
***
"Eh mau kemana nay?" tanya Liora yang sedang duduk di sofa sambil scrolling tik tok yang lagi viral .
"Emm...itu aku mau kerumah sakit," jawab Nayra yang sedikit gugup.
"Loh ngapain emang? Lo sakit nay?" tanya Liora yang menarik tangan Nayra untuk duduk bersamanya diatas sofa.
"Enggak kok, aku cuma..em..."
"Cuma apa? Lo lagi nyembunyiin sesuatu yah?" tanya Liora curiga.
"Ah enggak kok, aku cuma mau nemuin kak Rafa," ujar Nayra.
"Oh gitu, eh tapi btw kok tumben lo pake baju tebal terus pake syal lagi? Padahal hari ini cuaca lagi panas loh," ucap Liora yang memperhatikan penampilan Nayra kali ini.
"Gak papa kok, cuma lagi pengen aja," ujar Nayra memperbaiki letak syal miliknya agar bekas di lehernya tidak terlihat.
Liora memicingkan matanya saat memperhatikan gelagat Nayra.
"Eh apa tuh, ada kecoa di baju lo," ujar Liora menunjuk bahu Nayra.
"Aa...kecoa? Ma1na...mana kecoanya?" ucap Nayra panik dan langsung memeriksa bahunya.
"Kecoanya masuk ke dalam baju lo, mendingan lo buka syal lo dulu," ucap Liora yang membantu menarik syal yang terlilit di leher Nayra.
"Astaga....leher lo kenapa nay?" tanya Liora yang melihat leher Nayra yang merah-merah.
"Emm....itu..." Nayra merasa gugup untuk menjelaskannya pada Liora, masa ia Nayra harus bilang jika tadi malam telah terjadi sesuatu yang menyebabkan lehernya merah-merah dan pelakunya yang tak lain adalah Rafael.
"Gue tau nih, pasti lo sama kak Rafa udah malam pertamaan yah, 1cie....bentar lagi gue punya ponakan dong. Eh tapi kak Rafa ganas juga ya sampe buat leher lo merah-merah gitu? Emang gak sakit nay?" tanya Liora yang penasaran.
Blush
Pipi Nayra memerah setelah mendengar ucapan Liora.
Nayra menggeleng pelan.
"Tapi itu banyak banget loh nay, parah banget ni kak Rafa, tega bener ngasih tanda sama istrinya sebanyak itu. Tapi bagus sih, itu pertanda kalau kak Rafa beneran mau serius sama lo, gue tau selama ini kak Rafa gak pernah nyentuh cewek selain lo nay, bahkan pacaran aja dia gak pernah," ucap Liora serius.
"Tapi seenggaknya sekarang gue bisa lega nay, dugaan kita selama ini ternyata gak bener,bkak Rafa masih doyan lobang ternyata," ujar Liora.
"Lobang? Maksudnya?" tanya Nayra yang tak mengerti dengan ucapan Liora.
"Emmm itu...aduh gimana ya ngejelasinnya, gini aja deh, nanti kalo lo udah nyampe di rumah sakit lo tanyain deh sama laki lo doyan lobang itu apa, pasti dia ngerti." Ucap Liora yang malah meminta Nayra untuk bertanya pada Rafa, karena ia tahu jika kakak iparnya itu masih terlihat polos meskipun usianya yang sudah menjalani kepala dua.
***
"Rafa...." panggil Nayla yang melihat Rafa keluar dari dalam ruangan pribadinya.
Rafa yang merasa terpanggil lantas menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya itu.
"Emmm...lo mau balik yah?" tanya Nayla saat dirinya sudah tiba di depan Rafa.
"Nggak, gue masih ada urusan," jawab Rafa.
"Temenin gue makan yuk," ajak Nayla yang langsung menggandeng pergelangan tangan Rafa.
"Gue gak bisa nay, gue,,,"
"Bentar doang, please....." ucap Nayla dengan wajah memelas.
Rafa pun akhirnya luluh lalu melirik sebentar kearah jam tangannya.
"Ok, 5 menit gak lebih," ucap Rafa yang menyetujui permintaan Nayla.
Nayla tersenyum lebar dan memeluk tangan Rafa lebih erat lagi.
Sedangkan Nayra yang sudah tiba dirumah sakit dengan begitu semangatnya berjalan masuk kedalam rumah sakit dengan tujuan awalnya yang ingin bertemu Rafa.
"Tolong jangan seperti gini ,lo kan tau status gue sekarang siapa, gue gak mau nimbulin fitnah," ujar Rafa yang melepas gandengan tangan Nayla karena melihat tatapan para staf pekerja dirumah sakit yang melihat keduanya tampak begitu dekat seraya berbisik satu sama lain, sedangkan yang mereka tahu jika Rafa sudah menikah beberapa hari lalu dan sudah punya istri. Rafa tak mau merusak citra nama baiknya sebagai seorang dokter.
"Ya gak papa kali, lagian kan cuma gandengan biasa, gak bakal ada yang marah juga," ujar Nayla yang masih tak mau melepaskan gandengan tangannya dan diam-diam tersenyum mengejek kearah Nayra yang berdiri tak jauh darisana. Nayra melihat semuanya dengan sangat jelas disertai tatapan kosongnya kearah depan, harus Nayra akui jika api cemburu sudah mulai merebak keluar dari dalam dirinya.
Rafael masih belum menyadari kehadiran Nayra yang sudah tiba disana, sedangkan Nayla sendiri masih asyik bergelanyut di tangan Rafa yang masih berbalut jas dokter putihnya.
Detik itu juga Nayra berlalu keluar dengan cepat dan meninggalkan rumah sakit, beranjak pergi mengikuti kata hatinya.
