The Most Beautiful Destiny

The Most Beautiful Destiny
Nggak Boleh



***


Nayra tidur dengan posisi membelakangi Rafa yang juga berbaring di belakangnya. Tak ada yang berani membuka pembicaraan diantara keduanya. Nayra yang melamun, sedangkan Rafa yang sedang berpikir menemukan cara agar Nayra tak mendiaminya.


"Nayra.." ujar Rafa sambil menyentuh pundak Nayra.


Nayra masih diam dan masih membelakangi Rafa. Ia tak bisa mengekspresikan perasaanya sekarang, antara rasa sedih dan tak rela ingin berpisah bercampur aduk menjadi satu di dalam hatinya. Istri mana sih yang mau pisah dengan suaminya? Baru juga nikahnya kemaren lah sekarang mau berjauhan.


"Nay...jangan kaya gini dong. Aku terpaksa ngelakuin ini semua, kamu kan tahu sendiri profesi aku itu apa. Dan mau nggak mau aku harus penuhi tugas yang udah jadi tanggung jawab aku." Jelas Rafa.


"Tanggung jawab yah? Trus kalau istri termasuk kedalam tanggung jawab nggak?" tanya Nayra yang masih membelakangi Rafa.


"Sama-sama tanggung jawab, tapi yang ini beda." Ujar Rafa.


"Beda kenapa? Lebih penting tanggung jawab pekerjaan atau istri?" Tanya Nayra lagi.


Hening


"Kok gak dijawab? Kenapa?" Tanya Nayra, karena tak kunjung mendengar suara sahutan dari Rafa lagi. Nayra pun memutar balikkan tubuhnya ke arah belakang sehingga wajahnya bertatapan langsung dengan wajah Rafa. Kesempatan itu pun Rafa gunakan untuk mengunci pergerakan Nayra agar tidak mengubah posisinya lagi. Rafa mau masalah mereka harus selesai malam ini agar ia bisa meninggalkan Nayra dengan tenang nantinya.


"Lepasin Nayra!" Ucap Nayra berontak tak terima.


"Sebenarnya aku juga gak mau pergi ninggalin kamu disini, tapi aku terpaksa nay, tolong kamu ngertiin aku. Kalau kamu gini terus aku bakal ngerasa gak tenang ninggalin kamu nantinya. Aku cuma butuh kepercayaan kamu aja, kalau kamu percaya sama aku, aku janji bakal pulang cepat." Ucap Rafa ditengah Nayra yang masih berontak minta untuk dilepaskan.


Perlahan tenaga yang Nayra keluarkan untuk berontak memelan, Nayra tak lagi berontak karena mendengar perkataan Rafa.


"Yaudah Nayra bakal ijinkan kakak pergi, Nayra sadar diri sekarang. Maaf tadi Nayra udah bersikap kekanak-kanakan, kakak pasti jengkel kan karena harus menghadapi Nayra yang labil." Ujar Nayra pelan.


"Kakak bisa pergi tanpa minta ijin dari Nayra, gak papa kok." Ujar Nayra bangkit dan duduk di atas ranjang.


Rafa menghela nafas pelan dan ikutan mengambil posisi duduk di samping Nayra yang terdiam.


"Nay" panggil Rafa.


"Udah gak papa, kakak pergi aja. Nayra bisa apa kalau ini semua emang udah menjadi tanggung jawab kakak sebagai seorang dokter." Ucap Nayra tanpa membiarkan Rafa melanjutkan ucapannya.


"Kamu yakin mau ditinggal? Berbulan-bulan loh? Gak takut?" Tanya Rafa.


Nayra menggeleng pelan.


"Masa sih?Emang kuat kalau LDR?" ledek Rafa yang terkesan menyindir.


Nayra beranjak dari atas ranjang, dan mengambil koper besar di samping lemari lalu membawanya ke atas ranjang dengan keadaan terbuka.


"Kamu ngapain?" Tanya Rafa yang melihat gelagat Nayra.


Nayra tak menghiraukan ucapan Rafa, ia sibuk bolak-balik mengeluarkan pakaian milik Rafa dan mengepaknya ke dalam koper.


"Nayra cukup!" Ujar Rafa yang menangkap pergelangan tangan Nayra dan menariknya ke dalam pelukannya. Saat itu juga, detik itu juga tangis Nayra tumpah, ia menangis di dalam pelukan sang suami.


"Hiks..hiks...Nayra cuma gak mau kakak pergi, Nayra gak butuh apa-apa. Nayra cuma mau kakak tetap di sini, udah itu aja hiks." Ujar Nayra terisak dan memeluk Rafa erat.


Kalau sudah begini Rafa bisa apa? Ia menjadi tak tega melihat Nayra yang menangis karena tak mengijinkannya pergi.


