The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Otw Nyusul



***


"Gimana? Udah siap semuanya kan?" tanya Liora saat dirinya tengah membantu Nayra untuk mengepak pakaiannya ke dalam koper.


"Udah kok," jawab Nayra yang menutup kopernya lalau menurunkannya dari atas ranjang.


"Yaudah kalau gitu, kita cabut sekarang !" ucap Liora yang menunggu di ambang pintu kamar.


Keduanya pun keluar dari kamar.


Alea yang melihat anak dan menantunya itu keluar bersamaan dari  dalam kamar dengan cepat mencegat keduanya.


"Kalian pada mau kemana?" tanya Alea yang menatap penuh curiga ke arah keduanya.


"Emm..itu mom, anu.."


"Anu apa? Jangan coba-coba buat bohongin Mommy. Ayo jujur! Mommy yakin pasti ada yang kalian sembunyiin dari Mommy," ucap Alea.


"Yaudah kita jujur deh. Sebenernya Nayra mau nyusul Kak Rafa mom, cuma yah perginya diam-diam karena Kak Rafa gak kasih izin Nayra buat ikut. Dan ini satu-satunya cara biar Nayra  bisa ikut dan tetap bisa pantau Kak Rafa," ucap Liora.


"Nggak-nggak, Mommy gak setuju. Nayra lagi hamil, Mommy gak mau Nayra kenapa-kenapa. Ini terlalu beresiko," ucap Alea yang tak setuju dengan rencana keduanya.


"Nayra pasti bakal baik-baik aja mom," ucap Liora meyakinkan Mommynya itu


"Jangan ngeyel kalau dibilangin!" ucap Alea.


"Ayo dong mom, Mommy pasti  nggak mau kan kalau cucu Mommy nantinya ileran karena ngidam Ibunya nggak terwujud," ucap Liora.


"Hah, ngidam? Kamu ngidam nay?" tanya Alea menatap  Nayra.


"Emm, Nayra..."


Liora yang melihat Nayra yang gugup dengan cepat mengedipkan matanya ke arah Nayra. Nayra yang mengerti dengan kode tersebut langsung mengangguk cepat mengiyakan pertanyaan mama mertuanya.


"Bilang sama Mommy kamu ngidam apa?" tanya Alea antusias.


"Nayra..."


"Nayra ngidam Kak Rafa, iya kan nay?" potong Liora cepat.


"Emm, iy...a mom," jawab Nayra tanpa pikir panjang lagi karena waktu mereka tinggal sedikit.


"Tapi kan Rafanya udah pergi, lagian Rafa nggak izinin kamu ikut pasti karena ada alasannya kan?" ucap Alea.


"Nggak bisa gitu dong mom, ngidam ibu hamil itu harus diturutin kalau nggak bisa bahaya sama calon debaynya nanti," cerocos  Liora.


Alea memicingkan matanya curiga ke arah Liora.


"Sok tahu kamu, emang kamu udah pernah hamil hah? Mommy lebih berpengalaman dari kamu. Sekali Mommy bilang nggak, tetap nggak!" ucap Alea yang kekeh.


"Tapi mom," jeda Liora.


"Apa? Mau protes lagi?" tanya Alea.


"Mommy nggak kasihan ngeliat Nayra? Nayra itu nggak bisa jauh-jauh dari lakinya. Coba deh Mommy bayangin, kalau seandainya Mommy lagi hamil trus mendadak ditinggalin sama Daddy dalam waktu yang lama, gimana coba perasaan Mommy? Pasti Mommy juga sedih kan kalau  ditinggal sama Daddy? So, mom izinin Nayra nyusul Kak Rafa," ucap Liora yang masih berusaha membujuk Sang Mommy.


Alea tampak menimang perkataan Liora barusan, seraya melihat ke arah wajah Nayra yang tampak lesu.


Beberapa detik kemudian Alea akhirnya menghela nafas lalu mengangguk pelan.


"Kamu yakin mau susul Rafa?" tanya Alea memastikan jika semuanya murni keinginan Nayra sendiri.


