
Warning!
Dipart ini mengandung mature content 🔞, buat merasa dirinya belum dewasa gak usah dibaca mending langsung skip. Nanti kamu dewasa sebelum waktunya.
Udah diingetin jangan ngeyel 🙃
"Ssshhh....jangan digigit, sakit," desah Nayra saat Rafa yang sedang sibuk mengecup lehernya kuat-kuat dan meninggalkan banyak bercak merah atau yang sering disebut orang dengan sebutan kissmark.
Rafa menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu melihat kearah wajah Nayra yang sudah berusaha menahan ******* di mulutnya.
"Jangan digigit Nayra! Nanti bibir kamu berdarah," ucap Rafa saat melihat Nayra yang lagi-lagi menggigit bibirnya.
Nayra menggeleng pelan.
Tangan Rafa pun bergerak menahan kedua tangan Nayra dan kembali melakukan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi. Nayra perlahan menutup matanya saat jemari milik Rafa mulai menyentuh dan membuka satu persatu kancing piyama miliknya. Detak jantungnya sedari tadi tak bisa ia kontrol dengan baik, ini pertama kalinya ada seorang pria yang berani menjamah tubuhnya.
"Jangan diliatin terus! Aku malu," ucap Nayra seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Rafa terkekeh melihat lagak Nayra yang malu-malu tapi mau. Rafa menarik tangan Nayra yang menyilang di depan dada dan menunggu reaksi Nayra selanjutnya.
"Kenapa diam? Kamu taukan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya?" tanya Rafa yang sudah berada di atas tubuh Nayra. Rafa tahu jika sebenarnya Nayra mengerti maksut ucapannya barusan, wanita itu sudah berumur 23 tahun dan itu artinya Nayra sudah termasuk kriteria wanita dewasa yang pasti tahu dengan hal yang berbau dewasa, hanya saja Nayra malu untuk melakukannya.
"Emm....Nayra...." ucap Nayra gugup.
"Kenapa? Apa kamu belum siap? Atau kamu tidak tahu caranya hmmm?" tanya Rafa yang membantu Nayra untuk membuka satu persatu kancing piyama tidurnya sampai terlepas, dan tergeletak di bawah ranjang sampai memperlihatkan perut Rafa yang sixpack.
"Dengarkan aku! Aku izinin kamu buat mukul atau cakar aku sekalipun asalkan kamu jangan teriak, ini juga pertama kalinya aku menyentuh seorang perempuan, kamu mengerti?" tanya Rafa sebelum beranjak semakin jauh.
Nayra mengangguk pelan seraya kembali memejamkan matanya dan membiarkan Rafa mengambil alih pemegang kendali. Ia percaya Rafa tidak mungkin akan menyakitinya, lagipula cepat atau lambat memang ia akan memberikan hak Rafa sebagai suaminya.
Rafa kembali mendekatkan wajahnya kearah bibir Nayra, dan menyesapnya pelan-pelan seraya tangannya bergerak menuju punggung Nayra yang putih nan mulus.
"Enghhh...mmmhhh..." Nayra mengeluarkan desahannya saat Rafa mengecup daun telinga dan bagian dadanya yang sudah tak berbungkus apapun lagi.
"Tahan sebentar, ini akan sedikit terasa sakit," bisik Rafa di telinga Nayra dengan pelan.
"Hiks....ssakit, enghhhhh kakak...sssakit..." lenguh Nayra yang bergerak tak nyaman, karena sesuatu dibawah sana telah berhasil merebut mahkota yang ia jaga selama ini.
Tangan Nayra bergerak mencengkram bahu dan punggung Rafa dengan kuat dan mencakarnya dengan kuku miliknya. Namun Rafa berusaha untuk tidak meringis meskipun Nayra membuat punggungnya menjadi sakit.
"Hiks...hiks...Nayra gak mau, sssakit...." isaknya.
Rafa pun menjadi tak tega dan memutuskan untuk menyudahi aktivitas mereka. Rafa menarik selimut dan membawa Nayra kedalam dekapannya seraya mengelus wajah Nayra yang baru menangis.
"Aku tahu kamu belum siap, maafin aku," ujar Rafa.
Nayra menggeleng dan membuka selimut yang menutupi tubuh keduanya.
"Nayra mau kita lakukan lagi, tadi itu karna Nayra masih syok," pinta Nayra lagi.
