The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
kencan



***


"Tunggu! Lo kok bisa disini? Siapa yang izinin lo masuk kerumah ini? Jangan bilang lo disini mau  jadi pembokat di rumah gue, tapi cocok sih hahaha..."  ujar Liora seraya tertawa saat melihat Nayla yang menuruni tangga.


"Heh jaga mulut lo kalau ngomong, gue bukan pembokat dan gak akan sudi jadi pembokat disini,"  tekan Nayla saat mendengar Liora  yang  mengatainya pembantu.


"Oh ya, masa sih? Tapi menurut gue yah lo lebih cocok jadi pembokat atau kalau nggak jadi cleaning servis aja,"  ujar Liora yang sengaja memancing amarah Nayla.


"Lo,,,"  tunjuk Nayla kearah Liora yang berpangku tangan.


"Kenapa hah? Mau marah sama gue? Gue gak takut sama nenek lampir kaya lo. Pelakor tingkat rendahan kaya lo itu udah sewajarnya dibasmi dan dimusnahkan dari muka bumi ini tau nggak,"  ucap Liora yang sangat jengkel karena melihat kehadiran Nayla.


Plak


Nayla menampar wajah Liora sampai memerah.


"Oh jadi lo berani nampar gue, dasar wanita gak tau diri," maki Liora dan menarik serta menjambak rambut Nayla dengan cukup kuat sampai-sampai membuat Nayla meringis kesakitan akibat jambakan Liora di kepalanya.


"Akhhh......sss....aaa..kit  tolong...lepasin gue.... LIORA....,"  teriak Nayla.


"Rasain! Ini emang pantes buat wanita gatel kaya lo,"  ujar Liora.


"LIORA....lepasin dia!" sebuah suara menyela dari arah lain.


"Biarin kak, biar dia kapok,"  ujar Liora.


"LIORA.."


"Iya ini udah dilepasin,"  ucap Liora yang melepas jambakan di rambut Nayla.


"Hiks...hiks...hiks...sssakit...."  Nayla terisak seraya memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.


"Cih...lebay,"  ujar Liora memutar bola matanya malas.


"Ada apa ini? Pagi-pagi aja udah bikin ribut,"  ujar Alea yang datang karena mendengar  suara keributan.


"Ini nih mom biang keroknya, perasaan semalam gak ada lah sekarang kok dia bisa muncul disini?" tanya Liora.


"Loh Nayla? Kok bisa ada disini? Kamu kapan datangnya?" tanya Alea yang juga terkejut saat  melihat Nayla yang tiba-tiba berada disana.


"Nayla datangnya tadi malem Tante, Nayla diusir dari rumah dan sekarang Nayla gak tahu mau tinggal dimana, jadinya Nayla minta bantuan Rafa dan  izinin Nayla untuk tinggal disini,"  ucap Nayla yang masih memegangi kepalanya.


Alea diam lalu melirik kearah Rafa lalu kembali melihat kearah Nayla.


"Oh iya gak papa, kamu bisa nginap disini dulu sampai kamu dapat tempat tinggal yang baru,"  ujar Alea tersenyum.


"Mommy apa-apan sih, Lili gak setuju dia tinggal dirumah kita,"  ujar Liora.


"Cuma sementara doang lili, kan kasihan Nayla gak punya tempat tinggal,"  ujar Alea.


"Terserah Mommy deh, Lili gak mau ikut campur, percuma. "  ucap Liora yang pergi darisana.


"Tante baru aja selesai masak tadi, kita sarapan sama-sama yuk. Oh iya soal yang tadi Tante harap kamu mau maafin Liora, sifatnya emang begitu"  ucap Alea.


"Oh iya Tante gak papa, Nayla udah maafin kok," ujar Nayla tersenyum tipis kearah Alea.


Alea balas tersenyum dan beralih menatap kearah Rafa.


"Istri kamu mana?" tanya Alea yang sengaja tidak menyebut nama Nayra.


"Lagi siap-siap dikamar mom,"  jawab Rafa.


"Sana susul, ajak Nayra buat  sarapan bareng!"  ucap Alea.


"Iya mom,"  balas Rafa yang kemudian kembali ke kamar untuk menemui Nayra.


Rafa membuka pintu dan mencari keberadaan Nayra di dalam kamar.


"Nayra...." panggil Rafa.


Nayra yang sedang mengeluarkan pakaian dari dalam lemari terkejut karena mendengar suara milik Rafa. Nayra berniat akan masuk kembali kedalam kamar mandi untuk menghindari Rafa karena merasa malu jika Rafa melihat dirinya yang hanya mengenakan sehelai handuk ditubuhnya, meskipun Rafa adalah suaminya.


"Kamu ngapain?" tanya Rafa yang sudah berada di belakang punggung Nayra.


"Ini...emm...mau ambil baju ,"  ujar Nayra gugup seraya meremas handuk bagian depannya.


"Mau dibantuin nggak?" tawar Rafa yang masih berada di belakang Nayra.


