kearah Rafa yang sedang menyetir mobil. Aura wajahnya tampak tidak bersahabat sejak keluar dari kantin rumah sakit tadi, bahkan acara makan keduanya harus terganggu karena kehadiran Rion.
"Kak," panggil Nayra pelan.
"Hmmm..." jawab Rafa yang masih menyetir mobil.
"Mmm...kita mampir ke supermarket bentar yah, tadi Mommy nitip belanjaan," ucap Nayra.
"Yaudah," jawab Rafa tanpa menoleh sedikitpun kearah Nayra dan keadaan menjadi hening kembali, hanya suara deru mobil lah yang terdengar sedari tadi.
10 menit kemudian keduanya tiba di depan sebuah supermarket. Rafa memarkirkan mobilnya lalu keluar darisana disusul oleh Nayra.
"Kamu tunggu disini, aku mau ambil troli dulu," ujar Rafa saat keduanya sudah tiba di dalam supermarket.
Nayra hanya mengangguk dan membiarkan Rafa pergi mengambil troli.
Sembari menunggu Rafa kembali, Nayra pun beranjak menuju rak pembalut. Ia berencana membeli beberapa bungkus untuk di stok di rumah. Nayra memilih merek pembalut yang biasa ia gunakan, namun ternyata berada di rak teratas. Tubuh Nayra yang tak terlalu tinggi tak sampai untuk menjangkaunya sekalipun ia berjinjit.
"Kapan sih aku bisa tinggi," dumel Nayra seraya terus berjinjit.
"Kalau butuh bantuan bilang," ujar seseorang yang berada di belakang Nayra dan mengambilkan benda yang Nayra inginkan.
Nayra memutar badannya dan melihat siap orang yang membantunya barusan.
"Kak Rafa..." ujarnya.
"Makanya jangan mau pendek, gini kan jadinya," ujar Rafa meledek Nayra dengan tubuh mereka yang masih saling berdekatan. Nayra perlahan menegak air liurnya perlahan saat melihat rahang kokoh Rafa yang sangat menggoda iman, karena tinggi Nayra hanya sampai sebahu Rafa, jadi ia bisa dengan jelas melihat rahang milik Rafa.
"Kok diem? Ini barang yang kamu cari," ujar Rafa menyerahkannya kearah Nayra.
"Eh iya makasih kak," ujar Nayra mengambil bungkusan pembalut ditangan Rafa dan menyembunyikannya di balik punggunganya, ia sudah merasa malu saat Rafa memegang benda tersebut.
Rafa terkekeh melihat sikap Nayra yang terlihat malu-malu.
"Kenapa? Malu? Ngapain harus malu, itu kan emang kebutuhan perempuan," ucap Rafa.
"Ayo jalan! Tadi katanya mau belanja," ucap Rafa lagi sambil tangannya mendorong troli yang sudah ia bawa.
"Oh iya lupa," ujar Nayra tersadar.
"Udah taruh didalem aja, gak malu apa bawa-bawa pembalut gitu," ucap Rafa.
"Tap..."
"Kan aku udah bilang gak usah malu," ucap Rafa.
Nayra pun meletakkan beberapa bungkus pembalut kedalam troli, kemudian berkeliling untuk berbelanja kebutuhan rumah. Keduanya tampak menikmati waktu belanja mereka berdua, aura Rafa juga lebih baik daripada saat di mobil tadi.
Tbc
Masih ada yang nungguin gak nih?
Masih mau dilanjut nggak?😔
See you