The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Welcome Embryo



***


Nayra keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Ia ingin mencari Rafa yang tidak terlihat sejak ia bangun tidur tadi, padahal seingatnya tadi siang Rafa ada di kamar dan bahkan sempat menggendong Nayra sampai ketiduran.


"Lo kenapa nay?" Tanya Liora yang melihat Nayra menuruni anak tangga seraya celingak-celinguk kesana kemari.


"Kamu lihat kak Rafa nggak?" tanya Nayra.


"Owh kak Rafa, ada tadi.Tapi udah pergi sama Nayla," ucap Liora.


"Pergi? Kemana?" Tanya Nayra.


"Nggak tau juga nay, gue gak sempet nanya soalnya. Mungkin ke rumah sakit kali, kan besok kak Rafa jadi berangkat." Ucap Liora.


Mendengar kata berangkat yang diucapkan Liora membuat Nayra terdiam seketika. Ingatannya kembali kepada dimana tadi siang Rafa sudah mengepak semua keperluannya. Itu artinya Rafa akan berangkat sedangkan dirinya tak diijinkan ikut oleh Rafa, meskipun Nayra sudah membujuknya.


Liora seolah-olah mengerti perasaan sang kakak ipar, lantas ia pun mendekati Nayra.


"Gue ada ide gimana caranya biar lo tetap bisa ikut tanpa Kak Rafa tau. Gue tau siapa orang yang bisa bantu lo," ujar Liora.


"Bentar." Ucap Liora mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan mengetikkan sesuatu di layar ponselnya, Liora tersenyum lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Beres, kita tinggal lakuin tahap selanjutnya," ujar Liora menarik tangan Nayra.


"Tapi...."


"Kenapa? Lo takut kalau Kak Rafa bakal tahu? Udah tenang aja, dia gak bakal tahu," ucap Liora.


Nayra diam dan hanya menurut saja saat Liora membawanya keluar dari rumah menuju garasi mobil.


"Buruan masuk nay, nanti keburu Kak Rafa balik," Ucap Liora.


Nayra pun masuk ke dalam mobil, sedangkan Liora langsung menghidupkan mesin mobilnya. Tanpa menunggu lama lagi mobil yang dikendarai oleh Liora melaju keluar dari pekarangan rumah.


"Lili kita mau kemana? Kita balik aja yah," ucap Nayra saat mobil yang dikendarai oleh liora tampak mulai mendekati rumah sakit tempat Rafa bekerja. Nayra sudah mewanti-wanti jika adik iparnya itu membawanya menuju rumah sakit. Dan itu artinya kemungkinan mereka akan bertemu dengan Rafa disana.


"Nanggung nay udah mau nyampe nih," ucap Liora yang mengendarai mobilnya memasuki area parkir rumah sakit.


Dugaan Nayra benar jika Liora membawanya menuju rumah sakit. Liora sudah keluar lebih dulu sedangkan Nayra masih berdiam diri di dalam mobil.


"Buruan nay turun!" ucap Liora yang meminta Nayra untuk segera keluar dari mobil.


Nayra pun keluar dari dalam mobil dan mengikuti Liora yang berjalan lebih dulu darinya. Bersamaan dengan itu Rafa tampak berjalan beriringan bersama Nayla yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Keduanya tampak sangat serius.


Liora dengan cepat membawa Nayra untuk bersembunyi sebelum Rafa melihat keberadaan mereka di sini.


Tin tin


Terdengar suara klakson mobil yang tak jauh dari Nayra dan Liora berdiri. Keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Tepat waktu," ujar Liora menarik tangan Nayra masuk ke dalam sebuah mobil berwarna putih.


"Hampir aja ketahuan sama Kak Rafa, huft..."


ujar Liora lega.


"Jadi gimana, lo bilang lagi butuh bantuan? Apa yang bisa gue bantu?" tanya seorang pria yang juga berada di dalam mobil.


"Sebenernya sih bukan lili kak yang butuh bantuan tapi Nayra," ujar Liora menyengenggol bahu Nayra yang sedari tadi hanya diam saja.


Rion, yah pria tersebut adalah Rion.


Rion melirik Nayra dari kaca spion mobilnya dan tersenyum tipis. Sedangkan Nayra tampak mulai tidak nyaman berada di tempat yang sama dengan Rion. Nayra takut jika Rafa mengetahui dirinya bertemu dengan Rion lagi, Rafa akan memarahinya.


"Kamu tenang aja, Rafa gak bakal tahu," ucap Rion yang bisa melihat raut wajah Nayra.


"Iya bener tuh. Kak Rion satu-satunya orang yang bisa bantuin lo nay, lo gak mau kan ngebiarin Kak Rafa pergi sama bule nyasar itu tanpa pengawasan lo, dia tuh spesies wanita berbahaya." Ujar Liora yang menjelek-jelekkan Nayla.


