
Absen dong, masih ada yg baca kah? Kalau iya, angkat bulut ketekmu 😅
"Kurang ajar! Lo apain istri gue brengsek?"
Rion yang belum siap menghadapi pukulan Rafa akhirnya terjatuh di atas tanah dengan luka di sudut bibirnya.
"Maksut lo apaan hah? Mendingan lo cari tahu dulu kebenarannya sebelum bertindak," ucap Rion bangkit berdiri sambil menahan rasa sakit di sudut mulutnya. Rion tersenyum sinis dan bergerak menuju posko meninggalkan Rafa dengan emosinya yang belum reda.
Nayra yang ternyata tertidur di dalam mobil menjadi terbangun saat mendengar suara keributan barusan. Nayra mengerjapkan matanya sebentar, matanya langsung menangkap seorang pria berjas putih yang menatap ke arahnya. Nayra melotot kaget dan dengan cepat melepas seatbelt miliknya.
"Kak Rafa?" cicit Nayra pelan, ia mulai merasakan aura yang tidak baik dari tatapan Rafa.
"Keluar!" ucap Rafa.
"Mama harus gimana sekarang dek? Papa kamu kayanya bakalan marah sama Mama"
"Nayra bisa jelasin kak, Nayra minta maaf," sesalnya yang keluar dari dalam mobil Rion.
"Aku nggak butuh maaf kamu," ucap Rafa.
"Ak.."
"Aku udah bilang aku nggak butuh maaf kamu!" ucap Rafa sekali lagi, kemudian beranjak meninggalkan Nayra darisana.
"Kak, Nayra tau ini salah, Nayra minta maaf," ucap Nayra keluar dari mobil dan langsung mengejar Rafa yang sudah dipastikan marah pada dirinya.
Nayra terus mengikuti Rafa yang semakin mempercepat langkahnya menuju posko.
"Nay, gue mau lo handle semuanya, gue ada urusan," ucap Rafa memberikan mandat pada Nayla untuk menggantikan posisinya.
"Tapi,"
"Kepala gue pusing. Gue mau istirahat sebentar," ujar Rafa meninggalkan posko.
Tak lama setelahnya, Nayra datang untuk mencari Rafa. Nayla yang berada disana menyadari akan kehadiran Nayra, ia melotot kaget karena melihat Nayra yang juga berada disana. Padahal setaunya Rafa tak membawa Nayra ikut bersama dengannya.
"Nggak bisa dibiarin nih," gumamnya lalu menghampiri Nayra dan menangkap tangan Nayra dengan cepat.
"Ngapain lo disini? Bukannya Rafa nggak izinin lo ikut?" tanya Nayla.
"Lepasin! Aku mau nyari Kak Rafa," ucap Nayra tak mengindahkan perkataan Nayla.
"Heh dengerin gue! Rafa lagi ada urusan dan dia nggak bisa diganggu. Lagian lo ngapain pake acara nyusul segala hah? Bikin susah tau nggak? Mendingan sekarang lo balik sana! Wanita manja dan lemah kaya lo tempatnya bukan disini," ucap Nayla.
Nayra menggeleng tak mau.
"Aku mau ketemu sama Kak Rafa, permisi," ucap Nayra melepaskan cekalan tangan Nayla dan berlalu pergi mengejar Rafa.
"Kak, tungguin Nayra!" ujar Nayra semakin mempercepat langkahnya sehingga jaraknya dengan Rafa hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Medan yang cukup sulit untuk dilewati membuat Nayra sedikit kesulitan menyamakan langkahnya dengan Rafa yang masa modo. Daerah tersebut termasuk ke dalam daerah yang lumayan jauh dari perkotaan dan masih jarang dilalui oleh kendaraan, kalaupun ada hanya beberapa saja.
Jalan yang berlubang-lubang membuat kaki Nayra terbentur bebatuan karena berusaha menyusul Rafa.
"Kak, aaaa..."
Brak
Nayra terjatuh akibat tersandung batu. Tubuh bagian depannya ambruk dan bertubrukan langsung dengan tanah dan bebatuan.
"Kak..." panggilnya saat merasakan perutnya sakit.
"Perut Nayra, sssakit," ucapnya memegangi perutnya.
Rafa yang mendengar suara jatuh membalikkan tubuhnya dengan cepat.
"Nayra..." ucapnya lalu dengan cepat menghampiri Nayra dan menggendong tubuh Nayra menuju sebuah tempat.
Rafa meletakkan tubuh Nayra di atas ranjang yang lumayan kecil. Raut wajahnya menunjukkan rasa khawatir melihat Nayra yang kesakitan.
"Perutnya masih sakit?" tanya Rafa mendekati Nayra.
Nayra mengangguk pelan.
Rafa pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Nayra dari balik bajunya, mengelusnya sejenak, seolah-olah sedang berusaha menenangkan calon bayi yang ada di perut Nayra.
"Gimana sekarang? Apa udah mendingan?" tanya Rafa melihat wajah Nayra.
Nayra mengangguk untuk yang kedua kalinya. Rafa akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah mengetahui jika rasa sakit di perut Nayra sudah hilang.
"Kakak mau kemana?" yanya Nayra saat Rafa hendak beranjak berdiri.