"Gak usah pergi disini aja sama Nayra, lagian kan dokter itu banyak, kenapa harus kakak yang pergi?Nayra gak setuju pokoknya, titik gak pake koma." Ucap Nayra yang masih memeluk Rafa.


Untuk saat ini Rafa tak bisa berbuat apa-apa selain memeluk tubuh Nayra dan memberikan elusan di pucuk kepalanya agar wanita itu tenang. Masalah soal keberangkatannya akan ia pikirkan besok.


"Kak.." panggil Nayra mendongak ke arah Rafa.


"Kenapa? Mau protes lagi?" Tanya Rafa.


Nayra menggeleng pelan.


"Kakak mau kan janji satu hal sama Nayra?" Tanya Nayra.


"Hmm..."


"Ish dijawab dong! Jangan ham, hem, hum aja!" Ujar Nayra yang berubah sewot.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Rafa yang heran sendiri dengan sikap Nayra yang seperti bunglon, berubah-ubah.


"Jawab dulu!" Ucap Nayra.


"Iya," jawab Rafa yang mengiyakan permintaan Nayra yang banyak maunya.


"Kakak harus janji gak bakal tinggalin Nayra dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang, kalaupun kita mungkin bakal pisah sementara, Nayra iklas kok. Nayra cuma minta satu hal, inget tempat dimana kakak seharusnya pulang." Ujar Nayra memejamkan matanya dan berusaha untuk tidak egois dengan keadaan. Bagaimanapun juga Rafa harus menunaikan tanggung jawabnya.


"Janji?" Tanya Nayra mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Rafa.


Rafa masih diam mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Nayra barusan, padahal jelas-jelas tadi Nayra melarangnya untuk pergi, namun sekarang dia berubah pikiran dan malah mengijinkan Rafa pergi. Plin-plan sekali.


Nayra mengambil jari kelingking Rafa dan menautkanya di jari kelingking miliknya.


"Kakak sudah janji, janji adalah utang jadi harus ditepati. Awas kalau bohong." Ucap Nayra tersenyum kecil meskipun sedikit terpaksa.


"Oh iya berangkatnya lusa kan? Berarti masih ada waktu buat packing, nanti Nayra bantu siap-siap." Ujar Nayra melepaskan pelukan mereka dan menutup koper yang sebelumnya ia letakkan di atas ranjang dan mengembalikannya ke tempat semula.


Nayra melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, masih ada waktu untuk dirinya bisa bersama dengan Rafa.


"Kakak nggak ngantuk?" Tanya Nayra yang melihat Rafa hanya diam di tempat dan tak menggubris ucapannya.


"Nayra ngantuk mau tidur duluaan, nanti kalau kakak udah ngantuk jangan lupa matiin lampunya,Nayra gak bisa tidur kalau lampunya hidup." Ujar Nayra naik ke atas ranjang dan menarik selimut, kembali lagi Nayra tidur membelakangi Rafa. Lama Nayra menunggu, namun lampu kamar tak kunjung padam juga. Itu artinya Rafa belum beranjak dari posisinya.


Nayra menyingkap selimutnya dan berniat akan mematikan lampu agar ia bisa tidur.


Tak


Terdengar suara saklar lampu yang ditekan, kamar yang semula terang menjadi gelap dan hanya menyisakan lampu tidur yang masih menyala di atas nakas. Tiba-tiba Nayra mulai merasakan pelukan hangat di perutnya dan sebuah kepala yang menyender di sudut bahunya.


"Kakak..." Panggil Nayra memastikan jika itu adalah Rafa.


Hening.


"Nayra ngantuk mau tidur, kakak juga pasti udah capek nemenin Nayra jalan tadi." Ucap Nayra mengingat tadi siang Rafa mengajaknya berbelanja, meskipun berakhir kacau karena Nayra yang ngotot mau pulang sendiri.


Nayra menggeleng kuat dan berbalik mendorong tubuh Rafa hingga jatuh ke atas ranjang. Nayra mencari saklar lampu di dinding dan kembali menyalakannya hingga kamar menjadi terang seperti sedia kala.


"Nayra tidur di kamar Liora aja malam ini." Ujar Nayra hendak beranjak dari kamar, namun dengan gerakan cepat Rafa menarik tangan Nayra ke arahnya dan membawanya ke atas ranjang.


"Kamu sudah menikah dan sudah seharusnya seorang istri menemani suaminya tidur, aku takut gak bakal bisa peluk kamu kaya gini lagi." Ujar Rafa kembali memeluk Nayra.


"Maksut kakak apa ngomong kaya gitu? Jangan buat Nayra takut deh, bercandanya gak lucu tau." Ujar Nayra kesal dengan ucapan Rafa.