Nayra mengangguk pelan.


"Yaudah kalau gitu Mommy izinin kamu pergi, tapi dengan syarat Rafa harus tahu, Mommy nggak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Alea yang hendak menelpon Rafa, tapi keburu ditahan oleh Liora.


"Eits, tunggu dulu mom. Kayanya Kak Rafa nggak usah tahu deh, soalnya kalau Kak Rafa tahu pasti nggak bakal dikasih izin," ucap Liora.


"Loh yah bagus dong kalau Rafa tahu, Nayra kan istri kakak kamu. Yang ada Rafa bakal semakin marah kalau tahu Nayra nyusulin dia tanpa sepengetahuan Rafa," ucap Alea.


"Ayo dong mom jangan kaya gini, kali ini aja Mommy berada di pihak kita. Nayra pasti aman kok, Mommy tenang aja," ucap Liora.


"Yaudah kalau gitu, Mommy nggak bakal telepon kakak kamu. Tapi dengan syarat Nayra harus bisa jaga diri baik-baik,"  ucap Alea.


"Mommy tenang aja, Nayra perginya nggak sendirian kok. Ada Kak Rion yang bakal nemenin Nayra," ucap Liora.


"Rion?" tanya Alea heran.


"Iya mom, dokter Rion maksudnya. Mommy nggak lupa kan kalau Kak Rion itu satu profesi sama Kak Rafa? Jadi yah Kak Rion juga pasti ikut," ucap Liora.


Alea manggut-manggut mengerti.


"Bagus deh kalau gitu, Mommy juga percaya kalau Rion itu anak yang baik," ucap Alea.


"Jadi, Mommy izinin Nayra pergi kan?" tanya Liora.


"Iya Mommy izinin," ucap Alea.


"Nah gitu dong mom," ucap Liora senang.


"Tapi inget nanti kalau


kamu udah nyampe disana, jangan lupa kabarin Rafa, kamu ngerti kan nay?" tanya Alea pada Nayra.


"Iya mom, nayra ngerti kok," ucap Nayra tersenyum seraya mengangguk.


"Yaudah kalau gitu Liora anterin Nayra sampe depan dulu mom," ucap Liora yang membantu Nayra membawakan koper miliknya.


"Iya, hati-hati," Pesan Alea.


"Sip mom!" ucap Liora.


Keduanya pun berjalan keluar dari rumah. Bersamaan dengan itu, Alea pun mengetikkan sesuatu di dalam ponsel miliknya kemudian beranjak pergi darisana.


***


Tin tin


Terdengar suara klakson mobil dari arah gerbang pintu masuk. Ternyata pemilik mobil tersebut adalah Rion yang sudah tiba disana untuk menjemput Nayra.


Liora tersenyum saat melihat Rion yang membuka kaca mobil miliknya.


Keduanya pun berjalan ke arah mobil Rion yang terparkir di depan.


"Udah lama ya kak nunggunya?" tanya Liora.


"Nggak kok, gue juga baru nyampe," ucap Rion seraya menatap ke arah Nayra. Nayra yang diatatap begitu tampak terlihat risih.


"Yaudah kalau gitu kopernya mau taruh dimana nih?" tanya Liora.


"Taro di belakang li!" ucap Rion.


"Nggak usah li, biar aku aja yang ngangkat kopernya," ucap Nayra menahan tangan Liora yang hendak mengangkat koper miliknya.


"Udah nggak usah! Lo kan lagi hamil, ibu hamil nggak baik ngangkat yang berat-berat begini," ucap Liora memasukkan koper Nayra ke dalam mobil Rion.


Pembicaraan keduanya tak luput dari pendengaran Rion yang juga mendengar perkataan Liora barusan.


"Tapi btw ini kakak bawa mobil sendiri nih? Nggak gabung sama rombongan yang lain?" tanya Liora yang menyadari jika Rion membawa mobil pribadinya.


"Tadinya sih iya, cuma yah gue baru inget kalau Nayra ikut. Jadi gue pikir kayanya lebih bagus bawa mobil sendiri biar lebih aman," ucap Rion.