"Jadi Rafa gak ijinin kamu buat ikut?" tanya Rion yang mengerti apa inti permasalahannya.


"Iya kak, dia tuh terlalu posesif kalau menyangkut soal Nayra, " ujar Liora menimpali.


"Sebenarnya gue setuju sama Rafa, kita belum tahu gimana situasi dan kondisi disana karena tempat yang mau dituju sama tim besok termasuk daerah yang terpencil dan jauh dari kota," jelas Rion panjang kali lebar.


"Tapi gue bakal bantu, gue bakal ajuin Nayra jadi asisten gue biar Nayra bisa ikut, gimana?" tanya Rion yang bersedia menawarkan bantuan.


"Gimana nay, lo setuju nggak?" tanya Liora.


Nayra tampak menimang-nimang tawaran Rion. Beberapa menit kemudian akhirnya Nayra mengangguk setuju membuat Rion tersenyum. Yang terpenting dirinya bisa ikut, itulah tujuan awal Nayra, meskipun nanti Rafa mungkin akan marah.


"Ok kalau gitu besok kamu berangkat sama aku, kita berangkat bersama rombongan yang lain biar Rafa gak tau," ucap Rion.


"Nah udah beres kan, sekarang kita harus balik ke rumah sebelum Kak Rafa balik. Soal keberangkatan lo besok biar gue yang atur," ucap Liora.


"Thanks kak bantuannya, kita pamit pulang dulu," ujar Liora menggandeng tangan Nayra keluar dari dalam mobil.


Rion mengangguk seraya tersenyum.


Keduanya pun keluar dari mobil Rion dan masuk kembali menuju mobil Liora yang masih terparkir disana. Liora melihat ke kanan dan kekiri memastikan bahwa tak ada Rafa disana. Setelah dirasa aman, Liora langsung mengendarai mobilnya melenggang pergi dari tempat itu.


***


Dugaan Liora meleset, ternyata Rafa sudah tiba di rumah lebih dulu daripada mereka. Alih-alih sibuk memikirkan alasan yang tepat, Rafa sudah berdiri di ambang pintu saat mereka berdua hendak masuk ke dalam rumah. Rafa menatap penuh curiga ke arah keduanya.


"Kamu habis darimana?" tanya Rafa ke arah Nayra.


"Kita tadi habis dari..."


"Kita tadi lagi cari makan kak, iya kan nay?" tanya Liora agar Rafa tak curiga.


"Iya bener, kita tadi lagi cari makan," ucap Nayra yang ikutan ngeles.


Keduanya tersenyum ke arah Rafa agar pria itu mempercayai ucapan mereka.


"Cari makan atau ke rumah sakit?" tanya Rafa yang sontak membuat keduanya kaget.


"Kakak tau darimana kalau kita kerumah sakit?" tanya Liora was-was


"Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, mobil lo ada disana. Jadi sekarang lebih baik kalian jujur," ucap Rafa.


"Emm itu, tadi habis selesai makan kita emang kerumah sakit, Nayra bilang perutnya sakit jadi kita kerumah sakit. Iya kan nay?" ucap Liora yang malah membuat alasan lain.


"Sakit? Kamu sakit?" tanya Rafa menatap Nayra dan menatap ke arah perut Nayra. Ia takut terjadi sesuatu pada Nayra.


Nayra jadi bingung sendiri karena tiak tahu harus menjawab apa, alasan Liora barusan malah semakin memperpanjang masalah karena bukannya Rafa percaya, tetapi malah membuat Rafa khwatir padanya.


"Ikut aku!" ucap Rafa menarik tangan Nayra masuk ke dalam rumah meninggalkan Liora.


***


Nayra tak menolak dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Perutnya masih sakit?" tanya Rafa mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerja miliknya.


"Emm...udah baikan kok," ucap Nayra tersenyum, ia terpaksa berbohong lagi agar Rafa tidak mengetahui kedok kebohongan yang ia buat bersama Liora.


"Kamu telat menstruasi bulan ini?" tanya Rafa yang duduk di sisi ranjang dengan menatap Nayra.


"Kok kakak tau?" Tanya Nayra yang baru ngeh dengan pertanyaan Rafa barusan.


"Udah aku duga," Ucap Rafa.


"Maksudnya gimana sih? Nayra gak ngerti," Ucap Nayra.


"Semalam aku gak sengaja liat stok punya kamu di dalam lemari, masih utuh dan nggak berkurang sama sekali." Ucap Rafa.


"Emm..soal itu Nayra minta maaf, Nayra lupa simpen di tempat yang seharusnya," Ucap Nayra yang tahu jika Rafa sedang membicarakan apa.


"Kamu nggak ngerti juga sama maksud aku?" Tanya Rafa.


Nayra menggeleng.


"Buka baju kamu sekarang!" Ucap Rafa menarik ujung baju yang Nayra gunakan.


"Eh mau ngapain, kok pake acara buka baju segala? Nayra salah apa?" Tanya Nayra karena Rafa meminta dirinya untuk membuka pakaiannya.