"Tapi kamu...."
"Nayra siap sama semua konsekuensinya, kalaupun nanti Nayra hamil, Nayra rela membesarkan dan merawatnya sampai besar meskipun mungkin kita bakal pisah, karena Nayra tau cinta gak bisa dipaksa kak. Nayra gak mau hidup sama laki-laki yang gak cinta dan bahkan gak akan pernah cinta sama Nayra, Nayra gak minta yang lain, Nayra cuma minta bisa hidup semati sama laki-laki yang bisa cinta sama Nayra apa adanya. Nayra bisa kok cari ayah buat anak-anak Nayra nanti," Ujar Nayra, entah apa yang ada diotaknya sehingga kalimat itu bisa terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Cukup, jangan buat aku emosi Nayra! Kamu fikir cerai itu semudah mengucapkan hah? Aku pastikan jika namaku yang akan tersemat di dalam nama anak-anakmu kelak, dengan begitu kamu tidak akan pernah mengucapkan kata-kata laknat itu lagi," ujar Rafa yang bergerak dan menindih tubuh Nayra dibawahnya, Rafa mencumbu Nayra sampai membuat Nayra menjadi kewalahan menghadapi sikap Rafa yang semakin brutal.
"Akhhhh....mmmhhh....kakak..." desah Nayra saat Rafa mencumbu leher dan bagian dadanya, memelintir dan meremas gemas gundukan milik Nayra dengan pelan sehingga membuat Nayra gelenjotan. Keringat mulai membasahi tubuh keduanya yang memang sudah fullnaked.
"Panggil namaku Nayra!" bisik Rafa ditelinga Nayra dan mengecup pipi Nayra dengan pelan, Rafa ingin membangunkan sisi lain dari Nayra.
"Emmmhhh.....ah...kakak...Nayra gak kuat lagi...enghhhh.." Nayra mencengkram kuat bahu Rafa.
Keduanya pun saling menyatu satu sama lain mengikuti kata hati mereka yang memang menginginkan rasa ingin lebih.
Setelah aktivitas mereka selesai, Rafa pun membawa Nayra tidur kedalam pelukannya dengan keadaan tubuh keduanya yang tak berbusana. Rafa mengambil tissue di atas nakas dan melap keringat di kening dan wajah Nayra, tak lupa juga ia mengecup bibir Nayra yang sedikit terbuka, Rafa akui ternyata bibir Nayra berhasil membuat dirinya menjadi candu. Rafa memandangi sekilas wajah Nayra yang sudah terlelap secepat itu, mungkin karena merasa kelelahan dengan aktivitas mereka barusan. Cukup lama Rafa memandangi wajah Nayra yang tertidur dengan damai, perlahan perasaan bersalah mulai menghinggapi hatinya.
"Apa yang udah gue lakuin? Gue udah ambil kecucian Nayra disaat gue sendiri belum ada rasa sama sekali sama dia, gue brengsek, maafin gue nay," gumam Rafa seraya mengelus pipi mulus milik Nayra.
"Enghh..." tubuh Nayra memberikan respon terhadap ucapan Rafa barusan, secara spontan tubuhnya semakin merapat kearah Rafa untuk mencari kehangatan disana, bahkan tangannya sudah beranjak memeluk tubuh Rafa layaknya guling. Melihat itu membuat Rafa tersenyum kecil, ia tak tahu perasaan seperti apa yang sedang ia rasakan saat ini, antara rasa nyaman atau cinta?
***
Dret....dret....dret...
Bunyi getaran ponsel di atas nakas menganggu tidur salah satu diantara kedua sejoli tersebut.
Dret....dret...dret...
Rafa pun menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan memakai celana miliknya yang tercecer di lantai kamar. Rafa mengambil ponselnya dan melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Rafa pun beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap-siap karena ia ada jadwal praktek hari ini.
20 menit kemudian Rafa sudah selesai bersiap-siap dan kembali mendekati Nayra yang masih tidur terlelap, Rafa mengecup kening Nayra dan menuliskan memo kecil diatas meja agar saat bangun nanti Nayra bisa membacanya.
"Aku berangkat dulu," pamit Rafa kemudian beranjak keluar dari kamar.
"Iya mom, aku ada jadwal praktek hari ini dan aku buru-buru," jawab Rafa.