"Iya bener juga sih, Nayra juga bakal lebih nyaman kalau naik mobil pribadi begini," timpal Liora setuju.


"Buruan naik ra! Kak Rion pasti bakal bawa lo selamat sampai tujuan, tenang aja." Ucap Liora  lagi yang meminta Nayra untuk segera naik ke dalam mobil.


Dengan sedikit keraguan di hati Nayra pun masuk kedalam mobil milik Rion. Bukannya ia takut juka Rion melakukan sesuatu hal yang buruk padanya, tetapi ada hal lain yang ia takutkan. Nayra sebenarnya takut jika Rafa nantinya mengetahui jika dirinya menyusul Rafa karena dibantu oleh Rion. Selama ini Nayra tahu jika Rafa terang-terangan mengatakan jika dirinya tak menyukai sosok Rion.


"Kamingsun, doain Mama yah! Semoga aja papa kamu nggak marah sama Mama kalau tahu kita nyusulin Papa. Mama ngelakuin ini karena Mama nggak mau kalau wanita itu merebut Papa kamu. Kamingsun nggak mau kan kalau Mama jadi janda? Doain Mama yah!"


Batin Nayra tersenyum seraya menyentuh perutnya. Ia baru menyadari jika dirinya tak sendiri, kini ada yang menemaninya kemana pun ia pergi.


"Ehem.."


Rion yang melihat Nayra hanya diam mencoba mencairkan suasana dengan cara berdehem pelan. Nayra pun tersadar dan langsung melihat ke arah depan.


Rion memperbaiki letak kaca mobilnya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Kita cabut dulu li," ucap Rion pamit pada Liora yang masih berdiri disana.


"Hati-hati kak! Jangan sampe kakak ipar gue celaka!" ingatkan Liora.


Rion mengangguk sambil tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya beranjak darisana.


Selama perjalanan Rion selalu berusaha melirik Nayra dari kaca mobilnya, sedangkan Nayra hanya diam dan matanya tengah sibuk melihat ke arah jalan raya .


"Nayra.." panggil Rion pelan.


"Emm..iyah kak?" ucap Nayra saat mendengar jika Rion menyebut namanya.


Rion tersenyum saat mendengar Nayra yang memanggilnya dengan sebutan kakak. Belum pernah dirinya dipanggil dengan sebutan Kakak.


"Emang harus yah kamu panggil aku pake sebutan itu?" tanya Rion melirik ke arah Nayra dari kaca mobil


Nayra balik melihat ke arah Rion.


"Loh kenapa? Kakak nggak suka dipanggil begitu atau mau dipanggil pake yang lain?" tanya Nayra. Toh juga wajar Nayra memanggilnya Kakak ,karena dari segi usia Rion lebih tua darinya.


"Soalnya gue anak tunggal, gue gak biasa aja denger orang lain manggil gue kakak," ucap Rion tersenyum.


"Trus mau dipanggil pake apa? Nggak mungkin dong Nayra panggilnya pake nama, itu namanya nggak sopan," ucap Nayra.


"Iya juga sih, yaudah deh gak papa, kalau kamu yang panggil pakai sebutan kakak gue rela kok," ucap Rion.


"Atau mau dipanggil pake panggilan yang lain? Kaya Mas gitu?" Tanya Nayra.


"Mas? Kamu kira aku mas-mas tukang sate yang hobi nangkring di pinggir jalan?" tanya Rion yang sedikit risih mendengar saran Nayra.


"Loh emang kenapa? Kakak nggak suka yah?" Tanya Nayra.


"Emm..suka kok, gue suka. Yaudah panggil mas aja gak papa," ucap Rion menggaruk belakang lehernya dengan sebelah tangannya. Disatu sisi dia senang namun sedikit malu jika Nayra memanggilnya dengan sebutan Mas.


"Andai aja gue yang jadi suami lo nay, gue mungkin bakalan jadi pria paling beruntung di dunia ini,"  batin Rion.