"Gak ada yang bercanda Nayra, lusa aku mau berangkat dan aku gak bisa janji bakal pulang cepat,nkalo seandainya ak...."


"Udah cukup, Nayra gak mau denger lagi!" Ucap Nayra menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.


Dibelakang Nayra, diam-diam Rafa tersenyum tipis dan mengeratkan pelukan mereka.


"Dengerin dulu! Aku belum selesai ngomong." Ujar Rafa menarik tangan Nayra yang menutup kedua telinganya.


"Aku gak bakal jadi pergi lusa, tapi ada syaratnya" Ujar Rafa berbisik di telinga Nayra dan itu membuat bulu kuduk Nayra meremang.


"Syaratnya apa?" Tanya Nayra.


"Entar aku kasih tau. Kamu mau dikasih kisi-kisinya dulu atau mau langsung intinya aja?" Tanya Rafa menyentuh rambut Nayra dari belakang.


"Kisi-kisi? Emang lagi ulangan pake kisi-kisi segala?" Tanya Nayra bingung.


"Iya, tapi yang ini beda. Ini ujiannya menguras keringat bukan otak, kamu mau coba?" Tanya Rafa tersenyum smirk.


Dengan polosnya Nayra mengangguk pelan mengiyakan tawaran Rafa. Toh juga syaratnya sepertinya tidak susah, pikir Nayra.


"Yaudah kisi-kisinya mana?" Tanya Nayra menunjukkan telapak tangannya di depan Nayra.


Cup


Rafa mengecup telapak tangan Nayra yang kosong dan itu membuat Nayra menjadi tersenyum.


"Itu tadi udah dikasih kisi-kisinya." Ucap Rafa.


"Ih apa sih, mana ada kisi-kisi yang begituan. Yang ada kisi-kisi itu tuh..."


Cup


Rafa mengecup bibir Nayra yang hendak berbicara.


"Segitu cukup? Atau masih kurang kisi-kisinya?" Tanya Rafa.


"Kakak ih..maksut Nay..."


Rafa tak memberikan Nayra untuk menuntaskan ucapannya, lagi-lagi Nayra harus berhenti bicara karena Rafa menciumnya. Ingat mencium bukan mengecup.


"Eumph...."


Rafa yang sadar jika Nayra belum menyesuaikan diri akhirnya memperlambat tempo lumatannya pada bibir Nayra agar Nayra dapat mengimbanginya. Tangan Rafa bergerak menangkup wajah Nayra dan menuntunnya menuju ranjang mereka.


Nayra berontak saat tahu jika sebentar lagi sepertinya akan terjadi sesuatu, Nayra pun mendorong wajah Rafa dari wajahnya sehingga tautan mereka terlepas.


"Dasar mesum." Ujar Nayra yang menyadari jika Rafa sedari tadi mengibuli dirinya.


"Tapi kamu suka kan?" Goda Rafa.


"Nggak tuh," elak Nayra walaupun sebenarnya ia juga suka.


"Ah masa sih?" Goda Rafa lagi mencolek dagu Nayra.


"Ih jangan colek-colek!" Ingatkan Nayra menepis tangan Rafa.


"Colek gak boleh, kalau pegang boleh kan?" Tanya Rafa.


"Nggak"


"Ayolah nay yang tadi itu nanggung, nanti kualat kalau ngerjain sesuatu itu tanggung-tanggung." Ucap Rafa.


"Jangan sentuh-sentuh!" Ucap Nayra karena tib-tiba tangan Rafa meraba perutnya dan menyingkap piyama tidur Nayra.


Rafa tersenyum saat meraba permukaan perut Nayra yang masih rata. Hal ini membuat Nayra yang melihatnya merasa heran.


"Kenapa senyum-senyum sendiri? Kakak mikir jorok ih." Ucap Nayra.


"Nggak, siapa juga yang mikir jorok. Udah malam, tidur!" Perintah Rafa menarik Nayra kedalam pelukannya.


"Kakak gak jadi pergi kan lusa?" Tanya Nayra.


"Lihat nanti. Udah kamu tidur sekarang." Ucap Rafa.


"Nggak mau."


"Tidur Nayra."


"Gak ngantuk,"


"Tidur atau ditidurin?"


"Ish..apa sih, iya ini juga mau tidur"


***


Tbc


Yg ini masih nyambung atau lari dari bagian sebelum-sebelumnya?


Ini nulisnya pas gabut, maaf kalau feelnya ga dapet. Terkadang permasalahan di dunia nyata bawa ngaruh sama mood gue kalau lagi nulis di ******* 🙂


Koment dan vote bagian ini.