"Kamu gak salah apa-apa. Udah cepat buka sekarang!" Ujar Rafa.


"Tapi kak..."


"Aku gak bakal macam-macam , aku cuma mau mastiin sesuatu," Ucap Rafa.


Dengan ragu Nayra bangun dari rebahannya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi hendak membuka baju miliknya, namun keburu ditahan oleh Rafa.


"Eh kamu mau ngapain?" tanya Rafa menahan tangan Nayra.


"Mau buka baju lah, kan tadi disuruh buka baju." Ucap Nayra yang sudah meloloskan baju yang dipakainya menyisakan tanktop berwarna putih di badannya dan dengan polosnya Nayra menatap ke arah Rafa.


"Ya tapi jangan disini juga, di kamar mandi kan bisa" ucap Rafa.


"Tapi udah keburu dibuka."


Ingin rasanya Rafa tertawa karena melihat kepolosan istrinya itu yang sangat tidak sinkron dengan usianya. Nayra adalah tipe wanita yang penurut dan Rafa suka hal itu.


"Ih kok malah senyum-senyum sendiri?" tanya Nayra yang melihat Rafa berusaha menahan senyumannya.


"Iya..iya maaf," ujar Rafa yang berhenti tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya. Rafa memperhatikan tubuh Nayra secara seksama, mulai dari wajah, dada dan bagian perut.


"Muka kamu gendutan sekarang," ucap Rafa menarik daging pipi Nayra yang sedikit terlihat melar.


"Poin yang kedua, em..." ujar Rafa melirik ke arah bagian dada Nayra.


"Coba pegang!" ucap Rafa meminta Nayra untuk meraba payudara miliknya.


"Tap,"


"Gak usah malu, toh udah pernah lihat juga. Ini juga demi kepentingan bersama," ujar Rafa memotong ucapan Nayra.


Nayra meraba bagian dadanya dan sedikit menekannya.


"Gimana?" Tanya Rafa.


"Sakit kak kalau ditekan, ukurannya juga kayanya nambah deh," ucap Nayra yang meraba ke sebelahnya lagi dan itu membuat Rafa mengalihkan pandagannya ke arah lain.


"Udah cukup. Sekarang kamu boleh pakai baju!" Ucap Rafa sebelum Nayra berbuat lebih jauh.


Nayra kembali mengenakan bajunya dan duduk bersila di atas ranjang menunggu Rafa melanjutkan pembicaraanya.


"Jadi gimana kak? Nggak ada yang aneh kan sama badan Nayra?" tanya Nayra.


"Ada satu hal lagi yang belum kita lakukan untuk mengetahui hasilnya," ucap Rafa menempelkan steteskop miliknya di perut Nayra.


Beberapa menit kemudian Rafa telah selesai memeriksa Nayra layaknya seorang pasien. Rafa mencoba menganalisis apa yang baru saja ia lihat.


"Nayra," panggil Rafa.


"Iyah?"


"Kamu kan tahu besok aku mau berangkat, aku mau selama aku pergi kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri, karena mulai sekarang ada satu nyawa yang bergantung sama kamu," ucap Rafa.


Nayra berusaha mencerna apa yang dimaksud oleh Rafa, nyawa yang bergantung padanya?


"Maksut kakak?" tanya Nayra.


"Sekarang ada satu nyawa yang tumbuh dalam diri kamu, dan kamu harus menjaganya baik-baik. Aku nggak bisa memprediksi usianya, tapi aku yakin dia memang benar-benar ada sekarang dan itu artinya dugaanku benar," ucap Rafa.


"Maksudnya? Ini beneran? Kakak nggak bohong kan?" tanya Nayra menutup mulutnya tak percaya.


Oh my god secepat itu kah? Pikir Nayra.


"Beneran Nayra, jadi mu..."


"Hua...hiks...hiks..." Nayra mendadak mewek dan terisak pelan.


"Hei kok jadi nangis begini? Kamu gak seneng?" tanya Rafa mendekati Nayra.


"Hiks..hiks..seneng, seneng banget hua..." Nayra memeluk Rafa yang berada di depannya.


Rafa tersenyum dan mengelus punggung Nayra yang menangis. Ia pikir Nayra tak akan senang mendapat kenyataan ini.


***


Coba tebak, Nayra kenapa? Yang tahu komen dibawah ya guys.


Tbc.


Gimana2 sama part ini?


Voment untuk part ini mana?


Gue lagi berusaha selalu ngumpulin ide dan mood buat nulis cerita ini, karena apa? Bagi gue mood dan ide punya kaitan yang erat dalam berjalannya suatu cerita.


Kalau mood gue baik + ide juga ada, ceritanya bakal ngalir deras kaya pipa air 😅 kalau nggak yah macet kaya jalan raya.


So jangan pelit2 ngasih voment karna itu moodboster penulis.


See you next part.