"Mas Rion, tempatnya masih jauh yah?" tanya Nayra bertanya saat mobil yang dikendarai oleh Rion mulai meninggalkan perkotaan dan memasuki area pemukiman pedesaan.


"Lumayan jauh sih darisini, kenapa? Kamu udah bosan? Atau kamu mau kita menepi sebentar?" tanya Rion.


"Ah, enggak kok. Nayra cuma pengen tahu aja," ucap Nayra yang melihat ke arah luar.


***


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, akhirnya rombongan Rafa dkk sampai dengan tepat waktu di tempat mereka akan bertugas.


Rafa selalu seksi kordinator pun keluar dari mobil yang membawa mereka ke tempat tersebut. Rafa tampak berkharisma dengan menggunakan kaca mata bacanya ditambah jas putih yang ia gunakan tampak menambah kadar ketampanan seorang RAFAEL REINHARD KEANO.  Rafa keluar dengan membawa secarik kertas dan pulpen guna untuk mencek anggota rombongan yang hadir disana.


Nayla yang juga berada disana tak henti mengagumi wajah Rafa dari samping, tanpa ia sadari sedari tadi ia tersenyum malu-malu karena bisa berdekatan dengan Rafa, meskipun Rafa masa bodo dengan kehadirannya.


"Perhatian semuanya! Karena semua udah pada ngumpul disini, jadi saya selalu kordinator akan mengabsen semuanya untuk keperluan laporan. Saya mohon kerja samanya!" ucap Rafa menatap semuanya secara menyeluruh.


Rafa pun mulai mengabsen dan memanggil satu persatu nama yang tertera di dalam kertas yang ia pegang. Hanya tertinggal satu nama lagi yang belum ia sebutkan.


"Arion Aditia?" panggil Rafa seraya melihat ke arah depan.


Hening.


"Arion Aditia?" ulang Rafa lagi.


"Dokter Arion sepertinya masih di jalan dok, pagi tadi beliau telepon saya dan bilang jika ia bawa mobil sendiri," ujar salah seorang pria yang seprofesi dengan Rafa.


"Baiklah kalau begitu semuanya bergerak menuju posko! kita akan membagi tempat untuk menginap selama berada disini. Saya harap tidak ada yang komplain karena ini sudah ketentuan yang berlaku. Mengerti semuanya?" ucap Rafa.


"Mengerti dok..." ucap semua mahasiswa/i koas yang ikut beserta beberapa dokter lainnya.


Semuanya pun bubar dan menuju posko yang tak jauh darisana. Rafa hendak beranjak darisana, namun Nayla lebih dulu menarik tangannya.


"Ada apa?" tanya Rafa.


"Emm..gimana kalau kita tinggal sekamar? Kan lebih irit tempat. Maksud gue biar semuanya kebagian kamar. Lo tenang aja, gue gak ada maksud apa-apa kok, serius," ucap Nayla tanpa beban.


"Lo masih waras atau emang udah gila?" ucap Rafa pergi meninggalkan Nayla yang terdiam.


Rafa geleng-geleng kepala mengingat perkataan Nayla barusan.


Dret


Ponsel miliknya bergetar. Dengan cepat Rafa merogoh kantong jasnya dan mengusap layar ponselnya. Seketika raut wajah Rafa langsung berubah saat membaca sebuah pesan yang ternyata dari Mommynya.


Rafa meremas ponselnya dengan cepat dan beranjak pergi darisana. Nafas Rafa memburu kala melihat sebuah mobil sedan yang berhenti tak jauh dari posisinya berdiri. Seorang pria keluar dari mobil dan beranjak membuka pintu belakang mobilnya. Rafa berjalan mendekati mobil tersebut, matanya menatap tajam ke arah pria tersebut dan langsung menghadiahi satu pukulan di wajahnya.


" Kurang ajar! Lo apain istri gue  brengsek?"


***


Gimana sama part ini?


Coba tebak siapa yang dibogem sama Rafa?


Inget yah, jangan siders nanti authornya nangis. Trus ga mood up lagi dong, so jangan pelit voment yang semuanya.