"Sarapan dulu sebelum berangkat kerja! Kamu kebiasaan kalo udah inget kerjaan pasti lupa makan, kamu ini dokter Rafa, kamu juga butuh tenaga dan asupan untuk menyembuhkan orang lain," nasehat Alea.
"Iya mom, tapi ini lebih penting. Rafa berangkat dulu," ujar Rafa menyalim Alea dan berjalan keluar dari rumah.
Sedangkan Nayra yang masih berada di kamar sudah terbangun dari tidurnya, Nayra membuka selimut dan memakai pakaiannya. Wajahnya bersemu merah mengingat kejadian tadi malam, dimana Rafa benar-benar sudah membuatnya menjadi seorang istri.
Tanpa sadar tangan Nayra menyentuh permukaan perutnya, berharap jika didalam sana akan tumbuh kehidupan baru yang akan menjadi alasan Nayra untuk tetap bertahan.
"Bertumbuhlah disana, Mama membutuhkanmu," ujar Nayra mengelus perutnya dengan telapak tangannya mekipun ia belum yakin jika di dalam perutnya akan ada calon jabang bayi.
Nayra melihat kearah sebelahnya yang ternyata sudah kosong, Nayra menduga jika Rafa sudah berangkat bekerja. Melihat itu membuat ulu hati Nayra berdenyut nyeri, Nayra merasa kecewa karena Rafa pergi tanpa pamit setelah Nayra memberikan harta berharga miliknya, Nayra merasa seperti wanita murahan yang akan ditinggal jika sudah tak butuh lagi.
"Kakak jahat," gumam Nayra. Namun anak matanya menangkap sebuah note kecil diatas nakas, Nayra membacanya sekilas lalu tersenyum tipis membaca tulisan tangan milik Rafa.
"Maaf, tadi aku berangkat waktu kamu masih tidur karena aku ada jadwal praktek pagi ini. Telfon aku jika kamu butuh sesuatu"
Nayra ternyata sudah salah menduga, Rafa meninggalkan dirinya bukan karena Rafa telah mendapatkan haknya sebagai suami, tetapi karena menjalankan tugasnya menjadi seorang dokter. Nayra baru ingat jika suaminya itu adalah seorang dokter.
Nayra pun memutuskan untuk segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, namun saat tiba di depan cermin Nayra syok karena melihat ada banyak sekali bercak merah di leher dan bagian dadanya.
"Ih kok jadi banyak gini?" ucap Nayra mengusap bekas merah itu, meskipun digosok tetap tak mau hilang. Nayra tahu siapa dalang dibalik semua bekas merah tersebut.
Dengan cepat Nayra keluar dari dalam kamar dan mencari ponselnya diatas nakas. Nayra mencari kontak Rafa dan langsung menelfonnya.
Tut..tut....
"Halo..."
"Halo, kakak dimana sekarang?"
"Lagi dijalan mau kerumah sakit, kamu sudah bangun?"
"Udah, kakak harus tanggung jawab,"
"Tanggung jawab apa?"
"Ini leher sama dada Nayra kenapa bisa merah-merah kaya gini, kan Nayra udah bilang jangan digigit,"
"Tapi kamu suka kan?"
"Iya, tapi kan...."
"Tapi apa?"
"Kakak...Tau ah, Nayra ngambek,"
"Nanti bekasnya juga bakal hilang sendiri,"
"Kakak bohong kan? Ini buktinya belum hilang juga bekasnya,"
"Yaudah nanti aku kasih obat biar bekasnya hilang,"
"Beneran?"
"Iya Nayra,"
"Awas kalau bohong, pokoknya nanti siang Nayra mau datang kerumah sakit nemuin kakak."
"Yaudah kalau gitu,"
"Nayra tutup dulu telponnya, mau mandi,"
"Hmmm..."
"Kakak"
"Apa?"
"Selamat bertugas suaminya Nayra,"
Klik
Nayra memutus sambungan telfon sepihak lalu masuk kedalam kamar mandi.
***
Tbc
mau dilanjut cepat2 kan, caranya gampang, kalian cukup spam like, coment dan follow juga. Author tunggu, kalau manjur, entar malam update 2 part sekaligus buat nemenin malam minggu kalian, mau dong? Kalau mau, yuks buruan. see you next part guys.