Nayra terdiam dan hanya bisa mengangguk. Ia pikir ini semua adalah salahnya. Jika saja dirinya tak nekat menyusul Rafa, mungkin Rafa tidak akan sedingin ini padanya.
Brak
Nayra terkejut saat mendengar suara pintu yang ditutup, Nayra yakin jika itu adalah ulah dari Rafa. Seumur-umur dirinya mengenal Rafa, belum pernah sekalipun Rafa mencueki dan mendiaminya seperti sekarang ini.
Nayra berbaring di atas ranjang tersebut. Perlahan air matanya turun membasahi kedua pipinya.
"Hiks..hiks..Nayra mau pulang," unarnya sambil menangis.
Nayra bangkit dari tidurnya dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Rafa yang berdiri di ambang pintu, ternyata pria itu tak benar-benar pergi seperti yang ia pikirkan tadi.
Nayra diam seribu bahasa.
"Kamu bisa kan satu hari aja nggak bikin aku khawatir? Kamu tau? Aku khwatir waktu aku tahu kamu nyusulin aku disini. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa," ucap Rafa melemah.
"Maaf...hiks.." ucap Nayra yang langsung memeluk Rafa dan menumpahkan tangisannya di dada Rafa.
"Lepas!"
"Nggak mau," ujar Nayra menggeleng seraya meremas jas milik Rafa.
"Lepas Nayra!" Rafa mendorong tubuh Nayra agar melepas pelukannya.
"Nayra tau ini salah, tapi Nayra ngelakuin ini juga karna punya alasan, hiks...yaudah kalau emang kehadiran Nayra nggak diharapkan disini, Nayra pulang sekarang juga. Masih ada Mas Rion yang mau nganterin Nayra pulang," ucap Nayra menghapus air matanya.
Tangan Rafa mengepal dengan kuat mendengar ucapan Nayra barusan. Tanpa babibu lagi Rafa menarik pergelangan tangan Nayra dan mendorongnya menuju dinding.
"Dengerin gue! Gue gak suka lo sebut-sebut nama brengsek itu di depan gue!" ucap Rafa emosi.
"Kenapa? Kakak nggak suka kalau Nayra panggil Mas Rion? Kakak cemburu hah? Kakak egois tau nggak sih? Kakak cuma mentingin perasaan kakak doang. Kakak juga setiap hari deket sama Nayla, tapi aku gak pernah komplain tuh. Kakak tau nggak? Nayra sampe bela-belain nyusul Kakak kesini cuma karna Nayra nggak mau kalau perempuan itu deketin Kakak terus. Nayra cemburu kak, Nayra cemburu tiap kali ngeliat Kakak deket sama dia, hiks.." ucap Nayra yang masih menangis.
Rafa melihat wajah Nayra yang menangis dan mengeluarkan unek-unek hatinya. Melihat Nayra menangis bagaikan sebuah luka bagi Rafa. Rafa menarik Nayra kedalam pelukannya dan mencium ubun-ubun Nayra sambil mengelus punggung Nayra.
"Maafin aku, aku cuma nggak suka kamu deket sama dia" ucap Rafa.
"Aku sama Mas Rion gak ada apa-apa," ucap Nayra pelan.
"Aku nggak suka kamu panggil dia dengan embel-embel mas," ucap Rafa tegas.
"Loh ken.."
"Berani membantah, kamu aku hukum," ucap Rafa.
"Tap hmmpph..." Rafa dengan cepat memagut bibir Nayra dan membawa tubuh Nayra ke atas ranjang.
"Kak..." panggil Nayra pelan saat Rafa menyatukan kening mereka.
"Hmm.."
"Anterin Nayra pulang yah! Mumpung masih siang," ucap Nayra.
Rafa diam dan malah menggulingkan tubuhnya ke samping.
"Kak.." Nayra menoleh ke samping dan mengoyang lengan Rafa.
"Ayo, anterin Nayra pulang! Takutnya nanti Nayra jadi beban disini," ucap Nayra.
"Yaudah kalau nggak mau, Nayra mau min..."
"Min apa? Mau minta tolong sama siapa hah? Sama Rion, iya?" ucap Rafa bangkit dari rebahannya.
"Ya abisnya, Kakak ngga mau nganterin Nayra," ucap Nayra kesal.
"Tempat ini jauh dari perkotaan, kalaupun kamu balik sekarang sampenya bakal kemaleman, dan kamu pikir aku akan biarin itu terjadi? Kamu salah, kamu tetap disini sama aku!" ucap Rafa tegas, tetapi sukses membuat Nayra jadi senyum-senyum sendiri.
"Nggak usah senyum!" 7cap Rafa.
"Aaa...Nayra sayang tahu sama Kakak, sayangnya melebihi apapun," ucap Nayra duduk di pangkuan Rafa dan memeluk lehernya dengan erat.
"Nay, aku nggak bisa nafas ini," ucap Rafa.
"Owh, nggak bisa nafas? Mau Nayra kasih nafas buatan ngga?" tanya Nayra yang menjepit mulut Rafa dengan tangannya hingga bibir Rafa sudah mengerucut, dengan sangat lembut Nayra mengecup bibir Rafa dan memberikannya nafas buatan.
Tbc
Maaf upnya lama, baru sempet sekarang. Semoga suka 🍑