
***
Tak...tak...tak...
Terdengar suara hentakan sepatu seseorang yang menapak di lantai rumah sakit. Ia adalah Nayla Himawan seorang dokter spesialis kandungan yang punya darah blasteran. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang tinggi semampai membuat para kaum hawa yang melihatnya menjadi iri ditambah lagi rambut blonde dan bola mata birunya.
Nayla selalu menjadi pusat perhatian saat dirinya berada dimanapun.
"Selamat pagi bu dokter," sapa beberapa petugas kebersihan saat melihat Nayla yang hendak berjalan menuju ruangannya.
"Yah selamat pagi juga," ujarnya ramah dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Nayla membuka pintu ruangannya dan masuk kedalam.
Tok...tok..tok....
"Silakan masuk, pintunya tidak dikunci,"
" Permisi Bu dokter pasien di ruang 331 sudah menunggu anda sejak semalaman," ujar seorang perawat yang muncul di balik pintu.
"Baiklah saya akan segera kesana," ujarnya kemudian keluar dari ruangannya seraya membawa stetoskop miliknya. Keduanya pun berjalan secara beriringan menuju kamar pasien yang akan segera ia tangani.
"Suster Ani," panggilnya saat mereka berjalan beriringan.
"Iya Bu dokter? Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa dokter Rafael sudah masuk hari ini?" tanyanya.
"Sepertinya belum Bu dokter, dokter Rafa kan masih cuti selama beberapa hari ke depan," ujarnya.
"Yah sepertinya memang begitu, mungkin dia sibuk dengan istri barunya," ujar Nayla.
"Bu dokter benar, kemarin saya diundang waktu acara pernikahan dokter Rafa. Istrinya cantik Bu dokter, beruntung sekali wanita itu,"
"Cantik sih iya, tapi saya gak yakin kalau Rafa bisa bertahan dengan wanita manja seperti itu," ucap Nayla yang tak suka saat rekan susternya itu memuji istri Rafa.
"Loh, Bu dokter cemburu yah?" tanyanya.
"Buat apa saya cemburu, saya jauh lebih baik daripada perempuan itu," ujar Nayla dengan penuh percaya diri.
"Tapi Bu dokter is..."
"Sudah, jangan membahas masalah ini lagi, kamu kerjakan tugas yang lain!" ujar Nayla saat suster tersebut hendak menyampaikan opininya lagi.
"Baik Bu dokter. Saya permisi dulu," ukarnya lalu pamit pergi.
Beberapa menit kemudian Nayla sudah sampai di depan sebuah ruangan, ia pun membukanya pelan kemudian masuk kedalamnya. Nayla tampak tak bersemangat beberapa hari ini alasannya yang tak lain hanya karena Rafa tak masuk dinas hari ini. Rafa masih cuti sejak ia menikah.
***
"Udah gak usah nay, kamu duduk aja disana! Tangan kamu kan masih sakit, gimana mau bantuin masak," ujar Alea yang meminta Nayra untuk diam saja.
"Gak papa mom, Nayra masih bisa bantu-bantu kok, tangan Nayra juga udah mendingan kok. Nayra mau belajar masak mom, please....boleh yah Nayra ikutan masak juga," pinta Nayra.
"Yaudah kamu bantuin masukin garem aja kedalam sopnya , Mommy mau siapin piring dulu," ujar Alea yang akhirnya mengijinkan Nayra untuk membantunya.
"Ok mom," ujarnya semangat.
"Mom, garemnya berapa sendok?" tanya Nayra yang mengangkat wadah berisi garam.
"2 sendok aja nay," ujar Alea yang sedang menyiapkan peralatan makan diatas meja.
Nayra pun manggut-manggut mengerti dan mengambil sendok makan, kemudian menuangkan 2 sendok makan garam kedalam sup bening buatan Alea.
Beberapa menit kemudian sop buatan Alea akhirnya matang juga. Nayra pun menuangkan sop tersebut kedalam wadah kaca dan meletakkanya diatas meja makan.
"Udah selesai semuanya nay?" tanya Alea menghampiri Nayra di meja makan.
"Udah Mom," jawab Nayra seraya beralih kearah wastafel dan mencuci tangannya di kran air.
"Wah ada sop, udah lama banget Lili gak makan sop," ujar Liora yang sudah tiba di meja makan dan langsung menarik kursi untuk ia duduki.
"Kakak kamu mana?" tanya Alea yang sedang menuang air kedalam gelas.
"Hoek.....sop apaan nih kok rasanya jadi aneh gini? Gak kaya biasanya, ini Mommy yang masak? Kok gak enak sih?" ujar Liora memuntahkan kuah sop yag berada di mulutnya dan meneguk segelas air.
"Masa sih?" tanya Alea mengambil sendok dan mulai mencici rasa kuah sop tersebut.
"Kok bisa asin yah? Perasaan tadi Mommy nyuruh Nayra masukin dua sendok garam," ujar Alea.
"Maaf Mom, mungkin karna Nayra masukin 2 sendok makan garam makanya sopnya jadi asin begini," jawab Nayra.
"What? Dua sendok makan garem? Pantesan asin banget, lo kebelet kawin nay?" tanya Liora.