"Eng...gak usah kak, Nayra bisa sendiri kok,"  ujarnya.


"Yakin gak mau dibantuin?" tanya Rafa lagi. Entah kenapa mendadak ia ingin menggoda Nayra pagi ini.


"Aku nawarin kamu bantuan loh bukan nyuruh kamu tutup mata,"  ujar Rafa terkekeh di depan Nayra saat melihat Nayra  menutup matanya karena jarak mereka yang begitu dekat.


Nayra membuka matanya dan melihat wajah Rafa yang berada di depannya. Rafa mendekatkan wajahnya kearah Nayra agar gadis itu gugup, bahkan kini kedua tangannya sudah mengurung tubuh Nayra yang sudah bersandar  di lemari.


"Emmm...Nayra mau gantih baju dulu,"  ucap Nayra yang keluar dari kurungan tangan Rafa  saat pria itu mendekatkan wajahnya.


Tanpa sadar Rafa tersenyum geli melihat sikap Nayra yang malu-malu. Sikap yang mungkin akan selalu Rafa rindukan dari sosok Nayra. Entah mengapa sejak semalaman hatinya merasa gelisah dan tak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya.


Rafa menghela nafas kasar dan keluar dari kamar.


"Loh Nayranya mana?" tanya Alea yang tak melihat kehadiran menantunya disana.


"Nayra masih dikamar mom, nanti juga nyusul,"  jawab Rafa yang mengambil tempat duduknya.


Alea manggut-manggut mengerti dan melanjutkan aktivitasnya.


"Wah sepertinya kita kedatangan tamu,"  ujar Arkan yang sudah tiba di meja makan.


"Eh iya om, kenalin nama saya Nayla, saya temennya Rafa waktu koas dulu." Ujar Nayla mengulurkan tangannya kearah Arkan.


"Yah salam Nayla, kamu bisa panggil saya om   Arkan,"  ucapnya membalas uluran tangan Nayla.


"Kamu kapan datangnya?"


"Tadi malam om, sa...."


"Udah-udah gak usah diterusin! Dia itu mau nginep disini dad, karna diusir dari rumah sendiri,"  ucap Liora.


"Lili..." tegur Alea.


"Kalau dengerin dia ngomong dulu ya lama mom, yang ada kita gak jadi sarapan,"  ucap Liora.


Sedangkan Nayla yang terdiam hanya bisa menyumpah serapahi Liora di dalam hatinnya. Ia merasa sangat jengkel dengan Liora yang sesuka hatinya memotong pembicaraannya.


Nayra yang sudah tiba langsung mengambil tempat duduk bergabung bersama yang lainnya.


"Eh menantu kesayangan Mommy udah dateng, nih nay susunya diminum dulu, Mommy buat khusus buat kamu loh susunya, " ujar Alea tersenyum seraya menyodorkan segelas susu untuk Nayra.


"Nayra udah gede kali mom, masak dikasih minum susu segala,"  ucap Liora.


"Yang ini susunya beda, susu ini cocok diminum sama wanita biar cepet hamil. Itu artinya kalau Nayra rutin minum susunya kemungkinan besar Nayra bisa hamil juga dan pastinya Mommy bakal punya cucu,"  jelas Alea.


"Wah iya juga ya mom, gak sabar mau gendong ponakan. Kalau kakak ipar nanti beneran hamil bakalan ada yang dipanggil papa nih, "  ucap Liora yang ikutan senang seraya melirik kearah sang kakak yang sedari tadi hanya diam.


Nayra hanya bisa tertunduk malu mendengar perkataan ibu mertua dan adik iparnya itu.


"Ayo nay diminum susunya,"  ucap Alea.


***


Nayra keluar dari dalam mobil yang mengantarnya sampai depan  rumah sakit. Nayra langsung mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon Rafa.


"Halo..."


"Halo kak, Nayra udah sampe nih di depan rumah sakit, Nayra masuk sekarang yah?"


"Nggak,kamu tunggu disana! Aku kesana sekarang"


"Yaudah kalau gitu," 


"Jangan kemana-mana!"


"Iyah, Nayra gak bakal kemana-mana kok,"


Klik


Beberapa menit kemudian Rafa sudah keluar dari gedung rumah sakit dan langsung menghampiri Nayra di dalam mobil.


"Buruan turun! Kita berangkat sekarang,"  ucap Rafa.


Nayra mengangguk dan mengekori Rafa yang berjalan kearah mobil milik Rafa.


"Kita mau kemana kak?" tanya Nayra.


"Kamu lupa atau pura-pura lupa hmm?" tanya Rafa yang sudah menghidupkan mesin mobilnya.


"Oh iya lupa," jawab Nayra sembari  tersenyum.


"Mau makan dulu atau mau langsung jalan?" tanya Rafa.


"Mau jalan aja," ujar Nayra.


Rafa pun mengangguk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama Nayra hari ini sebelum waktu itu tiba.