Saat sudah tiba di luar rumah sakit dengan terburu-buru Nayla langsung menuju mobil milik Rafa yang terparkir disana, dan masuk kedalamnya. Sedangkan Rafa sedang merogoh kantong jasnya untuk mendapatkan kunci mobilnya.
"Ayo buruan fa," ucap Nayla yang sudah tak sabaran, ia takut jika nanti Rafa keburu melihat Nayra ada disana dan sudah dipastikan jika itu terjadi maka rencananya untuk pergi bersama Rafa akan gagal total.
Nayra berjalan menuju tepi jalan Raya dan berniat akan menyebrang, ia mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Rafa hari ini.
"Nayra....awas....."
Bugh...
Seseorang dengan cepat menarik tangan Nayra dan membawanya kedalam pelukannya, keduanya beguling dengan posisi orang tersebut masih memeluk kepala Nayra agar tidak terbentur.
Rafa yang mendengar suara jatuh mengalihkan pandangannya kearah jalan raya, matanya dengan jelas menangkap Rion yang sedang memeluk seorang wanita dengan posisi mereka yang masih tergeletak di aspal. Rafa merasa tak asing dengan wanita yang sedang dipeluk oleh Rion tersebut.
"Nayra...." gumamnya saat melihat wajah wanita tersebut.
Rafa berlari menghampiri Nayra dan langsung menarik tangannya.
"Apa-apaan ini? Kamu ngapain peluk-pelukan sama dia hah?" tanya Rafa yang kesal dan sedikit mencengkram tangan Nayra.
Nayra diam.
"Nayra jawab!" ucap Rafa.
"Tadi kak Rion cuma niat mau bantuin aku, gak ada maksut yang lain," ujar Nayra dingin.
"Ikut aku!" ujar Rafa menarik pergelangan tangan Nayra namun Nayra menepisnya dengan cepat.
"Gak usah Nayra bisa pulang sendiri," ucap Nayra.
"Nayra biar gue yang anterin," sela Rion yang datang menengahi pembicaraan mereka.
"Nayra gak ada hubungannya sama sekali sama lo, Nayra istri gue jadi gue berhak atas diri Nayra," ucap Rafa yang tetap menarik pergelangan tangan Nayra menuju mobilnya.
Nayla yang melihat Rafa menggandeng tangan Nayra menuju mobil menjadi kesal sendiri.
"Keluar!" pinta Rafa sembari membukakan pintu mobil untuk Nayla yang sedari tadi sudah berada di dalam mobilnya.
"Tap...."
"Gue bilang keluar, gue ada urusan sama Nayra," ucap Rafa.
Dengan wajah kesal plus tak rela Nayla keluar dari mobil milik Rafa.
"Masuk Nayra!" ucap Rafa menyuruh Nayra masuk kedalam mobil menggantikan posisi Nayla.
"Nggak mau, Nayra bisa pulang sendiri," ucap Nayra menolak.
"Aku bilang masuk! Jangan sampai kesabaran aku habis Nayra," ancam Rafa yang mendorong Nayra masuk kedalam mobil dan menutupnya dengan cukup kuat, lalu menutup semua kaca mobilnya.
Rafa mendekati Nayra sehingga posisi wajah mereka sudah sangat dekat sekali. Nayra yang tak tahan langsung menutup matanya dan membiarkan Rafa melakukan apa yang ia mau.
"Buka mata kamu! Nggak usah GR, aku juga gak bakal cium kamu, jangan terlalu berharap," ujar Rafa menarik syal milik Nayra agar terlepas dari lehernya.
Jari jemari Rafa mulai bergerak menyentuh bekas merah-merah yang ia berikan di leher Nayra tadi malam. Nayra adalah gadis pertama yang pernah ia perlakukan seperti itu, gadis yang berhasil mendapatkan firstkiss nya yang tak pernah ia berikan pada wanita manapun.
"Tegakkan leher kamu! Aku mau lihat" ucap Rafa.
Nayra bersandar dan menegakkan lehernya sampai bekas merah itu terpampang dengan jelas di mata Rafa. Secercah rasa bersalah mulai timbul di hatinya saat melihat ada begitu banyak jejak merah di kulit Nayra, Rafa juga tak mengerti kenapa bisa sebanyak itu.
Rafa menekan tombol di samping jok yang diduduki oleh Nayra dan mendorong tubuh Nayra agar berbaring.
Cup
Rafa mengecup kulit leher Nayra sehingga tubuh Nayra langsung bereaksi, Nayra meremas lengan jas milik Rafa saat Rafa mndekatkan wajahnya kearah Nayra.
"Kakak..."panggil Nayra pelan namun masih bisa didengar oleh Rafa.
Ada kesenangan tersendiri bagi Rafa saat Nayra memanggil dirinya kakak, meskipun status Nayra adalah istrinya bukan adiknya.
"Kenapa hmmm? Kamu mau bekas ini sembuh bukan?" tanya Rafa.
Nayra mengangguk.
"Jadi sekarang tugasmu hanya diam," ucap Rafa perlahan bergerak menyesap bibir Nayra yang membuatnya ketagihan sejak semalaman, ia terus terbayang dengan bibir Nayra yang manis dan kenyal sambil sesekali Rafa mengecup bekas merah di leher Nayra.
***
Ini mah modus namanya bukan ngobatin Nayra😅.
Hallo, ada yang rindu sama author nggak, atau rindu cerita ini up?
Makasih loh buat yang selalu nungguin aku up , saranghae😘 banyak2.
Gak ada niat mau ucapin gitu?☺
See you next part