"Lili, kamu ngomong apa sih? Ya udah gak papa nay, ini juga salah Mommy yang salah kasih arahan, harusnya Mommy bilang dulu garemnya pakai sendok teh bukan sendok makan. Lain kali nanti Mommy ajarin kamu cara masak sop yang bener itu gimana," ucap Alea yang maklum.
"Sekali lagi Nayra minta maaf mom, gara-gara Nayra sop buatan Mommy asin," sesal Nayra.
"Iya gak papa, udah gak usah difikirin lagi. Kamu duduk gih kita sarapan sama-sama,bsopnya gak usah dihidangin nay," ujar Alea.
Beberapa saat kemudian semua hidangan sarapan sudah tertata rapi diatas meja. Rafa dan Arkan juga sudah datang menyusul dan duduk di kursi. Rafa mengambil tempat duduk di samping Nayra yang tampak diam. Semuanya makan dalam keadaan hening, hanya terdengar suara gesekan garpu dan sendok yang berbunyi memenuhi ruang makan.
***
Kalau orang bilang pengantin baru itu lagi panas-panasnya, lagi romantis-romantisnya, selalu nempel kemana dan dimanapun. Tetapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Rafa dan Nayra. Keduanya memang sering berdekatan, tidur bareng dan melakukan semuanya bareng-bareng. Namun Nayra merasa jika semua perlakuan Rafa untuk dirinya terasa hambar, tidak ada sikap yang lebih atau terkesan manis dan romantis. Ia kini menjadi bingung dengan kehidupannya, akankah terus seperti ini atau suatu saat nanti Rafa akan berubah? Semoga saja, batin Nayra dalam hati.
"Hah...." desah Nayra lesu sambil melihat langit sore dari balkon kamar. Ingin rasanya ia mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya.
"Mencintai ternyata lebih sulit daripada dicintai. Seandainya saja aku bisa dicintai oleh orang yang aku cintai, pasti rasanya sangat menyenangkan,btapi apa bisa aku merasakan semua itu?" tanya Nayra pada angin sore yang berhembus, meskipun ia tahu jika angin lalu tak bisa menjawab pertanyaanya itu.
"Cinta itu butuh proses, butuh waktu dan pengorbanan," ujar Rafa yang sedari tadi sudah berada di belakang Nayra.
Nayra terlonjak kaget saat mendengar suara Rafa. Ia pun membalikkan badannya dan melihat kearah Rafa, apakah Rafa mendengar semua perkataanya tadi?
"Masuk sana udah sore! Angin sore gak baik buat kesehatan," ujar Rafa berjalan mendekati Nayra.
"Nayra masih mau disini kak, Nayra mau lihat sunset dulu," ujar Nayra.
"Lihat sunsetnya kapan-kapan aja. Lebih baik sekarang kamu masuk trus mandi sana! Tidak terima penolakan," ujar Rafa saat Nayra akan protes.
"Nggak mau!" ucap Nayra tetap kekeh tak mau disuruh mandi oleh Rafa.
"Aaaa...turunin,bNayra gak mau mandi. Titik gak pake koma," ujar Nayra saat Rafa yang tiba-tiba menggendongnya.
Rafa mengangkat tubuh Nayra seperti kuli panggul menuju kedalam kamar mandi dan meletakkanya kedalam bathtub .
"Mandi sekarang atau kamu tidur di luar,naku gak mau tidur seranjang sama wanita jorok kaya kamu," ucap Rafa.
"Iya-iya, ini mau mandi kok," ucap Nayra.
Rafa tersenyum tipis saat melihat Nayra yang selalu menurut dengan semua perkataanya, ada kesenangan tersendiri baginya saat melihat Nayra seperti itu.
Rafa pun meninggalkan Nayra di dalam kamar mandi dan menuju ranjang sembari menunggu Nayra yang selesai mandi.
Beberapa saat kemudian, Nayra pun selesai mandi dan membuka pintu seraya memperbaiki handuk yang melilit di tubuhnya, tanpa menyadari jika Rafa ada di depannya dan melihat apa yang Nayra lakukan.
Nayra langsung memutar balikkan badannya dan dengan cepat masuk kembali kedalam kamar mandi, wajahnya sudah merah padam. Rafa pasti melihat semuanya.
Nayra merasa sangat malu meningat saat Rafa tadi sempat melihatnya memperbaiki handuknya. Nayra merutuki dirinya yang teledor, ia tak ingat jika Rafa ada dikamar yang sama dengan dirinya.
Nayra pun duduk di atas closet seraya meremas ujung handuknya, ia merasa tak punya wajah jika harus bertemu Rafa lagi. Yah meskipun Rafa adalah suaminya sekarang, tetapi tetap saja ia malu jika Rafa melihat tubuhnya yang naked.
Sedangkan Rafa yang masih duduk di ranjang berusaha menepis fikiran aneh yang mulai bersarang di otaknya. Ia berusaha untuk bersikap biasa dengan apa yang ia lihat barusan. Rafa pun memutuskan untuk keluar dari kamar agar Nayra tak malu untuk keluar dari kamar mandi, ia tahu jika Nayra pasti juga merasa malu dengan kejadian tadi.
Tbc
Hadeuh Nayra ceroboh sih😂😂
Maafkeun bila ada typo disana sini😅
See you