10 menit kemudian keduanya sudah sampai di sebuah mall yang tak jauh dari rumah sakit Rafa bekerja.


Keduanya berjalan bersampingan masuk kedalam mall tersebut.


"Kamu pengen beli sesuatu?"  tanya Rafa saat melihat mata Nayra yang sibuk celingak-celinguk kesana kemari.


Nayra menggeleng pelan.


"Nggak kak, lagian Nayra gak bawa uang banyak,"  ucap Nayra.


"Ck, udah ayok!" Rafa menarik tangan Nayra  berkeliling untuk mencari sesuatu yang Nayra inginkan.


Rafa merogoh dompetnya di dalam saku celana miliknya dan mengeluarkan sesuatu darisana.


"Ambil ini dan belanja sepuas kamu, ini perintah dan tidak ada bantahan sama sekali!"  ujar Rafa.


"Tapi kak, nay....."


"Aku kan udah bilang gak ada bantahan, kamu mau jadi istri durhaka karna gak mau dengerin perintah suami?"


Nayra menggeleng dan akhirnya mau menerima kartu kredit milik Rafa.


"Udah sana belanja! Aku tunggu disini,"  ujar Rafa.


Nayra pun pergi membeli barang yang ia sukai, namun meskipun sudah berkeliling kesana kemari Nayra tetap tak menemukan barang yang ia sukai. Sampai pada akhirnya mata Nayra jatuh  pada sebuah jam tangan couple berwarna hitam bermerek.


Tanpa menunggu lama akhirnya Nayra memilih jam tangan tersebut dan langsung membayarnya, agar ia bisa menunjukkannya pada Rafa.


Nayra berjalan menuju Rafa yang duduk dan sedang memainkan ponsel miliknya.


"Kak," panggil Nayra pelan saat ia sudah tiba di depan Rafa.


Rafa mendongak dan melihat kearah Nayra yang hanya membawa satu paperbag saja.


"Udah selesai belanjanya?"  tanya Rafa.


"Udah kak, nih kartu kreditnya,"  ucap Nayra mengembalikan kartu kredit Rafa.


"Kamu beli apaan tadi?" tanya Rafa penasaran.


"Beli ini,"  Nayra menyodorkan paper bag kearah Rafa.


Rafa menerimanya dan melihat isi paper bag tersebut. Rafa tersenyum tipis melihat jam tangan yang  dibeli oleh Nayra.


"Mau dipake sekarang?" tanya Rafa mengeluarkan kotak jam tangan tersebut. Tanpa menunggu jawaban Nayra Rafa langsung menarik tangan Nayra dan memasangkannya jam tangan kemudian untuk dirinya sendiri.


Nayra tersenyum melihat apa yang Rafa lakukan. Rafa menggenggam tangan Nayra dan membawanya pergi berkeliling. Nayra fikir Rafa akan membawanya pulang, namun ternyata Rafa mengajaknya untuk kembali berbelanja meskipun Nayra menolak.


"Mbak bisa tolong carikan pakaian yang cocok untuk istri saya,"  ucap Rafa pada seorang  penjaga disana.


"Bisa pak, mari silakan,"  ujarnya ramah.


"Tidak ada bantahan,"  ucap Rafa saat melihat Nayra yang akan protes.


Setelah sesi berbelanja yang cukup lama akhirnya keduanya memutuskan untuk makan sebelum kembali kerumah karena memang jadwal praktek Rafa hari ini sudah usai.


"Mau makan apa?"  tanya Rafa saat keduanya sudah duduk berhadapan dengan Rafa yang membolak-balik buku menu.


"Terserah kakak aja"  ucap Nayra.


"Oh yaudah kalau gitu, sama sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu,"  ucap Rafa.


"Ngomongin apa?" tanya Nayra yang melihat wajah Rafa.


"Lusa aku mau pergi keluar kota, aku...."


"Oh, yaudah pergi aja,"  ucap Nayra yang mengalihkan pandangannya kearah buku menu.


"Ini gak cuma sehari atau dua hari, aku ditugaskan keluar kota jadi tim dokter relawan disana dan itu makan waktu sampe berbulan-bulan. Dan itu artinya...." jeda Rafa.


"Nayra mau pulang, gak nafsu makan lagi."  ujar Nayra mengambil tasnya lalu beranjak pergi namun Rafa menahan pergelangan tangan Nayra.


"Nay dengerin aku dulu,"


"Nayra ngerti sekarang, kakak sengaja kan ngajak Nayra jalan-jalan hari ini, beliin ini itu buat Nayra eh ternyata karna ada sesuatu. Nayra gak butuh ini semua kak,"  ucap Nayra.


"Nay......"


"Nayra mau pulang sendiri,"  ucap Nayra mempercepat langkahnya meninggalkan Rafa yang terdiam.


***


Tbc


bru bisa update sekarang. Maaf kalau ceritanya makin ngawur dan fellnya gak dapet.


Udah pada bosan yah nungguin author up selalu lama2?


See you 😊